Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penggrebekan
Mereka datang jam tiga pagi, waktu langit masih gelap dan gang-gang Karang Wetan biasanya sepi kecuali suara anjing liar sesekali menyalak.
Aku hampir tidak sempat mendengar peringatan dari Pak Darto—suara sepeda motornya yang biasa berisik kali ini dipacu tanpa suara knalpot, dan ia hanya sempat berteriak sekali dari ujung gang sebelum berbelok kembali untuk memperingatkan yang lain: "Rangga! Mereka datang, banyak, bawa surat penangkapan!"
Aku bangun dengan jantung berdebar keras, mendengar suara sepatu bot berbaris di kejauhan, lampu senter yang mulai menyapu dinding-dinding gang. Ibu sudah lebih dulu terbangun, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar mendorongku ke arah pintu belakang.
"Pergi, Rangga. Sekarang."
"Bu, aku nggak—"
"PERGI." Suara Ibu, meski pelan, terdengar lebih tegas daripada yang pernah kudengar seumur hidupku. "Bapak sama Ibu bisa jelasin ke mereka kamu nggak di rumah. Tapi kalau kamu masih di sini waktu mereka masuk, semua yang udah kita bangun bisa hancur malam ini juga."
Aku menatap Bapak, yang berdiri di ambang pintu kamar, mengangguk pelan—satu anggukan yang berisi lebih banyak makna daripada kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan saat itu.
---
Aku keluar lewat celah dinding belakang rumah yang sejak kecil sudah kuhafal luar kepala, menyelinap di antara bayangan gang-gang sempit yang selama bertahun-tahun jadi rumah bagiku. Setiap belokan, setiap sudut, kukenali seperti garis di telapak tanganku sendiri—pengetahuan yang malam itu jadi satu-satunya hal yang memisahkanku dari borgol yang mengejar dari belakang.
Di ujung gang ketiga, Ujang sudah menunggu, wajahnya tegang tapi matanya waspada seperti biasa. "Salim udah amanin jalur ke gudang cadangan di deket terminal lama. Yanto lagi pastiin nggak ada yang ngikutin kita."
Kami bergerak cepat, menyusuri jalur-jalur yang jarang diketahui orang luar—jalur yang selama bertahun-tahun dipetakan diam-diam oleh jaringan kami justru untuk situasi seperti ini. Di kejauhan, aku masih bisa mendengar suara teriakan petugas, suara pintu-pintu digedor, meski semakin lama semakin menjauh seiring kami masuk lebih dalam ke gang-gang yang hanya kami kenal.
---
Kami tiba di gudang cadangan menjelang subuh, napas kami semua terengah, tubuh dipenuhi keringat dingin campuran lelah dan ketakutan yang baru mereda. Salim sudah menunggu di sana bersama dua orang dari jaringan kampung nelayan, wajah mereka semua menunjukkan kelegaan singkat melihatku tiba dengan selamat.
"Rumah kamu digeledah," kata Salim pelan, matanya menghindar sedikit dariku, seperti berat menyampaikan kabar berikutnya. "Bapak sama Ibu kamu dibawa ke kantor buat 'dimintai keterangan'. Katanya cuma sementara, tapi—"
Aku merasa sesuatu di dadaku runtuh. "Kita harus—"
"Kita nggak bisa gegabah, Rangga," potong Yanto, yang baru tiba beberapa menit setelahku, napasnya masih memburu. "Kalau kamu muncul sekarang buat 'nyelametin' mereka, kamu malah bakal langsung ketangkep, dan itu nggak bakal bantu Bapak-Ibu kamu sama sekali. Yang bisa kita lakuin sekarang cuma pastiin mereka diperlakukan sesuai hukum, sambil kita cari cara lain buat balikin keadaan."
Aku tahu Yanto benar, tapi kebenaran itu terasa seperti racun yang harus kutelan paksa. Duduk di gudang gelap itu, jauh dari rumah, jauh dari orang tua yang mungkin sedang ketakutan sendirian di ruang interogasi entah di mana, aku merasakan beban kepemimpinan dengan cara yang jauh lebih berat daripada malam-malam sebelumnya.
---
Menjelang siang, pesan dari Mira sampai lewat jalur aman kami, kali ini nadanya jauh lebih mendesak dari biasanya.
"Berita soal penggerebekan semalam udah nyebar duluan, versi mereka—bilang kamu buron berbahaya yang kabur pas mau ditangkep. Saya lagi siapin tulisan versi lain, tapi saya butuh waktu beberapa jam lagi buat mastiin semua fakta kuat sebelum diterbitin. Bertahan dulu, Rangga. Jangan ambil tindakan gegabah."
Aku membaca pesan itu berkali-kali, merasakan dua sisi diriku bertarung lagi seperti malam waktu Bapak dipukuli dulu—sisi yang ingin bertindak sekarang juga, dan sisi yang tahu bertindak gegabah justru bisa menghancurkan semua yang sudah dibangun dengan susah payah.
Aku menatap Yanto, Ujang, Salim, satu per satu, orang-orang yang sudah memilih berdiri di sampingku sejak awal, bahkan di malam paling gelap seperti ini.
"Kita tunggu Mira," kataku akhirnya, meski setiap kata itu terasa seperti menelan pecahan kaca. "Tapi sambil nunggu, kita nggak diam. Kita siapin semua yang kita punya—supaya begitu berita Mira keluar, kita udah siap bergerak, bukan cuma bereaksi."
Malam itu berubah jadi pagi yang paling panjang dalam hidupku, duduk di gudang cadangan yang dingin, mendengarkan detik demi detik berlalu, sementara di suatu tempat di kota ini, orang tuaku duduk sendirian menghadapi orang-orang yang selama ini menganggap keluarga kecil seperti kami tidak lebih dari sekadar penghalang yang bisa disingkirkan kapan saja mereka mau.
---
*(Bersambung ke Bab 18)*