Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Setelah melihat Kania tenang dan tidak lagi merasa bersalah, Abah Muis dan Umi Latifah pun segera pamit. Mereka merasa tidak enak jika meninggal kan tamu mereka terlalu lama.
Abah Muis dan Umi Latifah sudah mendengar dari mulut Kania sendiri, bagai mana Kania bisa bertemu dan mengenal pasangan suami istri itu.
"Istirahat lah nak, Abah dan Umi akan menemani tamu kita, pak Rama dan Bu Sarah!" Abah Muis berkata pada putri nya.
"Iya Bah, terima kasih karena Abah dan Umi masih mau menerima Kania!" Kania terharu dengan sikap orang tua nya.
"Nak, semua yang terjadi sudah di takdir kan oleh Allah. Kita harus ikhlas menerima nya, insya Allah ada hikmah yang bisa kita petik di balik semua kejadian ini!" Umi Latifah berkata dengan tenang nya.
"Abah dan Umi keluar dulu, mari Umi!" Abah Muis mengajak istri nya keluar.
Kini Kania merasa lega, beban yang menghimpit di dada nya telah hilang. Dia sangat bersyukur memiliki orang tua yang mengerti dan selalu mendukung nya, sekalipun dia bukan lah orang tua kandung nya.
Abah Muis dan Umi Latifah kembali ke ruang tamu, menemui tamu mereka. Sebelum nya dia meminta bi Jum untuk menyiapkan makan siang untuk para tamu nya.
"Maaf pak Rama, bu Sarah, tadi kami tinggal sebentar!" Abah Muis berkata pada mereka.
"Ah tidak masalah Abah, maaf ya kedatangan kami telah mengganggu waktu nya!" Pak Rama tersenyum pada semua orang.
Tiba - tiba pandangan Umi Latifah tertuju pada kalung dengan buah kalung berbentuk liontin kupu - kupu yang melingkar di leher bu Sarah, kalung yang sama persis dengan kalung yang di temukan bersama dengan Kania 25 tahun yang lalu.
"Maaf bu Sarah, boleh kah saya bertanya sesuatu sama ibu?" Tanya Umi Latifah.
"Silahkan Umi!" Jawab Bu Sarah.
"Kalung itu, kalung yang di pakai oleh bu Sarah, apakah kalung itu punya sejarah sendiri?" Tanya Umi Latifah.
Abah Muis baru menyadari pertanyaan istri nya, saat mata nya tertuju pada kalung itu. Bu Sarah dan pak Rama terkejut mendengar pertanyaan dari Umi Latifah.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Umi Latifah, Bu Sarah menarik nafas berat.
"Kalung ini di berikan oleh suami saya saat saya sedang mengandung anak kami, kalung ini ada 2 satu untuk saya dan satu lagi untuk putri kami!" Jawab Bu Sarah.
"Oh, pasti putri nya cantik sekali bu, secantik kalung itu!" Puji Umi Latifah.
"Putri kami sudah hilang, dia di culik saat usia nya masih berumur 3 bulan!" Pak Rama menambahkan penjelasan istri nya.
Bagai kan di sambar petir, Umi Latifah dan Abah Muis mendengar nya. Entah kenapa mereka merasa bahwa sepasang suami istri ini ada hubungan nya dengan Kania.
Umi Latifah melihat ke arah suami nya, seakan memberikan kode untuk bertanya lagi. Abah Muis pun mengerti kode yang di sampaikan oleh istri nya.
"Apakah saat putri kalian di culik, dia menggunakan kalung itu?" Tanya Abah Muis dengan hati - hati.
"Iya pak!" Jawab Pak Rama.
Sedang kan bu Sarah tidak bisa lagi menyimpan kesedihan nya, mengingat kejadian 25 tahun yang lalu. Kejadian pahit saat dia kehilangan buah hati nya.
"Kalung itu sama dengan kalung yang di gunakan oleh Kania, saat kami menemukan nya!" Abah Muis berkata lagi.
Ucapan Abah Muis langsung membuat Pak Rama dan Bu Sarah terkejut, Kania memilki kalung yang sama?.
"Apa maksud Abah?" Tanya Pak Rama penasaran.
"Kami menemukan Kania di depan pintu panti asuhan ini 25 tahun yang lalu, dengan kalung itu bersama nya!" Jelas Abah Muis.
"Apa??? Jadi Kania bukan putri kandung Abah dan Umi?" Bu Sarah tidak percaya dengan semua ini.
"Bukan, dia adalah bayi yang kami temukan di depan pintu panti, dan kami jadikan putri angkat kami!" Jelas Umi Latifah.
"Kania, jadi Kania adalah Sesil Pa. Putri kita yang hilang!" Bu Sarah menangis bahagia.
"Abah, Umi terima kasih karena telah menjaga putri kami. Kalung itu adalah satu - satu nya tanda bahwa Kania adalah putri kami!" Pak Rama pun sangat terharu mendengar nya.
Kebahagiaan kini menyelimuti sepasang suami istri itu, perempuan yang tidak sengaja bertemu dengan mereka ternyata adalah putri kandung mereka yang selama ini mereka cari.
*****
"Pa, kita tidak bisa diam saja. Sampai saat ini Kania tidak kita ketahui keberadaan nya, kita harus mencari nya di pondok. Semua ini terjadi karena kesalahan Erlan!" Mama Indri berkata pada suami nya.
"Kamu benar Ma, kita harus memastikan bahwa Kania baik - baik saja. Kita juga harus meminta maaf pada Abah Muis dan Umi Latifah, perbuatan Erlan sudah sangat keterlaluan!" Papa Beni setuju dengan usul istri nya.
Kedua nya tidak ingin menunda lagi, mereka langsung meluncur ke Bogor. Mereka harus menemui orang tua Kania, biar bagai mana pun Kania adalah tanggal mereka.
"Pa, Mama tidak akan merestui Erlan kembali pada Wina. Perempuan itu dulu sudah menghancurkan hidup Erlan, Mama tidak akan memaafkan nya!" Mama Wina berkata pada suami nya.
"Mama tenang saja, jika Erlan sampai memilih Wina maka Papa akan mencabut jabatan nya dari perusahaan. Silahkan dia berusaha sendiri, tanpa bantuan dan nama besar kita!" Papa Beni berkata sambil mata nya fokus pada jalanan di hadapan mereka.
"Pa, apa yang akan kita katakan pada orang tua nya Kania, jika Kania tidak ada di sana!" Mama Indri tampak nya sangat cemas.
"Papa rasa Kania pasti kembali ke pondok Ma, Kania itu tidak mengenal tempat lain. Kecuali pondok dan panti tempat dia di besar kan, jadi rasa nya mustahil jika dia pergi ke tempat lain!" Papa Beni berkata lagi.
"Entah lah Pa, Mama rasa nya cemas sekali. Bagaimana kita bisa menghadapi Abah Muis dan Umi Latifah, setelah apa yang di lakukan Erlan sama Kania!" Mama Indri menghela nafas berat.
Papa Beni juga terdiam, benar sekali apa yang di katakan oleh istri nya. Mereka harus menghadapi rasa malu karena ulah putra mereka, Erlan benar - benar tidak tahu balas budi. Kania lah yang menyelamatkan hidup nya saat dia depresi karena di tinggal Wina, tapi kini dia malah kembali pada Wina dan mengusir Kania dari hidup nya.
"Semoga Abah Muis dan Umi Latifah mau memaafkan semua kesalahan kita, Ma!" Papa Beni berkata dengan nada lirih.
Perjalanan ke Bogor kali ini terasa mencekam bagi kedua nya, bayangan kesalahan yang telah di perbuat oleh Erlan begitu menghantui mereka. Tapi kedua nya akan menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi, mereka tidak mau lari dari masalah yang telah di ciptakan oleh putra nya.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡