Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Mencari Nenek Nio
Rumah Sylvia Leng masih sama seperti tiga tahun lalu.
Pagar besinya dicat ulang, pot tanaman di teras diganti, dan lampu gantung baru terpasang di ruang tamu. Namun bagi Kirana, rumah itu tetap terasa seperti tempat yang tidak pernah benar-benar menerimanya. Ia berdiri di depan gerbang dengan tas selempang kecil dan napas yang ia paksa stabil.
Dari dalam terdengar tawa.
Tawa banyak orang, suara piring, musik ulang tahun yang terlalu ceria.
Kirana menekan bel.
Seorang asisten rumah tangga baru membuka gerbang. Wajahnya berubah bingung saat melihat Kirana.
"Saya mau bertemu Ibu Sylvia," kata Kirana.
"Ada acara, Bu."
"Bilang Kirana datang."
Nama itu membuat perempuan itu ragu, lalu masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, Sylvia Leng muncul di teras dengan gaun rumah mahal dan wajah yang langsung mengeras.
"Untuk apa kamu ke sini?"
Tidak ada salam. Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja setelah tiga tahun penjara.
Kirana sudah memperkirakannya, tetapi tetap ada bagian kecil di dadanya yang terasa tertusuk.
"Aku mencari Nio."
Sylvia melipat tangan. "Kamu baru bebas sudah membuat keributan?"
"Di mana Nio?"
"Jangan berteriak di rumah orang."
"Ini rumah Papa."
Wajah Sylvia berubah dingin. "Papamu sakit karena kamu. Jangan bawa-bawa namanya untuk menekan aku."
Dari dalam, seorang pria muda keluar sambil membawa gelas minuman. Li Jonathan, yang kini lebih gemuk sedikit dan memakai jam tangan mencolok, berhenti di ambang pintu. Matanya melebar sebentar, lalu bibirnya melengkung sinis.
"Wah. Kakak kita pulang dari LP."
Beberapa tamu di belakangnya menoleh. Bisik-bisik langsung menyebar seperti api kecil di kain kering.
Kirana tidak menatap mereka.
"Aku hanya mau tahu Nio di mana."
Sylvia menuruni satu anak tangga. "Nio sudah tidak ada."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Kirana merasa seluruh suara di sekitar memudar.
"Apa maksudmu?"
"Meninggal." Sylvia mengatakannya datar. "Orang tua sakit-sakitan, hidupnya sudah berat. Kamu kira dia bisa bertahan setelah cucunya jadi pembunuh?"
Tangan Kirana mengepal.
"Kapan?"
"Untuk apa kamu tahu?"
"Karena dia nenekku."
"Baru ingat sekarang?" Jonathan tertawa kecil. "Tiga tahun ke mana saja, Kak?"
Kirana menoleh kepadanya. "Aku di penjara karena dijebak."
"Semua narapidana bilang begitu."
Salah satu tamu tertawa pelan. Sylvia tidak menegur.
Kirana maju satu langkah. "Di mana makamnya?"
Sylvia membuang muka. "Sudah lama. Aku tidak ingat detailnya."
Kebohongan itu terlalu jelas.
Sylvia mungkin bisa memalsukan simpati, tetapi ia tidak pernah pintar menyembunyikan ketakutan kecil di matanya. Saat Kirana menyebut makam, pupilnya bergerak cepat ke kiri, ke arah ruang kerja lama Herman Li. Dulu, jika ada surat penting atau dokumen keluarga, Sylvia selalu menyimpannya di sana.
"Kamu bohong," kata Kirana.
Suasana teras menegang.
Sylvia mendesis, "Jaga mulutmu."
"Kalau Nio meninggal, kamu akan menyebut tanggalnya. Kamu akan memperlihatkan surat kematian supaya aku berhenti bertanya. Tapi kamu tidak bisa."
Jonathan meletakkan gelas dengan kasar. "Jangan datang ke sini menuduh Mama."
"Kalau kalian tidak menyembunyikan sesuatu, kenapa takut?"
Sylvia mendekat sampai hanya berjarak satu langkah. Suaranya rendah, tetapi tajam. "Dengar baik-baik, Kirana. Kamu sudah merusak nama keluarga ini. Kalau kamu masih punya sedikit malu, pergi dari sini dan jangan menyeret kami lagi."
"Keluarga?" Kirana tertawa pendek. "Saat aku disidang, keluarga ini menjualku kepada gosip. Saat Papa sakit, kalian memakai namaku sebagai alasan. Sekarang aku hanya meminta satu hal, keberadaan nenekku, dan kalian bahkan tidak bisa jujur."
Wajah Sylvia memerah.
"Keluar."
"Aku akan mencari tahu."
"Cari sampai tua pun tidak ada gunanya."
Kalimat itu terlalu cepat keluar.
Kirana menangkapnya.
"Jadi kamu tahu sesuatu."
Sylvia terdiam sepersekian detik. Cukup.
Jonathan menarik lengan ibunya. "Ma, masuk saja. Jangan layani dia."
Sylvia kembali memasang wajah dingin. "Pergi sebelum aku panggil keamanan."
Kirana menatap rumah itu sekali lagi. Balon ulang tahun Jonathan bergoyang di ruang tamu. Kue besar di meja. Tamu-tamu yang pura-pura tidak melihat tetapi telinganya tetap terbuka. Di tempat seperti ini, Nio pernah mencuci piring, memasak bubur, menunggu cucunya pulang, lalu entah dibawa ke mana setelah Kirana dipenjara.
Kirana mundur.
Namun bukan karena kalah.
Ia mundur karena sekarang ia tahu Sylvia berbohong.
Saat ia berbalik, seorang perempuan tua dari rumah sebelah membuka pagar sedikit. Wajahnya ragu-ragu, seperti takut ketahuan. Kirana mengenalinya samar sebagai Tante Mira, tetangga lama yang dulu sering memberi Nio daun pandan untuk bubur.
"Kira," panggil perempuan itu pelan.
Kirana berhenti.
Sylvia dari jendela langsung menajamkan mata. "Tante Mira, masuk saja. Ini urusan keluarga."
Tante Mira pura-pura tidak mendengar. Ia mendekat ke pagar, suaranya hampir tenggelam oleh musik ulang tahun dari dalam rumah. "Dulu setelah kamu ditahan, Nio sering duduk di depan rumah. Dia nunggu kamu pulang. Lalu suatu malam ada mobil datang."
Jantung Kirana memukul keras. "Mobil siapa?"
"Saya tidak lihat jelas. Tapi bukan ambulans. Besoknya Nio sudah tidak ada. Sylvia bilang dibawa ke tempat perawatan, bukan meninggal."
Kirana menatap Sylvia.
Wajah perempuan itu berubah pucat karena marah.
"Jangan dengarkan orang tua pikun!" bentak Sylvia.
Tante Mira mundur ketakutan, tetapi kalimatnya sudah cukup. Kirana menyimpan setiap kata seperti menyimpan alamat rahasia. Tempat perawatan. Mobil malam. Bukan ambulans.
Jonathan turun dari teras, berusaha mendorong pagar agar Kirana benar-benar keluar. "Sudah puas bikin acara ulang tahunku berantakan?"
"Acara ulang tahunmu masih lengkap," jawab Kirana. "Kue, tamu, musik. Yang hilang cuma nurani kalian."
Beberapa tamu di belakang Jonathan saling pandang. Untuk pertama kalinya, tawa di dalam rumah padam.
Di depan gerbang, hujan rintik mulai turun. Kirana menengadah sebentar, membiarkan air menyentuh wajahnya. Malam hujan tiga tahun lalu pernah membuatnya tampak seperti terdakwa. Hari ini, hujan yang sama mengingatkannya bahwa ia masih bisa berdiri.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik satu catatan baru.
Sylvia tahu. Cari dokumen di rumah Papa. Tanya tetangga lama.
Di balik pagar, Sylvia masih mengawasinya dari jendela.
Kirana menatap balik.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk kepada perempuan itu.
Ia juga tidak langsung pergi jauh. Di ujung jalan, ia berhenti di bawah kanopi warung kosong dan menunggu sampai Tante Mira berani keluar membuang sampah. Dari sana, Kirana mendapat satu petunjuk tambahan: mobil yang datang malam itu berwarna putih, dengan stiker klinik kecil di kaca belakang. Bukan nama jelas, hanya gambar daun hijau.
Petunjuk itu belum cukup untuk menemukan Nio.
Tetapi setelah tiga tahun gelap, satu stiker daun hijau pun terasa seperti cahaya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔