Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Pak... baut yang ini dibuka juga?"
"Iya. Simpan di wadah sebelah kanan, jangan sampai tertukar."
"Siap."
Suara kunci sok berdenting pelan memenuhi bengkel bawah tanah. Untuk pertama kalinya, motor Zain dibongkar sedikit demi sedikit. Cover bodi dilepas, bagasi diangkat, dan beberapa panel plastik disusun rapi di atas meja.
Profesor Surya tidak pernah terburu-buru. Setiap baut diberi label dan setiap kabel difoto sebelum dilepas.
"wah..."
"Hm?"
"Bapak kalau bongkar motor kayak lagi operasi."
Profesor tersenyum. "Kalau salah pasang satu baut saja... hasilnya bisa berbeda."
Zain mengangguk. Ia mulai mengerti kenapa penelitian ilmiah membutuhkan kesabaran luar biasa.
Siang menjelang. Mereka beristirahat sambil menikmati nasi bungkus—menu sederhana berisi nasi, ayam goreng, tempe, dan sambal.
Profesor duduk di bangku kayu sambil menyeruput teh. Zain kemudian membuka obrolan.
"aku heran."
"Iya?"
"Yang tadi di luar... dua orang itu. Mereka ngomong Bapak pernah kecewa."
Profesor terdiam. Beberapa detik hanya terdengar suara pendingin ruangan.
"Aku dengar ya, Pak."
Profesor mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Memang benar. Dulu... saya pernah punya murid."
"Murid?"
"Iya. Namanya Rio."
Zain mendengarkan dengan saksama.
"Dia sangat pintar, jauh lebih pintar daripada saya seusianya."
"Lalu?"
"Dia ikut penelitian ini sejak masih mahasiswa." Profesor tersenyum mengenang. "Dia yang pertama percaya kalau teori saya mungkin benar."
"Terus sekarang di mana?"
Profesor tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir tehnya. "Lima tahun lalu... dia pergi."
"Ke luar negeri?"
"Bukan, ke perusahaan swasta."
"Oh..."
"Mereka menawarkan laboratorium yang lebih besar, gaji yang lebih tinggi, dan peralatan yang lebih lengkap."
Zain mengangguk pelan. "Itu wajar sih, Pak."
"Iya, saya tidak pernah menyalahkannya."
"Lalu kenapa dibilang kecewa?"
Profesor menghela napas. "Karena... sebelum pergi... dia berkata penelitian saya tidak akan pernah berhasil."
Zain terdiam. "Itu pasti sakit."
Profesor tersenyum kecil. "Lebih sakit lagi... karena sebagian ucapan Rio memang benar."
Suasana kembali hening. Beberapa menit kemudian, Zain berkata pelan, "Pak."
"Hm?"
"Kalau boleh jujur... saya juga enggak ngerti penelitian Bapak."
Profesor tertawa kecil. "Saya tahu."
"Tapi... saya suka lihat Bapak ngerjainnya."
Profesor menatap Zain. "Maksudnya?"
"Ya..." Zain menggaruk kepala. "Kalau orang bisa ngerjain sesuatu sampai puluhan tahun... berarti buat dia itu penting. Saya enggak ngerti rumusnya, tapi saya ngerti semangatnya."
Profesor tidak berkata apa-apa. Untuk beberapa saat, hanya senyum tipis yang muncul di wajahnya.
"Terima kasih."
Hanya dua kata, namun terasa jauh lebih berat daripada pujian apa pun.
...
Sore harinya, motor Zain sudah hampir selesai dipasang kembali. Mesinnya kembali hidup seperti semula.
"Brumm..."
"Normal," kata Zain lega.
Profesor mengangguk puas. "Bagus."
"Lho, Pak."
"Iya?"
"Jadi hari ini cuma latihan bongkar pasang?"
"Betul."
Zain tertawa. "Kirain mau dimodifikasi."
Profesor melirik ke arah rangka yang masih tertutup kain hitam di sudut ruangan. "Belum. Saya ingin memastikan satu hal dulu."
"Apa?"
Profesor menatap motor Zain. "Lima tahun dari sekarang... motor ini mungkin sudah tidak ada di jalan. Tapi hari ini... dia masih cukup muda."
Zain mengernyit. "Maksudnya?"
Profesor tersenyum tipis. "Nanti juga kamu akan mengerti."
Zain hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Profesor memang sering berbicara dengan teka-teki.
Namun tanpa disadari keduanya, di balik dinding kaca ruang observasi, seorang pria berkacamata sedang memperhatikan mereka melalui monitor. Ia bukan salah satu teknisi, bukan pula mahasiswa.
Pria itu memandang wajah Zain cukup lama, lalu berkata pelan, "Jadi... ini orang yang Prof pilih menggantikan Rio."
Ia tersenyum tipis.
Jam di dinding bengkel menunjukkan pukul lima lewat empat puluh. Zain mencuci tangan di wastafel, membiarkan oli hitam perlahan larut bersama aliran air.
"Pak, saya pulang dulu ya."
Profesor Surya mengangguk. "Hati-hati di jalan."
"Siap."
"Dan..." Profesor tersenyum. "...terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama, Pak."
Zain mengenakan helm, lalu keluar dari laboratorium. Ia tidak tahu bahwa sepasang mata masih mengawasinya dari balik kaca ruang observasi.
Pintu lift baru saja tertutup ketika pria berkacamata itu keluar dari ruang observasi. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun dengan rambut yang disisir rapi. Setelan kemeja putih dengan jas abu-abu membuatnya lebih mirip eksekutif perusahaan daripada peneliti.
Ia berjalan memasuki bengkel. "Sudah selesai, Prof?"
Profesor Surya menoleh. "Ardi. Sudah lama datang?"
"Baru." Ardi memandang ke arah pintu yang baru saja dilewati Zain. "Itu anak yang Prof maksud?"
"Iya. Namanya Zain."
Ardi mengangguk pelan. "Pengemudi ojek online. Bukan ilmuwan, bukan insinyur, bukan peneliti."
Profesor tetap tenang. "Bukan."
"Lalu kenapa dia?"
Profesor meletakkan kunci ring di atas meja. "Karena saya memilih manusia."
Ardi tersenyum tipis. "Jawaban yang aneh. Penelitian ini membutuhkan kemampuan, bukan kebaikan hati."
Profesor menatap Ardi. "Justru karena itu. Kamu terlalu lama bekerja di perusahaan."
Ardi terkekeh kecil. "Mungkin."
Ia berjalan mengelilingi tempat motor Zain tadi terparkir, memperhatikannya dari depan hingga belakang.
"Boleh saya jujur?"
"Tentu."
"Motor ini biasa sekali."
Profesor mengangguk. "Memang."
"Tidak ada yang spesial."
"Tepat." Profesor tersenyum tipis. "Itulah yang saya inginkan."
Ardi memandang Profesor beberapa detik. "Prof... jangan bilang... kendaraan eksperimen itu..."
Profesor memotong. "Belum. Masih terlalu cepat."
Ardi mengembuskan napas pelan. "Kalau Dewan Kampus tahu... mereka tidak akan setuju."
Profesor tersenyum tipis. "Makanya saya belum memberi tahu."
...
Sementara itu, di luar kampus, Zain sama sekali tidak menyadari pembicaraan tersebut. Ia kembali menerima orderan.
"Mas, ke stasiun ya."
"Siap."
Motor kembali membelah kemacetan. Baginya, hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya: mengantar orang, mendapat bintang lima, lalu pulang. Tidak lebih.
Malam harinya, saat sedang makan mi rebus bersama Kakek, ponsel Zain berdering. Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Selamat malam." Suara di seberang terdengar tenang. "Saya Ardi, rekan Profesor Surya."
"Oh... malam, Pak."
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah sering membantu Prof."
"Oh, sama-sama."
"Tapi..." Suara Ardi berubah sedikit lebih serius. "...saya ingin memberi satu saran."
Zain mengernyit. "Saran apa, Pak?"
"Jangan terlalu cepat percaya kepada siapa pun. Termasuk kepada Profesor Surya."
Zain terdiam. "Maksudnya?"
"Anggap saja... itu nasihat."
Sambungan telepon terputus.
Zain menatap layar ponselnya dengan bingung. "Siapa sih orang itu..."
Dari ruang kerjanya, Ardi meletakkan ponsel di atas meja. Ia memandang sebuah foto lama yang memperlihatkan Profesor Surya bersama beberapa mahasiswa—salah satunya adalah Rio.
Ardi menghela napas pelan. "Semoga kali ini... Prof tidak mengulang kesalahan yang sama."