NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Liburan Singkat

Pria berkacamata itu membawa Keira ke jalur parkir samping hotel.

Sebuah sedan hitam sudah menunggu dengan pintu terbuka. Sebelum Keira sempat melihat wajahnya di bawah lampu jalan, Moreno muncul dari belakang kendaraan.

"Bu Keira, tim keamanan akan mengantar Anda pulang. Situasi di dalam belum aman."

Keira menoleh kepada pria yang masih menggenggam tangannya. "Pak Kaizan?"

Genggaman itu terlepas.

"Masuklah," katanya.

Suara itu. Bentuk bahu itu. Bahkan cara telunjuknya mengarah ke pintu terasa familiar.

"Kita pernah bertemu?"

Pintu hotel terbuka. Sejumlah karyawan keluar sambil membawa ponsel. Moreno segera berdiri menghalangi pandangan mereka.

Pria berkacamata itu masuk ke mobil lain tanpa menjawab. Kendaraan tersebut melaju lebih dulu, meninggalkan Keira bersama pertanyaan yang bertambah satu lagi.

Ketika Keira tiba di apartemen hampir tengah malam, Kai sedang membuat mi di dapur dengan celana santai dan kaus kusut.

"Cepat pulang," katanya.

Keira menatapnya dari kepala sampai kaki. "Tunjukkan tanganmu."

"Apa?"

"Tangan."

Kai mengangkat kedua telapak. Keira memegang pergelangan kanannya, membandingkan rasa genggaman itu dengan pria di hotel. Denyut nadi Kai tetap tenang.

"Kamu melakukan apa malam ini?"

"Bekerja. Lalu pulang."

"Pekerjaan apa?"

"Membantu orang mengatur acara."

Itu tidak sepenuhnya bohong, dan justru membuat Keira lebih kesal.

"Kenapa?" tanya Kai. "Kamu mencari sesuatu?"

Keira melepaskannya. Pria yang menariknya tadi memakai jam tangan mewah dan dikelilingi keamanan. Kai memasak mi instan di apartemen kecil mereka. Kecurigaannya terasa konyol.

"Tidak. Aku lelah."

Kai mematikan kompor. "Makan dulu."

Seminggu setelah pesta, video Revan dan Wenny masih beredar, tetapi Keira berhenti membacanya. Dia mengambil cuti akhir pekan dan menerima ajakan Vera pergi ke Ciater Hot Springs.

Yang tidak Keira tahu, orang yang mengatur vila dan kendaraan justru Kai.

"Ini Leon," kata Kai ketika sebuah SUV berhenti di depan apartemen. "Teman lama."

Leon Hadipranata turun dari kursi pengemudi dengan kacamata hitam dan senyum santai. "Jadi ini perempuan yang membuat Kai mau bangun pagi pada hari Sabtu?"

"Jangan dengarkan dia," kata Kai.

Vera tiba beberapa menit kemudian sambil menyeret koper kecil. "Mas Leon?"

Leon membukakan bagasi. "Panggil Leon saja. Kita akan duduk satu mobil tiga jam."

"Aku belum sedekat itu."

"Kalau begitu tiga jam ini kesempatan kita."

Vera memutar mata, tetapi pipinya sedikit merah.

Perjalanan menuju Bandung utara dipenuhi musik, makanan ringan, dan perdebatan tentang siapa yang paling buruk memilih lagu. Menjelang siang, udara berubah sejuk. Kabut tipis menggantung di antara kebun teh, dan aroma tanah basah masuk setiap kali jendela dibuka.

Ciater Hot Springs Resort lebih ramai daripada perkiraan. Uap naik dari kolam mineral, bercampur suara air dan tawa pengunjung.

Keira mengenakan pakaian renang tertutup dengan jubah tipis. Begitu dia keluar dari ruang ganti, Kai berhenti bicara dengan Leon.

"Kenapa?" tanya Keira.

"Tidak apa-apa."

"Wajahmu tidak bilang begitu."

Kai mengambil handuk dan menyampirkannya ke bahu Keira. "Udara dingin."

"Kita datang untuk masuk air panas."

"Tetap pakai sampai dekat kolam."

Leon menahan tawa. "Dia bukan kedinginan. Dia takut orang lain melihat."

Kai menatapnya. "Kamu ingin pulang jalan kaki?"

Mereka memilih kolam yang lebih tenang. Vera duduk di tepi, mencelupkan kaki sambil mengambil foto. Leon berjalan di belakangnya membawa dua minuman. Seorang anak berlari melewati jalur basah dan hampir menabrak Vera.

Vera kehilangan keseimbangan.

Leon meletakkan gelas dan menangkap lengannya. Namun telapak kakinya sendiri tergelincir. Keduanya jatuh ke kolam dengan cipratan besar.

Vera muncul lebih dulu, rambut menutupi wajah. "Mas Leon!"

"Kenapa aku yang disalahkan? Aku baru menyelamatkanmu."

"Kamu menarikku ikut jatuh!"

Leon menyibakkan rambut dari mata Vera. Tangannya berhenti ketika menyadari jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

"Setidaknya sekarang kita sudah cukup dekat untuk melepas Mas," katanya.

Vera mendorong dadanya, tetapi tidak keras. "Mimpi."

Begitu mereka naik dari kolam, tawa pengunjung lain membuat Vera menegang. Leon segera berdiri di sisi yang menutup pandangan orang, lalu menyerahkan handuk tanpa mencoba menyentuh lagi.

"Aku minta maaf," katanya. "Aku seharusnya tidak bercanda saat kamu kaget."

Vera menatapnya, jelas tidak menyangka permintaan maaf datang begitu cepat. "Kamu memang tidak sengaja."

"Tetap saja kamu tidak nyaman."

Leon mengambil kedua gelas yang sudah tumpah. "Aku ganti minumannya. Kamu mau tetap di sini atau kembali ke vila?"

"Di sini. Tapi jangan dorong aku lagi."

"Aku yang jatuh, Vera."

Kali ini sudut bibir Vera terangkat. "Tetap salahmu."

Di sisi lain kolam, seorang wisatawan pria mendekati Keira.

"Sendirian?" tanyanya. "Boleh kenalan?"

Keira menunjuk Kai yang berdiri dua langkah di belakang. "Tidak sendirian."

Pria itu melihat Kai. "Pacar?"

Keira belum sempat menjawab ketika Kai melingkarkan handuk lebih rapat di bahunya.

"Suaminya," kata Kai.

Wisatawan itu langsung mundur. "Maaf, Pak."

Setelah dia pergi, Keira menatap Kai. "Kamu bisa menjawab tanpa menandai wilayah seperti itu."

"Aku hanya mengatakan fakta kontrak."

"Fakta kontrak tidak membuatmu berhak cemburu."

"Aku tidak cemburu."

"Tentu, Elang Emas."

Keira hendak melepas handuk, tetapi Kai menahan ujungnya. Jemari mereka bertemu di kain lembap.

"Kamu keberatan aku menyebut diri suamimu?" tanyanya.

"Aku keberatan kamu menjawab sebelum aku sempat bicara."

"Jadi bukan pada kata suami."

"Jangan memelintir ucapanku."

Kai mendekat setengah langkah. Uap kolam membuat bulu matanya basah. "Kalau kamu ingin menjelaskan kepada pria tadi bahwa kita hanya terikat enam bulan, aku bisa memanggilnya kembali."

Keira melihat wisatawan itu sudah bergabung dengan teman-temannya. "Tidak perlu."

"Kenapa?"

"Karena aku datang untuk liburan, bukan mencari masalah baru."

"Jawaban yang aman."

"Dan kamu terlalu puas mendengarnya."

Kai melepaskan handuk, tetapi senyumnya tetap tinggal.

Malamnya mereka makan bersama di vila. Vera lebih banyak diam. Insiden di kolam terlihat sepele, tetapi suara cipratan keras dan kerumunan yang tertawa membuat wajahnya pucat beberapa kali.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Keira.

"Cuma capek. Aku mau tidur dulu."

Vera masuk ke kamar. Keira dan Kai kembali ke teras, sementara Leon membereskan gelas di ruang makan.

Lewat tengah malam, Leon melihat pintu depan terbuka. Vera berdiri di taman dengan rambut masih basah. Bagian bawah rambutnya yang dicat hijau terlihat jelas di bawah lampu.

"Vera?"

Perempuan itu menoleh.

Tatapannya berbeda. Tidak panik, tidak malu, dan tidak ada kehangatan yang biasanya muncul ketika berdebat dengan Leon. Bahunya tegak. Napasnya sangat tenang.

"Jangan panggil aku begitu," katanya.

Leon berhenti beberapa langkah darinya. "Kamu mau kupanggil siapa?"

"Tidak perlu nama."

"Keira khawatir. Aku bisa memanggilnya."

"Jangan." Suaranya menjadi lebih tajam. "Vera butuh tidur. Aku hanya memastikan tidak ada yang menyakitinya."

Leon tidak mendekat. "Baik. Aku tetap di sini."

Perempuan itu memandangnya lama, seolah menilai apakah dia ancaman.

"Kamu tidak takut?"

"Aku belum tahu apa yang harus kutakuti."

Senyum tipis muncul di wajah yang sama, tetapi bukan senyum Vera.

"Aku bukan manusia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!