NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Yang Hilang

“Bik… Bik Lili…” Suara Fisya terdengar lemah dari kamar.

Bik Lili yang sedang menyapu ruang tengah langsung menghentikan pekerjaannya, ia berlari menuju kamar majikannya itu.

“Bu?” panggilnya panik.

Saat pintu kamar terbuka, Bik Lili langsung membelalakkan mata.

Fisya duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya wajahnya pucat dan napasnya tidak teratur.

“Masyaallah, Bu… ibu mau melahirkan?” tanya Bik Lili panik.

Fisya mengangguk lemah.

“Sakit… Bik…”

Bik Lili langsung membantu Fisya berdiri namun baru beberapa langkah Fisya kembali meringis kesakitan.

“Aduh…”

“Ibu jangan jalan dulu, duduk dulu,” ucap Bik Lili buru-buru.

Tangannya gemetar, ini pertama kalinya ia menghadapi keadaan seperti ini.

Selama beberapa bulan bekerja di rumah itu, ia memang sudah sangat dekat dengan Fisya, wanita itu tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu.

Fisya selalu lembut padanya karena itu Bik Lili ikut panik melihat keadaan Fisya sekarang.

“Saya telpon bapak dulu ya, Bu.” ucap Bik Lili

Fisya mengangguk sambil memejamkan mata menahan sakit.

Bik Lili segera mengambil ponselnya lalu menelpon Jason.

Satu kali tidak diangkat, ia mencoba lagi beberapa kali tetap tidak diangkat.

“Ya Allah…” gumam Bik Lili panik.

Fisya kembali mengerang kesakitan dari atas ranjang.

“Bik…”

“Iya Bu, iya… sabar ya Bu.” jawab Bik lili

Karena Jason tidak menjawab telepon, Bik Lili langsung menelpon ambulans.

Untungnya rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Tidak sampai lima belas menit, suara sirine ambulans terdengar dari luar rumah.

Dua petugas medis masuk membawa ranjang dorong.

“Pasiennya di mana?”

“Di sini, Pak,” jawab Bik Lili cepat.

Mereka segera memeriksa kondisi Fisya.

“Kontraksinya sudah dekat harus segera dibawa.”

Fisya hanya bisa memegang perutnya sambil menarik napas panjang, Bik Lili ikut naik ke ambulans menemani Fisya.

Di dalam ambulans, Fisya terus memejamkan mata sambil menahan sakit.

“Kita hampir sampai sebentar lagi, Bu,” ucap Bik Lili berusaha menenangkan.

Fisya mengangguk lemah tangannya memegang erat tangan Bik Lili.

“Aku takut, Bik…”

“Jangan ngomong begitu, Bu. Ibu pasti kuat.” ucap Bik lili

Ambulans akhirnya tiba di rumah sakit para perawat langsung membawa Fisya menuju ruang persalinan.

“Suaminya mana?” tanya salah satu perawat.

Bik Lili terlihat bingung.

“Masih di jalan mungkin, Sus.”

Perawat itu mengangguk lalu segera membawa Fisya masuk, pintu ruang persalinan tertutup.

Bik Lili akhirnya duduk di kursi lorong rumah sakit sambil mengatur napas, tangannya masih gemetar.

Ia kembali mengambil ponselnya lalu menelpon Jason sekali lagi dan kali ini tersambung.

(“Halo, ada apa Bik? Aku sedang sibuk nanti telepon lagi saja.”) suara Jason terdengar buru-buru.

(“Pak, ibu mau melahirkan..”) Belum selesai Bik Lili bicara

Sambungan telepon langsung terputus karena Jason mematikannya.

Bik Lili menatap layar ponselnya dengan bingung.

“Bapak kok gitu…” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang lalu duduk diam namun beberapa menit kemudian, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

Jason

Pria itu berjalan cepat di lorong rumah sakit sambil mendorong kursi roda.

Di kursi roda itu duduk seorang wanita yang juga dikenalnya.

Kasandra.

Bik Lili langsung berdiri perlahan.

“Non Kasandra…” gumamnya kaget.

Selama bekerja di rumah Jason dan Fisya, ia memang beberapa kali melihat wanita itu datang ke rumah.

Fisya selalu menyambut Kasandra dengan baik karena menganggapnya sahabat sendiri namun sekarang Jason terlihat sangat panik untuk wanita itu.

Kasandra memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.

“Mas… sakit…”

“Iya sayang, tahan sedikit lagi.” jawab Jason

Bik Lili langsung membeku dan dadanya mendadak terasa tidak nyaman

"Sayang?" Ulang Bik Lili dalam hati

Perawat segera membawa Kasandra menuju ruang persalinan.

Dan yang membuat Bik Lili semakin terkejut Kasandra dibawa ke ruang yang sama dengan Fisya.

Jason baru menyadari keberadaan Bik Lili ketika ia berbalik.

Matanya langsung membelalak.

“Bibik?” ucapnya terkejut.

Bik Lili menelan ludah.

“Pak…”

Jason segera menghampirinya.

“Kamu ngapain malam-malam di sini?”

“Saya nganter ibu, Pak, tadi saya telepon bapak mau kasih tahu kalau ibu mau melahirkan.” ucap Bik Lili gugup

Wajah Jason langsung berubah.

“Apa?”

“Ibu juga melahirkan disini Pak.” ucap Bik Lili lagi

Jason terlihat panik tatapannya berubah gelisah.

“Jadi… tadi kamu lihat semua?”

Bik Lili terdiam beberapa detik lalu mengangguk pelan.

“Iya, Pak…”

Jason langsung menarik tangan Bik Lili menjauh dari lorong ruang persalinan.

“Pak… sakit…” ucap Bik Lili kaget.

Jason menatapnya tajam.

“Dengar ya, Bik, lebih baik bibi pulang sekarang.”

“Tapi ibu..” ucap Bik Lili

“Saya bilang pulang!” suara Jason agak meninggi

Bik Lili langsung diam ketakutan, napas Jason terdengar berat.

“Dan jangan kasih tahu Fisya apa pun tentang yang kamu lihat tadi.” ucap Jasan penuh penekanan

Bik Lili menatap Jason bingung.

“Tapi Pak…”

“Kasandra cuma teman.” ucap Jason lagi

Namun ucapan itu terdengar aneh bahkan untuk dirinya sendiri.

Karena Bik Lili jelas mendengar Jason memanggil Kasandra dengan panggilan sayang tadi.

“Saya gak akan ngomong apa-apa, Pak,” jawab Bik Lili pelan.

Jason akhirnya melepaskan tangannya.

“Bagus.”

“Tapi saya mau nunggu ibu melahirkan dulu.” ucap Bik Lili memohon

Jason terlihat kesal namun sebelum ia sempat bicara lagi, seorang dokter keluar dari ruang persalinan.

“Keluarga pasien Fisya Alexander?” ucap Dokter

Jason langsung menoleh.

“Saya suaminya.”

“Pasien sudah pembukaan lengkap kami akan segera melakukan proses persalinan.”

Jason mengangguk cepat.

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”

“Masih stabil.” Dokter kembali masuk.

Jason langsung memijat pelipisnya sendiri, satu sisi Fisya sedang melahirkan, di sisi lain Kasandra juga sedang melahirkan.

Hari yang sama dan rumah sakit yang sama bahkan ruang persalinan yang sama

Jason terlihat sangat tegang, Bik Lili diam-diam memperhatikan pria itu dan perasaannya mulai tidak enak.

Beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan.

Tangisan pertama Jason langsung berdiri tidak lama kemudian tangisan bayi kedua menyusul.

Lorong rumah sakit mendadak terasa sunyi bagi Bik Lili, dua bayi lahir hampir bersamaan.

Pintu ruang persalinan terbuka seorang perawat keluar sambil tersenyum.

“Selamat, Pak, bayinya perempuan dan istri bapak setelah melihat bayinya langsung pingsan" ucap perawat tersebut

Jason terlihat lega namun beberapa detik kemudian, perawat lain keluar lagi.

“Selamat juga, Pak, bayinya perempuan.” ucap perawat lain

Bik Lili langsung mengerutkan kening, ia mulai bingung.

Jason bahkan terlihat makin panik sekarang.

“Dua-duanya sehat?” tanya Jason cepat.

“Sejauh ini sehat.” ucap perawat yang membantu persalinan kasandra

Jason mengangguk pelan lalu ia melihat ke arah kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain.

“Dok… saya mau bicara sebentar.”

Ia memanggil salah satu dokter dengan wajah serius.

Dokter itu terlihat bingung namun tetap mengikuti Jason ke sudut lorong.

Bik Lili diam-diam memperhatikan dari jauh, ia tidak bisa mendengar semua pembicaraan mereka.

Namun ia melihat Jason menyelipkan sesuatu ke tangan dokter itu amplop tebal.

Wajah dokter itu berubah tegang Jason bicara pelan namun penuh tekanan dan Dokter itu beberapa kali terlihat ragu.

Bik Lili mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Beberapa menit kemudian dokter itu pergi, Jason mengusap wajahnya kasar lalu ponselnya berbunyi.

Ia segera mengangkat telepon.

(“Iya?”)

Suara wanita terdengar samar dari seberang Jason langsung menjauh sedikit.

(“Tenang… semua akan beres.”)

Bik Lili makin curiga tidak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil membawa dua bayi yang tertutup kain.

Perawat itu menuju ruangan bayi namun saat melewati lorong, salah satu kain bayi sedikit terbuka.

Bik Lili tanpa sengaja melihat gelang identitas di tangan bayi itu.

Bayi Fisya.

Beberapa detik kemudian, Jason berjalan mengikuti perawat itu diam-diam.

Bik Lili makin bingung, ia akhirnya mengikuti dari belakang.

Lorong menuju ruang bayi cukup sepi malam itu Jason masuk ke dalam ruangan bayi.

Pintunya tidak tertutup sempurna dan Bik Lili berdiri di luar dengan jantung berdebar.

Ia mendengar suara Jason.

“Yang ini untuk Kasandra.”

“Pak… ini berbahaya,” suara perawat terdengar takut.

“Saya akan tanggung semuanya.” ucap Jason

“Tapi kalau sampai ketahuan?" Tanya perawat tersebut

“Tidak akan.” ucap Jason penuh keyakinan

“Tapi ini salah, Pak…” ucap perawat itu lagi

Jason langsung memotong ucapan perawat itu.

“Kalau kamu masih mau bekerja di rumah sakit ini, lakukan saja.”

Perawat itu langsung diam tangannya gemetar saat membantu Jason memindahkan salah satu bayi ke ranjang kecil lainnya dan Jason memindahkan gelang identitasnya

Bik Lili langsung menutup mulutnya sendiri kaget dan air matanya hampir jatuh.

Ia mulai mengerti sekarang majikannya itu ingin menukar bayi mereka tangannya gemetar hebat

Perawat itu terlihat panik.

“Cepat,” ucap Jason dingin.

Bik Lili mundur perlahan dengan napas tidak teratur, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mulutnya tertutup rapat menahan suara tangis dadanya terasa sesak melihat semua yang terjadi di depan matanya sendiri.

Ia tidak pernah membayangkan pria yang selama ini terlihat tenang dan perhatian pada Fisya ternyata mampu melakukan hal sekeji itu.

Jason menatap kedua bayi itu beberapa detik lalu perlahan sudut bibirnya terangkat tipis.

“Mulai malam ini putriku dengan Kasandra akan mewarisi semua harta kekayaan keluarga Alexander nantinya" gumamnya pelan

__Bersambung__

**bantu like comen dan vote nya ya guys ☺️ terima kasih 🙏**

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!