NovelToon NovelToon
Sejak Kapan Aku Jadi Sekuat Ini?

Sejak Kapan Aku Jadi Sekuat Ini?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Slice of Life
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.

Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.

Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Rumah Sederhana yang Penuh Keajaiban

Keesokan paginya.

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Qinghe.

Xu Ming sudah bangun sejak fajar.

Seperti kebiasaannya selama sepuluh tahun bersama sistem, ia menyapu halaman, menyiram kebun, lalu memberi makan ayam dan bebek.

"Untung masih ada kebiasaan ini."

"Kalau tidak, aku pasti bingung mau melakukan apa setelah sistem pergi."

Xiao Hei mengikuti di belakangnya sambil sesekali mengibaskan ekor.

Setelah semua pekerjaan selesai, Xu Ming masuk ke dalam rumah.

Rumah kayu itu tidak besar.

Hanya terdiri dari satu ruang tamu, dapur sederhana, kamar tidur, dan gudang kecil.

Bagi Xu Ming...

Rumah itu biasa saja.

Bahkan sedikit kosong.

Namun, bila seorang kultivator melihatnya...

Mereka mungkin akan langsung pingsan.

Tak lama kemudian.

Di depan pagar bambu.

Tetua Mu dan Li Qingxue berdiri dengan gugup.

"Guru..."

"Apakah kita langsung masuk?"

Tetua Mu menggeleng.

"Tidak."

"Rumah seorang Senior bukan tempat yang boleh dimasuki sembarangan."

Ia menarik napas panjang.

Lalu berkata dengan hormat,

"Senior Xu."

"Junior Mu Qing memohon izin untuk berkunjung."

Suara itu tidak keras.

Namun terdengar jelas hingga ke dalam rumah.

Xu Ming yang sedang menyapu langsung menghentikan pekerjaannya.

"Hm?"

"Itu suara kemarin."

Ia membuka pintu.

"Oh..."

"Ternyata kalian."

Xu Ming tersenyum ramah.

"Silakan masuk."

Tetua Mu dan Li Qingxue saling berpandangan.

Senior...

Mengizinkan mereka masuk?

Keduanya segera memberi hormat.

"Terima kasih, Senior."

Xu Ming tertawa kecil.

"Sudah kubilang, jangan panggil aku Senior."

"Aku cuma Xu Ming."

Tetua Mu hanya tersenyum.

Di dalam hatinya ia berkata,

'Senior benar-benar rendah hati.'

Begitu melangkah melewati pagar bambu...

Tetua Mu langsung menghentikan langkahnya.

Tubuhnya membeku.

Li Qingxue yang berada di belakangnya ikut terdiam.

"Guru..."

"Kenapa?"

Tatapan Tetua Mu perlahan beralih ke halaman rumah.

Di sudut halaman terdapat sebuah patung kayu kecil.

Patung itu menggambarkan seorang lelaki tua sedang memancing.

Xu Ming pernah membuatnya saat sistem memberikan misi:

"Ukir satu patung kayu."

Baginya...

Patung itu jelek.

Masih banyak bagian yang tidak simetris.

Namun...

Di mata Tetua Mu...

Patung itu seolah hidup.

Aura Dao Kehidupan mengalir tanpa henti dari setiap ukiran.

Seolah lelaki tua di dalam patung itu benar-benar sedang memancing di tepi sungai.

"Ini..."

Li Qingxue ikut membelalakkan mata.

"Aku bisa merasakan Dao..."

Tetua Mu buru-buru menarik napas.

"Jangan menatap terlalu lama."

"Kau belum cukup kuat."

Li Qingxue segera menundukkan kepala.

Mereka melangkah beberapa langkah lagi.

Di bawah pohon persik terdapat meja batu.

Di atas meja...

Sebuah papan catur masih tersusun rapi.

Xu Ming sudah berbulan-bulan tidak menyentuhnya.

Tetapi bidak-bidak hitam dan putih itu memancarkan aura yang membuat ruang di sekitarnya sedikit bergetar.

Tetua Mu menggigit bibirnya.

"Papan Catur Dao..."

"Bagaimana mungkin..."

Ia pernah membaca dalam kitab kuno.

Konon, para Dewa memainkan catur untuk memahami hukum langit.

Namun papan catur di depan matanya...

Jauh melampaui catatan mana pun.

Li Qingxue hanya melihat sekilas.

Lalu buru-buru memalingkan wajah.

Dadanya terasa sesak.

Xu Ming keluar membawa teko teh.

"Lho?"

"Kenapa berdiri saja?"

"Duduk."

Tetua Mu langsung tersadar.

"Maaf, Senior."

Xu Ming tersenyum.

"Kalian ini sopan sekali."

Ia menuangkan teh ke dua cangkir.

"Silakan diminum."

Tetua Mu menerima cangkir itu dengan kedua tangan.

Tangannya sedikit gemetar.

'Aroma ini...'

'Lebih pekat daripada teh kemarin.'

Namun ia tidak langsung meminumnya.

Tatapannya tanpa sengaja melihat dinding rumah.

Di sana...

Tergantung belasan kaligrafi.

Masing-masing bertuliskan kata-kata sederhana.

Tenang.

Sabar.

Ikhlas.

Mengalir Seperti Air.

Tulisan-tulisan itu tampak biasa.

Tetapi setiap goresannya mengandung Dao yang berbeda.

Tetua Mu merasa pikirannya hampir tenggelam.

Ia buru-buru menundukkan kepala.

'Mustahil...'

'Belasan Dao berbeda...'

'Digantung begitu saja seperti hiasan?'

Li Qingxue justru melihat ke sudut lain.

Di sana terdapat beberapa lukisan.

Lukisan gunung.

Lukisan sungai.

Lukisan burung.

Lukisan bambu.

Setiap lukisan terasa begitu nyata.

Bahkan angin yang bertiup dari dalam lukisan seolah benar-benar ada.

Li Qingxue tanpa sadar bergumam,

"Indah sekali..."

Xu Ming mendengar ucapan itu.

"Oh?"

"Itu cuma hasil latihan."

"Dulu aku dipaksa belajar melukis."

"Masih banyak yang jelek."

Tetua Mu hampir tersedak mendengar kalimat itu.

'Hasil... latihan?'

'Kalau ini masih disebut latihan...'

'Lalu seperti apa karya yang dianggap sempurna oleh Senior?'

Xu Ming sama sekali tidak memperhatikan ekspresi mereka.

Ia malah tersenyum malu.

"Jangan ditertawakan ya."

"Aku memang tidak berbakat dalam seni."

Tetua Mu dan Li Qingxue hanya bisa saling memandang.

Mereka akhirnya benar-benar yakin.

Senior Xu tidak sedang merendah.

Beliau benar-benar percaya bahwa semua karya luar biasanya hanyalah hasil biasa.

Dan justru itulah yang membuat sosoknya terasa semakin tak terjangkau.

Bersambung...

1
Ilham Yono
keren abis
Ilham Yono
hihihi🤭
Ilham Yono
salah faham yang positif
Ilham Yono
gambatheeeee
Ilham Yono
tepuk jidat gw
Ilham Yono
🤣🤣🤣🤣🤣
Ilham Yono
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilham Yono
/Tongue//Tongue//Tongue//Tongue/
Ilham Yono
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Ilham Yono
hihihi🤭
Ilham Yono
terbaik/Determined/
Ilham Yono
terbaik
Ilham Yono
/Curse//Curse//Curse//Curse//Joyful/
Ilham Yono
beuh/Facepalm/
Ilham Yono
hihihi ..gak nyadar juga
Ilham Yono
sederhana penuh makna
Ilham Yono
beuh..master kita
Ilham Yono
hadew...min min..Luhu amet ya
terbaik/Facepalm/
Ilham Yono
WIS..bubar kabeh 🤭🤣
Ilham Yono
angel.angel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!