NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Perpisahan dan Krisis

Pagi ketiga perang dingin dimulai dengan Edric pura-pura tidur di sofa.

Eve keluar dari kamar pelan-pelan. Ia membawa cangkir kosong dan hendak ke dapur, tetapi langkahnya berhenti di samping sofa. Edric tidur miring, satu tangan jatuh ke lantai, selimut yang semalam ia berikan sudah melorot ke pinggang.

Rambutnya berantakan. Wajahnya tampak lebih muda ketika tidak sedang memikul nama Kho Group. Ada garis lelah di sudut matanya, dan Eve tahu sebagian dari itu karena dirinya.

Ia seharusnya langsung lewat.

Namun jari Eve bergerak lebih dulu. Ia menyentuh pipi Edric dengan sangat ringan, hanya ingin memastikan apakah tubuhnya hangat karena semalam ia tidur tanpa bantal yang benar.

Mata Edric terbuka.

Tangannya menangkap jari Eve.

"Mau sentuh ya sentuh saja," katanya serak. "Tidak usah malu."

Eve membeku.

Lalu wajahnya memerah oleh marah. "Kamu pura-pura tidur?"

"Awalnya tidak. Lalu saya merasa kamu mendekat, jadi saya mengambil keputusan buruk."

"Kamu memang spesialis keputusan buruk."

Untuk pertama kalinya dalam dua hari, Edric tertawa. Kecil, hati-hati, tetapi nyata.

Eve menarik tangannya. "Jangan senang dulu. Aku masih marah."

"Saya tahu."

"Dan kamu tetap tidur di sofa."

"Baik."

Namun saat ia berbalik ke dapur, sudut bibir Eve bergerak sedikit. Edric melihatnya dan tidak mengatakan apa-apa. Kadang kemenangan terbesar adalah tidak merusak momen dengan komentar.

Pukul delapan, Edric pergi ke kantor. Di pintu Kho Tower, Calista Sia sudah menunggu.

Ia memakai blazer krem, rambut tertata rapi, dan membawa kotak sarapan. Senyumnya lembut seperti ia belum pernah ditolak di balkon, seperti ia tidak melihat jas mahal dibuang ke tempat sampah.

"Ric."

Edric berhenti. Jerry yang berjalan di belakangnya langsung berubah waspada.

"Aku buatkan sarapan," kata Calista. "Roti panggang dengan telur setengah matang. Aku ingat kamu dulu suka."

Edric menatap kotak itu.

Di London, roti panggang seperti itu memang pernah menjadi sarapan murah mereka. Calista mengangkat kenangan itu seperti tiket masuk, tetapi bagi Edric, masa lalu itu sudah menjadi ruangan kosong.

"Yang aku cintai itu istriku," katanya. "Bukan kamu. Bukan orang lain. Jangan buang waktumu."

Wajah Calista kehilangan warna. "Kamu tidak bisa begitu dingin."

"Saya bisa, kalau kamu terus mengganggu rumah tangga saya."

Ia menoleh pada Jerry. "Buang."

Jerry mengambil kotak sarapan itu dan memasukkannya ke tempat sampah di depan gedung, tepat di hadapan Calista.

Beberapa karyawan yang lewat pura-pura tidak melihat, tetapi berita kecil seperti itu bergerak lebih cepat daripada lift.

Calista berdiri kaku. "Kamu akan menyesal mempermalukanku."

Edric tidak menoleh lagi. "Saya lebih menyesal pernah memberi kamu ruang untuk berharap."

Di kantor, ia langsung memberi instruksi.

"Periksa proses masuk Calista Sia. Rekomendasi Anna Sia, dokumen HR, siapa saja yang ia temui setelah bergabung."

Jerry terdiam sesaat.

Edric menatapnya.

"Maksud saya setelah bergabung," koreksi Jerry cepat, karena ia tahu bosnya tidak akan peduli alasan bahasa kalau ada satu kata asing salah tempat di laporan. "Saya periksa semua."

Sore harinya, krisis datang dari Cirebon.

Eve sedang merapikan dokumen di apartemen ketika ponselnya berdering lagi. Nomor itu sama dengan panggilan tak terjawab semalam. Ia menjawab cepat.

"Halo?"

Suara Bu Wati terdengar pecah oleh panik. "Non Eve, Oma jatuh. Tadi di dapur. Mulutnya miring, tangan kirinya lemas. Tetangga bantu bawa ke RSUD Cirebon. Dokter bilang kemungkinan stroke. Non harus datang sekarang."

Dunia Eve berhenti.

"Oma sadar?"

"Kadang sadar, kadang tidak. Dokter minta keluarga."

Eve tidak ingat bagaimana ia menutup telepon. Ia hanya bergerak. Lemari dibuka, baju dimasukkan ke tas asal-asalan, dompet dicari, paspor lokal dan kartu identitas dimasukkan, obat maag terjatuh ke lantai dan tidak ia ambil.

Oma Ong adalah orang terakhir yang benar-benar menjadi keluarganya sebelum Edric. Perempuan yang membesarkannya di Cirebon, yang mengajarinya membuat teh jahe, yang bilang menangis boleh tapi jangan lupa makan. Jika sesuatu terjadi pada Oma, Eve tidak tahu bagian mana dari dirinya yang masih bisa berdiri.

Ia memesan tiket tercepat ke Cirebon. Ponselnya menunjukkan baterai dua belas persen. Kabel charger masih tertancap di dinding ketika ia berlari keluar.

Ia tidak menghubungi Edric.

Bukan karena tidak mau. Pada saat itu, otaknya hanya berisi satu kata: Oma.

Di Soekarno-Hatta, ia berlari melewati pemeriksaan dengan napas pendek. Pesawat delay tiga puluh menit karena cuaca, dan setiap menit terasa seperti hukuman. Ia mencoba mengecas ponsel memakai power bank penumpang di sebelah, tetapi kabelnya tidak cocok. Baterai turun menjadi lima persen, tiga persen, lalu mati.

Di ruang tunggu, orang-orang tetap hidup seperti biasa. Ada anak kecil makan roti, ada pasangan muda berdebat soal koper, ada pegawai bandara mengumumkan perubahan gerbang dengan suara datar. Eve duduk di antara semua kehidupan normal itu dengan jantung yang seperti ditarik ke Cirebon lebih dulu. Ia ingin menelepon Edric, ingin menelepon siapa pun, tetapi layar hitam di tangannya hanya memantulkan wajahnya yang pucat.

Saat akhirnya pesawat dipanggil, ia hampir lupa membawa tas. Seorang ibu di sebelahnya mengingatkan dengan lembut. Eve mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke lorong pesawat seperti orang berjalan dalam mimpi.

Layar hitam.

Eve menggenggam ponsel mati itu seperti menggenggam tangan yang tidak membalas.

Di Jakarta, Edric pulang lebih awal membawa bubur ayam yang biasanya Eve suka saat stres. Apartemen kosong. Lampu dapur menyala, laci terbuka, kabel charger menggantung di stopkontak tanpa ponsel.

Ia memanggil, "Lina?"

Tidak ada jawaban.

Di kamar, lemari terbuka dan beberapa pakaian hilang. Tas kecil Eve tidak ada. Sepasang sepatu yang biasa ia pakai bepergian juga tidak ada.

Darah Edric terasa turun ke kaki.

Ia menelepon Eve.

Tidak aktif.

Ia menelepon Linguara. Eve izin mendadak dan tidak memberi detail.

Ia menelepon Dan. Dan tidak tahu apa-apa dan langsung panik.

Dalam lima belas menit, seluruh jaringan yang biasanya membuat Kho Group bergerak seperti mesin dinyalakan untuk satu orang. Jerry melacak transaksi tiket, Fajar menghubungi petugas bandara, dan rekaman CCTV menunjukkan Eve naik pesawat menuju Cirebon dua jam sebelumnya.

"Siapkan helikopter," kata Edric.

Jerry menutup telepon lain dengan wajah tegang. "Cuaca di jalur utara buruk. Tidak aman untuk terbang malam."

"Mobil."

"Bos, Jakarta ke Cirebon..."

"Mobil."

Jerry tidak membantah lagi.

Perjalanan itu seharusnya memakan empat jam. Edric menempuhnya dalam dua jam empat puluh menit. Jalan tol malam terasa seperti garis panjang yang tidak pernah selesai. Hujan turun di beberapa ruas, wiper bergerak cepat, lampu truk memantul di aspal basah.

Setiap papan kilometer membuatnya menghitung sisa jarak dengan marah. Ia pernah bergerak di daerah konflik, pernah mengambil keputusan di bawah tembakan, pernah menunggu evakuasi udara dengan darah di sarung tangan. Namun tidak ada yang terasa selama ini seperti menunggu kabar dari ponsel mati milik Eve. Ia tidak tahu apakah Eve sudah makan, apakah ia punya uang tunai, apakah ada orang yang duduk di sampingnya saat dokter menyebut kata stroke.

Jerry duduk di kursi penumpang, satu tangan memegang pegangan pintu, satu tangan mengatur panggilan. Ia tidak pernah melihat Edric seperti ini. Bukan marah. Bukan dingin. Ini takut murni, tajam, dan tanpa tempat bersembunyi.

"Bu Wati mengatakan Oma Ong masih di observasi," kata Jerry setelah menerima kabar. "RSUD Cirebon, instalasi gawat darurat. Nyonya sudah sampai."

Edric menekan gas lebih dalam.

Di RSUD Cirebon, lampu lorong terlalu putih.

Eve sudah berada di sana tiga jam. Bu Wati masuk keluar ruang perawatan membawa kabar yang tidak pernah cukup jelas. Dokter mengatakan tujuh puluh dua jam pertama penting. Tekanan darah Oma tinggi. Ada kemungkinan perlu rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap jika kondisi tidak stabil.

Eve mengangguk setiap kali orang berbicara, tetapi kata-kata itu tidak tinggal utuh di kepalanya.

Di balik kaca ruang observasi, ia sempat melihat Oma Ong terbaring dengan selang oksigen. Wajah yang dulu selalu terlihat kuat kini tampak kecil di atas bantal rumah sakit. Eve menempelkan tangan ke kaca sebentar. Ia ingin masuk, ingin memanggil Oma, ingin kembali menjadi anak kecil yang bersembunyi di dapur Cirebon sambil mendengar Oma menyanyi pelan.

Ia belum makan sejak siang. Ponselnya mati. Dompetnya hampir tertinggal di taksi. Ia menandatangani formulir keluarga dengan tangan gemetar, lalu duduk di kursi plastik sampai tubuhnya terasa bukan miliknya.

"Non, makan dulu," kata Bu Wati.

Eve menggeleng. "Aku tunggu dokter."

"Oma tidak mau Non sakit."

Kalimat itu membuat bibir Eve bergetar.

Ia berdiri untuk mengambil air, tetapi lututnya melemah. Dinding di sampingnya menjadi satu-satunya benda yang bisa ia percaya. Ia bersandar, napas pendek, pandangan mulai berkunang.

Pintu kaca lobi terbuka keras.

Edric masuk dengan kemeja kusut, rambut basah oleh hujan, mata merah karena perjalanan. Ia berhenti satu detik, mencari.

Lalu ia melihat Eve di ujung koridor.

Eve mengangkat wajah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara keluar.

Lututnya menyerah.

Edric berlari.

Ia menangkap Eve sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Eve jatuh ke dadanya, seluruh tubuh gemetar seperti baru menyadari bahwa ia tidak harus berdiri sendirian lagi.

Edric memeluknya erat, suaranya serak.

"Ada aku. Aku di sini."

Lampu lorong berdengung di atas mereka.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!