Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
“Mama mau mencobanya?”
Tangan Sofia terulur hendak menyuapi Lyra dengan sepotong biskuit yang ada di tangannya namun Lyra menggeleng. “Tidak sayang, kamu saja,” ucap Lyra membuat Sofia menarik kembali tangannya dengan ekspresi sedih terlihat di wajahnya, ekspresi antusias yang awalnya ditampilkan oleh Sofia seketika menghilang karna mendapat penolakan dari Lyra.
“Mama masih memiliki banyak pekerjaan,” sambungnya.
“Permisi Tuan,” pamitnya pada Liam yang tidak dijawab sama sekali oleh Liam, namun ekspresi dingin yang terpasang di wajahnya menjelaskan bahwa Lyra sudah membuat sebuah kesalahan saat ini.
“Duduk,” ucap Liam dingin.
Lyra menatap laki-laki itu dengan bingung.
Tidak ada yang bisa menebak isi fikiran Liam, sebentar dia bersikap dingin, sebentar dia bersikap seolah dia sedang menggoda Lyra.
Melihat Lyra sama sekali tidak bergeming dan hanya menatapnya dengan ekspresi bingung Liam kemudian menarik satu kursi dan menempatkannya di dekat Sofia.
“Sofia, apa kau ingin Mamamu duduk di situ?” tanya Liam
Sofia mengangguk sebagai jawaban, ekspresi sedih di wajahnya perlahan menghilang, dia menatap Liam dan Lyra secara bergantian.
“Mama ayo duduk,” ucap Sofia lalu turun dari kursinya dan menggandeng tangan Lyra untuk mengajaknya duduk.
Lyra hanya bisa mengikuti tarikan tangan Sofia, dia bukannya ingin membuat putrinya itu sedih, hanya saja duduk di sini bersama dengan Liam bukanlah sesuatu yang pantas mereka lakukan. Jika ada yang melihat mereka mungkin saja orang tersebut akan salah paham.
“Mama Aaaaa....” seru Sofia sembari kembali menyuapi Lyra dengan biskuit setelah mereka berdua duduk di kursi.
Senyum kecil yang terpaksa terbit di wajah Lyra membuat Sofia akhirnya tersenyum setelah berhasil membuat Lyra mencicipi biskuit pemberian Liam itu.
“Om baik, memberikan Sofia ole-ole saat Om Baik pergi keluar kota. Ya kan Om?”
Liam mengangguk membenarkan kalimat Sofia yang membuat bocah itu tidak henti-hentinya memuji Liam di depan Lyra, memperlihatkan apa saja yang laki-laki itu bawakan di dalam paper bag tersebut.
Sofia memang anak yang ceria dan aktif namun saat sakit dia menjadi lebih murung karna mudah merasa lelah.
Lyra menanggapi celotehan Sofia dengan mencoba seantusias mungkin, tidak ingin membuat putrinya yang sedang bahagia itu bersedih. Lyra tidak pernah melihat Sofia berinteraksi sedekat ini dengan orang asing. Mungkin jika Sofia bersekolah, putrinya itu pastilah mudah mendapat teman karna kepribadiannya yang ceria.
Keceriaan Sofia yang seperti ini untuk sesaat membuat Lyra melupakan segala hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Foto Harris bersama dengan seorang wanita yang sebelumnya dikirimkan oleh Camila bahkan sudah sedikit menghilang dari kepalanya.
Lyra tersenyum hangat pada putrinya yang kini asik berceloteh sambil memakan cemilan di tangannya, lalu mata Lyra berpindah pada Liam yang meski masih dengan ekspresi wajah yang datar, laki-laki itu menanggapi celotehan dan pertanyaan-pertanyaan Sofia dengan baik bahkan dengan nada yang terbilang cukup lembut untuk ukuran seorang Liam.
Mungkin saja jika memiliki anak, Liam akan menjadi Ayah yang baik, fikir Lyra. Jika diperhatikan lagi, Liam sudah sangat cocok menjadi seorang Ayah, laki-laki yang sebelumnya pernah mengatakan bahwa dia tidak suka pada anak kecil itu, saat ini sedang membantu Sofia membersihkan remahan biskuit yang menempel di baju Sofia.
Lyra memperhatikan dalam diam. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam kepalanya, sejak kapan tepatnya Liam dan Sofia menjadi dekat seperti ini?
“Apa sudah puas melihatku?”
“Hah?”
Karna terlalu tenggelam dalam fikirannya Lyra bahkan tidak sadar jika dirinya sudah memandangi Liam cukup lama hingga laki-laki itu sendiri memergokinya.
“Apa tidak puas melihatku saat tidur?”
Lyra menunduk. “Maaf Tuan, saya tidak bermaksud.” Lyra tidak mengerti mengapa dia harus meminta maaf, padahal dia tidak ada maksud tertentu saat melihat Liam.
“Kalau begitu saya permisi masuk ke dalam Tuan,” ucap Lyra sembari bangkit dari duduknya.
“Sofia, Mama kerja dulu,” pamitnya pada Sofia yang di-iyakan oleh gadis kecil itu.
“Mama sepertinya tidak menyukai Om baik,” seru Sofia setelah Lyra meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mansion.
“Oh ya?” Tanya Liam tertarik.
Sofia mengangguk.
“Mama tidak tersenyum pada Om baik,” jedanya. “Saat berbicara dengan tante Camila, Nenek, atau dengan Sofia, Mama akan tersenyum. Tapi Mama tidak tersenyum saat berbicara dengan Om Baik, padahal Om kan Baik, namanya saja Om baik,” lanjut Sofia.
Sebelah alis Liam terangkat, dari mana Sofia bisa mengetahui hal-hal seperti itu? Dia saja tidak menyadarinya. Tapi jika diingat-ingat lagi, apa yang dikatakan oleh Sofia itu benar, Lyra sepertinya memang tidak pernah tersenyum saat berbicara dengannya seperti dia tersenyum saat mengobrol dengan Bi Mirah.
Entah mengapa hal itu mengganggu fikiran Liam hingga malam, fikirannya dipenuhi oleh ekspresi wajah Lyra setiap kali bertemu dengannya. Seharusnya dia layak mendaptkan senyum tulus dari perempuan itu, biar bagaimana pun dia lah yang membantu perempuan itu.
Menjelang tengah malam Liam masih duduk di ruang kerjanya, menunggu Lyra yang masih belum datang, entah apa yang menahan perempuan itu kali ini.
Jari tangan Liam mengetuk-ngetuk meja sembari membunuh waktu. Laptop di depannya dibiarkan menyala begitu saja, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Lyra dan memastikan satu hal.
“Ting...”
Sebuah notifikasi pesan membuyarkan lamunan Liam, laki-laki itu kemudian meraih ponselnya di atas meja, sebuah pesan berisi beberapa gambar yang dikirimkan oleh orang suruhannya yang dia tugaskan untuk mencari tau tentang Nadia dan selingkuhannya.
Rahang Liam seketika mengeras melihat gambar-gambar yang baru saja diterimanya. Jika tidak mengingat betapa Casper sangat mencintai perempuan itu sudah Liam pastikan perempuan itu menghilang dari kehidupan sahabatnya itu.
Tidak lama sebuah panggilan masuk di ponsel Liam dari nomor yang sama dengan yang mengirim pesan tersebut.
“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?” Tanya suara dari sambungan telepon.
“Selidiki lebih jauh latar belakang laki-laki itu, laporkan sesegera mungkin,” ucap Liam
“Baik Tuan, kami pastikan anda akan mendapat informasinya besok,” balas si penelpon.
Setelahnya Liam memutuskan sambungan telepon tersebut setelah telinganya mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Masuk!” perintahnya.
Pintu di dorong dari luar oleh Lyra. Tatapan Liam kini terfokus sepenuhnya pada Lyra. Perempuan itu menunduk.
Keheningan menguasai ruang kerja Liam, Lyra masih menunduk seolah matanya terpaku pada lantai yang mengkilap di bawahnya. Sedangkan Liam hanya menatap Lyra dengan tatapan menilai.
“Jujur saja Lyra, apa kau membenciku?”
Liam membuka suara, menanyakan hal yang sejak tadi bersarang di kepalanya. Fikirannya sudah bertambah kalut setelah melihat gambar-gambar dari pesan yang dikirimkan oleh orang suruhannya tadi.
Mendengar pertanyaan seperti itu dari Liam, Lyra segera mengangkat wajahnya, menatap Liam dengan ekspresi bingung. Mengapa laki-laki itu menanyakan hal itu padanya? Apa dia terlihat membenci laki-laki itu?
“Tidak Tuan, mana mungkin saya berani,” jawab Lyra dengan ekspresi meyakinkan.
Liam menyeringai mendengar jawaban Lyra. Laki-laki itu tersenyum dingin.
“Jawabanmu tidak sesuai harapan saya Lyra.” Liam mengatakan itu sembari berjalan cepat ke arah Lyra, membuat perempuan itu melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh daun pintu,berusaha menjaga jarak dari Liam, namun tangan laki-laki itu dengan cepat mengurungnya.
“Kalau begitu beranilah dan benci aku,” ucap Liam lalu dengan cepat membungkam bibir Lyra yang hendak protes.