NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Debaran di Ruang Tamu Sempit

Hari yang dinantikan sekaligus hari yang paling ditakuti oleh Kinanti Larasati akhirnya tiba juga. Seminggu berlalu bagaikan kedipan mata. Pagi itu, atmosfer di kampung terasa sedikit berbeda saat beberapa mobil mewah berwarna hitam legam beriringan memasuki jalanan setapak yang sempit, memecah ketenangan warga sekitar yang langsung menatap penasaran dari balik jendela rumah masing-masing. Rombongan keluarga besar Juragan Ramli telah datang.

Di dalam rumah papan yang sederhana namun telah dibersihkan dengan teramat rapi hingga tak ada sebutir debu pun yang tertinggal, detak jantung Kinanti bertalu-talu tak keruan. Di ruang tamu kecil itu, kini mereka duduk saling berhadapan. Baskara Dirgantara, dengan setelan kemeja formal yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, duduk tepat di depan Kinanti.

Gadis sembilan belas tahun itu sengaja memakai baju terbaik yang dia miliki sebuah gaun terusan sederhana berwarna pastel. Kinanti hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya bertautan erat di atas pangkuan, menolak untuk bersuara ataupun menatap pria di hadapannya.

Dari posisinya, Baskara tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kinanti. Pria matang itu meneliti penampilan calon istrinya. Dia bahkan tidak berhias atau memakai riasan tebal, tapi entah kenapa terlihat sangat cantik alami, ucap Baskara dalam hati. Namun, melihat bagaimana cara gadis itu menunduk dan memancarkan aura defensif, Baskara membatin lagi, Wajah itu benar-benar menyiratkan dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak sudi menikah denganku.

Suasana hening itu dipecah oleh suara berwibawa Juragan Ramli. Beliau mengulas senyum ramah sambil menyodorkan sebuah bingkisan besar berbungkus kain beludru merah yang mewah kepada Bapak Adriani.

"Adrian, ini adalah tanda pengikat bahwa Nak Kinanti sudah resmi menerima lamaran dari keluarga kami," ucap Juragan Ramli dengan nada hangat. "Dan... agar niat baik ini tidak menggantung terlalu lama, satu bulan dari sekarang kita akan langsung mengadakan acara resepsi pernikahan mereka."

Mendengar jangka waktu yang begitu singkat, Kinanti tersentak. Kepalanya seketika terangkat, sepasang mata beningnya membelalak menatap lurus ke arah Juragan Ramli dan Baskara secara bergantian.

"Juragan... apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Kinanti, suaranya sedikit meninggi karena panik yang tak bisa disembunyikan.

Namun, sebelum Juragan Ramli sempat membuka mulut untuk memberikan penjelasan, Baskara sudah lebih dulu memotong dengan suara beratnya yang dingin namun mutlak. "Lebih cepat, lebih baik," ucap pria itu singkat.

Kinanti yang mendengarnya langsung merapatkan bibir. Dia tahu dia tidak boleh memperlihatkan kekesalan atau kemarahannya secara terang-terangan di depan Juragan Ramli dan orang tuanya demi menjaga sopan santun. Alhasil, gadis itu hanya bisa memalingkan wajah ke samping sembari menggerutu pelan dengan bibir yang sedikit dikerucutkan.

Bukannya marah melihat respons tidak bersahabat dari sang calon istri, sudut bibir Baskara justru terangkat tipis. Pria itu tersenyum kecil, merasa sangat terhibur melihat tingkah laku kekanak-kanakan Kinanti. Hingga detik ini, Baskara masih tidak menyangka bahwa ada seorang gadis terlebih dari kalangan bawah yang berani menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan dan tanpa kepalsuan di hadapannya seperti yang dilakukan Kinanti. Hal itu justru terasa sangat menyegarkan baginya.

Bapak Adriani yang menyadari situasi tersebut segera berdeham pelan untuk mencairkan suasana. Beliau mengangguk takzim ke arah Juragan Ramli. "Kalau itu memang sudah menjadi keputusan dari pihak Juragan, kami dari pihak keluarga perempuan hanya bisa ikut saja, Juragan," ucap Bapak Adriani dengan nada sangat sopan dan penuh rasa hormat.

"Iya, benar, Juragan. Mari, silahkan diminum dulu tehnya," timpal Ibu Helnawati hangat sembari menyodorkan cangkir-cangkir teh yang sudah disiapkan.

Di tengah kehangatan obrolan orang tua tersebut, ketidakhadiran satu anggota keluarga Dirgantara sangat terasa. Natasha memang sengaja tidak ikut dalam rombongan itu. Gadis manja dan angkuh itu sudah menyatakan penolakan keras sejak malam hari kepada papa dan kakeknya. Dengan nada sombong, dia berteriak bahwa dirinya tidak biasa dan tidak sudi menginjakkan kaki di rumah orang miskin yang kumuh. Baskara sengaja membiarkannya tinggal di rumah daripada merusak acara penting ini.

"Untuk semua persiapan pernikahan nanti, mulai dari dekorasi, katering, hingga baju pengantin, sudah ada tim khusus yang mengurusnya. Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir atau memikirkan biayanya sedikit pun," ucap Baskara, kembali mengambil alih pembicaraan dengan nada berwibawa. "Untuk semua urusan itu, serahkan saja sepenuhnya kepada kami."

Kinanti kembali menatap ke arah Baskara. Kali ini dengan tatapan yang luar biasa datar dan sedingin es. Namun, di mata Baskara yang sudah terbiasa dengan kepalsuan wanita kota, tatapan penuh permusuhan dari gadis remaja itu justru terlihat teramat lucu dan menggemaskan.

Baskara kemudian menegakkan posisi duduknya, menatap kedua orang tua Kinanti. "Bu, Pak... jika diperbolehkan, bisakah saya berbicara dengan Kinanti berdua saja di sini?" tanya Baskara kemudian.

Juragan Ramli seketika menatap ke arah anak laki-lakinya dengan alis yang mengkerut tajam, seolah memberi peringatan agar Baskara tidak berbuat macam-macam. Baskara yang menyadari tatapan penuh selidik dari ayahnya hanya bisa menghela napas panjang sembari mengangkat kedua tangannya tipis. "Aku tidak akan mengancam atau menakuti-nakuti dia, Ayah. Tenang saja," gumam Baskara meyakinkan.

Setelah mendapatkan anggukan izin dari Bapak Adriani, kedua pasangan paruh baya itu pun bangkit berdiri dan melangkah keluar menuju teras depan, meninggalkan Kinanti dan Baskara berdua saja di dalam ruang tamu yang mendadak terasa begitu sempit dan kedap udara.

Awalnya, tidak ada yang mengeluarkan suara. Keheningan yang canggung merayap di antara mereka selama beberapa saat. Kinanti kembali menunduk, sementara Baskara terus memperhatikannya tanpa berkedip.

Lalu, Baskara pun memulai konfrontasi kecil itu. "Kau terlihat sama sekali tidak senang dengan lamaran ini," ucap Baskara santai sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Kinanti mendongak seketika, menatap Baskara dengan berani. "Terus... maunya Om aku harus bagaimana? Melompat-lompat kegirangan di depan semua orang seperti anak kecil, begitu?" sahut Kinanti sewot, mengembalikan kata-kata pria itu dengan nada sarkas.

Baskara menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis kembali muncul di wajah tampannya. "Bukannya kamu memang masih kecil?" cibir Baskara sengaja memancing emosi gadis itu.

Wajah Kinanti memerah padam mendengar ejekan itu. "Sudah tahu aku masih kecil, lalu kenapa Om malah bersikeras melamarku?! Kenapa tidak cari wanita dewasa lain saja di luar sana?!" sahut Kinanti berapi-api, nadanya terdengar sangat sewot namun justru membuat ekspresi wajahnya terlihat semakin menggemaskan di mata Baskara.

Baskara sedikit tertawa rendah, sebuah suara tawa yang jarang sekali terdengar dari bibir dinginnya. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat mata bening Kinanti yang sedang menyala oleh kekesalan. "Mau bagaimana lagi? Mungkin... sudah takdirnya kamu menjadi jodohku," ucap Baskara dengan nada suara yang merendah, sarat akan penekanan yang membuat bulu kuduk Kinanti meremang tipis.

Baskara kembali bersandar, tatapannya berubah menjadi lebih serius dan penuh kuasa. "Bersiaplah. Satu bulan lagi kita akan resmi menikah. Aku tidak mau mendengar ada drama bodoh kalau kau berniat untuk kabur atau menghilang di hari pernikahan kita nanti, Kinanti," ucap Baskara memperingatkan, sembari terus menatap ke arah gadis sembilan belas tahun yang masih menatapnya sewot namun terlihat teramat lucu di matanya itu.

Setelah rombongan mobil mewah itu akhirnya meninggalkan pelataran kampung, rumah sederhana Kinanti kembali diliputi keheningan sore. Bapak dan ibunya tampak sangat lega dan mulai membersihkan ruang tamu dengan senyum yang tak lepas dari wajah mereka. Namun, bagi Kinanti, kepulangan Baskara justru menyisakan kecemasan baru yang terus menggerogoti isi kepalanya.

Gadis itu berjalan lunglai masuk ke dalam kamarnya. Di atas meja belajar tuanya, ponsel pintarnya yang sudah retak di bagian sudut mendadak bergetar keras. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Dengan dahi berkerut, Kinanti membuka pesan tersebut. Jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak saat membaca deretan kalimat yang tertulis di layar:

Heii, Gadis Kampung. Jangan mengira karena Papa dan Kakek membelamu, kamu bisa hidup tenang setelah menikah nanti. Aku dan Mami Chynthia tahu kamu menerima perjodohan ini hanya karena keluargamu miskin dan gila harta. Bersiaplah, karena aku akan memastikan hidupmu di rumah ini seperti di neraka. - Natasha Dirgantara"

Tangan Kinanti gemetar hebat hingga ponselnya hampir saja terjatuh ke lantai. Napasnya memburu. Peringatan dingin Baskara di ruang tamu tadi belum sempat dia cerna sepenuhnya, kini dia sudah harus dihadapkan pada ancaman terbuka dari calon anak tirinya sendiri.

Kinanti memejamkan mata, memeluk lututnya di atas kasur tipis. Pernikahan satu bulan lagi yang direncanakan Baskara kini benar-benar terasa seperti sebuah pintu menuju sangkar badai yang siap mencabik-cabik seluruh hidupnya. Namun, menatap keluar jendela ke arah ibunya yang sedang tersenyum bahagia di dapur, Kinanti menghapus air matanya dengan kasar. Aku tidak akan mundur. Jika mereka ingin perang, akan kuhadapi demi Bapak dan Ibu, tekad Kinanti dalam hati.

Ponsel di tangan Kinanti terasa sedingin es. Kalimat demi kalimat yang dikirimkan oleh Natasha terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Dia tahu betul bahwa masuk ke dalam keluarga Dirgantara tidak akan pernah mudah, namun dia tidak menyangka bahwa genderang perang sudah ditabuh bahkan sebelum dia resmi menginjakkan kaki di rumah megah itu.

Karena tidak kuat memendam kecemasan itu sendirian, Kinanti akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arum, sahabat karibnya sejak kecil yang tinggal di ujung kampung. Hanya kepada Arum-lah Kinanti bisa menumpahkan segala keluh kesahnya tanpa takut dihakimi.

Panggilan telepon itu tersambung. Begitu suara ceria Arum menyapa di ujung talian, pertahanan Kinanti sedikit melunak. "Arum... lamarannya sudah selesai tadi pagi," bisik Kinanti lirih.

"Lalu bagaimana, Kinan? Apa Mas Baskara sekaku dan sedingin yang dibicarakan orang-orang?" tanya Arum penasaran.

"Lebih dari itu, Rum. Dia angkuh, menyebalkan, dan seenaknya sendiri menetapkan pernikahan satu bulan lagi," keluh Kinanti sewot, mengingat kembali bagaimana Baskara menertawakan kekesalannya tadi pagi. "Tapi bukan itu yang paling membuatku takut sekarang."

Kinanti terdiam sejenak, menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, "Baru saja aku mendapat pesan teror dari anaknya, Natasha. Dia mengancam akan membuat hidupku di rumah itu seperti neraka. Dia menuduhku dan orang tuaku gila harta."

Mendengar hal itu, Arum di seberang telepon langsung terpekik kaget. "Apa?! Kurang ajar sekali anak itu! Kinan, dengar baik-baik ya. Kamu tidak boleh terlihat lemah di depan mereka. Ingat, kamu menikah karena berbakti pada bapak dan ibumu, bukan karena mengemis harta mereka. Juragan Ramli sendiri yang meminta dan memohon kepadamu. Jadi, kalau nanti anak manja itu atau mantan istri Mas Baskara mencoba menginjak-injak harga dirimu, kamu harus tegak berdiri. Tunjukkan bahwa gadis desa juga punya kehormatan!"

Nasihat dari Arum sedikit banyak memberikan suntikan keberanian baru di dalam dada Kinanti. Setelah menutup telepon, gadis itu menatap bayangannya di cermin tua kamarnya. Matanya yang semula menyiratkan ketakutan kini mulai menampakkan kilat keteguhan. Benar apa kata Arum. Dia tidak boleh kalah sebelum berperang. Demi senyuman bapak dan ibunya yang kini bisa tidur tenang tanpa bayang-bayang utang, Kinanti bersumpah akan menghadapi badai apa pun di depan sana.

Di saat yang sama, malam telah larut di kediaman mewah keluarga Dirgantara. Baskara baru saja menyelesaikan beberapa dokumen kerjanya di ruang baca pribadi. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu mengalihkan tatapannya ke arah jendela yang menampilkan pantulan rembulan malam.

Entah mengapa, bayangan wajah sewot Kinanti saat melayangkan protes di ruang tamu tadi pagi enggan pergi dari benaknya. Baskara tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat jarang dia tunjukkan jika sedang sendirian. “Sudah tahu aku masih kecil, kenapa Om malah melamarku?” Kata-kata gadis itu kembali terngiang, membuat Baskara terkekeh rendah.

Selama bertahun-tahun hidup dalam kepalsuan dunia bisnis dan manipulasi Chynthia, Baskara selalu dikelilingi oleh orang-orang yang bermuka dua. Namun Kinanti berbeda. Gadis itu sangat jujur dengan perasaannya. Jika dia kesal, maka matanya akan menyala penuh amarah yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata Baskara.

Namun, senyuman di wajah Baskara langsung memudar saat dia mengingat peringatan ayahnya dan kelakuan Natasha tadi pagi. Pria itu tahu betul bahwa putrinya pasti sudah mengadu pada Chynthia. Dan Chynthia, dengan segala kelicikannya, pasti tidak akan tinggal diam mendengar kabar pernikahan kilat ini.

Baskara bangkit berdiri, berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil ponsel. Dia menekan sebuah nomor kontak orang kepercayaannya, seorang kepala keamanan pribadi yang sudah bekerja dengannya selama bertahun-tahun.

"Halo, Rian. Dengar baik-baik," ucap Baskara dengan nada suara yang kembali dingin dan penuh wibawa perintah. "Mulai besok, perketat pengawasan di sekitar rumah dinas dan apartemen Chynthia. Aku tidak mau dia mengetahui detail persiapan pernikahan ini lebih jauh. Dan satu hal lagi, awasi setiap gerak-gerik Natasha di rumah. Pastikan dia tidak melakukan hal bodoh yang bisa mengacaukan rencana satu bulan ke depan."

Setelah memutus panggilan, Baskara memasukkan ponselnya ke saku celana. Tatapannya menajam menembus kegelapan malam. Pernikahan satu bulan lagi ini harus berjalan sempurna tanpa ada gangguan sedikit pun. Dia akan membawa Kinanti masuk ke dalam hidupnya, menjadikannya Nyonya Dirgantara yang sah, dan memastikan tidak ada satu pun orang—termasuk mantan istrinya—yang bisa menyentuh atau merusak sangkar emas yang sudah dia siapkan untuk gadis kecilnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!