Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jenderal yang Hilang dalam Badai
Kabut tebal yang menyelimuti kawasan pesisir Pelabuhan Ratu malam itu tak mampu menghalau bau garam dan dingin yang mengigit tulang. Di sebuah pondok kayu lapuk yang terisolasi di atas tebing, Ajo duduk di kegelapan. Tidak ada lampu yang menyala, hanya binar redup dari rokok yang menyala di jemarinya.
Seminggu telah berlalu sejak malam di Gala Premiere. Seminggu sejak Ajo memutuskan untuk lenyap bak ditelan bumi.
Ajo mematikan ponselnya, memutus seluruh akses, dan meninggalkan rumah produksi serta nama besarnya. Ia bukan melarikan diri karena takut pada ancaman Adam atau kejaran media. Ia pergi karena ia sadar, selama ia berada di sisi Elsa, wajah wanita itu akan terus menjadi sasaran tembak dari racun yang disebarkan Adam. Bagi Ajo, membiarkan dirinya hancur sendirian jauh lebih mudah daripada melihat mata Elsa kembali meredup oleh trauma.
Suara langkah kaki yang berat menapak papan kayu teras pondok memutus hening. Pintu kayu berderit terbuka tanpa dikunci.
Sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk, menyalakan lampu minyak kecil di atas meja. Cahaya oranye temaram menerangi wajah kaku pria itu—wajah yang dihiasi bekas luka tipis di alis kirinya.
Jimi.
Ajo tidak terkejut. Pria di depannya adalah satu-satunya orang yang tahu keberadaan tempat persembunyian tua ini. Dulu, sepuluh tahun lalu di kampus , mereka bertiga Ajo, Adam, dan Jimi dijuluki "Tiga Jenderal". Tiga mahasiswa paling dominan yang menguasai panggung pergerakan, tak terpisahkan, dan saling menjaga punggung satu sama lain. Sebelum wanita dan ego merobek segalanya hingga tak bersisa.
Kini, Jimi bekerja sebagai jajaran direksi eksekutif di perusahaan Adam sebuah posisi kaku yang membuatnya terjebak tepat di tengah dua sahabat yang saling menghancurkan.
Jimi menarik kursi kayu, duduk kaku di hadapan Ajo. Ia melempar sebuah map cokelat ke meja.
"Gila kau, Ajo," suara Jimi berat dan parau, sarat akan kelelahan yang mendalam. "Kau menghilang begini dan membiarkan wanita itu sendirian menghadapi ribuan kamera di Jakarta? Elsa seperti orang kesetanan mencarimu ke mana-mana."
Tangan Ajo yang memegang rokok bergetar tipis, namun raut wajahnya tetap diusahakan sedingin es. "Ini cara terbaik, Jim. Tanpa aku, Adam tidak punya alasan lagi menyerang Elsa. Dia cuma mengincarku."
"Kau bodoh!" potong Jimi, suaranya meninggi, menghantam dinding kayu pondok. "Kau pikir ini cuma tentang kau dan Adam? Kau tahu kenapa Adam begitu gila menyerangmu kali ini? Karena kau tidak pernah tahu kebenaran dari apa yang terjadi sepuluh tahun lalu!"
Ajo mendongak tajam, matanya menyipit penuh selidik. "Maksudmu?"
Jimi mengusap wajahnya dengan kasar. Pria tegap itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang menyimpan beban rahasia bertahun-tahun.
"Persahabatan Tiga Jenderal hancur bukan karena kau dan Adam memperebutkan Maya," bisik Jimi dengan getaran emosi yang begitu pekat. "Tapi karena Maya yang sengaja menghancurkan kalian berdua.
Darah Ajo serasa membeku. "Jangan sembarangan bicara, Jimi."
"Aku bicara kenyataan!" bentak Jimi, matanya menggenang oleh amarah dan kepedihan masa lalu. "Sepuluh tahun lalu, waktu kita bertiga masih di kampus, Maya tahu betul kita tidak tergoyahkan. Maya adalah wanita yang haus kontrol. Dia tidak suka kau lebih memprioritaskan persahabatan kita dibanding dia. Dia mendatangi Adam secara diam-diam, membisikkan bahwa kau berpura-pura baik di depannya tapi merebut semua proyek kampusnya. Dia menghasut Adam!"
Jimi menatap Ajo dengan pandangan penuh keputusasaan. "Dan apa yang kau lakukan waktu itu, Jo? Kau lebih percaya pada tangisan air mata buaya Maya dibanding penjelasan Adam! Kau langsung menarik diri, menganggap Adam pengkhianat, dan menembak mati persahabatan kita! Begitu juga Adam—dia begitu membencimu karena dia merasa kau menuduhnya tanpa bukti, sampai akhirnya dia menjadi monster gila seperti sekarang hanya untuk membuktikan bahwa dia bisa mengalahkanmu!"
Kata-kata Jimi menghantam dada Ajo bagai pukulan godam yang telanjang. Ruangan itu mendadak begitu sesak. Pengakuan itu membuka retakan besar pada memori sepuluh tahun lalu—ingatan tentang bagaimana Ajo tanpa ragu mempercayai perkataan Maya saat wanita itu mengaku didekati Adam, tanpa pernah sekalipun duduk dan mendengarkan penjelasan sahabatnya sendiri.
Ajo mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Maya... dia memanfaatkan rasa bersalah kita?"
"Dia memanfaatkan kebodohan kalian berdua!" pangkas Jimi kaku. "Maya memainkan peran korban pada kau, dan memainkan peran wanita yang teraniaya pada Adam. Kalian berdua bertingkah seperti jenderal di kampus, tapi kalian buta oleh manipulasi satu wanita! Dan sekarang, pola mengerikan itu terulang lagi!"
Jimi menunjuk map cokelat di atas meja.
"Adam mengamuk di kantor bukan cuma karena Elsa memilihmu, Ajo. Dia gila karena dia merasa kembali dibuang oleh orang yang paling dia harapkan. Adam mempercayai Elsa dengan cara yang sama bodohnya seperti kau mempercayai Maya dulu. Bagi Adam, Elsa adalah pelarian terakhirnya dari kehancuran jiwanya. Begitu Elsa berlari padamu, seluruh luka sepuluh tahun lalu meledak di kepalanya."
Ajo menatap map cokelat itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya, lembaran foto dan dokumen memperlihatkan kondisi Jakarta saat ini: Elsa yang berdiri sendirian di depan ratusan wartawan, menolak tunduk pada narasi bohong Adam, dan terus menyuarakan nama Ajo tanpa rasa takut akan kehancuran kariernya sendiri.
Di lembaran terakhir, ada foto Elsa yang terduduk lemas di luar pintu kantor Ajo yang terkunci, mata indahnya sembap dan memerah, memegang naskah film mereka yang sudah kusam.
"Elsa tidak seperti Maya, Ajo," bisik Jimi pelan, suaranya melunak, sarat akan dorongan emosional yang menyayat hati. "Wanita itu tidak sedang memanipulasimu. Dia bertaruh dengan seluruh hidupnya untuk bertahannya namamu. Kalau kau tetap sembunyi di sini berlagak jadi pahlawan kesepian, kau bukan cuma membiarkan Adam menang... tapi kau membunuh wanita yang benar-benar tulus mencintaimu."
Air mata yang tak pernah jatuh dari mata seorang Ajo selama belasan tahun akhirnya menetes melintasi pipinya yang kasar. Rasa bersalah, penyesalan atas masa lalu, dan kerinduan yang membakar dada menyatu menjadi badai emosi yang melumpuhkan keangkuhannya.
Ia telah salah menilai dunia. Ia melarikan diri bukan untuk melindungi Elsa, melainkan karena ia takut menghadapi luka masa lalunya sendiri.
Ajo bangkit berdiri dari kursi kayu itu, jemarinya meremas foto Elsa erat-erat. Pandangannya yang tadi redup kini menyala kembali—bukan dengan amarah, melainkan dengan keteguhan seorang pria yang siap menebus seluruh kesalahannya.
"Jimi," suara Ajo bergetar rendah namun penuh ketegasan yang nyata. "Siapkan mobil. Kita kembali ke Jakarta malam ini."
Jimi tersenyum tipis, sebuah senyuman langka dari sang jenderal ketiga. "Sudah dari tadi mesinnya kunyalakan, Jo. Mari kita selesaikan perang bodoh sepuluh tahun ini."