Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah tirai jendela, menyentuh permukaan lantai kamar yang masih sejuk. Rania perlahan mencoba membuka mata, kesadaran mulai menyapanya perlahan. Ia menarik napas dalam, hendak bangun dari berbaringnya. Namun, wanita itu meringis saat merasakan perih tak terkira di bagian bawah tubuhnya.
Gerakan kecil dan desis pelan itu ternyata cukup untuk membangunkan Alvino. Pria itu langsung terjaga, dan melihat Rania yang memejamkan mata sambil meringis, seketika Alvino merasa cemas.
"Sayang? Ada apa? Kamu kenapa?" tanyanya lembut, sambil segera mendekat.
Rania membuka mata perlahan dengan wajah sedikit memerah. "Tidak apa-apa... cuma..." suaranya mengecil, "sedikit perih saja."
Alvino seketika terdiam. Wajahnya seketika berubah tampak bersalah, mengingat begitu bersemangat nya dirinya hingga meminta berkali-kali.
"Sayang, maafkan aku, ya..." bisiknya penuh penyesalan. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Rania. "Sepertinya semalam aku terlalu bersemangat."
Tanpa menunggu jawaban, Alvino segera menyibakkan selimut, membuat Rania terbelalak dan refleks menggerakkan tangan sebisanya untuk menutup bagian atas tubuhnya yang masih polos.
“Ngapain ditutupi?” tanya Alvino terkekeh, lalu dengan hati-hati menyelipkan satu lengan di bawah lipatan lutut Rania, dan satu lagi menopang punggungnya, lalu mengangkat tubuh Rania ke dalam dekapannya.
"Ayo aku yang bantu ke kamar mandi," ucapnya lembut.
Rania yang terkejut secara spontan memeluk leher Alvino saat tubuhnya terangkat tinggi. "Bang... tidak usah, aku bisa jalan sendiri..."
"Sudah, diam saja," potong Alvino pelan namun tegas, melangkah menuju kamar mandi dengan langkah hati-hati. "Aku yang berbuat, aku yang akan bertanggung jawab," ucapnya tanpa mempedulikan wajah Rania yang sudah merah merona.
Sesampainya di kamar mandi Alvino mendudukkan Rania di tutup kloset, lalu dia sendiri berbalik menuju bak mandi, mengisinya dengan air hangat sambil sesekali menyentuh permukaan air dengan ujung tangannya untuk memastikan suhunya pas, tidak terlalu panas bagi kulit Rania.
Setelah air cukup penuh, ia kembali menghampiri istrinya. "Airnya sudah siap. Ayo, berendam sebentar. Biar rasa perihnya berkurang."
Rania memeluk lehernya erat, wajahnya sudah memerah padam. "Bang, tidak usah... aku bisa sendiri kok. Kamu tunggu di luar saja, aku malu..."
Alvino menatapnya lembut sambil tersenyum tipis, lalu meletakkan Rania perlahan ke dalam air hangat itu.
"Kenapa harus malu, sayang?" bisiknya pelan sambil duduk di tepi bak mandi. "Aku sudah melihat semuanya semalam, aku bahkan sudah menikmati setiap incinya. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan dariku."
Wajah Rania seketika memerah semakin pekat, hingga ke telinga dan leher. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan separuh wajahnya di balik lutut yang ditekuk.
Melihat itu, Alvino terkekeh. Tangannya mulai bergerak lembut membasuh bahu Rania dengan lembut, lalu turun ke punggung, menggosoknya dengan gerakan yang begitu hati-hati seolah takut menyakiti Rania.
Rania akhirnya pasrah, membiarkan suaminya merawatnya. Rasa canggung dan malunya perlahan luntur digantikan rasa hangat dan aman yang menyelimuti hatinya.
Alvino menggerakkan tangannya sambil menelan ludahnya susah payah. Tangannya yang bersentuhan dengan kulit Rania yang halus mulus membuat sesuatu di bawah sana tiba-tiba berdiri tegak. Tapi pria itu tidak tega untuk kembali melakukannya.
*
*
*
“Pelan-pelan jalannya, Sayang," ucap Alvino yang berjalan di samping Rania saat mereka menuruni tangga dari kamarnya menuju ruang makan.
Bu Soraya yang sedang menata meja makan bersama seorang pelayan spontan menoleh mendengar suara putranya. Matanya sedikit menyipit memperhatikan raut Alvino yang terlihat sedang khawatir.
"Ada apa dengan istrimu?” tanyanya sambil bergegas mendekat setelah menyerahkan urusan meja makan kepada pelayan.
“Ak- aku ti- tidak apa-apa, Ma," jawab Rania dengan wajah tertunduk.
Bu Soraya mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Alvino yang tengah meringis sambil menggaruk tengkuknya. Lalu kembali menoleh ke arah Rania, dan akhirnya sadar akan sesuatu yang terjadi di antara mereka saat melihat cara jalan Rania yang berbeda dari biasanya.
“Dasar bujang karatan," umpatnya dalam hati. “Pasti dia baru saja dapat lampu hijau lalu main terobos seenaknya." Wanita paruh baya itu seketika berkacak pinggang seraya mendengus kesal. Tapi sedetik kemudian di bibirnya tersungging senyum bahagia.
"Syukurlah, akhirnya mereka berdua benar-benar menjadi suami istri sepenuhnya," ucapnya dalam hati. Matanya masih menatap ke arah putranya dan menantunya. Melihat bagaimana Alvino dengan telaten menarik kursi lalu membantu istrinya untuk duduk perlahan.
"Mama ngapain sih, kok ngelihatin mereka terus?" tanya Tuan Aksara yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Bu Soraya secara spontan memukul lengan suaminya karena terkejut. "Papa ini, kayak jelangkung aja tiba-tiba datang tanpa diundang," protesnya sambil mengusap dada.
“Papa gak butuh undangan, Ma. Ini kan rumah kita sendiri?" jawab Tuan Aksara membuatnya mendapat tatapan sengit dari istrinya.
"Pa, Pa,” bisik Bu Soraya di telinga suaminya saat Tuan Aksara hampir melangkah menuju meja makan.
“Hemm?" Tuan aksara menoleh dan menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut melihat istrinya yang terlihat aneh.
Bu Soraya semakin mendekatkan mulutnya ke telinga sang suami. “Sepertinya si Vino baru saja dapat jackpot semalam. Mama lihat istrinya nyaris kayak gak bisa jalan.”
"Yang bener, Ma?" Tuan Aksara terbelalak tak percaya.
"Ish…!” Bu Soraya secara refleks menutup mulut suaminya dengan telapak tangan. “Jangan keras-keras, nanti Rania malu!” seru Bu Soraya dengan suara tertahan dan mata melotot.
Tuan Aksara mengangguk paham lalu pelan-pelan menyingkirkan tangan istrinya dari mulutnya. “Syukurlah, kalau begitu. Akhirnya cinta anak itu berbalas juga.”
"Sayang, kalau kamu gak bisa jalan kamu ambil cuti saja,” ucap Bu Soraya saat ia dan suaminya sudah ikut bergabung duduk di meja makan. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut ke arah Rania sambil menggenggam tangan menantunya.
“Uhuk… uhuk…”
Alvino yang baru saja menyesap kopi hitamnya seketika tersedak.
Rania cepat-cepat mengulurkan segelas air putih pada suaminya. Setelah itu wanita itu menundukkan wajahnya dalam, merasa sangat malu hingga tak berani menatap wajah mertuanya yang sepertinya sudah tahu apa yang terjadi pada dia dan Alvino.
"Kamu harus sabar, ya? Maklum, putra Mama itu baru pertama kali tahu rasanya surga dunia. Jadi kemaruk dia."
Wajah Rania semakin tertunduk. Ingin rasanya wanita itu bersembunyi di kolong meja agar wajahnya yang sudah seperti udang rebus tak terlihat oleh mertuanya.
"Mama ngomong apaan sih?," protes Alvino kesal.
Bu Soraya menatapnya sengit. “Memangnya Mama salah? Bukti nyata ada di depan mata."
"Mama dan Papa benar-benar bahagia,” sambung tuan Aksara. "Dan kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan. Semoga pernikahan kalian bisa langgeng sampai akhir hayat kalian."
“Aamiin," sahut Rania pelan masih belum berani mengangkat wajah.
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu