Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Rahasia di Antara Banyak Mata
"Di mana kita tadi?"
Reynard menatapnya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya rata. Lampu Jakarta di belakang Seraphina membuat garis wajah perempuan itu terlihat lebih lembut, tetapi cara ia berdiri justru lebih berani daripada sebelumnya. Ponsel yang baru saja memutus panggilan Hendrawan Lim sudah masuk kembali ke tasnya, seperti benda kecil yang tidak berhak menguasai malam mereka.
"Kau yang menghentikan," kata Reynard pelan.
"Aku yang melanjutkan."
Kalimat itu membuat tatapan Reynard menggelap. Ia maju satu langkah, lalu berhenti, seolah sengaja memberi ruang agar Seraphina tetap punya kesempatan mundur.
Seraphina tidak mundur.
Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi. Ada ciuman yang lebih tenang daripada yang pertama, ada tangan Reynard yang menahan pinggangnya tanpa menekan, ada kepala Seraphina yang akhirnya bersandar sebentar di dadanya. Di bawah sana, kota tetap bising. Di atap Teluk Mutiara, rahasia mereka tumbuh seperti api kecil yang dijaga dengan dua telapak tangan.
Ketika Reynard mengantarnya pulang menjelang tengah malam, ia tidak turun di depan lobi apartemen. Mobil berhenti sedikit lebih jauh, di tempat yang tidak langsung tersorot kamera utama.
Seraphina membuka sabuk pengaman. "Mulai besok, kita harus hati-hati."
"Aku tahu."
"Di kantor, kau Pak Rey."
"Dan kau Bu Sera."
"Tidak boleh menatap terlalu lama."
"Itu bagian yang sulit."
Seraphina menahan senyum. "Tidak boleh mengirim makanan dengan kartu yang terlalu mencurigakan."
"Aku bisa menyuruh Stanley menulis kartu."
"Lebih mencurigakan."
Reynard akhirnya tertawa kecil. Suara itu rendah, jarang, dan membuat dada Seraphina terasa hangat dengan cara yang tidak mau ia akui keras-keras.
"Kalau kau butuh aku?" tanya Reynard.
"Aku akan menghubungimu."
"Kalau tidak butuh?"
Seraphina menoleh kepadanya. "Aku tetap boleh menghubungimu?"
Reynard memandangnya lama sekali. "Itu bukan pertanyaan yang harus kau minta izin."
Pintu mobil terbuka. Sebelum turun, Seraphina mengambil gantungan kunci kulit dari tasnya. Tulisan kecil di atasnya terkena lampu kabin: Pintu ini juga milikmu. Ia menggenggam benda itu sebentar, lalu memasukkannya lagi, lebih dalam, seolah menyimpan bagian dari Reynard di tempat yang hanya ia tahu.
Keesokan paginya, rahasia itu langsung diuji.
Ruang rapat Astoria dipenuhi aroma kopi, kertas proposal, dan sisa lelah tim yang belum benar-benar hilang. Di layar besar, agenda follow-up pilot Dinas sudah terbuka. Seraphina duduk di ujung meja, rambut diikat rapi, blazer abu-abu membuat wajahnya tampak lebih tenang daripada isi dadanya.
Pukul sembilan tepat, pintu kaca terbuka.
Reynard masuk bersama Stanley Oei dan dua staf legal Hartono Group.
"Selamat pagi, Bu Sera," katanya.
Nada itu formal, tenang, tanpa satu pun jejak laki-laki yang semalam mencium keningnya di mobil sebelum ia turun.
Seraphina mengangkat dagu sedikit. "Selamat pagi, Pak Rey."
Di sisi kanan meja, Raka dari tim product menunduk melihat laptop. Di sisi kiri, Nia menyiapkan notulen. Tidak ada yang bereaksi aneh. Hanya Seraphina yang merasakan jantungnya berkhianat, berdetak terlalu cepat karena dua kata biasa.
Reynard duduk di kursi tamu utama. Jarak mereka hanya tiga meter, tetapi terasa seperti permainan berbahaya. Di depan semua orang, ia membahas klausul teknis, milestone, dan pembagian tanggung jawab dengan presisi dingin. Ia tidak tersenyum. Ia tidak melembutkan suara. Ia bahkan tidak menatap Seraphina lebih lama dari yang diperlukan.
Itu seharusnya membuat semuanya lebih mudah.
Ternyata justru lebih menyiksa.
"Untuk fase simulasi rute, Astoria akan tetap memegang kendali model," kata Seraphina, jarinya menggeser dokumen di tablet. "Hartono Group masuk di sisi integrasi lapangan dan legal compliance. Saya tidak ingin ada kesan bahwa pilot ini menjadi proyek akuisisi diam-diam."
Stanley mengangguk. "Catatan itu masuk akal."
Reynard menatap layar, lalu berkata, "Hartono Group setuju. Posisi Astoria sebagai principal technology partner tidak berubah."
Raka nyaris tidak bisa menyembunyikan lega. Nia langsung mengetik cepat.
Seraphina menahan dorongan untuk menatap Reynard. Di atas meja, ia hanya mengetuk tablet sekali. "Baik. Lanjut ke timeline."
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor yang sekarang ia simpan dengan nama sederhana: Rey.
Jangan mengetuk meja seperti itu. Aku ingin memegang tanganmu.
Seraphina nyaris salah menggeser slide.
Ia menarik napas, menyelipkan ponsel di bawah tumpukan dokumen, lalu mengetik dengan ibu jari tanpa menunduk terlalu jelas.
Pak Rey, rapat belum selesai.
Balasan datang terlalu cepat.
Bu Sera, saya sedang sangat profesional.
Seraphina menggigit bagian dalam pipinya. Sungguh tidak adil bahwa laki-laki itu bisa duduk dengan wajah sedingin dinding marmer sambil mengirim pesan seperti itu.
"Ada revisi di slide tujuh?" tanya Reynard tiba-tiba.
Seraphina mengangkat mata. Di hadapan semua orang, tatapan Reynard tetap datar. Namun di sudut matanya ada sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh orang yang semalam berdiri di bawah langit yang sama dengannya.
"Tidak," jawab Seraphina. "Saya hanya memastikan angkanya benar."
"Bagus."
Satu kata. Formal. Aman.
Ponselnya bergetar lagi.
Aku suka melihatmu marah diam-diam.
Seraphina menutup layar ponsel.
Rapat berlangsung hampir dua jam. Begitu selesai, tim Astoria keluar lebih dulu untuk menyiapkan revisi dokumen. Stanley mengikuti dua staf legal ke koridor, memberi ruang yang terlihat wajar. Dalam hitungan detik, ruang rapat menjadi kosong kecuali mereka berdua dan suara pendingin udara.
Seraphina belum sempat bicara ketika Reynard berdiri.
"Pak Rey," panggilnya, sengaja memakai nada formal karena pintu kaca belum tertutup penuh.
Reynard berhenti. "Ya, Bu Sera?"
Seraphina merapikan kertas dengan gerakan terlalu rapi. "Mohon hentikan pesan tidak profesional saat rapat."
"Saya tidak menyebutkan hal tidak profesional dalam pesan."
"Kau bilang ingin memegang tanganku."
"Itu fakta."
Seraphina menatapnya tajam. Reynard menundukkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang menerima teguran bisnis. Namun bibirnya bergerak tipis.
"Kalau begitu, saya minta maaf," katanya. "Saya akan menahan diri sampai situasi memungkinkan."
"Situasi memungkinkan itu kapan?"
Pintu kaca di belakang mereka bergerak. Nia muncul sambil membawa folder.
"Bu Sera, maaf, file vendor Sidoarjo mau ditandatangani sekarang?"
Seraphina langsung mengubah wajah. "Taruh di meja saya. Saya cek sepuluh menit lagi."
"Baik, Bu."
Nia pergi. Pintu menutup.
Reynard memandang Seraphina dengan tenang. "Tadi hampir."
Seraphina mengambil tablet dan berjalan melewatinya. "Kau menikmati ini."
"Sangat."
Di luar ruang rapat, mereka kembali menjadi dua orang yang tidak boleh terlalu dekat. Seraphina berjalan ke area kerja, Reynard ke lift eksekutif bersama Stanley. Tetapi sebelum pintu lift tertutup, Reynard menoleh sebentar.
Tidak lama.
Cukup untuk membuat Seraphina tahu, ia sedang tersenyum tanpa tersenyum.
Siang harinya, Natasha datang ke Astoria tanpa janji, membawa dua gelas es kopi susu dan wajah penuh kecurigaan.
"Lo kenapa?" tanyanya begitu masuk ke ruang Seraphina.
Seraphina tidak mengangkat kepala dari laptop. "Kerja."
"Bukan itu. Muka lo tuh... aneh."
"Definisi anehmu biasanya menghina."
"Ini bukan menghina. Ini observasi ilmiah." Natasha meletakkan kopi di meja, lalu menyipit. "Lo kelihatan kayak orang habis menang tender, tapi tendernya bukan proyek."
Jari Seraphina berhenti di keyboard.
Natasha langsung menunjuk. "Nah! Itu. Ada jeda."
"Aku lelah."
"Sera sayang, gue kenal lo. Kalau lo lelah, muka lo kayak mau menggugat seluruh pemerintah kota. Hari ini lo lelah tapi bibir lo susah diatur."
Seraphina mengambil kopi dan minum untuk menyembunyikan sudut mulutnya. "Kau terlalu banyak menonton drama."
"Dan lo terlalu buruk berbohong sama gue."
Untuk sesaat Seraphina hampir ingin mengatakannya. Nama Reynard sudah naik sampai ujung lidah. Namun ia ingat kesepakatan mereka, bukan karena Natasha tidak bisa dipercaya, melainkan karena rahasia ini baru saja lahir. Ia ingin menyentuhnya pelan-pelan sebelum dunia ikut memasukkan tangan.
"Nanti," kata Seraphina akhirnya.
Natasha yang semula siap menyerang, mendadak diam. Tatapannya berubah lebih lembut. "Nanti beneran?"
"Beneran."
"Oke." Natasha mengangkat dua tangan. "Gue tunggu. Tapi kalau nanti itu ternyata menyangkut laki-laki bermarga Hartono, gue berhak teriak minimal lima menit."
Seraphina tersedak kopi.
Natasha tersenyum puas. "Catat. Lima menit."
Sore menjelang malam, pesan Jason masuk ke grup kecil yang biasanya terlalu ramai untuk ukuran orang dewasa.
Jason Halim:
Besok malam kumpul di tempat gue. Santai saja, bukan acara resmi. Sera wajib datang, kita belum rayakan kemenangan Dinas dengan benar.
Natasha:
Kalau ada orang nyebelin, gue pulang.
Jason Halim:
Yang nyebelin biasanya kau.
Natasha:
Terima kasih, itu reputasi.
Seraphina baru akan membalas ketika pesan pribadi Reynard muncul.
Datanglah besok.
Kau juga datang?
Aku diundang.
Kalau begitu kita harus pura-pura tidak dekat lagi.
Balasan Reynard muncul setelah beberapa detik.
Mungkin.
Seraphina menatap satu kata itu dengan curiga.
Mungkin?
Kali ini jawabannya membuat telinganya panas.
Duduklah di seberangku kalau kau berani. Aku ingin melihat berapa lama kau bisa berpura-pura tidak mengenalku.
Seraphina menutup ponsel, tetapi senyumnya sudah terlambat disembunyikan.
Di luar jendela Astoria, lampu Jakarta mulai menyala satu per satu. Rahasia mereka belum diketahui siapa pun, tetapi justru karena itulah setiap tatapan terasa seperti tantangan, setiap pesan terasa seperti sentuhan, dan setiap jarak menjadi sesuatu yang diam-diam menyalakan api.
Besok malam, di depan semua orang, mereka harus menjadi orang asing yang sopan lagi.
Dan Seraphina mulai curiga, Reynard sama sekali tidak berniat membuatnya mudah.