Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Michelle menghela napas, cewek itu menatap boncengan motor Devis yang tinggi, lalu menatap Devis malas.
"Boncengannya tinggi banget, gue pakek rok pendek," ujar Michelle.
Devis melirik sekilas kaki Michelle, lalu melepaskan jaket denim yang ia kenakan. Michelle hanya memerhatikan sampai cowok itu menyodorkan jaket itu padanya.
"Buat apa?"
"Diiket di pinggang, katanya rok lo pendek."
Michelle mengangguk mengerti, meraih jaket denim itu dari tangan Devis, lalu mengikatkan lengan jaket di pinggangnya dengan posisi ikatan di belakang. Jadi saat Michelle naik ke motor tinggi Devis, pahanya tidak akan terlihat terlalu banyak karena tertutup jaket itu.
"Udah?" tanya Devis. "Buruan naik, gue udah ditungguin sama temen-temen."
Michelle mengangguk, lalu naik ke boncengan motor cowok itu dengan bantuan memegang pundak Devis. Hal itu sempat membuat Devis terkejut, namun segera berusaha terlihat biasa saja.
"Bawa motornya pelan-pelan ya? Gue takut kalau ngebut."
Devis mengangguk tanpa menjawab, lalu menjalankan motornya dengan kecepatan normal. Teman-temannya pasti kaget jika melihat Devis naik motor dengan kecepatan ini, jika alasannya karena sedang membonceng cewek itu malah akan membuat teman-temannya curiga.
Karena sebelumnya, Devis tidak pernah membonceng cewek siapa pun dengan motor hitam kesayangannya. Cowok itu selalu naik mobil setiap pergi dengan pacarnya, atau naik motor lain. Michelle adalah cewek pertama, bahkan orang pertama yang menempati boncengan motor hitam Devis.
...☆☆☆...
"Dari mana lo, Vis?"
Devis yang baru duduk di sofa panjang lusuh di sisi ruangan lantas menoleh saat salah satu temannya bertanya.
"Nganterin gebetan baru!" sahut Juna, cowok itu duduk di atas tumpukan ban bekas, sedang menemani Arya bermain game online.
Devis melirik sekilas, lalu menutup kedua matanya. Cowok itu tampak lelah, apalagi kemarin ia dan teman-temannya berlatih beladiri sampai malam.
"Raka sama Reo di mana?" tanya Devis tanpa membuka kelopak matanya.
Juna dan Arya menegakkan kepala menatap cowok berjaket denim itu, lalu mengedikan bahu bersama.
"Paling juga ngebucin," jawab seseorang dari arah sebuah ruangan. Keringat tampak membasahi wajah dan leher cowok itu, pasti habis menghajar samsak di dalam sana.
Devis mendesis, kedua mata cowok itu terbuka. Yang pertama ia lihat langsung pemandangan Juna dan Arya yang saling mengumpat karena terbawa suasana saat bermain game.
"Lo nggak ikut ngebucin juga, Vis? Biar sekalian aja segitiga utama Jaguar bikin squad bucin," ujar Bima, duduk di sebelah Devis.
Devis melepaskan jaket denim berlogo Jaguar itu. "Gue mau tidur." Dengan santai cowok itu menendang Bima agar pergi dari sofa, lalu memakai sofa panjang itu untuk rebahan sendiri.
Bima yang hampir terjungkal lantas mengumpat tertahan, membuat Juna dan Arya yang melihatnya langsung tertawa.
"Udah tau Devis lagi sensitif, masih aja digangguin!" komentar Juna di sela tawanya.
Bima mendesis. "Kalau lo ada masalah di sekolah, nggak usah dibawa ke sini bisa?" tanya cowok itu, menatap kesal pada Devis. Tapi yang ditatap tetap menutup mata acuh, terlihat tenang seperti orang tidur.
"Bangsat, gue dicuekin!" umpat Bima, lalu pergi meninggalkan ruangan itu menuju lapangan belakang untuk menemui teman-temannya yang sedang berkumpul di sana.
Sementara Devis tidak benar-benar tidur, pikirannya sedang kacau beberapa hari terakhir. Apalagi pengumuman senin lalu membuat kepalanya serasa semakin mau pecah.
"Lo nggak kepilih jadi tim perwakilan SMA PB?" tanya seseorang tiba-tiba, membuat Devis langsung mengumpat.
Devis beranjak duduk saat mendengar langkah kaki mendekat, seorang cowok berdiri tak jauh darinya, menatap Devis dengan sebelah alis terangkat.
"Tau dari mana lo?" tanya Devis.
Reo tertawa singkat, lalu duduk di sebelah Devis. "Nebak. Kelihat muka lo asem banget."
Bugh!
Reo tertawa saat Devis reflek memukul perutnya lumayan keras, cowok itu tampak tidak berminat untuk bercanda.
"Butuh samsak hidup nggak? Kalau butuh ada Juna tuh yang mau."
Juna yang sedang fokus dengan gamenya, spontan mendongak. "Kok gue, anjir?!" protesnya, membuat Arya tertawa dan menepuk pundak cowok itu.
"Masa iya Reo menawarkan diri, kayak nggak tau rasanya pukulan maut seorang Devis Alvarez aja lo!" ujar cowok itu, membuat Juna mendelik.
Reo terkekeh, cowok itu menoleh pada Devis. "Ayo ke lapangan belakang, lo butuh temen main," ajak Reo sambil menepuk pundak kanan Devis, lalu beranjak.
Devis memerhatikan punggung cowok itu yang semakin menjauh, ia memang sedang lelah, tapi sepertinya yang dikatakan Reo benar. Devis butuh teman bermain sekarang.
...☆☆☆...
Michelle mendongak, menatap tulisan yang terpampang pada bagian atas gapura besar itu. Kedua sudut bibirnya tertarik hingga membentuk senyuman manis.
SMA Lentera Bangsa.
Mulai hari ini Michelle akan menjalani hari-hari barunya sebagai siswi salah satu sekolah swasta terkenal di Jakarta, SMA yang juga merupakan tempat Alvin menuntut ilmu. Ada banyak alasan Michelle mau menerima tawaran untuk mendaftar di sekolah ini, salah satunya agar ia bisa selalu dekat dengan Alvin.
Tin! Tin!
Michelle tersentak saat seseorang menarik lengannya hingga menyingkir dari tengah gerbang, sebuah motor melaju lumayan cepat memasuki halaman sekolah beberapa saat setelah Michelle minggir.
"Ngapain di tengah jalan?" tanya seseorang yang membuat Michelle langsung menoleh.
Kening Michelle berkerut. "Devis?" tanyanya ragu saat melihat siapa yang telah menyelamatkannya.
"Tiga kali ketemu lo dengan kejadian yang sama, keserempet udah jadi rutinitas lo ya?" tanya Devis.
Michelle melepaskan lengannya dari cekalan Devis, lalu mengambil dua langkah mundur, ia tidak menjawab semua pertanyaan Devis.
Sementara Devis memerhatikan penampilan Michelle dari atas sampai bawah, ia belum pernah melihat cewek ini di sekolah, di angkatannya, adik kelas, maupun kakak kelas. Seragam Michelle juga tampak baru.
"Lo anak baru?" tanya Devis.
Michelle kembali menatap cowok itu setelah sempat menunduk, lalu mengangguk.
"Oh, lain kali hati-hati," ujar Devis, lalu berbalik hendak kembali menemui teman-temannya yang masih nongkrong di tempat parkir.
"Eh, tunggu!" Suara Michelle membuat langkah Devis tertahan, cowok itu berbalik.
"Gue nggak tau ruang kepala sekolah di mana, bisa kasih tau?" tanya Michelle.
Devis tidak langsung menjawab, cowok itu malah celingukan mencari sesuatu, atau mungkin seseorang. Lalu memanggil seorang cewek yang baru saja melewati pintu gerbang.
"Lo masih jadi pengurus OSIS, kan?" tanya Devis pada cewek berkuncir kuda itu, dijawab anggukan.
"Nih, ada anak baru, anterin ke ruang kepala sekolah."
Michelle menoleh pada cewek itu yang tampak mengangguk pasrah, dari wajahnya tampak sekali dia ingin segera pergi, seperti enggan berurusan lama-lama dengan Devis.
"Ikut sama dia," ujar Devis.
Michelle menatap Devis sejenak dengan tatapan heran, ia memerhatikan penampilan cowok itu dari atas sampai bawah. Rambut acak-acakan, tidak pakai dasi, kemeja tidak dimasukkan ke dalam celana, dua kancing atas seragam dibiarkan terbuka, juga ada bekas lebam di sudut bibir cowok itu. Sudah cocok sekali dengan tipikal biang onar sekolah.
"Kenapa masih lihatin gue? Naksir?"
Michelle langsung menatap wajah cowok itu dan spontan bergidik, ia segera berpaling menatap cewek berkuncir kuda yang akan mengantarnya ke kantor kepala sekolah.
"Ayo buruan," ujar cewek itu, Michelle mengangguk.
Ia sempat melirik Devis yang ternyata masih memerhatikannya sebelum akhirnya menatap lurus dan tidak menoleh lagi. Kalau memang Devis biang onar sekolah, maka Michelle tidak boleh berurusan lagi dengan cowok itu.