NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: LANGIT YANG MENUNJUKKAN JALAN

Rangga menerima alat pengukur tegangan dari tangan Doni, lalu berjongkok di depan panel listrik yang terpasang di sisi dinding bangunan. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka penutup panel dan mulai memeriksa jalur demi jalur instalasi yang baru selesai dipasang.

Doni berdiri di sampingnya tanpa berani mengganggu.

Sesekali ia melirik layar mesin cetak yang masih gelap.

"Mas..."

"Iya?"

"Kalau memang gensetnya bermasalah, apa kita harus menunggu teknisi dari kota?"

Rangga menggeleng pelan.

"Kita lihat dulu penyebabnya."

Ia menempelkan ujung alat pengukur pada terminal utama.

Angka-angka di layar digital langsung berubah naik turun.

Tidak stabil.

Beberapa detik kemudian kembali turun.

Lalu melonjak lagi.

Rangga menarik alat itu perlahan.

"Benar."

"Tegangannya berubah-ubah?"

"Iya."

Doni mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu kita benar-benar tidak bisa mencetak hari ini."

"Belum tentu."

Jawaban Rangga membuat Doni menoleh.

"Tapi..."

"Masalah selalu punya jalan keluar."

Nada bicara Rangga tetap tenang.

Ia berdiri, lalu berjalan mengelilingi ruangan sambil mengamati seluruh instalasi listrik yang menghubungkan mesin cetak dengan sumber daya utama.

Pikirannya bekerja cepat.

Di Jakarta, ia memang jarang menghadapi kondisi seperti ini.

Namun selama bertahun-tahun membangun usahanya dari nol, ia sudah terbiasa mencari solusi dengan memanfaatkan apa yang tersedia.

"Mas Doni."

"Iya."

"Di gudang proyek ada stabilizer tegangan?"

Doni berpikir sejenak.

"Kalau untuk alat berat saya kurang tahu. Tapi untuk panel kantor lapangan sepertinya ada beberapa unit cadangan."

"Siapa yang memegangnya?"

"Bagian kelistrikan proyek."

Rangga mengangguk.

"Kalau begitu kita ke sana."

Tanpa membuang waktu, keduanya berjalan keluar bangunan.

Matahari siang terasa menyengat kulit. Debu merah beterbangan setiap kali kendaraan proyek melintas di jalan utama. Di kejauhan, suara ekskavator masih terdengar bekerja tanpa henti, mengangkat tanah dan batu dari area pembangunan.

Doni memimpin jalan menuju kantor kelistrikan.

Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi dipenuhi gulungan kabel, panel distribusi, serta berbagai peralatan teknis yang tersusun rapi di dalam rak besi.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sedang memeriksa lembar laporan ketika mereka datang.

"Permisi, Pak."

Pria itu mengangkat kepala.

"Iya?"

"Perkenalkan, saya Rangga."

Rangga mengulurkan tangan.

"Saya menangani operasional percetakan yang baru."

Pria itu menyambut jabatan tangan tersebut.

"Saya Harun. Koordinator kelistrikan di kawasan proyek."

Rangga langsung menjelaskan kondisi yang baru saja dialaminya.

Pak Harun mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Sesekali ia mengangguk pelan.

"Kalau begitu kemungkinan besar bukan mesin Mas yang bermasalah."

"Itu juga dugaan saya."

Pak Harun berdiri, lalu mengambil sebuah map dari atas meja.

"Beberapa hari terakhir beban listrik memang meningkat. Ada beberapa alat berat baru yang mulai beroperasi."

Ia membuka lembar pemeriksaan tegangan yang tercatat selama sepekan terakhir.

Grafiknya menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam pada jam-jam tertentu.

"Kalau dipakai untuk mesin biasa mungkin masih aman."

Pak Harun menutup map itu.

"Tapi mesin cetak dengan modul elektronik seperti punya Mas jauh lebih sensitif."

Rangga mengangguk memahami.

Ia semakin yakin bahwa keputusan menghentikan mesin tadi merupakan langkah yang tepat.

Daripada memaksakan pekerjaan hari ini, lebih baik mencari solusi yang benar sejak awal.

Pak Harun kemudian berjalan menuju gudang kecil di belakang kantornya.

Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kotak logam berukuran sedang.

"Untung masih ada satu."

Rangga memperhatikan alat tersebut.

"Itu automatic voltage stabilizer."

Pak Harun mengangguk.

"Memang bukan yang paling besar, tapi cukup untuk mengamankan mesin sebelum kami melakukan penyesuaian pada sistem distribusi genset."

Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Rangga.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di kawasan proyek, ia merasakan harapan bahwa usaha yang dibawanya dari Jakarta masih memiliki kesempatan untuk berdiri dengan kokoh di tanah Borneo.

Pak Harun mengajak Rangga dan Doni kembali menuju bangunan operasional percetakan sambil membawa automatic voltage stabilizer di atas troli kecil. Langkah mereka dipercepat karena sebagian besar divisi proyek akan segera memasuki jam kerja berikutnya. Semakin cepat mesin percetakan beroperasi, semakin baik pula dukungan administrasi yang dapat diberikan kepada seluruh tim di lapangan.

Setibanya di dalam ruangan, Pak Harun langsung mengamati panel distribusi listrik yang sebelumnya telah diperiksa Rangga.

"Hmm..."

Ia membuka penutup panel dengan obeng, lalu memperhatikan susunan kabel yang terpasang.

"Instalasinya sudah rapi."

Rangga berdiri di sampingnya.

"Yang bermasalah memang dari suplai listrik utama, ya, Pak?"

Pak Harun mengangguk.

"Bukan instalasi di ruangan ini."

Ia kemudian memasang alat penstabil tegangan pada jalur yang mengalir menuju mesin cetak. Sesekali ia meminta Doni memegang senter agar setiap sambungan terlihat lebih jelas.

"Kalau nanti proyek sudah berkembang, saya sarankan dibuat jalur listrik khusus untuk percetakan," ujar Pak Harun sambil mengencangkan baut pengunci.

"Supaya tidak berebut beban dengan peralatan berat."

"Saya mengerti, Pak."

Rangga mencatat saran itu di dalam pikirannya.

Membangun usaha di pedalaman ternyata tidak cukup hanya membawa mesin dan pengalaman.

Ia juga harus memahami karakter lingkungan tempat usahanya berdiri.

Beberapa menit kemudian, seluruh sambungan selesai diperiksa.

Pak Harun menutup kembali panel listrik.

"Coba sekarang."

Rangga menarik napas pelan.

Tangannya kembali menekan tombol daya pada mesin cetak.

Suara kipas pendingin mulai terdengar.

Layar kontrol menyala.

Lampu indikator berkedip beberapa kali sebelum akhirnya berubah menjadi hijau.

Tak ada lagi suara listrik yang terputus.

Tak ada lagi kedipan lampu yang membuat jantung berdebar.

Rangga menunggu beberapa saat.

Kepala cetak bergerak perlahan menyusuri rel.

Motor penggeraknya bekerja stabil.

Semua parameter pada layar menunjukkan angka yang berada dalam batas normal.

Doni yang sejak tadi menahan napas akhirnya tersenyum lebar.

"Berhasil, Mas!"

Rangga belum langsung ikut tersenyum.

Ia masih memperhatikan setiap pergerakan mesin hingga proses kalibrasi selesai sepenuhnya.

Barulah setelah layar menampilkan tulisan Calibration Complete, ia mengembuskan napas panjang.

"Alhamdulillah."

Ucapan syukur itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Pak Harun ikut tersenyum puas.

"Selebihnya tinggal kami lakukan penyetelan pada distribusi genset utama. Untuk sementara, mesin Mas sudah aman digunakan."

"Terima kasih banyak, Pak."

"Sama-sama."

Pak Harun menepuk pelan bahu Rangga.

"Kalau ada kendala lagi, jangan sungkan datang."

"Insyaallah."

Setelah Pak Harun kembali ke divisinya, suasana di dalam bangunan berubah lebih hidup.

Rangga mulai menjalankan uji cetak pertama.

Selembar media cetak perlahan bergerak melewati kepala printer.

Suara mesin berdengung lembut memenuhi ruangan.

Beberapa saat kemudian, hasil cetakan pertama keluar dengan warna yang tajam dan presisi.

Doni mengambil lembaran itu dengan hati-hati.

"Wah..."

Matanya berbinar.

"Bagus sekali."

Rangga memeriksa hasil cetak tersebut dari dekat.

Tidak ada garis putus.

Tidak ada warna yang melenceng.

Semuanya sesuai dengan standar yang selama ini ia terapkan di Jakarta.

Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya.

Perjuangan panjang membawa mesin melintasi laut, menempuh perjalanan berjam-jam menuju pedalaman, hingga menghadapi masalah listrik, tidak berakhir sia-sia.

Menjelang sore, beberapa divisi proyek mulai berdatangan membawa kebutuhan cetak pertama mereka.

Ada yang meminta papan identitas area kerja.

Ada pula formulir pemeriksaan harian dan tanda peringatan keselamatan yang harus segera dipasang di beberapa titik proyek.

Rangga dan Doni bekerja tanpa banyak berbicara.

Keduanya mulai menemukan irama kerja yang sama.

Di luar bangunan, matahari perlahan bergerak turun ke ufuk barat.

Sinar keemasannya menembus sela-sela pepohonan, menyelimuti kawasan proyek dengan cahaya hangat yang menenangkan.

Hari pertama Rangga di tanah Borneo akhirnya mulai menunjukkan hasil.

Meski belum sempurna, langkah awal itu telah cukup membuktikan satu hal.

Setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar bagi orang yang memilih menghadapi, bukan menghindarinya.

Kesibukan di kawasan proyek perlahan mereda seiring tenggelamnya matahari di balik rimbun pepohonan Borneo.

Satu demi satu kendaraan operasional kembali ke garasi. Suara alat berat yang sejak pagi memenuhi udara akhirnya berhenti bergema, digantikan oleh nyanyian serangga malam yang mulai mengambil alih keheningan hutan.

Di dalam bangunan percetakan, Rangga mematikan komputer utama setelah memastikan seluruh pekerjaan hari itu telah tersimpan dengan baik. Beberapa lembar hasil cetak yang telah selesai ia susun rapi di atas meja, siap diserahkan kepada masing-masing divisi keesokan pagi.

Doni meregangkan kedua lengannya sambil mengembuskan napas panjang.

"Capek juga, ya, Mas."

Rangga tersenyum kecil.

"Capek."

"Tapi rasanya puas."

"Iya."

Doni menatap mesin cetak yang kini berdiri tenang di sudut ruangan.

"Tadi siang saya sempat khawatir mesin ini benar-benar rusak."

"Kalau langsung panik, kita tidak akan sempat mencari penyebabnya."

Rangga mengambil tas hitamnya dari atas meja.

"Dalam pekerjaan seperti ini, kepala harus tetap lebih dingin daripada keadaan."

Doni mengangguk pelan.

Kalimat itu sederhana.

Namun akan lama ia ingat selama bekerja bersama Rangga.

Mereka kemudian keluar dari bangunan dan menutup pintu gulung perlahan.

Udara malam menyambut dengan kesejukan yang berbeda dari siang tadi. Aroma tanah yang lembap bercampur wangi dedaunan memenuhi udara setelah panas matahari mulai menghilang.

Dari arah dapur umum, samar-samar tercium aroma masakan makan malam. Beberapa pekerja terlihat berjalan santai menuju mes sambil bercanda, seolah seluruh kepenatan sejak pagi perlahan luruh bersama datangnya malam.

"Mas duluan saja."

Doni mengangkat tangan.

"Saya mau membantu bagian gudang sebentar."

"Silakan."

Rangga membalas dengan anggukan.

Ia memilih berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak kecil di belakang deretan mes karyawan.

Langkahnya pelan.

Bukan karena lelah semata.

Melainkan karena ia ingin menikmati suasana yang belum pernah ditemuinya selama tinggal di Jakarta.

Tak jauh dari belakang mes, sebuah bukit kecil membentang dengan rerumputan yang masih alami. Dari tempat itu, kawasan proyek tampak seperti kumpulan cahaya kecil yang berdiri di tengah lautan pepohonan.

Rangga berhenti.

Lalu menarik napas dalam-dalam.

Udara malam memenuhi rongga dadanya dengan kesegaran yang sulit ia gambarkan.

Tidak ada suara klakson.

Tidak ada deru kendaraan.

Tidak ada hiruk-pikuk kota yang memaksa pikirannya terus bekerja.

Yang terdengar hanyalah desir angin yang memainkan pucuk-pucuk pepohonan.

Perlahan ia mendongakkan kepala.

Langit malam terbentang begitu luas.

Bersih.

Pekat.

Nyaris tanpa gangguan cahaya buatan.

Ribuan...

Bahkan jutaan bintang bertaburan memenuhi angkasa, memancarkan cahaya yang terasa jauh lebih terang daripada yang pernah ia lihat selama hidup di Jakarta.

Untuk beberapa saat, Rangga hanya terdiam.

Tatapannya menjelajahi hamparan langit yang begitu megah.

Lalu...

Matanya berhenti pada sebuah susunan bintang yang sangat dikenalnya.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"Itu..."

Bisikan itu nyaris tak terdengar.

Rasi Bintang Arkais.

Pola bintang yang sejak kecil selalu membuatnya terpaku setiap kali memandang langit malam.

Selama bertahun-tahun, cahaya rasi itu seolah tenggelam oleh gemerlap lampu kota. Ia hanya mampu melihat sebagian kecil bentuknya dari balkon ruko percetakan di Jakarta.

Namun malam ini...

Di langit Borneo yang bersih dan tanpa polusi cahaya...

Rasi Bintang Arkais tampak utuh.

Lebih terang.

Lebih jelas.

Seakan menggantung rendah di atas kepalanya.

Rangga tersenyum tipis.

Entah mengapa, seluruh rasa lelah yang sejak pagi memenuhi tubuhnya perlahan menghilang.

Perpisahannya dengan Sari.

Keputusan meninggalkan Jakarta.

Perjalanan panjang menuju pedalaman.

Hingga berbagai kesulitan yang baru saja ia hadapi hari ini.

Semuanya terasa sepadan dengan pemandangan yang kini terbentang di hadapannya.

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

Tatapannya tak beralih sedikit pun dari langit malam.

"Kalau memang ini jalan yang Kau pilihkan untukku..."

Ia mengembuskan napas panjang.

"...aku akan menjalaninya sebaik mungkin."

Angin malam berembus lembut melewati bukit kecil itu.

Di atas sana, Rasi Bintang Arkais tetap bersinar dalam diam, seolah menjadi saksi bagi langkah pertama seorang pemuda yang datang ke tanah Borneo bukan hanya untuk membangun sebuah usaha, tetapi juga untuk menemukan arah baru dalam perjalanan hidupnya.

***** 

Sebagai narator, aku melihat malam itu bukan sekadar penutup hari pertama Rangga di tanah Borneo. Di bawah langit yang bersih dan cahaya Rasi Bintang Arkais, ia seolah menemukan kembali alasan mengapa dulu berani meninggalkan segala kenyamanan. Ada perjalanan yang memang tidak diukur dari seberapa jauh kaki melangkah, melainkan dari seberapa besar hati bertumbuh saat menjalaninya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!