Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alena
"Waktu Anda sudah habis, Tuan."
Teguran dingin polisi itu memutus keheningan di atas tanah merah pusara Maria.
Pax Willson meringis, mengangkat sebelah tangannya yang terikat borgol besi di hadapan kakak lak-lakinya. "Maafkan aku, Kakak Ipar. Aku harus menghadiri pemakamanmu dengan cara sekacau ini." Ia menatap Pollux, mencoba mencari retakan duka di wajah yang dipenuhi memar dan tangan yang terbungkus gips itu. "Aku harap kau kuat, Dude."
"Katakan itu pada dirimu sendiri," sahut Pollux datar. Pandangannya beralih pada Paula yang masih menangis histeris di pelukan pria lain, sepenuhnya mengabaikan Aaron yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Mari berjalan, Tuan," desak polisi sekali lagi, menarik lengan Pax.
"Jangan cemaskan aku. Satu malam di sel tidak akan membunuhku," bisik Pax cepat pada Pollux. "Tapi pastikan kau mengeluarkanku sebelum hari ketiga!"
Dari sudut barisan pelayat, Lucas mendengus kasar, memijat pangkal hidungnya menahan malu atas kelakuan putranya, sebelum Angel merengkuh lengannya lembut untuk menenangkan.
Pax terkekeh, sengaja berseru keras saat diseret menjauh, "Dad! Nikmati masa tuamu bersama istri mudamu! Jangan cemaskan aku, dan tolong jangan keluarkan aku dari penjara!"
Lucas hanya menggeleng pasrah. "Selamat menikmati hotel bintang limamu, Dude."
Beberapa jam kemudian.
Ting!
Empat gelas kristal berdenting di bawah remang lampu VIP klub malam. Bau tanah kuburan menguap, digantikan aroma alkohol mahal dalam sekejap.
"Kita berpesta untuk apa?" Pax menatap gelas jingga milik Paula, lalu beralih pada Pollux. Sial, saudaranya itu benar-benar menebusnya dari kantor polisi menggunakan uang jaminan besar hanya untuk diajak minum. "Kau terlihat sama sekali tidak menghargai kematian Maria, Pollux."
Pollux menyesap minumannya tenang. "Apa kau melihat kesedihan di mataku?"
Pax dan Paula bungkam. Nihil. Tidak ada riak duka sedikit pun di sana.
"Kita merayakan kebebasanmu," lanjut Pollux santai. "Dan berakhirnya hubungan saudari kita tercinta dengan kekasihnya."
Uhuk! Pax tersedak hebat, memuntahkan minumannya. "Siapa yang dicampakkan?!"
"Aku yang mengakhiri, tapi aku yang merasa dicampakkan," gerutu Paula sinis.
Aaron menoleh, melempar tatapan malas. "Turut berbelasungkawa atas kandasnya hubunganmu dengan Dokter Jerawat itu."
"Jerry bukan dokter jerawat, dia dokter dermatologi!" semprot Paula galak.
"Sama saja." Aaron bangkit saat ponselnya bergetar. "Aku harus pergi, Luna sudah datang di depan."
Wajah Paula mendadak pias mendengarnya. Seringai sinisnya langsung keluar. "Berhati-hatilah saat membuang bibitmu di kamar mandi, Aaron. Aku khawatir bibitmu masuk ke tangki septik, membuahi ikan yang sedang orgasme, lalu lahirlah anak ikan blasteran manusia yang merindukan kasih sayang ayahnya. Dan saat kau memancing nanti, jangan sampai kau menggoreng anakmu sendiri untuk disajikan pada kekasihmu itu. Ayah macam apa kau!"
Pollux melongo takjub dengan imajinasi brutal adiknya. Sementara Pax sudah tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut.
Aaron bersedekap, menahan senyum. "Itukah yang diajarkan mantan kekasih Doktermu itu?"
"Dia dokter dermatologi, bukan dokter kandungan!" Paula menyentak tangan Aaron yang mencoba mengacak rambutnya. "Dan jangan sentuh aku, aku bukan anak kecil lagi!"
"Pria brengsek!!" umpat Paula.
"Lala," Pollux dan Pax kompak menegurnya.
"Berhenti mengatakan sesuatu yang kotor dengan mulut manismu," ujar Pax. "Dan omong-omong, aku bertemu wanita gila di bar. Dia menendang asetku." Sambil menunjuk pangkal pahanya.
Paula langsung bergidik jijik. "Periksakan ke dokter sebelum kau menyesal dia hilang fungsi."
***
Pollux terbangun dengan hantaman hangover yang luar biasa di kepalanya. Denyut menyiksa itu langsung menyergap warasnya saat ia membuka mata di ranjang kamarnya sendiri. Setidaknya, ia bersyukur Pax dan Paula tidak menyeretnya pulang ke rumah orang tua mereka. Ia tidak butuh tatapan menginterogasi dari Mom dan Daddy.
Semalam, demi melupakan neraka pernikahannya bersama Maria, ia minum melampaui batas toleransi tubuh. Alkohol sialan itu ternyata bukan solusi.
Dengan sisa tenaga, Lux menyeret tubuhnya yang sempoyongan ke kamar mandi. Membasuh wajah dan menyikat gigi seadanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya yang digips tergantung tak berguna.
"Aku butuh pereda mabuk," gumamnya parau saat melangkah keluar kamar.
Rumah mewah itu sunyi, kosong, dan dingin tanpa tanda kehidupan. Maria selalu menolak keberadaan pelayan tetap yang menginap, dan hiasan di dinding hanya menyisakan satu foto pernikahan mereka yang megah—yang pastinya akan segera Lux bakar. Sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, Lux membuka pintu utama.
"Selamat pagi, Tuan," sapa sopir pribadinya yang sedang mengobrol dengan pria paruh baya pembersih pekarangan.
Lux hanya mengangguk datar. "Lanjutkan pekerjaan kalian."
"Anda mau ke mana pagi-pagi begini, Tuan? Saya antar," tawar sang sopir sigap.
Lux menggeleng. "Aku jalan kaki. Butuh udara segar."
Setelah menenggak obat pereda mabuk dan sebotol air mineral di depan supermarket, Lux memilih duduk di kursi pelataran. Ia mengamati para pelari pagi, sebuah rutinitas yang dulu sering ia lakukan bersama Maria atas permintaannya.
Bruk!
Lux menoleh. Seorang wanita berambut hitam legam mendadak menjatuhkan kepalanya ke atas meja kayu di hadapannya, tepat di samping sebuah cup mie instan yang masih mengepul. Lux mengabaikannya, kembali membuang muka.
"Hampir dua bulan di sini, tubuhku masih belum bisa bersahabat dengan iklim sialan ini. Dingin sekali!" wanita itu mendadak tegak, memaki sendiri sebelum matanya melebar menatap Lux. "Eh, bekicot kampret! Kenapa kau di sini? Kau menguntitku, ya?!" pekik wanita itu lantang.
Lux menatapnya datar tanpa ekspresi, lalu menoleh ke sekeliling. Kosong.
"Turis?" tanya Lux dingin, menyadari wanita itu bicara padanya dengan bahasa asing.
Wanita itu mengernyit. "Apa si kucing garong ini amnesia? Ah, semalam lampunya memang agak remang," gumamnya pelan.
Saat Lux memperhatikannya lebih lekat, wanita itu mendadak memajukan wajahnya, membuat Lux spontan menarik kepalanya ke belakang.
"Oh, kau benar-benar melupakanku? Baguslah," tukas wanita itu, kini beralih menggunakan bahasa lokal yang fasih. Tatapannya turun ke gips Lux. "Tapi ada apa dengan tanganmu? Ya ampun, kau memang pantas mendapatkannya! Katakan, apa kau juga habis menyentuh sembarangan wanita tua yang sudah bersuami?"
Wanita itu mulai membuka penutup mie instannya. Aroma gurih yang kuat langsung mengudara, memicu rasa lapar di lambung Lux yang kosong. Lux terpaku, memperhatikan cara wanita itu mengaduk, meniup, lalu mengunyah dengan lahap.
"Ah, mantap! Maknyos!" decak wanita itu puas. Saat mendongak, ia mendapati Lux diam-diam sedang menelan ludah. "Kau mau?"
"Enak?" sahut Lux refleks, yang langsung ia sesali karena terdengar sangat tidak berwibawa.
"Kau bisa mencobanya kalau mau." Wanita itu menggeser cup mienya ke hadapan Lux.
Tepat saat itu, perut Lux berbunyi nyaring, melakukan demo brutal yang merusak harga dirinya.
Wanita itu terkekeh geli. "Astaga, sepertinya kau benar-benar kelaparan."
"Bagaimana aku bisa memakannya?" Lux mencoba mengalihkan rasa malu.
"Ya tinggal sendokkan ke dalam mulutmu."
"Kau memberiku ini," Lux menunjuk cup mie, "tapi kau tidak memberikan sendoknya."
"Aku tidak lupa, aku hanya tidak ingin berbagi sendok," jawabnya jujur tanpa beban. "Kalau gengsi, minum saja langsung dari cup-nya."
Tanpa protes, Lux mengangkat cup tersebut dan meneguk kuahnya. "Enak. Aku mau lagi," gumamnya, tanpa sadar mengulas senyum tipis.
Wanita itu tergelak keras. "Kau ini gelandangan kaya atau korban perampokan?"
Lux kembali memasang wajah datarnya.
"Wah, ekspresimu berubah. Baiklah, anggap saja ini ucapan terima kasih atas bantuanmu semalam. Aku akan buatkan yang baru," ujar wanita itu sembari bangkit. "Tapi bukan berarti aku lupa kelakuan lancangmu, ya. Ini juga permintaan maaf karena aku tidak membelamu di depan polisi semalam. Aku punya alasan sendiri."
Lux menyipitkan mata, potongan ingatan semalam mendadak tersusun rapi. "Wanita angkuh?" gumamnya, teringat cerita Pax tentang pelayan bar yang galak.
Langkah wanita itu terhenti, ia berbalik dan merebut kembali cup mie dari tangan Lux. "Yang benar saja! Aku baru mau memberimu makan, dan kau menyebutku angkuh?!"
Lux dengan cepat menahan cup tersebut agar tidak lepas. "Indonesia? Siapa namamu?"
Wanita itu memutar bola matanya jengah, lalu kembali duduk di kursinya. "Jangan minta tambah lagi setelah ini. Kau terkesan kaku sekali pagi ini dibanding semalam, tapi setidaknya kau terlihat normal."
"Namamu?" desak Lux.
"Alena."
"Lux."
Di bawah langit pagi yang dingin, keduanya mulai tenggelam dalam keheningan yang sibuk bersama mie instan masing-masing. Dan di luar dugaan, pagi itu Lux berakhir menghabiskan dua cup tambahan lagi.
Alena? Siapa dia?
Dia adalah wanita pelayan club yang menghajar Pax waktu itu. Dan ia tidak tahu jika yang saat ini bersamanya adalah saudara kembar pria mesum itu.