Warning 21+
Dosa tanggung sendiri jika melanggar😚😚
Jonathan, seorang penguasa pemilik Asian Grup, berusaha mencari cinta pertamanya yang bernama Keynara Anastasia, untuk membalas dendam atas pembullyan yang terjadi saat masa sekolah..
Setelah beberapa tahun mencari, keduanya di pertemukan di sebuah acara pernikahan. Jonathan tidak ingin kehilangan lagi, sehingga jeratan pernikahan langsung di lilitkan kuat pada leher Nara..
Setelah pernikahan terjadi, Jonathan baru menyadari jika Nara tidak seperti dulu. Dia bukan lagi Nara yang jahat dan penuh ambisi dan berubah menjadi Nara yang polos bahkan cenderung bodoh..
Namun di balik sikap polosnya, Nara menyembunyikan sisi gelap yang mungkin akan bisa bangkit kapan saja. Sisi yang tidak di ketahui oleh siapapun tidak terkecuali Ayahnya sendiri...
Cerita ini mengandung unsur dewasa💦 Kekerasan 💢dan bahasa yang sedikit fulgar...
Harap bijak dalam membaca...
Ini karya pertamaku...
Silahkan klik ♥️, like dan share sebanyak-banyaknya..
~Tere Liye
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TereLiye21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Plaaaaaakkkkkk!!!
Prapto menampar keras anak buahnya, karena kebodohannya, dia hampir saja tertangkap tanpa mendapatkan hasil. Padahal seharusnya memang orang tersebut tertangkap, hanya saja Joy sengaja melepaskannya.
"Saya tadi hampir menusukkannya Pak, tapi Jonathan menghalanginya." Jawabnya tertunduk.
"Jika sampai tertangkap! Sia-sia aku membayarmu bodoh!!!" Prapto mendengus seraya duduk dan memasang wajah kesal." Waktumu tinggal dua Minggu, jika sampai gagal, aku akan memecatmu dan kalian semua!!!" Dia memikirkan cara bagaimana bisa dia membunuh Nara sementara Joy menjaganya dengan sangat baik.
Apa aku sewa saja pembunuh bayaran??
Prapto tersenyum ganjil, saat ide itu terlintas. Dia benar-benar terdesak dan membutuhkan suntikan dana untuk perusahaannya, sehingga dia memikirkan sesuatu yang tidak waras seperti sekarang, tanpa memikirkan akibat apa yang akan di dapatkannya nanti.
_____________________________________________
Nara mengangkat kepalanya perlahan dari pangkuan Joy, ketika melihat Joy tengah tertidur dengan posisi duduk. Dia sedikit merasa khawatir setelah tadi, memikirkan jika Joy sampai terluka serius membuat nyeri di kepala kembali menghampiri.
Bagaimana mungkin dia bisa hidup seperti itu? Bekas lukanya banyak sekali. Jika sampai terjadi sesuatu bagaimana? Nara beranjak berdiri dan mengambil obat miliknya yang tergeletak di meja. Dia mengambilnya satu lalu meminumnya dengan tatapan fokus pada Joy. Nara kembali berjalan ke arah sofa dan duduk di samping Joy.
"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Joy dengan mata tertutup.
"Ku fikir tidur." Jawab Nara sedikit kaget. Joy mengalungkan tangan kanannya dari belakang lalu bersandar lembut pada pundak Nara.
"Aku mengantuk, bisakah kamu tidak pergi."
"Aku tidak pergi."
"Lalu tadi apa? Kamu masih memikirkan lukaku?"
"Iya."
"Aku akan baik-baik saja." Joy berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Nara." Temani aku tidur." Setiap kali mendapatkan luka, rasa kantuk langsung menyerang Joy seketika. Entah itu bentuk dari pemulihan tubuh atau apa, namun dia selalu merasakan hal yang sama seperti sekarang.
Nara menyambut uluran tangan Joy seraya tersenyum. Saat sudah berdiri, Joy melingkarkan kedua tangannya erat pada perut Nara dan menggiringnya berjalan ke tempat tidur. Dia mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya begitupun dirinya yang langsung berbaring di samping Nara.
"Jika lapar, bangunkan aku." Tangan kanan Joy menelusup masuk ke belakang leher Nara lalu merengkuh tubuhnya erat.
"Kamu serius mengantuk?" Nara melingkarkan kedua tangannya pada perut Joy.
"Iya sayang.. Hanya satu jam saja oke." Nara mendongak ke atas, memperhatikan wajah Joy yang berada tepat di atas puncak kepalanya.
Meskipun dia bilang sudah terbiasa, aku tetap khawatir padanya..
Nara tersenyum, ketika terdengar dengkuran suara Joy. Matanya menatap lekat ke arah wajah yang mulai menjadi favorit dan candu untuknya. Bibir Nara terbuka lalu mengecup dagu Joy dengan penuh perasaan.
"Biarkan aku tidur sebentar sayang..." Gumam Joy masih memejamkan matanya. Nara memutar tubuhnya sehingga kini Joy berada di belakangnya." I love you so much Baby. Diamlah.." Pinta Joy lagi. Dagunya di sandarkan pada pundak Nara dan menghirupnya kuat-kuat. Nara memundurkan tubuhnya sehingga pelukan tangan Joy semakin di eratkan.
"I love you to, dear."
"Jika menginginkan itu, biarkan aku tidur dulu sayang."
"Menginginkan apa?" Nara menempelkan lehernya pada bibir Joy.
"Aku sangat mengantuk sayang." Joy memberikan beberapa kecupan pada leher Nara.
"Tidurlah jika begitu."
"Maka diamlah, temani aku tidur."
"Aku boleh melihat ponselmu sayang?"
"Lihat saja, kode kuncinya tanggal dan bulan pernikahan kita." Nara meraih ponsel Joy lalu kembali berbaring.
"Tanggal berapa kita menikah?"
"Kamu lupa?"
"Iya."
"01012021." Nara mengetik kode tersebut dan ponsel Joy terbuka. Terdengar dengkuran halus, sehingga Nara berdiam seraya melihat-lihat apa yang ada di dalam ponsel Joy.
"Kontaknya banyak sekali." Gumam Nara melihat kontak sebanyak 760. Jari kecilnya menombol menu galeri dan dia cukup terkesima dengan isi galeri yang penuh dengan fotonya saat masih SMA." Ini sudah lama, tapi dia masih menyimpannya. Kapan dia mengambil semua ini? Astaga banyak sekali." Nara terus menggulir foto dan jarinya berhenti saat sebuah foto lama Joy. Nara memandanginya dengan sedikit dalam, mengingat rasa sesal akan perbuatannya dulu. Perhatian Joy di abaikan, meski beberapa Nara mengetahui perhatian yang di berikan Joy lewat sebuah minuman atau makanan ringan. Sekarang dia bersamaku bahkan sudah memaafkanku dan mau terluka hanya demi melindungi ku..
Nara semakin yakin jika Joy hanya mencintainya, di ponselnya bahkan tidak ada foto wanita lain. Padahal Della pernah berkata padanya sebelum pernikahan, jika Joy adalah penjahat wanita yang tidak memiliki hati. Hobinya bergonta-ganti pasangan dan meniduri wanita.
Namun, kemiskinan yang membuat Nara tidak memperdulikan rumor tersebut, hingga dia memutuskan untuk menerima semuanya dan berbuah indah seperti sekarang. Dia benar-benar tidak menyangka jika Joy adalah Nathan, lelaki yang pernah di cari untuk sebuah kata maaf.
Nara meletakkan ponsel dan membalikkan tubuhnya menghadap ke Joy lagi. Ternyata Joy belum juga tidur bahkan masih melihat ke arahnya.
*Gambar sebagai pemanis
"Sudah menemukan apa yang kamu cari?" Tanya Joy.
"Aku tidak mencari apapun."
"Kamu masih tidak percaya jika aku hanya mencintaimu?"
"Aku percaya." Nara merangkul leher Joy lalu mencium kening Joy dan menenggelamkan kepala Joy pada dadanya." Katanya mau tidur." Nara mengusap lembut rambut tebal Joy.
"Kamu terus bergerak dan aku khawatir kamu akan keluar kamar."
"Aku tidak tidur jadi aku bergerak, bukannya akan pergi." Joy tersenyum mendengar itu. Perkataan Nara yang itu menjadi hiburan khusus untuknya.
"Sudah lapar?" Tanya Joy duduk bersandar.
"Masih sedikit."
"Biar ku suruh Andra membelikannya." Joy mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Andra.
"Katanya mau tidur."
"Tidak jadi sayang. Come here Baby." Joy membentangkan kedua tangannya dan Nara pun langsung menyambutnya. Tangan Joy meraih tengkuk Nara dan mengecup bibirnya beberapa kali." Aku mencintaimu." Joy memperdalam ciumannya sehingga otomatis bibir Nara terbuka. Lidahnya bermain-main di dalam mulut Nara hingga hasrat keduanya kembali tersulut." Katamu lelah?" Joy mengusap pinggang Nara berulang-ulang seraya saling memandang penuh cinta.
"Asal tidak mati, ku fikir tidak masalah." Joy terkekeh mendengar itu." Bolehkan.." Imbuh Nara mulai membuka kancing baju Joy lalu mengusap dadanya lembut.
"Boleh apa? Katakan sayang?"
"Aku minta sesuatu."
"Hm katakan."
"Jangan lakukan ini dengan wanita lain. Bisakah sayang?"
"Kamu canduku sayang, aku tidak berselera lagi melihat yang lain."
"Jika aku sakit? Nanti kamu akan melakukannya dengan yang lain." Rengek Nara mengerucutkan bibirnya.
"You are the only one. I promise."
"Benar-benar janji?" Nara mengeluarkan jari kelingkingnya.
"I promise." Joy menyambut kelingking Nara lalu menciumnya hangat hingga hati Nara bergetar hanya dengan merasakan bibir hangat Joy.
Keduanya kembali saling *******, Nara melebarkan pahanya dan naik ke pangkuan hingga l*matan terasa semakin panas. Kedua mata yang saling memandang membuat percintaan kali ini terasa lain.
Perlahan, tangan Joy mengangkat dress yang di kenakan Nara sekarang lalu membuangnya sembarangan. Dengan cepat, kaitan bra di lepaskan sehingga gundukan milik Nara tergantung bebas. Joy meremasnya lembut lalu menciuminya bergantian.
Nara mengusap kasar rambut Joy seraya melenguh nikmat saat miliknya berkedut ingin segera di terobos. Nara yang merasa tidak sabar, langsung melucuti celana Joy hingga memperlihatkan milik Joy yang sudah berdiri tegak.
"Baby..." Lenguh Joy saat Nara mulai meremas miliknya.
Tanpa pikir panjang, Joy mengangkat tubuh Nara dan mendudukkannya ke atas tubuhnya sehingga miliknya masuk sempurna.
Kedua tangan Nara di letakkan pada dada Joy saat Joy mulai menggerakkan pinggulnya ke atas. Nara yang merasa jika gerakannya kurang pas, langsung mengangkat kedua tangannya dari dada Joy lalu menaikturunkan pinggulnya cepat.
"Good Baby.." Bibir keduanya terbuka dengan gerakan yang semakin brutal, Joy duduk dan mengambil alih ketika merasa gerakan Nara melambat. Keduanya saling berhadapan sehingga Joy dengan leluasa menciumi p*yudara Nara seraya terus menggerakkan miliknya.
Nara memeluk erat kepala Joy, dan keduanya bergerak seirama. D*sahan saling bersahutan memenuhi ruangan hingga saat akan pelepasan, Joy membanting lembut tubuh Nara di atas tempat tidur lalu menindihnya.
"Aku akan sampai.." Kepala Joy mendongak ke atas seraya bergerak cepat sementara tangan Nara memberi rangsangan pada pinggul Joy." Faster Baby..." Joy mengerang nikmat ketika pelepasan terjadi. Dia merengkuh tubuh Nara dan menciuminya untuk mengekspresikan perasaan bahagianya.
Tok...Tok...Tok...
Bibir keduanya masih saling ******* meski terdengar ketukan dari pintu.
"Manis sekali." Lidah Joy masih asyik bermain sementara Nara sendiri menikmati itu dan tidak memperdulikan ketukan pintu." Mungkin itu Andra." Joy berdiri dan memakai celananya sementara Nara menutup tubuh polosnya dengan selimut.
Joy menutup pintu setelah mengambil dua kotak makan dari Andra dan meletakkannya pada meja.
Nara menyusul dengan tubuh polosnya, dia kembali merapatkan tubuhnya lalu meraih tengkuk Joy dan kembali menciumnya.
"Ah Baby, dia menegang lagi.." Joy menekan ke depan tubuh Nara lembut sehingga Nara berpegangan pada pinggiran sofa. Dia kembali menanggalkan celananya dan memasukkan miliknya lagi.
Itu berulang hingga beberapa kali, Joy tidak mengerti kenapa Nara melakukan itu namun tidak dapat di pungkiri jika dia menyukai cara Nara memanjakannya.
"Kita makan sayang." Pinta Joy seraya masih mencumbui tubuh Nara.
"Aku tidak lapar, kita lakukan ini semalaman." Hujan kembali mengguyur, melengkapi percintaan mereka yang semakin memanas. Hasrat bercampur rasa cinta membuat keduanya tidak merasa lelah melakukan itu hingga pukul empat dini hari.
Keesokan harinya...
Joy bangun lebih dulu untuk membuatkan masakan sebagai ucapan terimakasih atas percintaan semalam. Nara masih berada di atas tempat tidur dengan tubuh polosnya.
"Sayang.." Panggil Joy lembut.
"Hmm.." Nara bergumam dan menyipitkan matanya.
"Nanti sarapannya keburu dingin."
"Siapa yang membuat?"
"Aku.." Nara terduduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Joy duduk di sampingnya dengan membawa nampan. Dengan manjanya, Nara menyandarkan kepalanya pada pundak Joy." Pusing?" Tanya Joy.
"Nikmat sekali.." Joy terkekeh mendengar itu.
"Mau ku suapi?"
"Hmm.." Nara mengangguk seraya tersenyum. Joy menyendok nasi goreng dan memasukkan pada mulut Nara. Dan beberapa menit berlalu, nasi goreng sudah berpindah pada perut Nara.
Joy meletakkan nampan sementara Nara beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke pangkuan Joy.
Nara mendekatkan bibirnya dan menghirup kuat-kuat nafas Joy. Tangan Joy di lingkarkan pada pinggangnya lalu punggungnya di sandarkan pada dada Joy yang tepat berada di belakangnya.
"Kamu akan benar-benar mati jika melakukannya lagi." Ucap Joy seraya menciumi punggung belakang Nara.
"Hmm ya.." Meski berkata demikian, Nara masih pada posisi semula." Kamu ingin lagi sayang." Nara tersenyum geli merasakan hangatnya bibir Joy yang menempel di punggungnya.
"Aku ingin melakukan itu terus tapi, aku tidak mau kamu sakit. Kita mandi oke." Joy berdiri seraya mengangkat tubuh polos Nara dan berjalan menuju kamar mandi.
Mereka melakukan ritual mandi yang sudah menjadi kebiasaan sejak awal menikah. Nara agresif! Begitu penilaian Joy, namun yang terjadi sesungguhnya adalah, Nara hanya ingin melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Apalagi paras serta sentuhan Joy yang melenakan, membuatnya lebih gampang melakukan itu bahkan sangat bersemangat melakukanya.
"Aku nanti ada rapat sebentar, mau ikut?" Tawar Joy seraya mengeringkan rambut panjang Nara yang basah.
"Aku harus ikut." Jawab Nara tersenyum.
"Kenapa harus?"
"Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu seperti kemarin."
"Lebih aman jika kamu tidak ikut."
"Aku malah khawatir nanti."
"Kamu serius merasa khawatir?"
"Iya. Tentu saja." Joy meraih sisir dan mulai menyisir rambut panjang Nara.
Tok... Tok... Tok...
Joy menyerahkan sisir pada Nara dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Maaf Tuan."
"Ada apa?"
"Ada tamu."
"Siapa?"
"Pak Dani." Raut wajah Joy berubah kesal. Sambil melirik ke arah Nara, dia menutup pintu begitu saja.
Untuk apa dia ke sini pagi-pagi!! Umpat Joy dalam hati. Kakinya berjalan perlahan ke arah Nara.
"Ada apa?"
Dia pasti akan ikut dan bertemu si Dani itu!!
"Aku ada tamu, kamu tunggu di sini ya.."
"Siapa?"
"Teman sayang."
"Bukan Lisa?" Tatap Nara curiga.
"Bukan." Dandan yang cantik, aku kembali sebentar lagi. Joy tersenyum aneh lalu pergi keluar kamar sementara Nara mempercepat kegiatannya dan ingin melihat siapa tamu Joy pagi ini.
Joy menuruni anak tangga dan mendapati Dani tengah duduk bersantai menunggunya.
*Gambar sebagai pemanis
Joy mendengus kesal, dan menahan perasaan cemburu buta nya pada Dani yang memiliki paras tampan.
Aku akan segera mengusirnya..
"Maaf menganggu." Joy menyambut uluran tangan Dani dan keduanya kembali duduk.
"Tidak apa." Jawab Joy setengah hati.
"Saya ada rapat di daerah A jadi saya memutuskan untuk mampir ke sini." Alasan Dani mampir adalah, dia sangat penasaran dengan sosok istri Joy.
"Hmm oke." Obrolan terasa kaku sebab Joy menginginkan Dani segera pergi dari rumahnya.
"Silahkan Tuan." Bik Yanti menyuguhkan teh hangat dan beberapa cemilan. Joy semakin geram sebab itu berarti Dani tidak akan cepat pergi.
"Saya juga ada rapat setelah ini. Berapa lama anda menetap di kota ini?" Tanya Joy berbasa-basi.
"Saya menyukai tempat ini, dan saya lihat, perumahan tempat anda tinggal begitu nyaman."
"Di sini sangat tidak nyaman." Sahut Joy tersenyum aneh.
"Kenapa begitu?"
"Saya saja ingin pindah dari sini."
"Alasannya apa?"
"Entahlah, mungkin sedikit berhantu." Dani tersenyum mendengar jawaban konyol dari Joy. Dia berfikir jika Joy ingin bercanda agar mencairkan suasana.
"Saya suka tempat seperti itu. Em... Maaf, bisakah kita berbicara tidak formal? Aku sangat mengagumi kinerjamu dan ingin belajar banyak soal bisnis." Dani cukup lama berkerja sama dengan Joy hanya saja kesibukan yang membuat keduanya tidak bisa akrab.
"Hm boleh." Joy merasa sungkan jika menolak keinginan itu." Kamu juga cukup berpotensi bisa menjadi sepertiku." Joy mengakui cara kerja Dani yang bagus. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Dani bisa mencapai semuanya padahal dulu dia hanya pegawai staf biasa.
"Sayang..." Suara Nara memecah obrolan keduanya. Joy m*desah lembut sementara Dani melihat ke arah sumber suara.
~Tere Liye
itu joy naranya dijaga benar benar jangan disia sia in kasian dia🥰🥰
korban selanjutnya....