NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

Di dalam kamarnya, Rania duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong menatap dinding. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak samar di pipinya yang tirus.

Namun, tidak ada lagi isak tangis yang terdengar.

Rania menarik napas dalam-dalam, merasakan kekosongan yang teramat sangat di dalam dadanya. Ia telah memutuskan untuk tidak akan lagi membuang air matanya dengan sia-sia hanya demi menangisi Harsa, suaminya yang teramat dingin, kaku, dan tidak pernah peka terhadap luka di hatinya.

Ting!

Sebuah bunyi notifikasi pesan masuk memecah keheningan kamar. Rania melirik malas ke arah ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

Dengan gerakan lambat, ia meraih benda pipih tersebut. Sebuah pesan dari Dokter Jonathan, tertera di layar.

[Rania, bisakah besok kamu ke rumah sakit? Aku ingin memperkenalkanmu dengan sahabatku, seorang dokter ahli spesialis dari luar negeri. Dia baru saja kembali dan aku yakin dia bisa membantu kesembuhanmu]

Rania membaca deretan kalimat itu tanpa ekspresi sedikit pun. Jangankan untuk berobat, ia bahkan merasa sudah tidak memiliki gairah hidup lagi.

Tubuhnya yang kian mengurus dan rasa sakit yang sering menyerang kepalanya membuat Rania berada di titik kepasrahan tertinggi.

Kalaupun ajal menjemputnya esok hari, Rania merasa dirinya sudah sangat siap.

Jemari lentiknya yang dingin mulai mengetik balasan pendek.

[Tidak perlu, Jo. Terima kasih]

Hanya dalam hitungan detik, sebuah balasan kembali masuk dengan cepat. Jonathan tampaknya tahu betul jalan pikiran sahabatnya yang keras kepala ini.

[Jangan keras kepala, Rania! Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kalau besok kamu tidak datang ke rumah sakit, aku anggap persahabatan kita selesai sampai di sini! Aku serius!]

Rania menghela napas panjang, sebuah senyuman getir terukir samar di bibirnya. Lagi-lagi Jonathan mengancamnya dengan ancaman kekanak-kanakan seperti itu.

Namun, ia tahu, di balik ancaman itu ada rasa kepedulian yang tulus, sesuatu yang sudah lama tidak ia dapatkan dari suaminya sendiri.

[Dasar bocah! Baiklah, aku akan datang besok pagi]

Setelah menekan tombol kirim, Rania langsung menyimpan ponselnya kembali ke atas nakas.

Ia mematikan lampu tidur, membiarkan kamar itu tenggelam dalam kegelapan, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sangat rapuh ke atas kasur.

Malam ini, ia hanya ingin tidur dan melupakan segalanya. Ia teramat lelah.

Ceklek!

Suara pintu kamar yang terbuka membuat tubuh Rania menegang di balik selimut.

Melalui deru langkah kaki yang familier, Rania jelas tahu siapa yang baru saja melangkah masuk.

Itu Harsa.

“Sudah tidur?” tanya Harsa, suaranya terdengar rendah memecah keheningan.

Hening.

Rania memilih memejamkan matanya rapat-rapat, memunggungi sisi ranjang tempat Harsa biasa tidur.

“Rania?”

Tidak ada jawaban sama sekali.

Melihat tidak ada respons, Harsa menghela napas pendek. Ia melepaskan jam tangannya, lalu merangkak naik ke atas ranjang.

Tanpa diduga, sepasang lengan kekar Harsa melingkar di pinggang Rania, menarik tubuh wanita itu dari belakang hingga merapat ke dada bidangnya.

Rania tersentak kaget. Tubuhnya refleks menegang menerima sentuhan tiba-tiba itu. Ia mencoba memberontak kecil, namun pelukan Harsa justru semakin mengerat.

“Aku tahu kamu belum tidur, Rania. Tolong dengarkan aku dulu,” ucap Harsa, napas hangatnya menerpa tengkuk Rania. “Aku minta maaf. Maaf untuk ucapanku di bawah tadi, dan maaf atas kata-kata ibu yang sudah menyakitimu. Aku tidak bermaksud begitu.”

Rania masih tetap diam, menatap kosong ke arah kegelapan kamar.

“Rania, jawab aku. Tolong jangan diamkan aku seperti ini,” pinta Harsa lagi, ada nada frustrasi yang samar dalam suaranya yang biasanya selalu datar.

Rania menarik napas panjang, lalu perlahan membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Harsa.

Dalam remang cahaya yang menerobos dari celah pintu, matanya menatap suaminya dengan sorot yang teramat dingin dan ketus.

“Bukankah kamu suka kalau aku diam, Mas?” tanya Rania, suaranya sedingin es.

“Bukannya selama ini kamu lebih nyaman jika aku diam dan tidak banyak menuntut? Daripada aku yang dulu, yang selalu manja, cerewet, dan selalu mengganggumu dengan hal-hal kecil?”

Harsa mengernyitkan dahi, rahangnya sedikit mengeras menerima sindiran telak itu.

“Bukan begitu maksudku, Rania. Aku hanya ingin kita menyelesaikan masalah ini baik-baik. Besok aku akan meluangkan waktu. Aku akan mengajakmu ke dokter untuk memeriksa kondisimu. Darto bilang kamu sakit.”

Rania terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang membuat Harsa semakin tidak nyaman.

“Memeriksa kondisiku? Untuk apa, Mas? Untuk memeriksa apakah rahimku ini benar-benar kering seperti yang dikatakan ibumu? Atau untuk memastikan kapan aku bisa memberikanmu anak agar ibumu berhenti mengamuk?”

“Rania, jaga bicaramu! Aku berniat baik ingin membawamu berobat!”

Harsa mulai terpancing emosi, nada suaranya naik satu oktaf. Egonya yang tinggi membuatnya tidak terbiasa disudutkan seperti ini oleh Rania.

“Kenapa setiap kata yang keluar dari mulutku selalu kamu putar balikkan?!”

“Karena niat baikmu itu selalu terlambat, Mas!” balas Rania, tidak mau kalah sedikit pun. Sorot matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah Harsa lihat sebelumnya.

“Kamu peduli padaku hanya saat orang lain yang memberi tahu! Lalu di mana dirimu saat ibumu menghinaku habis-habisan di depan wajahmu tadi? Kamu tetap membelanya, Mas!”

“Dia ibuku, Rania! Apa aku harus memaki ibuku sendiri di depanmu?!” sentak Harsa marah, cengkeramannya di bahu Rania mengerat.

“Lagipula, semua ini tidak akan melebar kalau kamu tidak terus-menerus mengungkit soal Wulan dan Gavin! Wulan itu sedang kesulitan, dan Gavin masih anak-anak. Kenapa kamu egois sekali?!”

Mendengar nama Wulan kembali disebut sebagai pembelaan, jenuh di hati Rania benar-benar telah mencapai puncaknya.

Rania mendorong dada Harsa dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga pelukan pria itu terlepas sepenuhnya. Lalu, duduk tegak di atas ranjang, menatap Harsa dengan pandangan menghina.

“Kalau begitu, pergi saja ke sana, Mas! Keluar dari kamar ini sekarang juga!” tunjuk Rania ke arah pintu dengan tangan yang gemetar menahan amarah.

“Pergi dan temani bocah itu beserta ibunya! Mereka lebih membutuhkan pahlawan sepertimu daripada istri mandul yang merepotkan ini!”

Harsa ikut duduk tegak, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak di dadanya. Ia menatap Rania dengan tatapan tajam yang menghunus.

“Bilang saja kalau kamu cemburu, Rania! Jangan membuat alasan sakit atau sikap ibu untuk menutupi rasa cemburumu yang tidak masuk akal itu!” bentak Harsa kasar, mengabaikan seluruh rasa bersalah yang sempat ia rasakan di dalam mobil tadi.

Rania tertegun sejenak, lalu tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman penuh luka sekaligus ketegasan yang mutlak.

“Cemburu? Dulu mungkin iya, Mas. Tapi malam ini, demi Tuhan... rasa cemburu itu sudah ikut mati bersama rasa hormatku padamu. Sekarang, keluar dari kamarku!”

1
Lesmana
kan kan bego kan si wulan...gak mikir gitu , masa yg dia kira bawahan harsa rmh nya jauh lbh mewah drpd rmh harsa sndr🤣🤣🤣 apalg kalo dia tau bahkan itupun bukan rmh harsa , tantrum gila pst dah😄😄😄
Titien Prawiro
Perempuan murah banget, di-sodor sodorke, bener kataRania janda gatal.
Marina Tarigan
memang penyakit ini sangat berbahaya segera laj dirawat dr Nagas fr london bisa menangsni dan konsultasi dgn fr yyerbaik diluar negreri
Titien Prawiro
Hajar terus Rania, Wulan sama hajar usir dari rumahmu, buat dia miskin Harsa goblog. alasan amanat adik. huuh
Titien Prawiro
Aku mau Rania menceraikan Harsa dan Harsa jadi kismin nantinya. diakan gk punya rumah, Wulan pikir itu rumah Harsa.
CV.fuadhh
terimakasih Thor untk novelnya ,. semangat terus ya thorrr 😄
ceuceu
moga harsa berjodoh sm perempuan berhijab itu.
pada dasarnya harsa tipe setia,cuma krn di dorong rasa brsalah atas kematian bima dia jd lupa istri terlalu memprioritaskan wulan
Marina Tarigan
zRania kadihan kamu dr jonatan dan bahas sdh berkali2 menyuruh ditangano setius kok kamu lelet sekali
Qeela Mila
terkadang cowo tuh se goblokk itu 🤣🤣🤣
Juvie Ja
buat apa syarat syaratan kalo dua2 x mau kecuali sitasya suka sma bagas
Juvie Ja
bukan berarti harsa msh mencintai rania. karna skrg yg ada dihati adalah wulan kalau x masakan dia cemburu wulan ngobrol sama panji waktu itu yakan.....
Juvie Ja
siap2 kuatkn mental sblm dihianati teman
Marina Tarigan
hahaaasß ular belidak melawan nos perusahaan tammat riwaystmu Harsha
Marina Tarigan
ninatang babi momyrt kamu Harsa kamu ladeni tetus monyet fi rmh Rania tunggu kejamvuranmu iblos
ceuceu
kurang bar bar rania harusnya jambak tu si wulan
Marina Tarigan
terus wulan janvirkan Jarsha supaya kamu senang
Murni Syahfutri
Aku sempat berfikir, kalau rania anak yatim piatu, dengan banyak aset yg ditinggal ortu nya sebelum meninggal,
ceuceu
nah gitu dong tegas jgn lemah rania
ceuceu
ga respect sama rania, maksudnya nutupi sakitnya buat apa,ga iba liatnya jg,lemah bodoh .
harusnya jujur aj
Ibrahim Efendi
mungkin "membahas".
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!