Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MODUS TOKO BUKU DAN PENGAKUAN (2)
Tampak Nara menghela napas panjang akhirnya bisa santai. Di perjalanan pulang, kecurigaan kecil muncul di kepala Naya, tentang perhatian Nara yang terasa lebih dari sekadar teman. Mobil mereka berhenti di tengah jalan, bukan karena macet, melainkan karena pembicaraan yang akhirnya harus keluar juga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Naya.
“Apakah Kak Nara baik-baik saja?” Tanya Naya.
“Kenapakah memangnya?”
“Tim Kakak masih harus bermain di final besok, tetapi Kakak malah pergi ke toko buku dan dilanjutkan dengan belajar bisnis yang aku yakin cukup menguras energi baik pikiran maupun fisik.” Naya memandang jalan tol di depannya. “Bukankah seharusnya Kakak beristirahat atau mempelajari strategi?”
“Aku sudah berlatih pagi tadi sebelum menjemputmu pergi.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingin berada di momen ini. Rekan-rekan setimku juga pasti begitu. Hal ini sudah sering kami lakukan untuk merilekskan pikiran dan kondisi tubuh kami yang sudah bekerja keras hingga saat ini. Istilah kerennya Me Time. Dan aku senang bisa melewatinya bersamamu hari ini.” Nata tersenyum menatap kearah Naya kemudian kembali fokus untuk menyetir.
Naya menunduk untuk menutupi sikapnya yang salah tingkah mendapat tatapan yang terlihat penuh cinta dari Nara.
“Kak Reksa mengatakan Kakak mengaku menyukaiku.” Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum ia sempat mempertimbangkannya kembali. Nara yang mendengarnya segera menepikan mobil ke pinggir. Sepertinya akan ada pembicaraan serius diatara mereka berdua.
“Dia mengatakannya kepadamu?”
“Tidak secara langsung.”
“Lalu?”
“Dia bilang Kakak mengatakan cukup banyak. Aku menyimpulkan sendiri.”
Nara memarkirkan mobilnya di bahu jalan tol dengan menyalakan lampu hazzard. “Dan kamu menunggu sampai sekarang untuk bertanya?”
“Aku tidak yakin perlu bertanya.”
“Kenapa?”
Naya menunduk. “Karena mungkin itu hanya pembicaraan antara Kak Nara dan Kak Reksa.”
“Pembicaraan itu tentangmu.”
“Karena itu aku tidak ingin membuat kesimpulan sendiri setelah dulu salah menilai dan berekspektasi. Aku takut ekspektasiku kembali salah terhadap Kak Nara dan akan merubah semuanya…”
Nara bersandar pada kursi mobil. Selama beberapa detik, ia hanya memperhatikan Naya. Kemudian ia berkata dengan suara tenang, “Reksa tidak berbohong.”
Jari Naya berhenti memainkan kantong berisi buku yang dibelinya.
“Aku memang mengatakan kepadanya bahwa aku menyukaimu.”
Meskipun telah menduganya, mendengar kalimat itu langsung dari Nara tetap membuat jantung Naya serasa kehilangan irama. Ia mengangkat wajah perlahan. Nara tidak tersenyum. Tidak ada kesombongan maupun godaan dalam ekspresinya. Ia terlihat serius, lebih serius daripada ketika berdiri di garis lemparan bebas dalam pertandingan penting.
“Aku tidak mengatakannya karena dia memaksaku,” lanjut Nara. “Aku mengatakan itu karena memang benar adanya aku menyukaimu bukan sebagai seorang senior senior kepada juniornya namun lebih dari itu. Aku menyukaimu sebagai lawan jenis.”
Naya berusaha menemukan jawaban, tetapi pikirannya terasa kosong.
“Sejak kapan?” tanyanya akhirnya.
Nara menoleh sesaat ke arah jendela. “Aku tidak tahu tepatnya.”
“Kakak selalu tahu jawabannya.”
“Sayangnya kali ini tidak.”
“Apakah sejak pertemuan kita di perpustakaan?”
“Mungkin sebelum itu.”
Naya mengernyit. “Sebelum itu?”
“Mungkin sejak kamu menatapku seperti aku adalah orang paling menyebalkan di sekolah.”
“Itu bukan alasan yang romantis.”
“Aku tidak sedang mencoba terdengar romantis karena pengalaman percintaanku sama sepertimu, nol besar.” Nara tersenyum kecil. “Semua orang selalu melihat apa yang mereka harapkan dariku. Kapten basket. Pemain terkenal. Senior yang percaya diri. Pelajar dengan kecemerlangan akademisnya selalu berada di tiga besar seluruh angkatan. Kamu satu-satunya orang yang melihatku dan langsung memutuskan bahwa aku tidak mengesankan.”
“Karena saat itu Kakak memang tidak mengesankan.”
“Aku tahu.”
Naya terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Nara melanjutkan, “Awalnya aku hanya ingin membuktikan kamu salah. Aku ingin membuatmu mengakui bahwa aku tidak seburuk yang kamu pikirkan.”
“Lalu?”
“Lalu aku mulai mencari-cari alasan untuk bertemu denganmu.”
Nara menunduk sebentar, seolah mengingat semua kejadian yang telah mereka lewati. “Perpustakaan, kolam renang, lorong sekolah. Aku bahkan sengaja mengambil jalan lebih panjang hanya karena tahu kemungkinan kamu melewatinya.”
Naya menatapnya tidak percaya. “Jadi, semua pertemuan itu tidak sepenuhnya kebetulan?”
“Beberapa memang kebetulan. Bahkan aku sendiri terkejut hal itu bisa terjadi diantara kita. Seolah Semesta ingin kita terikat dengan cara yang tak terduga.”
“Dan sisanya?”
“Aku merencanakannya.”
“Kak Nara!” Naya ingin memarahinya, tetapi senyum justru muncul di sudut bibirnya. Selama ini ia menganggap terlalu banyak pertemuan mereka sebagai sesuatu yang aneh. Ternyata, beberapa di antaranya memang sengaja diciptakan oleh Nara.
“Katakanlah aku seniat itu untuk modus kepadamu, tapi setidaknya aku jujur sekarang. Ketika aku melihatmu bersama Reksa, aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum kumiliki,” kata Nara. “Aku tahu aku tidak punya hak untuk marah. Karena itulah aku pergi.”
“Dengan cara menghindariku selama satu minggu.”
“Itu keputusan yang buruk.”
“Sangat buruk malahan.” Nara mengangguk. “Dan hal yang sama nyaris terjadi dengan Dimas. Aku sendiripun terkejut dengan diriku sendiri mengapa bisa cemburu jika berhubungan denganmu.”
Suasana kembali hening. Kali ini, keheningan tersebut terasa berbeda. Pengakuan Nara seolah telah mengubah ruang di antara mereka. Semua tatapan, percakapan, dan kebiasaan kecil yang sebelumnya dapat dianggap biasa kini memiliki arti yang lebih jelas. Naya menarik napas perlahan.
“Kenapa Kakak mengatakan ini sekarang?”
“Karena kamu bertanya.”
“Hanya itu?”
“Dan karena aku tidak ingin kamu mengetahuinya langsung dari Reksa.” Nara mencondongkan tubuh sedikit kearah Naya. “Aku ingin mengatakannya sendiri.”
Naya menatap mata Nara lekat seolah ada energi besar keseriusan didalam bola mata coklat senada dengan warna rambutnya.
“Aku menyukaimu, Naya.”
Tiga kata itu terdengar sederhana. Namun, bagi Naya, kalimat tersebut membawa seluruh perjalanan mereka sekaligus. Kekesalan di hari pertama Naya menjadi murid SMA, pertemuan di kolam renang, di perpustakaan, salah paham mengenai Reksa, pesan-pesan singkat sebelum tidur, pertandingan semifinal, dan buku yang kini berada di dalam kantong belanja. Semuanya seolah mengarah pada momen itu.
Naya menunduk karena tidak tahu harus meletakkan tatapannya.
“Kamu tidak harus menjawab sekarang,” kata Nara.
Naya kembali mengangkat wajah. Ia tidak menyangka Nara akan mengatakan hal tersebut. Lelaki yang dikenalnya selalu menginginkan jawaban secepat mungkin. Bahkan ketika bertanya tentang hal sederhana, Nara akan terus menunggu sampai memperoleh apa yang diinginkannya. Namun, kini ia justru memberikan ruang.
“Aku tidak akan memaksamu,” lanjut Nara. “Aku juga tidak akan menganggap semua perhatianmu berarti kamu memiliki perasaan yang sama.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”
“Kesalahan apa?”
“Membuat kesimpulan tanpa bertanya dan tanpa mendengarkan.”
Naya memandangnya cukup lama. Perubahan Nara bukan lagi sesuatu yang hanya terlihat ketika bermain basket. Lelaki itu benar-benar belajar dari kesalahan. Ia menggenggam gelas minumannya dengan kedua tangan.
“Aku belum pernah menyukai seseorang seperti ini,” katanya pelan.
Nara tidak menyela.
“Aku tidak tahu apa yang seharusnya kurasakan. Kadang Kakak sangat menyebalkan. Kakak terlalu percaya diri, suka menggoda, dan sering membuatku tidak tahu harus menjawab apa.”
“Itu terdengar buruk.”
“Belum selesai.”
Nara segera diam kembali.
Naya menahan senyum. “Tapi aku juga menunggu Kakak datang ke perpustakaan. Aku senang ketika Kakak menungguku selesai latihan. Aku memperhatikan saat Kakak mulai berubah.” Ia berhenti sesaat. “Dan ketika Kakak menghindariku, aku merasa sangat kesal. Bukan hanya karena Kakak salah paham, tetapi karena aku merasa kehilangan.”
Nara menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tidak tahu sejak kapan,” lanjut Naya, meniru kalimat yang sebelumnya diucapkan Nara. “Tapi sepertinya aku juga menyukai Kakak.”
Untuk beberapa detik, Nara tidak bereaksi. Seolah-olah ia perlu memastikan dirinya tidak salah mendengar. Kemudian senyumnya perlahan muncul. Naya segera menunjuknya. “Jangan terlalu senang.”
“Aku tidak bisa tidak senang Naya.”
“Aku baru mengatakan sepertinya.”
“Bagian pentingnya adalah kamu menyukaiku.”
“Bagian ‘sepertinya’ juga penting.”
“Kita bisa membuktikannya nanti.”
Wajah Naya memanas. “Kakak mulai terlalu percaya diri lagi.”
“Maaf. sepertinya sangat sulit dikendalikan setelah mendengar pengakuan seperti itu.”
“Itu bukan pengakuan.”
“Lalu apa?”
“Jawaban sementara.”
Nara mengangguk dengan wajah yang masih dipenuhi senyum. “Baik. Aku menerima jawaban sementaramu.”
Naya mengembuskan napas lega. Namun, beberapa saat kemudian, Nara mengulurkan tangan kirinya. Telapak tangannya terbuka, menghadap ke atas. Naya menatapnya curiga.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Lalu kenapa tangannya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu apakah jawaban sementaramu cukup untuk membiarkanku menggenggam tanganmu.”
Jantung Naya kembali berdetak cepat. Ia melirik ke sekeliling. Tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan mereka di dalam mobil.
“Kakak terlalu cepat.”
“Aku hanya bertanya.”
Naya menatap telapak tangan Nara. Kemudian, dengan gerakan ragu-ragu, ia meletakkan tangannya di atas tangan lelaki itu. Jari-jari Nara segera menggenggamnya. Hangat. Tidak terlalu erat. Namun, cukup untuk membuat Naya merasa seluruh tubuhnya menjadi lebih peka terhadap keberadaan lelaki tersebut dengan bekas-bekas kapalannya karena terlalu sering memegang bola basket.
Nara tidak mengatakan apa-apa. Untuk pertama kalinya, ia tidak menggoda ataupun membuat komentar yang akan membuat Naya malu. Ia hanya menggenggam tangan itu dengan ekspresi yang hampir terlihat tidak percaya.
“Kakak kenapa?” tanya Naya.
“Aku sedang memastikan ini nyata.”
Naya tersenyum kecil. “Ini hanya pegangan tangan.”
“Bagimu mungkin.”
“Bagi Kakak?”
“Kalau aku tidak mengajakmu ke toko buku dan ke café sepupuku, mungkin genggaman tangan ini tidak akan pernah terjadi.”
“Bisa saja terjadi di tempat lain.”
“Berarti kamu memang sudah berniat menggenggam tanganku?”
Naya yang malu segera berusaha menarik tangannya. Namun, Nara menahannya dengan lembut.
“Aku bercanda.”
“Kak Nara selalu merusak momen.”
“Aku gugup.”
Naya menatapnya heran. “Kak Nara bisa gugup juga?”
“Aku juga manusia Naya.”
“Aku kira Kakak terlalu percaya diri untuk gugup.”
Nara tersenyum tipis. “Di lapangan dan di pelajaran, aku tahu apa yang harus kulakukan. Bersamamu, aku tidak selalu tahu. Rasanya logikaku sedikit macet jika harus mensinkronisasikannya dengan perasaan hatiku tentangmu.” Ia mengecup punggung tangan kanan Naya seolah tangan itu sangatlah berharga di dalam genggamannya.
Pengakuan itu membuat kekesalan Naya langsung menghilang. Ia membiarkan tangan mereka tetap tergenggam. Untuk beberapa menit, Mereka hanya duduk berdampingan dengan perasaan baru yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Hubungan mereka masih belum memiliki nama.
Naya belum siap menyebut Nara sebagai kekasihnya. Nara juga tidak memaksanya untuk segera memberikan kepastian. Namun, sesuatu telah berubah. Kini, mereka tidak lagi berjalan di antara kemungkinan dan kesalahpahaman. Mereka telah mengetahui perasaan masing-masing.
“Selama perjalanan pulang ini, biarkan aku tetap menggenggammu seperti ini sampai di depan rumahmu.” Nara menutup pembicaraan dan melajukan kembali mobilnya menuju rumah Naya. Tentunya tetap dengan genggaman tangan mereka tertaut erat.
***