Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Album untuk Oma
Stephanie masuk seperti orang yang sudah hafal cara membuat ruangan menoleh.
Ia mengenakan dress merah dengan bordir halus, rambutnya disanggul rendah, anting mutiara kecil bergerak setiap kali ia tersenyum. Di tangannya ada kotak hadiah panjang berlapis kain emas. Begitu melihat Oma Mei, ia berjalan maju dengan langkah anggun dan membungkuk sopan.
"Selamat Imlek, Oma Mei. Semoga sehat selalu."
Oma Mei menerima salam itu dengan senyum tenang. "Selamat Imlek, Stephanie. Opa Herman tidak ikut?"
"Opa akan datang sore nanti. Beliau meminta saya menyampaikan salam lebih dulu."
Suara Stephanie lembut. Ia tahu kapan harus menunduk, kapan harus tersenyum, dan kapan harus melihat Kevin yang berdiri tidak jauh dari kursi Oma.
Seline berdiri di sisi belakang, memeluk album kecilnya. Dibanding kotak hadiah Stephanie, album buatan tangan itu terlihat terlalu sederhana. Pita merahnya bahkan sedikit miring karena Darren membantu mengikatnya.
Jessica menyenggol siku Seline pelan. "Jangan mundur."
"Aku tidak mundur."
"Kakimu mundur setengah langkah."
Seline kembali ke posisi semula.
Bryan berdiri di belakang Stephanie. Berbeda dari adiknya yang membawa seluruh cahaya ruangan, ia justru lebih diam. Namun diamnya tidak lepas dari Seline. Matanya beberapa kali mencari wajahnya, lalu cepat beralih saat Seline menoleh.
Oma Mei menerima hadiah dari Stephanie. Kotak itu berisi selendang sutra langka, warnanya merah tua dengan motif emas. Beberapa tante langsung memuji. Tante Chen ikut tersenyum, seolah hadiah itu juga menaikkan nilai acara yang ia atur.
"Indah sekali," kata Tante Liu.
Stephanie tersenyum. "Saya memilih sendiri. Saya pikir warna ini cocok untuk Oma."
Oma Mei mengangguk. "Terima kasih."
Nada Oma sopan, tetapi tidak meledak kagum seperti yang beberapa orang harapkan. Stephanie tetap tersenyum, hanya matanya bergerak cepat ke arah Kevin.
Kevin tidak mengatakan apa-apa.
Saat itulah Oma Mei menoleh pada Seline.
"Kamu tadi membawa sesuatu."
Seline membeku.
Ia berharap memberi album itu nanti, saat tamu lebih sedikit. Namun Oma sudah melihatnya sejak awal. Tidak ada tempat untuk mundur.
"Iya, Oma." Seline maju dengan kedua tangan, lalu menyerahkan album kecil itu. "Hadiah Imlek. Tidak mahal, hanya..."
"Kalau kamu bilang tidak mahal sebelum Oma lihat, Oma akan mengira kamu tidak percaya pada tanganmu sendiri."
Seline menutup mulut.
Jessica batuk kecil menahan tawa.
Oma membuka pita merah dan halaman pertama. Gambar kursi kayu di ruang utama muncul, dengan cahaya pagi jatuh di sandaran. Halaman kedua adalah cangkir teh Oma. Halaman ketiga pohon kamboja setelah hujan. Halaman keempat dapur dengan kukusan kue lapis. Setiap gambar sederhana, tetapi menyimpan sudut rumah yang hanya diketahui orang yang benar-benar tinggal dan memperhatikan.
Ruangan yang tadi ramai perlahan menjadi tenang.
Darren berdiri lebih tegak, bangga seperti ia yang menggambar. Jessica tersenyum lebar. Tante Chen menatap album itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Vivian tidak bisa menyembunyikan perubahan wajahnya.
Oma Mei berhenti pada halaman gambar tangan tua memegang cangkir teh.
Itu tangan Oma.
Seline menggambar keriputnya dengan lembut, bukan untuk menunjukkan tua, melainkan kekuatan.
Oma tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
Seorang tante dari keluarga jauh berbisik, "Anak ini memperhatikan sampai detail begitu."
Yang lain mengangguk. "Hadiah mahal banyak. Yang seperti ini jarang."
Bisikan itu tidak keras, tetapi cukup sampai ke telinga Stephanie. Senyumnya tetap rapi, namun bahunya menjadi sedikit lebih kaku. Selendang sutra di pangkuan pelayan tiba-tiba terlihat seperti barang toko mahal, sementara album kecil Seline berubah menjadi sesuatu yang punya tempat di dada Oma.
Lalu ia menutup album perlahan dan menepuk sampulnya.
"Hadiah ini tinggal di kamar Oma."
Kalimat itu pendek, tetapi lebih berharga daripada semua pujian.
Seline menunduk. "Terima kasih, Oma."
"Kenapa kamu yang berterima kasih? Oma yang diberi hadiah."
Beberapa orang tertawa pelan. Ketegangan turun, tetapi mata Stephanie menjadi lebih tajam. Hadiahnya mahal, tetapi album Seline mendapat tempat di kamar Oma.
Bryan menatap album itu seperti mendapat potongan bukti baru.
"Kamu yang menggambar semua?" tanyanya tiba-tiba.
Seline menoleh. Pertanyaan itu membuat Kevin juga melihat ke arahnya.
"Iya," jawab Seline hati-hati. "Hanya gambar sederhana."
Bryan mendekat setengah langkah. "Garisnya sangat hidup."
Stephanie tersenyum. "Ko Bryan memang mudah tersentuh hal sentimental."
Bryan tidak menoleh padanya. "Tidak semua orang bisa memperhatikan rumah orang lain sedetail ini."
Ucapan itu membuat ruangan kembali diam.
Seline tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain ruangan, Kevin akhirnya membuka suara.
"Oma akan menyimpannya. Itu cukup."
Nada Kevin datar, tetapi kalimatnya seperti menutup ruang bagi siapa pun untuk menilai lebih jauh.
Seline menatapnya tanpa sadar. Kevin tidak melihat balik. Ia hanya mengambil cangkir teh dari meja, seolah ucapannya tadi bukan pembelaan, melainkan fakta biasa yang tidak perlu diberi arti.
Justru itu yang membuat dada Seline terasa penuh tanpa alasan jelas sama sekali.
Oma Mei menatap Kevin, lalu Seline, dan senyumnya muncul lagi.
Stephanie masih tersenyum, tetapi jari-jarinya di atas kotak hadiah mengencang.
Di antara semua mata yang menilai, Bryan justru menatap Seline dengan pertanyaan yang semakin dalam, seolah album kecil itu bukan hanya hadiah Imlek, melainkan jejak seorang anak yang belajar mencintai rumah sebelum tahu rumah aslinya di mana.