NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:733.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Aku Tidak Mengemis Cinta

“Cerai?” Alden mengulang, nyaris tanpa suara.

Bibirnya melengkung tipis, tapi jemarinya mengeras di samping tubuhnya.

“Kau pikir bisa hidup di luar sana tanpaku?”

“Tentu saja bisa,” jawab Belvina tanpa ragu.

Nada suaranya mantap, tanpa perlu ditinggikan. Justru itu yang membuatnya terasa lebih pasti.

“Aku sudah terbiasa berdiri sendiri. Dulu, sekarang… tidak jauh berbeda.”

Ia menegakkan tubuhnya.

“Dengan kemampuan yang kupunya sekarang, aku yakin bisa menghidupi diriku sendiri.”

Sorot mata Alden mengerucut tipis.

“Kau begitu yakin?” suaranya turun. “Selama ini kau hidup dari orang tuamu… lalu dariku.”

Belvina mengangkat dagu tipis.

“Aku bisa.”

Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan lebih tenang.

“Aku tidak mau hidup terikat dalam sesuatu yang mengekang. Apalagi dengan seseorang yang hanya menjadikanku… formalitas.”

Kalimatnya terpotong sebentar.

“Lebih baik sendiri, daripada bersama pria yang tidak pernah benar-benar memberiku tempat.”

Alden mengulang pelan, nyaris seperti mengeja.

“Formalitas…”

Nada itu datar, tapi ada sesuatu yang mulai bergeser di dalamnya.

“Jadi karena itu kau menyewa mereka tadi?”

Ia melangkah satu langkah mendekat.

“Untuk membuktikan bahwa kau bisa hidup tanpa batasan? Atau…”

Sudut bibirnya terangkat sedikit, “...untuk menuntut sesuatu yang selama ini tidak kau dapatkan dariku?”

Belvina tetap di tempatnya. Ekspresinya nyaris tak berubah.

“Kalau aku menginginkan sesuatu, aku tidak akan mencarinya darimu.”

"Oh, ya?"

Alden melepas jasnya begitu saja. Kancing kemejanya terbuka satu per satu, gerakannya tenang… terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Mau apa kau?” Belvina mundur satu langkah. Refleks.

Alden tidak segera menjawab. Ia mendekat.

“Memberi hakmu,” suaranya turun, berat. “Supaya kau tidak merasa hanya istri di atas kertas.”

Nadanya rendah, lebih terasa sebagai tekanan daripada godaan.

Belvina sempat terdiam sepersekian detik. Garis bahu itu. Lengan yang terbentuk rapi. Dada yang perlahan terlihat saat kancing terbuka.

Refleks.

Namun hanya itu. Kesadarannya langsung menariknya kembali.

"Jangan bodoh."

Ia mengingat dengan jelas, bagaimana Alden memperlakukan Belvina asli selama ini.

Dingin. Jauh. Seolah ia tidak pernah benar-benar ada.

Belvina mengalihkan pandangan. Menarik napas pendek.

“Aku tidak butuh itu.”

Langkahnya mundur lagi, namun punggungnya sudah menyentuh sisi meja. Tidak ada ruang lagi.

Alden berhenti tepat di depannya.

“Tadi di sana,” lanjutnya dengan suara rendah, “kau tampak sangat ingin tahu. Sekarang aku di sini.”

Jarak mereka terlalu dekat.

Belvina menarik napas pelan, lalu melepaskannya. Bukan takut, lebih ke arah… tidak siap dengan perubahan arah ini.

“Aku tidak sedang bermain,” ucapnya, mencoba menjaga nada tetap datar.

Gris tipis terbentuk di bibir Alden.

“Aku juga tidak.”

"Kalau begitu." Wajah Belvina tanpa ekspresi. Tapi tangannya mencengkram ujung bajunya. "menjauh dariku. Aku... tidak menginginkanmu."

Alden menundukkan wajahnya sedikit.

“Kau lupa?” suaranya rendah, lebih berat dari biasanya. “Siapa yang berkali-kali datang ke kamarku… tanpa diminta.”

Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk menekan.

Sudut bibir Belvina terangkat ringan. Tidak tersinggung.

“Itu dulu,” jawabnya ringan. Singkat, tapi jelas memisahkan.

Alden sedikit mengernyit.

Belvina mengangkat dagunya.

“Kau pikir aku akan terus seperti itu?” lanjutnya. “Menunggu. Mengejar. Mengemis perhatianmu?”

Nada suaranya tetap tenang. Tapi setiap kata… terarah.

“Ini bukan soal itu,” potong Alden.

“Justru ini soal itu.” kelah Belvina. “Kau tidak marah karena aku menyentuh pria lain.”

Ia berhenti sebentar.

“Kau marah karena itu bukan kamu yang mengendalikan.”

Belvina melanjutkan, lebih pelan:

“Kau kira aku tidak akan pernah pergi.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Bahwa aku akan tetap di sini… mencintaimu sampai habis.”

Alden tidak menyela. Tapi rahangnya mengunci.

“Dan sekarang?” lanjut Belvina, “aku berubah.”

Ia menatapnya tanpa ragu.

“Itu yang mengganggumu.”

Satu langkah kecil ia ambil ke depan. Kali ini bukan mundur.

“Aku bukan Belvina yang dulu.”

Kalimatnya tidak tinggi. Tapi tegas.

“Aku tidak akan merendahkan diri hanya karena kau tampan. Atau karena kau punya segalanya.”

Ia berhenti. Lalu menambahkan, pelan tapi jelas:

“Aku tidak mengemis cinta.”

Belvina menggeser sedikit tubuhnya, memberi jarak.

“Jadi… pergilah.”

Nada suaranya ringan. Hampir santai.

“Aku tidak akan menyerahkan diriku pada seseorang yang bahkan tidak pernah menginginkannya.”

Alden tidak bergerak. Bukan karena terkejut, lebih karena… sesuatu yang tidak ia kenali.

Ia tertawa tanpa suara. Pendek. Tanpa humor.

“Tidak mengemis?” ulangnya.

Kepalanya sedikit miring, seolah menilai ulang wanita di depannya.

“Menarik.”

Satu langkah ia maju. Bukan untuk menekan, tapi cukup untuk menghapus jarak yang tadi sengaja dibuat.

“Tapi kau salah satu hal, Belvina.” Suaranya lebih rendah sekarang. “Bukan aku yang kehilangan kendali.”

Jarinya terangkat sedikit. Tidak menyentuh, hanya menggantung di udara di antara mereka.

“Kau yang mulai bermain di sesuatu yang tidak kau pahami.”

Nada suaranya tetap tenang. Tapi kali ini… ada peringatan di dalamnya.

“Dan kalau kau pikir ini hanya soal siapa mengejar siapa…” ia berhenti sejenak. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tetap datar.

“Kau akan kecewa.”

Ia mundur satu langkah, memberi ruang. Tapi bukan menyerah.

“Cerai?” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan.

“Coba saja.”

Kalimat itu sederhana. Namun jelas bukan izin.

Tangannya terangkat. Bukan kasar. Tapi cukup untuk menahan pergerakan Belvina sebelum ia sempat menjauh.

“Kalau kau ingin keluar dari pernikahan ini,” lanjutnya, “pastikan dulu kau tahu… apa yang kau tinggalkan.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tapi berat.

Belvina tidak menghindar. Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah di sorot matanya. Bukan goyah, lebih seperti… menyadari permainan ini sudah masuk level lain.

“Ancaman?” tuturnya tenang.

Alden menggeleng tipis.

“Penawaran.”

Sesuatu yang menegang di antara mereka, siap pecah kapan saja.

Belvina mengangkat dagunya sedikit.

“Kalau itu caramu menahan seseorang,” ucapnya nyaris dingin, “kamu salah orang.”

Tatapan Alden tidak berubah. Tapi ada sesuatu di dalamnya… bergeser.

“Belvina,” suaranya lebih rendah sekarang.

Bukan peringatan. Bukan juga perintah. Lebih seperti… sesuatu yang mulai keluar dari kendalinya sendiri.

Dan itu, untuk pertama kalinya, terasa lebih berbahaya dari apa pun yang ia lakukan sebelumnya.

"Apa?" Belvina mengangkat dagunya lebih tinggi. "Kau pikir aku tak berani menceraikanmu?"

Dan untuk pertama kalinya,

Alden tidak langsung punya jawaban.

 

...✨Ketika cinta tidak lagi diminta, hubungan berubah menjadi pertarungan....

...Bukan tentang siapa yang bertahan, tapi siapa yang akhirnya kehilangan kendali.✨...

.

To be continued

1
farah araa
cerita nya sangat bagus dan semangat buat author nya😊
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
lanjut
anonim
Belvina positif hamil. Tokcer juga tuh Alden kecebongnya jadi calon baby di perut Belvina.

Fransisca gembira, akan segera menimang cucu. Dan berterima kasih kepada Belvina.

Andreas juga bahagia, bersyukur dan terharu.
anonim
Belvina istrinya Alden, wajarlah ia perhatian dan mencemaskan istrinya yang sedang muntah-muntah.

Seraphina tidak menyukai dengan apa yang Alden lakukan pada Belvina.

Belvina mau ke sofa menolak bantuan dari Seraphina.

Seraphina melangkah mendekat, Belvina menutup hidungnya, mundur selangkah

Belvina dan Alden sama isi batinnya - kehamilan. Belvina hamil.
anonim
Kebayang ngga tubuh satpam wanita itu bagaimana. Kuat menggendong Belvina dia.

Nasib Dimas kurang beruntung, ingin membantu Belvina berdiri, malah lengannya kena pukul Alden.
Rhea Kim
bagusss banget kisahnya... ❤
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rhea Kim
nah sadar kan alden.... yang baik nya over itu kadang siluman 🤣🤣🤣🤣...
Rhea Kim
serapinul siluman ular cekek.... km hanya halu.... masa lalu darimana mantan juga bukan hadehh.... sana periksa kejiwaan aja 🤣🤣🤣
Rhea Kim
ya iyalah serapinul manusia siluman... itu suaminya belvina yo jelas milih belvina... emang perlu d rukyah nih cewek siluman
Rhea Kim
emang hatimu busuk aja serapina...
istri ama suami akur kuq g boleh... cari suami sendiri sanaa🤣🤣
Rhea Kim
nah ini dimas peka... emang aura siluman nya kerasa banget si serapina.... klo terlalu sempurna malah mencurigakan 🤣
Rhea Kim
huh... serapina sirik aja orang seneng.... la wong alden suaminya y wajar dong deket istrinya... yg wajar iku km deketin suami orang🤣
fii 🤩
😂😂
anonim
Sekali tancap kecebong Alden jadi calon baby nih. Betul ngga ya.

Belvina tak tahan bau parfum Seraphina, pusing kepalanya, berakhir lari ke toilet - muntah dia.

Alden terkejut melihat Belvina yang seperti mau muntah. Spontan ia berdiri dari duduknya. Tak sadar kalau gerakan mendadak bikin rusuknya kembali nyeri.

Alden mengkhawatirkan Belvina yang sedang muntah-muntah di dalam toilet.
anonim
Belvina menerima panggilan tlp dari Aldo. Alden cemburu gak djelas.

Apalagi ketika melihat Belvina tersenyum dan bicara begitu asyik. Alden semakin panas saja.

Belvina lugu amat. Jelas Alden cemburu. Sampai menyindir bilang - sepertinya senang sekali.

Alden bisa duduk sendiri di kursi kerjanya.

Malah ribut di kantor.

Seraphina datang masuk ke ruang kerja Alden. Baru selesai bicara - mengungkap rasa senangnya Alden sudah kembali ke kantor.

Alden belum menanggapi.

Eee..eeeehhh... Belvina 😄😄 suaramu dan kata-kata yang terucap ituuuu 😂😂😂 bikin kaget Seraphina.
anonim
Belvina tidak tahu saja kalau Alden sengaja mengajaknya ke kantor karena ingin dekat. Tidak ingin Belvina pergi.

Alden banyak alasan.

Belvina setuju ikut ke kantor.

Alden bisa bangun sendiri, ambil minum.

Senangnya Alden bisa peluk Belvina yang nyenyak tidurnya. Tidak terusik dipeluk.

Belvina bangun tidur baru sadar posisi tidurnya. Mana benda tumpul milik Alden berdenyut di pahanya pula. Untung tidak reflek mendorong Alden. Bisa semakin tidak sembuh-sembuh kalau itu terjadi.

Alden pusing tak bisa menyalurkan hasratnya.

Alden mandi sendiri. Kalau saat ini Belvina yang mandiin, Alden bisa semakin kacau wkwkwk..

Belvina tidak tahu kalau Alden jadi pusing tidak bisa menuntaskan hasratnya.

Wah - ada mata-mata Seraphina
LibraGirls
Always the best 👍🏻👍🏻👍🏻😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana selalu keren ceitanya 🤩🤩🤩
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama,Kak🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Lah nasib si Dina atau Diana entah apa lah nama nya lupa gimanaenibgalkah atau gimana ya 😂😂😂
LibraGirls
Dikit banget 18 thn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!