Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Hampir keracunan
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden tebal menyinari kekacauan di kamar utama. Jejak cakaran memerah di punggung Areksa yang masih membekas jelas, serta deru napas Zevanna yang masih teratur dalam tidurnya menjadi saksi bisu keintiman gila semalam.
Ketika Zevanna terbangun, tubuhnya terasa bagai dihantam remuk. Namun, rasa sakit fisik itu seketika sirna begitu melihat Areksa sudah rapi berpakaian setelan jas gelap, berdiri di ujung ranjang sambil mengancingkan jam tangan mewahnya.
"Selamat pagi, istriku," sapa Areksa dengan senyum miring penuh kemenangan. "Pagi ini, tim hukumku sudah memproses pemindahan 50% saham anak perusahaan logistik ke namamu. Tanda tanganmu tinggal dibutuhkan nanti sore."
Zevanna menarik selimut hingga menutupi dadanya, menatap pria itu dengan pandangan dingin. "Dan bukti tentang kematian mama?"
Areksa melempar sebuah map cokelat tebal ke atas kasur, tepat di samping kaki Zevanna. "Itu daftar nama orang-orang kepercayaan yang berada di rumah kontrakan ibumu pada malam kematiannya. Salah satu dari mereka... masih bekerja aktif di kediaman Valerius sebagai kepala pelayan."
Mata Zevanna berkilat tajam. Kepala Pelayan Bibi Sumi? Wanita tua yang selama ini bersikap begitu lembut padaku?
"Jangan terburu-buru bertindak," peringat Areksa, seolah bisa membaca pikiran Zevanna. "Malam ini, kita diundang ke makan malam keluarga besar Valerius. Dan ingat... mereka bukan cuma sekadar ingin makan bersama."
Zevanna masih terdiam menatap nama-nama yang tertera di daftar itu. Nama paman dan bibinya. Sesuai dugaanku merekalah yang ikut andil membunuh ibunya. Entah dendam apa yang membuat mereka membenci ibunya. Harta? atau ada kejadian lain di masa lalu?
Wanita itu tersentak kala sebuah kecupan di pucuk kepalanya." Kau di larang melamun di saat bersamaku, Dear. Jadi, sembunyikan wajah yang begitu di depanku. Aku membencinya"bisik Areksa tepat di depan wajah istrinya.
"Kau tahu alasan kenapa mereka membunuh mama?" tanya Zevanna dengan wajah serius serta menatap kedua manik mata Areksa.
"Kau akan tahu nantinya. Ingat, jangan gegabah... musuh bisa menyerang kapan saja saat kau lengah dan gegabah. Ok, my dear?"
Zevanna hanya mengangguk saja.
"Bagian bawahmu masih sakit?" tanya Areksa kembali merangkak ke hadapan istrinya, menatap wajah istrinya yang sudah bersemu merah.
Zevanna mengangguk malu-malu. Emang bagian bawahnya sangat sakit. Apalagi semalam Areksa tidak pernah berhenti, terus melakukannya.
"Aku akan membantu mengobatinya" kata Areksa penuh godaan sambil mengambil salep di atas nakas. Salep untuk mengurangi luka di area sana.
Zevanna melebarkan pupil matanya menatap horor salep itu. "Kenapa harus memakai itu?" tanyanya gugup.
Areksa berbisik, "Aku terlalu keras semalam. Area bawahmu terluka. I'm so sorry, baby"
"AREKSA!"
###
Malam harinya, kediaman megah keluarga Valerius tampak bersinar bertabur lampu kristal. Namun bagi Zevanna, rumah ini tak ubahnya sangkar ular.
Zevanna tampil anggun mengenakan gaun malam backless berwarna merah marun—yang secara sengaja dipilihkan oleh Areksa untuk memperlihatkan lehernya yang bersih, sekaligus menyembunyikan tanda kepemilikan gila semalam. Areksa berjalan di sisinya, menggandeng pinggang Zevanna dengan erat dan penuh proteksi.
"Mau di gendong?" tawar Areksa melihat istrinya masih berjalan seperti pinguin.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" ketus Zevanna.
Areksa tertawa puas berhasil membuat istrinya kesal. Ini lebih baik daripada istrinya yang banyak pikiran.
Di meja makan yang panjang, suasana langsung terasa kaku. Kakek Danuel duduk di kepala meja. Hanya Kakek Danuel yang menatap Zevanna dengan sorot mata penuh perhatian yang dalam. Sementara di sisi kiri dan kanan, Bram bersama Melinda, serta Valerie—putri mereka sekaligus teman kecil Areksa—menatap Zevanna dengan tatapan meremehkan.
Sepanjang malam, Valerie tak henti-hentinya tebar pesona. Wanita itu sengaja tertawa manja, memamerkan perhiasan, dan berulang kali memanggil Areksa dengan panggilan masa kecil mereka.
"Areksa, kau ingat tidak waktu kita di Swiss dulu? Kau selalu membelikanku cokelat kesukaanku," ujar Valerie dengan nada manja, melirik Zevanna dari sudut matanya yang penuh ejekan.
Areksa bahkan tidak memalingkan wajahnya. Ia sibuk memotongkan daging steak di piring Zevanna, sama sekali mencuekkan Valerie seolah wanita itu hanya angin lalu.
Merasa diabaikan, orang tuanya mulai mengalihkan serangan langsung ke arah Zevanna. Mereka melontarkan sindiran pedas tentang latar belakang Zevanna yang dibesarkan di panti asuhan dan menggeledah setiap celah kehidupannya dengan kata-kata tajam.
"Tentu saja Areksa merindukan masa-masa itu, Valerie. Dulu Areksa bergaul dengan kalangan sepadan," potong Melinda sambil menyunggingkan senyum sinis ke arah Zevanna. "Bukan seperti sekarang, terpaksa membawa wanita dari panti asuhan ke acara penting keluarga hanya karena rasa kasihan kasihan Ayah."
Kakek Danuel mengepalkan tangan, hendak bersuara membela cucunya. "Cukup! Jangan—"
Namun sebelum Kakek Danuel menyelesaikan kalimatnya, Zevanna menyela dengan tenang. Ia meneguk air putihnya, lalu menatap Bibi dan Pamannya dengan senyum manis namun mematikan. Zevanna teringat pesan dari ibu mertuanya—ibu Areksa—yang pernah mengajarinya cara membungkam pengganggu berkelas tinggi: Jangan gunakan emosi, gunakan fakta tentang kecacatan finansial mereka.
"Bibi betul," sahut Zevanna santai, suaranya terdengar lembut namun bergema di seluruh ruangan. "Areksa memang membawaku bukan cuma karena cinta, tapi juga untuk menyelamatkan aset. Sama seperti bagaimana Paman Bram yang minggu lalu memohon-mohon pinjaman dana ke perusahaan Areksa karena anak perusahaan Paman di bidang properti hampir bangkrut, bukan?"
Skakmat!
Wajah Bram dan istrinya seketika pucat pasi. Valerie bahkan melotot tak percaya. Areksa yang mendengar itu hampir saja menyunggingkan tawa bangga, istrinya benar-benar murid yang cepat belajar dari ibunya!
Di tengah kecanggokkan yang mencekam itu, Bibi Sumi—sang kepala pelayan tua mendekat untuk menuangkan jus buah segar ke dalam gelas kristal Zevanna. Tangan wanita tua itu tampak sedikit bergetar.
Zevanna meraih cangkir itu. Sesuai dengan isi map cokelat yang diberikan Areksa tadi pagi tentang daftar orang yang berada di kontrakan ibunya, Zevanna menatap mata Bibi Sumi dengan dalam.
Sebelum Zevanna sempat menyesapnya, Areksa merebut gelas kristal itu secara tiba-tiba dari tangan istrinya.
"Ada apa, Areksa?" tanya Kakek Danuel dengan dahi berkerut cemas.
Areksa tidak menjawab Kakek Danuel. Ia menatap Bibi Sumi dengan mata elangnya yang tajam dan dingin. Pria itu mendekatkan gelas ke hidungnya, mengendusnya sejenak, sebelum akhirnya menyunggingkan seringai membahayakan.
Crank!
Areksa sengaja melepaskan gelas kristal itu hingga jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai marmer, membuat Valerie dan kedua orang tuanya terperanjat kaget!
"Maaf, sepertinya pelayan kepercayaan keluarga Valerius ini kurang bersih mencuci gelas," ujar Areksa dingin, matanya mengunci Bibi Sumi yang mendadak gemetar hebat dan berlutut di lantai. "Aroma bahan kimia pembersih... atau mungkin racun dosis rendah... terlalu kuat untuk diminum istriku malam ini."