Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Angkuh
Suara ejekan itu langsung diikuti dengan perubahan sikap seluruh orang di dalam toko.
Para pelanggan dan pelayan segera menundukkan kepala dengan hormat. “Salam hormat untuk Tuan Muda Mo,” ucap mereka serempak dengan nada penuh penghormatan.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun melangkah masuk dengan sikap pongah. Ia mengenakan jubah mahal berwarna cerah, diikuti empat anak lain yang tampak seperti pengikut setianya.
Langkahnya santai namun penuh kesombongan, seolah seluruh tempat itu adalah miliknya. Tatapannya langsung tertuju pada tiga pangeran di hadapannya.
Zi Cheng, Zi Xin, dan Zi Rui hanya menatap datar. Ekspresi mereka tidak berubah, seolah kejadian seperti ini sudah terlalu sering terjadi.
“Lagi-lagi dia,” gumam Zi Xin pelan, suaranya dingin tanpa emosi.
Mo Jiung berhenti tepat di depan mereka, dagunya terangkat tinggi. “Anak haram tidak pantas berada di tempat seperti ini,” katanya tanpa basa-basi, nada suaranya penuh penghinaan.
Zi Rui mengepalkan tangan, tetapi sebelum ia berbicara, Zi Cheng melangkah sedikit ke depan. “Kau tidak berhak mengatur kami,” katanya tegas dengan tatapan tajam.
Mo Jiung justru terkekeh pelan, seolah mendengar sesuatu yang lucu. “Tidak berhak?” ulangnya dengan nada mengejek. “Kenapa tidak?”
Ia menyilangkan tangan di dada, senyumnya semakin merendahkan. “Aku ini putra bungsu Jenderal Mo,” katanya bangga. “Dan adik dari Permaisuri Mo Yuuran.”
Tatapannya berubah dingin saat menatap mereka satu per satu. “Sedangkan kalian?” lanjutnya tajam. “Bahkan tidak punya ibu.”
Ucapan itu seperti pisau yang dilempar tanpa ampun. Namun Mo Jiung belum berhenti.
“Bahkan Yang Mulia Kaisar saja tidak menganggap kalian ada,” katanya dengan nada penuh penekanan. “Kalian ini tidak lebih dari sampah di kekaisaran ini.”
Keempat anak di belakangnya langsung ikut tertawa dan menimpali. “Benar sekali!” seru salah satu dari mereka. “Untuk apa orang seperti mereka datang ke sini?”
“Pakaian bagus hanya akan terbuang sia-sia kalau dipakai mereka,” tambah yang lain dengan nada sinis.
“Lebih baik mereka tetap di tempat kumuh mereka saja,” ejek yang lain lagi.
Suasana toko dipenuhi tawa merendahkan, sementara tiga pangeran berdiri di tengahnya. Ya, selama ini keluarga Mo menyembunyikan identitas Bo Jiung sebagai anak bungsu dari keluarga Jenderal Mo dan mengganti marganya menjadi marga Mo.
Orang-orang tidak tahu, jika Mo Jiung anak hasil hubungan gelap dari Mo Weiwei dan Bo Wen. Tentu semua itu demi ambisi mereka merebut tahta dan memperdaya Mo Yuuran.
Dan karena itulah, Mo Jiung berkuasa seolah-olah dirinya adalah putra mahkota di kekaisaran ini.
Mo Jiung kembali menatap mereka dari ujung kepala hingga kaki dengan senyum penuh penghinaan. Ia mendengus pelan, lalu berkata, “Kalian bahkan tidak punya uang, bukan?” suaranya sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar.
Ia melangkah lebih dekat, matanya menyipit merendahkan. “Datang ke sini hanya untuk apa?” lanjutnya. “Merusak pakaian mahal yang bahkan tidak akan pernah bisa kalian beli?”
Keempat temannya langsung tertawa, ikut menimpali tanpa ragu. “Benar, mereka pasti hanya ingin menyentuh-sentuh saja!” kata salah satu dari mereka.
“Dasar pembawa sial,” ejek yang lain. “Sejak mereka masuk, suasana toko ini jadi buruk.”
Zi Rui mengepalkan tangan lebih erat, wajahnya memerah menahan emosi. Namun sebelum ia bertindak, Zi Cheng melangkah maju, diikuti Zi Xin di sampingnya.
“Cukup,” kata Zi Cheng tegas, suaranya dingin dan berat. “Kami datang untuk membeli, bukan untuk dihina.”
Zi Xin menambahkan dengan nada datar namun tajam, “Dan kami tidak membutuhkan izin darimu untuk berada di sini.”
Mo Jiung terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa mengejek. “Membeli?” ulangnya dengan nada tidak percaya. “Dengan apa? Dengan mimpi kalian?”
Tanpa peringatan, ia mendorong bahu Zi Cheng dengan kasar. “Jangan berdiri sok tinggi di depanku,” katanya sinis.
Dorongan itu cukup kuat hingga membuat langkah Zi Cheng sedikit mundur. Zi Xin langsung bergerak menahan saudaranya, sementara tatapan mereka berdua berubah semakin dingin.
Zi Rui yang melihat itu tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah maju dengan amarah yang jelas terlihat. “Jangan sentuh kakakku!” bentaknya, sambil mendorong Mo Jiung.
Dorongan dari Zi Rui membuat tubuh Mo Jiung sedikit terhuyung ke belakang, dan itu cukup untuk memantik amarahnya.
Wajahnya langsung memerah, matanya menyala penuh kebencian. “Berani sekali kau menyentuhku!” bentaknya tajam.
Ia melangkah maju dengan kasar, lalu mengangkat tangan menunjuk ketiga pangeran itu. “Pegang mereka!” perintahnya tanpa ragu kepada keempat temannya.
Keempat anak itu langsung bergerak, masing-masing menangkap tangan Zi Cheng, Zi Xin, dan Zi Rui tanpa memberi kesempatan untuk melawan.
“Lepaskan!” Zi Rui meronta dengan marah, tubuhnya berusaha melepaskan diri.
Zi Cheng mengatupkan rahangnya, mencoba tetap tenang meski lengannya ditahan kuat. “Jangan bertindak bodoh, Mo Jiung,” katanya dingin. “Ini hanya akan memperburuk keadaanmu.”
Zi Xin juga berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman itu terlalu kuat. “Kau pikir dengan cara seperti ini kau terlihat hebat?” ucapnya sinis.
Namun Mo Jiung justru tertawa kecil, jelas menikmati situasi itu. “Kalian masih berani bicara?” katanya merendahkan. “Hari ini aku akan memberi kalian pelajaran.”
Ia menoleh ke sekeliling, lalu meraih sebuah papan kayu yang terletak di dekat rak. Tangannya menggenggam benda itu erat, senyum tipis penuh niat buruk muncul di bibirnya.
“Supaya kalian tahu tempat kalian sebenarnya,” lanjutnya pelan, namun penuh ancaman.
Zi Rui kembali meronta lebih keras, matanya dipenuhi amarah. “Kalau berani, lepaskan kami dan hadapi sendiri!” tantangnya.
Mo Jiung hanya mendengus. “Kalian tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu,” balasnya dingin.
Ia mengangkat papan kayu itu perlahan, bersiap mengayunkannya. Sementara ketiga pangeran masih berusaha melepaskan diri, suasana di dalam toko menjadi sunyi mencekam, tak satu pun berani menghentikan apa yang akan terjadi.
Shut!
ku tunggu pembalasan permaisuri pada mereka