NovelToon NovelToon
Ayo Kabur Dari Ayahmu, Nak! (Benih Rahasia Sang Mafia)

Ayo Kabur Dari Ayahmu, Nak! (Benih Rahasia Sang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Lari Saat Hamil
Popularitas:233.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."

Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.

Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.

Elena Hamil.

Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.

Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.

Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.

Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

"Yakin kau tidak mau makan nasi goreng ini?" tanya Elena, bertolak pinggang menatap pria dewasa yang bertingkah layaknya balita sedang tantrum di depannya.

Leon menggeleng tegas, melipat kedua lengannya di dada.

"Sistem pencernaanku menolak keras berkompromi dengan makanan kelas bawah yang digoreng menggunakan sisa minyak kemarin."

Elena menghela napas panjang, merapal doa dalam hati agar tidak lepas kendali dan melempar wajan gosong ke wajah tampan nan menyebalkan itu.

"Terus, Tuan Besar yang terhormat ini mau makan apa? Katakan, biar aku pesankan lewat aplikasi! Asal harganya masih masuk akal untuk dompetku!"

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Pria arogan itu menarik sebuah majalah kuliner milik Elena yang tergeletak di ujung meja makan.

Leon membalik beberapa halamannya dengan gerakan elegan, lalu menunjuk sebuah gambar besar dengan telunjuknya.

"Ini," ucap Leon datar tanpa rasa bersalah. "Aku mau sarapan wagyu dengan tingkat kematangan medium rare, didampingi mashed potato dari kentang hokkaido asli, dan sedikit taburan caviar hitam laut kaspia di atas piringnya. Itu menu sarapan standarku yang paling sederhana."

Elena membungkuk untuk melihat gambar yang ditunjuk Leon. Seketika, kedua bola matanya melotot nyaris keluar dari sarangnya.

Bukan, bukan hanya karena harga menu itu yang bisa setara dengan biaya sekolah Noah selama satu tahun, melainkan karena hal lain yang jauh lebih mengejutkan.

Wanita itu menoleh perlahan ke arah Noah, lalu menatap Leon, lalu kembali menatap Noah dengan horor.

"Yang benar saja!" batin Elena menjerit kencang.

Semua menu mahal tak masuk akal yang baru saja disebutkan pria gila ini seratus persen sama persis dengan makanan kesukaan yang selalu diocehkan Noah setiap kali bocah itu menonton acara masak di televisi!

Bahkan sampai ke detail kentang hokkaido dan telur ikan hitam sialan itu! Bagaimana bisa dua manusia beda generasi yang bermusuhan ini memiliki selera lidah sultan yang sama persis?!

Melihat ibunya mematung kehabisan kata-kata, Noah yang baru saja menghabiskan suapan terakhir nasi gorengnya langsung memutar bola mata malas. Ia meletakkan sendoknya dengan suara dentingan keras.

"Sudah, Ma, abaikan saja dia. Lebih baik kita usir saja paman penyakitan ini sekarang juga," sahut bocah enam tahun itu dengan nada sedingin es, menunjuk wajah Leon dengan garpu sengnya.

"Dia memang hanya menjadi beban di rumah ini. Sudah menumpang tidur, mengeluh kepanasan seperti bayi, diam-diam mencuri kerupukku, dan sekarang dia berkhayal mau makan daging sapi mewah? Usir saja dia, Ma. Bikin sempit udara."

Mendengar gelar kehormatan barunya disebutkan lagi, urat leher Leon langsung menonjol keluar.

"Namaku Leonard!" sahut Leon tak terima, menggebrak meja makan dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya karena kelaparan. "Berhenti memanggilku paman penyakitan!"

Bukannya takut melihat gertakan seorang bos mafia, Noah malah memiringkan kepalanya dengan raut wajah mengejek penuh kemenangan.

"Oh Paman Singa?"

"Singa itu Lion, Bocah! Pelafalannya jelas berbeda!" koreksi Leon dengan napas memburu.

Harga dirinya sebagai lulusan universitas top dunia sedang diinjak-injak tanpa ampun oleh bocah enam tahun.

"Ya, terserahlah, sama saja," ucap Noah malas, lalu mengibaskan tangannya ke udara seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

"Intinya, Paman Singa Penyakitan, silakan angkat kaki dan keluar dari rumahku sekarang juga. Mama sangat sibuk hari ini dan harus segera mengantarku ke sekolah. Kehadiranmu di sini hanya memperlambat mobilitas kami."

Leon terbelalak. Mulutnya terbuka sedikit.

Ia baru saja... diusir?!

"Dan satu hal lagi," tambah Noah dengan senyum iblis yang sangat manis, "kalau Paman Singa ternyata miskin dan tidak punya ongkos untuk naik taksi kembali ke kebun binatang, jalan kaki saja sana sampai ke jalan raya. Anggap saja olahraga pagi supaya tulang mu itu sedikit kuat."

"Kamu!" Leon menuding wajah Noah dengan jari bergetar, benar-benar kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan tajam bocah itu.

Leon menatap Elena, berharap wanita itu akan membelanya sebagai orang dewasa.

Namun, Elena hanya mengangkat bahu acuh tak acuh sambil membereskan piring.

"Kamu dengar sendiri kan apa kata tuan rumah yang berkuasa di sini? Pintunya ada di sebelah sana."

Merasa egonya hancur lebur berkeping-keping, Leon langsung berdiri. Ia mengusap kemejanya yang kusut dengan gaya angkuh, mati-matian menutupi rasa sakit di pinggangnya akibat kasur tipis.

"Baik! Aku akan pergi dari gubuk reot ini! Dan camkan kata-kataku, aku akan mengerahkan anak buahku untuk membeli seluruh kompleks rumah kumuh ini hanya untuk meratakannya dengan alat berat!" ancam Leon sangat dramatis.

Leon berbalik dan melangkah keluar rumah dengan.

Noah yang melihat kepergian Leon dari balik jendela hanya menggelengkan kepala polos.

"Dasar paman-paman aneh."

*

*

Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat kulit, Leon berjalan menyusuri gang dengan wajah ditekuk. Beberapa ekor ayam kampung berkokok menyambutnya, sementara ibu-ibu berdaster yang sedang berbelanja sayur menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

Penampilan bos dunia bawah itu kini jauh dari kata mengintimidasi. Rambutnya berantakan, bajunya bau keringat, dan wajahnya pucat pasi karena lapar.

"Sialan. Awas saja kau, bocah sok berkuasa. Aku akan benar-benar meratakan rumahmu," gerutu Leon sambil terus memegangi perutnya.

Baru saja ia melangkah keluar dari gapura gang perumahan menuju jalan raya, suara decit rem ban mobil yang memekakkan telinga terdengar.

Ciiiittt!

Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti mendadak tepat di depannya, disusul oleh tiga mobil SUV hitam di belakangnya.

Pintu pengemudi terbuka dengan sangat kasar dan terburu-buru.

Joni melompat keluar dengan wajah sembap, kantung mata menghitam, dan dasi yang terpasang miring.

Begitu matanya menangkap sosok Leon yang berdiri di pinggir jalan, lutut Joni seketika lemas. Air matanya langsung tumpah ruah bagai bendungan jebol.

"Sir Leon!" jerit Joni histeris, berlari menghampiri bosnya dengan kedua tangan terentang lebar layaknya sedang bermain film drama reuni keluarga.

"Syukurlah, anda masih hidup! Anda kemana saja semalaman, Sir?! Saya dan anak buah kita sudah menyisir seluruh penjuru kota sampai subuh! Nyonya besar menangis histeris dan nyaris memanggil pasukan—"

Belum sempat Joni menyelesaikan pidato tangisannya apalagi memeluk bosnya, Leon dengan wajah datar melewati Joni begitu saja, membuka pintu belakang mobil itu, dan langsung masuk ke dalam.

Leon menutup pintu dengan keras. Ia menurunkan kaca jendela sedikit, menatap asistennya yang masih mematung dengan pose memeluk angin di atas trotoar.

"Masuk ke mobil dan menyetir lah sekarang. Atau aku akan memotong gajimu selama sepuluh tahun ke depan," titah Leon dengan dingin.

Mendengar ancaman potong gaji yang mengerikan itu, air mata haru Joni langsung tersedot masuk kembali.

Kepanikannya lenyap dalam satu kedipan mata.

"Siap, Sir!" seru Joni. Ia langsung berlari memutar, melompat ke bangku supir, dan segera menginjak pedal gas dalam-dalam.

1
Ida Lailamajenun
bukan nya Ele pernah bilang klu sodara tiri nya itu tukang rampas sampai pacar Ele ikut dirampas nya ini kok malah akrab yak
ceuceu
murahan banget elena,harusnya nikah dulu,jadikan pelajaran sebelumnya cukup sekali hamil di luar nikah
Senja: diluar negeri mungkin udah biasa kak🙏 maaf kalau gak sesuai ekspetasi🙏🙏
total 1 replies
ceuceu
kocag noah maen panggil papah aj/Facepalm/
Sweet Heart
Kapan Elena Dan Noah Ketemu Dengan Papa Kandungx Elena Thor. Jangan Sampe Papanya Elena Dah Mati Yahhh Dan Seluruh Hartax Elena Diambil Ibu Tirinya Elena
Lisa Halik
🤣🤣leon bersedialah kamu
Nice1808
sabar leon ntar klo dah lahir aman kok🤣🤣🤣
Nice1808
hhaahha sabar leon , menghadapi ibu hamil ada aja tingkah nya😂
Nice1808
belum dpt kejutan dah tau duluan papa singa ini🤣
ceuceu
Noah pede banget langsung nyapa/Facepalm//Facepalm/
ampun dh kocak parah/Facepalm/
Sri Rahayu
sabar Leon....istri mu lg hamil muda...lanjut Thorr😘😘😘
ceuceu
ternyata noah gen elena matre/Facepalm//Facepalm/
ceuceu
sumpah ngakak bab ini dari awal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
noah dagang cu-pang/Facepalm//Facepalm/
Sri Rahayu
bikin ngekek aja hahaha
ceuceu
ampun bocah maen ngomongin investasi/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Rahayu
hahaha....kalian berdua ni kdng lucu kdng bikit greget aja 😍😍😍
Dew666
Makasih thor dah update banyak banyak
Senja: sama2 kak dew, lg mood🤭
total 1 replies
awesome moment
krn cinta luber leon maka elena jd bumil aneh😄😄😄
Senja: Bisa gitu ya kak wkwk
total 1 replies
awesome moment
😄😄😄
Lisa Halik
sabar yaa leon
Lisa Halik
🤣🤣leon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!