NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak

Suasana di kantin sekolah mendadak agak hening begitu Clara melemparkan tuduhan kerasnya ke arahku. Beberapa pasang mata siswa-siswi yang sedang menikmati makan siang mulai melirik ke arah meja sudut tempatku duduk. Aku mengunyah nasi gorengku dengan pelan, menelannya dengan tenang, lalu menegakkan posisi dudukku seraya menyunggingkan senyum tipis yang sengaja kubuat sedikit provokatif.

"Emangnya kenapa kalau aku senyum-senyum?" balas cepatku dengan suara lantang namun santai. "Apa Kamu mau menyuruh Pak Jhon buat mengusir aku juga dari sini?"

Mendengar jawabanku yang terkesan menantang, Clara langsung menegakkan punggungnya. Mata indahnya memelotot tajam, menatapku dengan raut wajah yang sangat tak mau

kalah.

"Tapi kan Kak Ketos yang jahat senyumnya pas banget ke arah aku!" balas Clara melengking, tangannya menunjuk ke arah mukaku dengan gaya penuh tuduhan. "Jadinya aku tersinggung lah! Lagian senyuman Kakak itu kelihatan ngejek banget!"

Aku terkekeh pelan, meletakkan sendok di atas piring, lalu menyandarkan punggungku ke sandaran kursi kayu. "Ge-er banget sih jadi orang. Siapa juga yang senyum ke arah Kamu? Aku dari tadi senyumnya ke arah Pak Jhon kok, salut melihat ketegasan pengawal Kamu."

Pak Jhon yang berdiri kaku di belakang Clara sempat menoleh sekilas ke arahku dengan alis terangkat sedikit, namun dia tetap mempertahankan posisi siaganya tanpa bersuara.

Clara menyilangkan kedua tangannya di dada, membuang muka ke samping dengan bibir dipanyunkan maksimal. "Alasan!

Pokoknya awas saja ya kalau sampai senyum-senyum aneh lagi ke arah aku! Aku adrokan nanti ke Pak Jhon!"

Diana yang sejak tadi menyimak perdebatan sengit antara aku dan Clara hanya bisa memegang dahinya. Dia menatap sahabat karibnya itu dengan pandangan heran bercampur geli.

Diana menyenggol pelan lengan Clara dengan sikutnya, lalu bersuara dengan nada bermaksud menggoda.

"Ra... kamu itu heran deh," bisik Diana, meski suaranya masih cukup jelas terdengar olehku. "Jangan terlalu sering bertengkar sama Kak Arkan deh. Nanti dari benci malah makin lama makin jadi suka loh. Awas nanti jatuh cinta!"

Mendengar kata "jatuh cinta" meluncur dari mulut sahabatnya, reaksi Clara mendadak berubah sangat dramatis. Dia memegang dadanya dengan wajah bergidik ngeri, lalu menengadah menatap langit-langit kantin dengan ekspresi penuh penolakan.

"Amit-amit ya Tuhan!" seru Clara histeris sambil menepuk-nepuk mejanya pelan. "Enggak mungkin banget aku jatuh cinta sama manusia modelan Ketos jahat kayak gitu! Tipe cowok aku itu jauh di atas dia! Ngebayanginnya aja sudah bikin perutku mual!"

Mendengar kalimat penolakan yang begitu telak dan lugas meluncur langsung dari bibir cantiknya, jujur saja... ada rasa nyeri tipis yang menusuk ulu hatiku. Dadaku terasa agak sesak.

Walaupun selama ini kami selalu terlibat perselisihan dan perdebatan konyol, mendengar dia mengucapkannya dengan nada sedemikian jijik tetap saja membuat perasaan seorang pria terasa tergores. Namun, aku berusaha keras menetralkan raut wajahku, memaksakan diri tetap terlihat tenang seolah kalimat itu sama sekali tak berdampak padaku. Ya sudahlah, batinku menenangkan diri. Lagipula mana mungkin anak konglomerat seperti dia punya rasa pada anak yatim miskin sepertiku.

Clara kembali fokus mengaduk es teh manisnya, sementara Diana kembali menyendok baksonya. Tiba-tiba, raut wajah Clara berubah menjadi agak pensive dan serius. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Diana, menurunkan volume suaranya seolah sedang membagikan sebuah rahasia besar yang sangat penting.

"Din... kamu tahu enggak?" bisik Clara dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. "Sebenarnya selama seminggu ini aku itu lagi mencari tahu banget siapa sosok pahlawan yang sudah menyelamatkan aku waktu kejadian penculikan kemarin."

Diana menghentikan kunyahannya, menatap Clara penasaran.

"Oh ya? Bukannya kata Papa kamu yang menyelamatkan itu tim polisi?"

"Papa memang bilangnya begitu, tapi feeling aku beda!" tegas Clara mantap. "Aku yakin banget ada cowok pemberani yang bertaruh nyawa demi mengeluarkan aku dari gudang tua itu sebelum polisi datang. Dan tahu enggak, Din? Kalau misal sosok penolong aku itu ternyata masih muda dan ganteng..."

Clara menghentikan kalimatnya sejenak, menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum malu-malu, "...aku rela deh check-in di hotel bareng dia sebagai bentuk rasa terima kasih!"

PUFTTTT! Uhuk! Uhuk-uhuk!

Tepat saat kalimat absurd itu meluncur mulus dari mulut Clara, aku yang baru saja menelan seteguk besar es teh manis langsung menyemprotkannya kembali ke meja! Cairan dingin itu tersembur hebat dari mulutku, disusul rasa tersumbat yang luar biasa parah di tenggorokanku.

"Air...! Uhuk! Mana air?!" jeritku tertahan sambil menepuk-nepuk dadaku yang terasa panas dan sesak bukan main. Wajahku mendadak memerah padam karena kehabisan napas akibat tersedak yang teramat hebat.

Kejadian semburan es teh dan batuk bahagiaku itu tentu saja langsung menyita perhatian seluruh area kantin, terutama meja

Clara dan Diana. Clara memutar tubuhnya, menatapku dengan pandangan penuh rasa jijik bercampur kepuasan tersendiri karena melihatku menderita.

"Kenapa lagi sih lo, Ketos jahat?!" sahut Clara dengan nada suara yang dipenuhi kebahagiaan saat melihatku kesakitan akibat tersedak. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatapku dengan senyuman mengejek yang sangat lebar. "Makanya jadi orang itu jangan suka menguping pembicaraan orang lain! Kena kualat kan lo sekarang! Lagian aneh banget, orang lagi ngobrol serius malah disembur-sembur!"

"Iya tuh Kak Arkan, jorok banget deh!" timpal Diana ikut-ikutan tertawa geli melihat penderitaanku.

Aku terus memegangi leherku, meneguk sisa air di gelasku dengan tergesa-gesa hingga tenggorokanku perlahan terasa lega kembali. Napasku masih memburu, mataku agak berair menatap Clara yang sedang tersenyum puas di seberang sana.

Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebuah bisikan geli bercampur geli yang luar biasa bergaung dengan sangat kencang.

Andai saja Kamu tahu... wahai Nona Manja yang bodoh, gumamku dalam hati sambil menatap wajah cantiknya yang sok tahu itu, andai Kamu tahu siapa sebenarnya sosok 'pahlawan' yang sudah menumbangkan sepuluh penculik demi menyelamatkan nyawa Kamu di gudang tua itu... Aku jamin Kamu enggak bakal mungkin berani omong sesumbar soal check-in hotel kayak gitu di depan mukaku!

Membayangkan bagaimana hancurnya gengsi Clara jika fakta sebenarnya terbongkar suatu hari nanti membuat rasa kesal akibat tersedak tadi hilang seketika, berganti dengan rasa geli yang tak tertahankan.

Teng... teng... teng...

Lonceng nyaring tanda berakhirnya jam istirahat pertama bergema keras ke seluruh penjuru sekolah. Suara riuh di kantin perlahan menyurut saat para siswa mulai berdiri merapikan makanan mereka untuk kembali ke kelas.

"Ayo Din, kita balik ke kelas," ujar Clara seraya berdiri anggun dari kursinya, merapikan rok seragamnya. Sebelum melangkah pergi, dia sempat menengok sekilas ke arahku, menjulurkan lidahnya sebentar dengan gaya mengejek.

"Dadaaah Ketos jahat! Selamat menikmati batuknya ya!"

Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ajaibnya, menyapu sisa-sisa air di meja dengan tisu, lalu berdiri siap melanjutkan tugas dan pelajaranku hari ini.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!