Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicurangi : 11
Bugh!
Arhgggh!
Helya menjerit kesakitan, tetapi benda ingin diselamatkan berhasil tergenggam lagi setelah meluncur dari tangan gemetaran.
Lututnya ngilu menghantam kerasnya lantai, namun kalah perih dari hati seperti dihujam belati.
“Gila, benar-benar gila,” gumamnya disela-sela merintih. berkali-kali menggelengkan kepala, mencoba meyakini kalau ini nyata bukan mimpi maupun delusi.
Kedua kakinya diluruskan, rasa sakit langsung merambat naik membuatnya berkeringat dan meringis.
Kantong ASI dalam genggaman isinya berguncang dikarenakan tangan Helya goyah.
Dia baca pelan-pelan seperti anak kecil baru belajar mengeja. Keterangan tanggal diperah, dan volume berat terpampang nyata.
Wajah memerah, bersimbah air mata menatap lurus pada pintu kulkas terbuka.
Ada tumpukan plastik ASI transparan terisi separuh pada rak tengah. Bagian pintu terdapat alat pumpingnya.
“Mengapa?” suaranya nyaris berupa bisikan, dan hanya terdengar olehnya seorang.
Dalam keadaan shock, merasa dicurangi, tetapi kesulitan mencerna, tiba-tiba banyak sekali prasangka yang memaksa otak berpikir melebihi kapasitasnya sampai berdenyut.
Telinga Helya berdengung, kepalanya pusing, dan perut mulai mual, reaksi tubuh apabila mengalami kecemasan luar biasa.
Heuheuhh … heuheuhh ….
“Kali ini aku gak boleh kalah. Tenang Helya, kamu harus rileks,” ia mensugesti seraya mendongak menatap plafon agar pandangan tak diserbu kunang-kunang putih.
Helaan napas berat, panjang memenuhi kamar menyimpan bukti menjijikan.
Helyara hanya lemah, terlalu percaya, tetapi bukan bodoh sampai tak mampu menerka.
Potong-potongan ingatan coba disambung, disatukan menjadi video berjalan.
Hehehehe ….
Tawanya terdengar getir, dia kembali berteriak lantang.
“Brengsek kalian! Gak tahu diri! Aku pungut dari kubangan lumpur, malah mencurangi dengan cara hina, kotor!” Mulutnya terbuka lebar, leher tertarik hingga kulit kendur mengencang.
Dilemparnya kantong ASI ke atas kasur. Helya merangkak mendekati lemari. Jempol kaki mencungkil bagian bawah pintu, begitu terbuka sedikit langsung dihempaskan menggunakan tangan.
“Pasti ada hal lainnya yang disembunyikan! Awas kalian!”
Tumpukan kain digeledah satu persatu tanpa menarik keluar, dan disaat amarah menguasai, otaknya masih berfungsi untuk tidak bertindak membabi-buta berujung mengundang curiga.
Tak ada apa-apa di sana, namun wanita terlanjur murka, bergeser ke samping pada gantungan baju. Menyibak banyaknya lingerie beda warna dan model.
Suara jantungnya lebih keras dari detak jam, ia geram sekaligus jijik. Bergegas mengusir pikiran liar tentang hal dewasa.
Laci kecil ditarik, lipatan celana dalam dikeluarkan, dan selembar foto ikut terangkut.
Hiks hiks hiks … akhhh!
“Hati ini sakit Tuhan! Mengapa bisa diriku dipermainkan bak orang bodoh! HAH!!!” jeritnya sejadi-jadinya.
Serak sudah suaranya, sebisa mungkin dengan kewarasan tersisa, ia menahan diri untuk tidak merobek selembar foto.
Ya, potret yang bagi tak mengenali sosok di dalam gambar pasti akan mengira mereka pasangan sedang berbahagia menyambut kelahiran putra pertama.
Alandi duduk dibelakang wanita mengenakan baju rumah sakit dan sedang menggendong bayi memakai topi bertuliskan nama — Alamsyah Syahputra. Mereka sama-sama tersenyum lepas menghadap kamera.
Wanita tersenyum lebar itu bukan Rianti, melainkan Siska. Pembantu yang berhasil membangun citra anggun, sopan, pintar membawa diri di mata Helyara Utomo.
“Aku mencurigai Rianti, ternyata ibunya Alam adalah Siska. Siska?” ulangnya lagi, seolah sedang belajar mempercayai.
“Konspirasi macam apa ini? Sejak kapan?” dia tidak sanggup berpikir, seakan otaknya buntu.
“Apa yang harus kulakukan? Dari mana dulu? Sama siapa minta bantuan? Terus … Hah!” Helya memekik geram, foto dalam genggaman dilempar takut tak bisa menahan diri berakhir dikoyak.
Bersusah payah dia mau bangkit, sampai berpegangan pada handle lemari. Begitu berhasil, ternyata kakinya menggigil hebat dan dirinya kehilangan keseimbangan.
BUGH!!
Suara berdentum persis bunyi karung berat puluhan kilogram dilempar dari ketinggian memecah kesunyian mengusik ketenangan.
Helyara telungkup, kedua tangan dan kaki terbuka lebar.
Tangisnya bertambah kencang sampai kesulitan bernapas, hidung tersumbat.
“Ayah! Helya dicurangi. Putri kesayanganmu dibodohi. Pria yang kukira baik, memiliki sifat penyayang, tutur lemah lembut mirip Ayah, ternyata laki-laki jahat. Ayah ….” dia mengadu, seolah sosok telah tiada bisa mendengar rintihan pilunya.
“Ibu … Helya dikhianati karyawan toko Emas Utomo. Tega sekali dia menipu, menjadikan putri sulungmu ini bak orang dungu, idiot! Helyara harus apa Bu?” ia masih bertahan, enggan bergerak maupun mengubah posisi berbaring.
Tangisan kencang lambat laun melemah menyisakan sedu sedan. Tatapan sepasang mata memerah tak lagi fokus, hampa.
Bisikan terakhir bi Mirma kembali bergema dalam relung hati, mendobrak pintu agar dia berlari jangan diam ditempat menerima kecurangan menyakitkan ini.
Kalau sudah selesai, hubungi nomor yang bibi tulis. Jangan pakai ponsel Nyonya. Cari cara lain.
“Apa ponselku pun dikendalikan siAalan brengsek itu?” katanya pelan.
Dalam keadaan lemah, perasaan carut marut, hati kecewa, ada sebuah dorongan bernama amarah mulai mendominasi, menyelimuti.
Helya bergerak sampai badannya miring, baru sesudahnya duduk.
“Aku janji demi nama Ayah, Ibu dan Tomi — kalian yang sudah menorehkan luka, bertindak curang, akan merasakan sakit berkali-kali lipat dari kurasakan kini!” Kedua tangan meninju lantai.
Dengan sisa tenaga, wanita berpenampilan berantakan — rambut kusut, wajah sembab, lutut memerah dapat dipastikan besok memar, mundur sampai punggung menyentuh tepi springbed.
Bukan fisiknya saja yang bangkit, jiwa tersakiti oleh perbuatan bejat satu keluarga pun membara menuntut pembalasan.
Didekatinya meja rias, dan laci-laci ditarik. Seringai Helya memantul kala dia bercermin. “Kau hebat siAlan, memelihara pelacur dirumah tempatmu menumpang hidup. Sungguh keren!”
Wanita baru saja merasakan apa itu namanya mati rasa, bertepuk tangan seraya menatap pantulannya sendiri.
Helyara mengambil dua botol sekaligus parfum dari brand mendunia berharga jutaan rupiah. Ia buka tutup yang isinya masih terlihat penuh.
Aroma lembut semalam terhirup hidung, menguar tajam dan kini tercium memicu rasa mual.
“Ok. Baik.” Angguknya, menaruh parfum di atas meja. “Ayo kita cari lagi barang apa yang dibeli menggunakan uangku.”
Pintu kamar mandi didorong kuat, interior yang seingatnya dulu tak semewah ini kembali membuatnya tercengang.
Bathtub lengkap dengan shower air panas, meja wastafel dipenuhi benda-benda penunjang kecantikan. Dan satu set produk SK-II dibanderol harga jutaan rupiah, menjadi bukti kebodohannya kesekian kalinya.
“Cukup menarik, mari kita hitung cepat berapa nominal uangku dinikmati wanita bermuka dua itu.” Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan wastafel, otaknya berhitung cepat tentu asal-asalan tak akurat.
Helya keluar dari kamar mandi, membiarkan semua benda masih tergeletak dan enggan membereskan.
Ada hal lebih penting, mendesak yang ingin segera dituntaskan.
Kertas tadi dibuang ke lantai, kembali dipungut. Wanita tambun itu melangkah gontai masuk ke dalam rumah, terus maju menuju ruang tengah.
Helya menghubungi nomor tertera di atas kertas menggunakan telepon rumah. Menunggu dengan sekujur badan panas, hati berdesir.
Begitu tersambung dan terdengar suara sapaan di ujung sana, langsung Helya bertanya pada intinya. “Mirma, Ganira dan Sapto siapamu?”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭