NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Misi 3 Dimulai

Menjadi pacar Xavier ternyata membuat banyak hal berubah menjadi lebih mudah.

Dan lebih berbahaya.

Mudah, karena Keira tidak perlu lagi mencari alasan kenapa ia berdiri terlalu dekat dengan Xavier di kantin. Tidak perlu pura-pura kebetulan saat Xavier duduk di sampingnya di perpustakaan. Tidak perlu menjelaskan pada Celine kenapa ia tersenyum sendiri setiap kali ponselnya bergetar.

Berbahaya, karena semua hal yang dulu bisa ia sembunyikan di balik kata `misi` sekarang terlihat seperti keinginan pribadi.

Termasuk pakaian.

Hari kedua setelah mereka resmi, Keira sedang menggambar di meja apartemennya ketika pesan dari Xavier masuk.

`Besok kelas jam berapa?`

Keira membalas, `Jam sembilan. Kenapa?`

`Aku jemput.`

`Itu bukan pertanyaan.`

`Benar.`

Keira tertawa sendiri.

Pesan berikutnya muncul.

`Besok mau pakai apa?`

Jari Keira berhenti di atas layar.

Ia menatap kalimat itu lama, lalu menatap laci meja tempat Nokia tua disimpan.

Jantungnya langsung bergerak tidak teratur.

`Kenapa?`

Balasan Xavier datang satu menit kemudian.

`Biar kita samaan.`

Keira meletakkan ponsel di meja seperti benda itu baru saja panas.

Tidak.

Ini terlalu mudah.

Sistem memberinya misi yang semalam membuatnya pusing, lalu Xavier sendiri datang membawa solusi dengan wajah datar dari seberang koridor. Kalau Nokia tua itu punya mulut, Keira yakin benda itu sedang tertawa.

Ponselnya bergetar lagi.

`Kei?`

Keira mengambil napas.

`Kamu serius mau samaan?`

`Iya.`

`Nanti orang-orang makin heboh.`

`Sudah terlanjur.`

`Kamu tidak malu?`

`Sama pacarku? Tidak.`

Keira menutup wajah dengan kedua tangan.

Pria ini.

Pria yang dulu bisa membuat satu kelas diam hanya dengan tatapan dingin, sekarang menanyakan warna baju besok seolah itu urusan jadwal kuliah.

Keira mengetik pelan.

`Putih dan denim?`

`Boleh.`

`Jangan terlalu niat.`

`Definisi terlalu niat?`

`Kalau kamu beli jaket pasangan.`

`Catat. Bukan besok.`

Keira hampir menjatuhkan stylus.

"Bukan besok?" ulangnya pada ruangan kosong. "Berarti kapan?"

Tidak ada jawaban, kecuali pesan terakhir Xavier.

`Tidur jangan malam. Pacarku kalau kurang tidur matanya lebih galak dari Mochi.`

Keira membalas dengan stiker kucing marah.

Setelah itu, ia membuka laci dan mengeluarkan Nokia tua.

Layar kecilnya masih menampilkan misi yang sama.

`Misi 3: Pakai outfit couple bersama target, minimal 3 kali.`

Keira menatapnya sambil menggigit bibir.

Kalau sistem tahu Xavier yang menawarkan duluan, apakah itu tetap dihitung?

Pertanyaan yang lebih menakutkan muncul setelahnya.

Kalau suatu hari Xavier tahu bahwa sejak awal, semua kedekatan mereka dimulai dari misi meniru dirinya, apakah ia akan merasa dibohongi?

Keira menutup ponsel itu.

"Aku tidak mau mikir sekarang."

Tetapi tentu saja ia tetap memikirkannya sampai tidur.

Besok paginya, ia memilih blouse putih, jeans biru muda, dan sneakers putih. Sederhana. Tidak terlalu mencolok. Kalau ada orang bertanya, mereka bisa bilang kebetulan.

Namun ketika ia membuka pintu apartemen, alasan itu langsung mati.

Xavier berdiri di depan pintu dengan kemeja putih, jeans gelap, dan sneakers putih yang hampir sama persis dengan miliknya. Di tangannya ada dua paper cup teh hangat.

Ia menatap Keira dari atas ke bawah, lalu berkata, "Cocok."

Keira menutup mata sebentar.

"Kamu sengaja membuat ini terlihat terlalu jelas."

"Kita memang sengaja."

"Aku belum siap secara mental."

"Aku bawa teh."

"Teh tidak menyelesaikan krisis identitas."

"Tapi membantu lambung."

Keira menerima paper cup itu sambil menggerutu. Di dalam tasnya, Nokia tua bergetar pelan.

Ia pura-pura tidak dengar sampai mereka masuk lift.

Xavier melirik tasnya. "Ada notifikasi?"

"Grup."

"Celine?"

"Kemungkinan besar manusia-manusia rusuh."

Xavier tidak bertanya lagi.

Di kampus, reaksi publik lebih cepat dari yang Keira perkirakan.

Mereka baru turun dari mobil ketika dua mahasiswi di dekat parkiran saling menyikut. Di depan lobi, Kevin langsung menunjuk pakaian mereka dari jauh.

"ANJIR, SUDAH COUPLE OUTFIT!"

Keira ingin berbalik masuk mobil.

Xavier memegang tali tasnya, menahan tanpa terlihat memaksa. "Maju."

"Aku mau pindah universitas."

"Terlambat."

Kevin berlari kecil mendekat dengan wajah bersinar. Dino mengikutinya sambil menggeleng.

"Xav, bro, perkembanganmu terlalu cepat. Kemarin pacaran, hari ini couple outfit. Besok apa? Foto prewedding di depan perpustakaan?"

Xavier menatapnya dingin. "Kamu mau tetap hidup sampai UAS?"

Kevin langsung menepuk mulut sendiri. "Baik. Diam. Tapi sebagai teman, aku bangga."

Keira tidak tahan dan tertawa.

Dari arah lain, Celine muncul dengan tablet di tangan. Begitu melihat pakaian Keira dan Xavier, ia berhenti, lalu mengangkat kedua alis.

"Wow."

"Jangan mulai," kata Keira.

"Gue belum ngomong."

"Wajah lo sudah."

Celine memutar tablet ke arah mereka. Layar menunjukkan sketsa cepat dua karakter chibi memakai outfit putih denim. Satu karakter berwajah dingin, satu lagi memegang kucing hitam.

"Terlambat. Gue sudah mulai."

Keira menatap sketsa itu, lalu tertawa sampai harus menutup mulut.

Xavier melihat gambar itu lebih lama dari yang Keira kira.

"Bagus," katanya.

Celine menatap Keira dengan ekspresi puas. "Pacar lo punya selera."

Kata itu membuat Keira kembali tersipu.

Nokia di tasnya bergetar lagi.

Kali ini Keira tidak bisa menahan. Ia pamit sebentar ke toilet dekat lobi. Setelah memastikan tidak ada orang, ia mengeluarkan ponsel tua itu.

`Misi 3: progres 1/3.`

Keira menghela napas yang tidak ia sadari ditahan.

Berhasil.

Namun pesan berikutnya muncul terlalu cepat.

`Nilai Replika: 72%.`

Keira membeku.

Sebelumnya 66%.

Naik enam persen hanya dalam beberapa hari.

Ia menatap angka itu sampai layar terasa kabur.

Enam persen.

Hubungan mereka berubah, dan sistem langsung merespons seolah selama ini memang menunggu sesuatu yang lebih dari kedekatan fisik. Bukan sekadar pakaian mirip. Bukan sekadar tugas kelas. Bukan sekadar berpura-pura.

Ia dan Xavier benar-benar saling memilih.

Pintu toilet terbuka. Keira buru-buru menyimpan Nokia di tas. Seorang mahasiswi masuk, tersenyum singkat, lalu melewati cermin.

Keira mencuci tangan meski tidak perlu. Air dingin menyentuh kulitnya, membantu menenangkan jantung yang terlalu cepat.

Ketika ia keluar, Xavier menunggu di dekat dinding.

"Kamu pucat."

"Aku cuma... kaget."

"Karena Kevin?"

"Sebagian."

Xavier menatapnya lebih dalam. "Ada yang lain?"

Keira hampir menjawab.

Hampir.

Ia hampir mengatakan bahwa sistemnya baru saja menunjukkan angka 72%. Bahwa memakai baju sama dengannya bukan hanya lucu-lucuan pacar baru, tetapi bagian dari mesin aneh yang membuatnya tetap hidup. Bahwa ia takut suatu hari semua rahasia ini akan membuat Xavier merasa dijadikan alat.

Namun aturan sistem masih berdiri di belakang kepalanya seperti dinding.

Tidak bisa memberi tahu.

Belum.

Keira memaksa senyum. "Aku cuma belum terbiasa dilihat orang."

Xavier menatapnya beberapa detik lagi.

Lalu ia mengangguk, tidak memaksa.

"Kalau capek, bilang."

"Iya."

Ia berjalan di samping Xavier menuju perpustakaan. Mereka duduk di meja sudut. Xavier membaca buku hukum, Keira membuka tablet, tetapi pikirannya terus kembali ke angka 72%.

Siang itu, mereka makan di kantin. Outfit putih denim mereka muncul di story Kevin dengan stiker `akhirnya punya konten`. Celine mengirim sketsa chibi versi final ke grup. Tania membalas dengan kalimat pendek, `Lucu. Tapi jangan lupa makan beneran, bukan cuma jadi konten.`

Keira tertawa pelan membaca itu.

Xavier melirik. "Tania?"

"Iya."

"Dia benar."

"Kamu bahkan tidak tahu isinya."

"Kalau soal makan, aku setuju."

Keira menendang kakinya di bawah meja. Xavier menangkap gerakan itu dengan kaki sendiri, menahannya sebentar, lalu melepas. Wajahnya tetap datar. Keira hampir tersedak air.

Menjadi pacar Xavier benar-benar berbahaya.

Malamnya, setelah pulang ke apartemen, Keira baru berani membuka Nokia lagi.

Ia duduk di tepi tempat tidur, masih memakai blouse putih yang sama. Di luar jendela, lampu Bandung berkedip pelan. Ponsel modernnya penuh pesan dari Celine dan foto dari Kevin, tetapi ia memilih layar kecil tua itu lebih dulu.

Tidak ada perubahan pada progres Misi 3.

Tetapi setelah beberapa detik, layar berkedip.

Pesan baru muncul.

`Karena hubungan host dengan target meningkat secara signifikan, sistem memasuki mode pemulihan otomatis.`

Keira menahan napas.

Baris berikutnya muncul.

`Estimasi waktu: tidak terbatas.`

Ia membaca kalimat itu lagi dan lagi.

Mode pemulihan otomatis.

Artinya, ia tidak perlu lagi mengejar tugas harian dengan panik. Tidak perlu menunggu pesan baru setiap pagi sambil takut kehilangan kesempatan hidup. Sistem akan berjalan sendiri selama nilai replika terus bergerak.

Keira seharusnya lega.

Dan ia memang lega.

Bahunya turun. Napasnya keluar panjang. Matanya terasa panas karena beban yang selama ini menempel di punggungnya tiba-tiba berkurang sedikit.

Namun kalimat kedua membuat dadanya kembali berat.

Estimasi waktu tidak terbatas.

Tidak ada jaminan kapan sembuh.

Tidak ada tanggal.

Tidak ada janji bahwa angka itu akan sampai 100% sebelum tubuhnya menyerah.

Di layar modernnya, chat dari Xavier masuk.

`Besok mau samaan lagi?`

Keira menatap dua ponsel di pangkuannya.

Satu ponsel memberi harapan tanpa kepastian.

Satu ponsel membuatnya ingin tetap hidup bahkan saat tidak ada kepastian.

Ia membalas Xavier lebih dulu.

`Mau. Tapi jangan terlalu heboh.`

Balasan Xavier datang cepat.

`Terlambat. Aku sudah pikirkan warna.`

Keira tertawa pelan, air mata masih menggantung di bulu mata.

Lalu ia menatap Nokia tua lagi.

Tidak apa-apa, pikirnya.

Tidak terbatas bukan berarti tidak mungkin.

Dan untuk saat ini, ia punya besok.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!