NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan Tanpa Cinta

"Tiga ratus ribu koin emas. Itu adalah total tagihan Anda sejauh ini, Tuan Duke."

​Kelopak mata Lucien de Vaudémont perlahan terbuka. Pandangannya yang semula kabur kini berangsur angsur fokus pada langit langit kayu berukir yang berada tepat di atas wajahnya. Aroma kayu mahoni dan teh kamomil yang tajam memenuhi indra penciumannya, menggantikan bau anyir darah yang beberapa saat lalu terasa mencekik tenggorokannya.

​"Apa?" bisik Lucien dengan suara serak. Pria itu mencoba mengangkat tubuhnya, merasakan permukaan karpet beludru yang sangat lembut di bawah punggungnya.

​Geneviève duduk di atas sebuah kursi lipat kecil di sudut gerobak, menyilangkan kakinya dengan sangat anggun. Di tangannya terdapat sebuah buku catatan besar bersampul kulit dan pena bulu yang baru saja ia celupkan ke dalam botol tinta.

​"Saya bisa merincikannya untuk Anda jika Anda masih kesulitan mencerna angka akibat efek racun istana," ucap Geneviève dengan nada datar bak seorang lintah darat kelas atas. "Dua ratus ribu koin emas untuk potensi kerugian harian, karena saya terpaksa mengusir belasan pelanggan bangsawan dan menutup etalase ini lebih awal. Lima puluh ribu untuk karpet beludru putih dari utara yang kini ternoda oleh cairan hitam menjijikkan dari mulut Anda. Dan lima puluh ribu lagi sebagai biaya perawatan medis darurat. Saya rasa itu harga yang sangat wajar untuk menutupi aib seorang Komandan Ksatria yang tumbang di tengah jalanan kota."

​Lucien mengerjap beberapa kali. Pria itu menopang tubuh besarnya dengan siku, menatap sekeliling ruangan sempit yang dipenuhi rak perhiasan tersebut. Cahaya dari lentera minyak memantul pada kaca etalase yang kini tertutup panel baja dari luar.

​Kemudian, Lucien menyadari satu hal yang luar biasa.

​Rasa sakit di kepalanya telah lenyap tanpa sisa. Telinganya tidak lagi berdenging menyakitkan. Kabut tebal yang selama tiga tahun terakhir selalu menekan otaknya dan memaksanya untuk mematuhi dorongan tak kasatmata kini tiba tiba menguap entah ke mana. Dadanya terasa sangat ringan.

​Lucien menunduk menatap dadanya yang kemejanya telah terbuka sebagian. Urat urat hitam beracun yang menyiksanya di jalanan tadi sudah menghilang sepenuhnya. Matanya lalu beralih menatap tangan kiri Geneviève. Di jari manis wanita itu, cincin bersinar safir biru dan kecubung ungu masih terpasang dengan cantik, memancarkan aura yang membuat jiwa Lucien merasa luar biasa tenang.

​"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Lucien, suaranya kini terdengar jauh lebih jernih dan berwibawa. "Kutukan itu... rasa sakit di kepalaku, rasanya seperti ditarik keluar secara paksa dari dalam tengkorakku."

​Geneviève menghela napas panjang. Ia menutup buku catatannya dengan bunyi ketukan yang pelan namun tegas. Otak modernnya telah menyusun penjelasan ilmiah yang paling logis untuk kejadian yang di luar nalar tadi. Ia menolak percaya pada hal hal berbau mistis atau kutukan.

​"Singkirkan fantasi konyol tentang kutukan dari kepala Anda, Lucien," jawab Geneviève dingin. "Anda diracuni. Berdasarkan reaksi pembuluh darah Anda yang menghitam dan halusinasi yang Anda alami, itu pasti jenis racun saraf langka dari Benua Selatan. Racun itu menyerang sistem saraf pusat dan menciptakan rasa sakit ilusioner di kepala Anda."

​"Racun?" Lucien mengerutkan kening dalam dalam.

​"Tentu saja. Putri Mahkota pujaan Anda sepertinya sangat tidak senang saat Anda menolak undangan minum tehnya pagi ini," analisis Geneviève santai, menyandarkan punggungnya pada kursi lipat. "Beliau pasti memerintahkan seseorang untuk memasukkan racun tersebut ke dalam minuman atau makanan Anda sebelum Anda pergi meninggalkan kediaman. Anggap saja itu adalah bentuk hukuman politik karena Anda mulai berani menunjukkan ketidakpatuhan kepada faksi kerajaan."

​Lucien terdiam membisu. Pria itu tahu betul bahwa sakit di kepalanya berasal dari sihir manipulasi istana, dari ingatan masa lalu yang berusaha ditekan paksa oleh kekuatan relik suci. Namun, melihat Geneviève menjelaskan semuanya dengan teori konspirasi racun politik dan reaksi medis, Lucien merasa tidak ada gunanya berdebat. Wanita ini terlalu rasional untuk menerima kenyataan tentang sihir.

​"Lalu, bagaimana urat hitam di dadaku bisa menghilang begitu saja?" tanya Lucien memancing. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kabut hitam itu tersedot ke dalam cincin yang kau pakai."

​Geneviève memutar bola matanya, menunjukkan ekspresi bosan tingkat tinggi.

​"Itu disebut reaksi alkimia, Tuan Duke," jelas Geneviève mengarang teori pseudosainsnya dengan sangat meyakinkan. "Logam perak murni memiliki sifat alami menyerap racun tertentu. Dan suhu dingin dari batu safir bereaksi dengan kelembapan udara di ruangan pengap ini saat bersentuhan dengan darah Anda, menciptakan semacam asap atau kabut sisa reaksi. Jangan mendramatisir keadaan seolah olah kita berada di dalam dongeng anak anak. Anda selamat karena kebetulan kandungan logam di perhiasan saya mampu menetralkan racun halusinogen tersebut."

​Lucien menatap wanita di depannya dengan rasa takjub yang luar biasa besar. Geneviève bisa merasionalisasi kejadian magis di depan matanya menjadi sekadar reaksi kimia dan intrik politik biasa. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan atau kelembutan palsu di mata wanita itu. Geneviève murni melihatnya sebagai pasien yang merepotkan dan target tagihan yang menguntungkan.

​Sebuah senyum tipis, senyum sangat tulus yang sudah bertahun tahun tidak pernah terukir di wajah ksatria kaku itu, perlahan mengembang di bibir Lucien.

​Geneviève memicingkan matanya penuh kecurigaan. "Mengapa Anda tersenyum? Apakah sisa racun itu merusak saraf motorik di wajah Anda? Saya baru saja menagih Anda tiga ratus ribu koin emas, dan Anda malah tersenyum seperti orang bodoh di pasar malam."

​"Aku tersenyum karena kau masih berusaha memeras uangku dengan sangat elegan setelah kau menyelamatkan nyawaku, Geneviève," kekeh Lucien pelan.

​Pria itu bangkit dan duduk bersila di atas karpet yang ternoda darahnya sendiri. Ia menatap Geneviève dengan sorot mata yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi kebencian yang dipaksakan. Yang ada hanyalah rasa kagum yang meluap luap, sebuah ketertarikan primal yang membuat darah Lucien berdesir hangat.

​"Jangan menatap saya seperti itu," tegur Geneviève kaku. Ia mengangkat buku catatannya tinggi tinggi sebagai perisai. "Fokus pada tagihan Anda. Saya menerima pembayaran dalam bentuk emas murni, surat tanah, atau obligasi pelabuhan dagang pesisir."

​Dari sudut gerobak yang gelap, Odette yang sedang memegang seember air bersih dan kain pel kayu mendengus keras.

​"Hamba sudah bilang dari tadi, Nona. Jangan beri dia kelonggaran waktu. Pria ini memonopoli oksigen di dalam toko kita selama dua jam penuh saat dia pingsan. Kita harus menambahkan biaya pajak udara ke dalam tagihan tersebut," gerutu Odette tanpa rasa hormat sedikit pun.

​Lucien menoleh ke arah pelayan kecil yang galak itu dan justru tertawa lebih lepas. Tawa baritonnya yang berat menggema di dalam ruangan kayu yang sempit tersebut, terdengar sangat lepas dan bebas.

​"Aku akan membayar seluruh tagihanmu tanpa menawar, Geneviève," ucap Lucien dengan nada tegas yang kembali memancarkan otoritasnya sebagai komandan tertinggi pasukan elit Vaudémont. "Tetapi, aku memiliki satu penawaran bisnis yang menguntungkan untukmu."

​Geneviève menurunkan buku catatannya perlahan. Naluri kapitalisnya langsung merespons kata 'menguntungkan'.

​"Penawaran apa?" tanya Geneviève waspada. "Saya tidak menerima kerja sama dalam bentuk apa pun yang melibatkan faksi Putri Mahkota."

​Lucien mencondongkan tubuh atletisnya ke depan. Jarak mereka menyempit, membuat Geneviève bisa mencium aroma khas kayu pinus yang bercampur dengan hawa maskulin pria itu.

​"Siapa pun yang memasukkan racun ke dalam tubuhku, mereka belum selesai dengan rencana mereka," jelas Lucien dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Racun atau reaksi alkimia, apa pun yang kau yakini, efeknya masih tertinggal di kepalaku. Dan sepertinya keberadaanmu, serta logam murni dari cincinmu, adalah satu satunya hal yang bisa menetralkan rasa sakit itu sepenuhnya."

​Geneviève menyipitkan matanya. "Lalu apa yang Anda inginkan?"

​"Mari kita buat kesepakatan tanpa melibatkan sentimen masa lalu," tawar Lucien dengan seringai tipis yang menawan. "Biarkan aku berada di dekatmu setiap hari. Jadikan aku pelanggan tetapmu, atau mitra keamanan tokomu. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan perlindungan politik dan militer absolut dari seluruh kekuatan faksi Vaudémont untuk bisnis Le C'eow."

​Mata cokelat Geneviève sedikit melebar. Perlindungan politik Vaudémont? Itu berarti Le C'eow akan mendapatkan kekebalan hukum tingkat tinggi dari segala macam pajak liar, inspeksi mendadak kementerian, dan sabotase bea cukai yang mungkin dilancarkan oleh pamannya Putri Mahkota. Itu adalah tiket emas menuju monopoli pasar perhiasan kekaisaran.

​Rasa frustrasinya terhadap pria arogan ini seketika menguap, digantikan oleh kalkulasi keuntungan yang berlipat ganda di dalam kepalanya.

​"Anda menawarkan pasukan militer terkuat di kekaisaran sebagai tameng pelindung sebuah toko perhiasan keliling?" tanya Geneviève memastikan, berusaha keras menyembunyikan nada antusias yang siap meledak di suaranya.

​"Aku menawarkan seluruh kekuasaanku untuk memastikan tidak ada satu pun orang istana yang berani menyentuh gerobak kayu ini," koreksi Lucien lembut, menatap lurus ke kedalaman mata Geneviève. "Sebuah kesepakatan yang luar biasa menguntungkan bagi kedua belah pihak, bukan?"

​Geneviève berdehem pelan, berusaha menguasai dirinya. Alur novel mungkin mengatakan bahwa Lucien pada akhirnya akan menjadi algojonya, tetapi jika ia bisa menjadikan alat pembunuh itu sebagai anjing penjaga bisnisnya untuk saat ini, mengapa tidak? Kepentingan uang berdiri di atas segalanya.

​Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan sutra dengan sangat formal.

​"Kesepakatan bisnis diterima, Tuan Duke. Tetapi ingat, hubungan kita murni profesional. Jangan berharap saya akan menghibur Anda atau membacakan dongeng sebelum tidur jika racun itu membuat Anda berhalusinasi lagi esok hari," ancam Geneviève dengan wajah serius.

​Lucien menyambut uluran tangan itu. Jari jarinya yang besar dan kapalan akibat berlatih pedang menggenggam tangan Geneviève dengan erat. "Tentu saja, Nona Montmirail. Aku jauh lebih suka melihatmu menghitung koin emas daripada mengasihaniku."

​Odette memutar bola matanya dengan sangat dramatis hingga ia nyaris pusing sendiri.

​"Jika kalian berdua sudah selesai bermain negosiasi dagang yang membuat perut hamba mual, tolong segera keluar dari gerobak ini. Hamba harus menggosok karpet ini dengan sabun lye sebelum noda hitam menjijikkan itu mengering secara permanen," potong Odette tajam.

​Geneviève segera menarik tangannya kembali dari genggaman Lucien. "Buka pintunya, Odette. Biarkan ksatria bayangannya di luar sana tahu bahwa majikannya masih bernapas dan tidak kami jadikan tumbal."

​Odette melangkah menuju pintu belakang gerobak dan memutar kuncinya. Pintu kayu berderit terbuka, memperlihatkan Gaspard yang berdiri tegap bagaikan patung gargoyle pelindung kuil.

​Melihat pintu terbuka, wajah kaku Gaspard sedikit mengendur saat matanya menangkap sosok Lucien yang sedang mengancingkan kembali kemejanya dalam keadaan sehat bugar.

​"Syukurlah Anda selamat, Tuan Duke. Saya hampir saja memberikan perintah kepada divisi satu ksatria elit untuk mengepung gerbang Istana Soleil malam ini juga," lapor Gaspard dengan nada militeristik yang kental.

​Odette langsung memukul lengan berlapis zirah Gaspard menggunakan ujung gagang kain pelnya.

​"Jangan bodoh! Mengepung istana hanya akan membuat kita semua digantung massal di alun alun ini besok pagi. Bawa majikanmu pulang sekarang. Kalian berdua membuang waktu hamba mengepel lantai," omel pelayan itu.

​Gaspard tidak menghindar dari pukulan tersebut. Ksatria itu justru menunduk menatap kain pel kotor yang baru saja mengenai lengannya, lalu menatap Odette lekat lekat dengan wajah serius.

​"Sudut ayunan Anda sangat presisi, Nona Odette. Jika Anda menggunakan gada besi berantai alih alih kain pel kayu, pukulan tadi memiliki potensi meremukkan tulang rusuk manusia dewasa dalam satu kali serangan," puji Gaspard dengan nada datar yang teramat sangat tulus dan analitis.

​Odette tertegun sejenak. Wajah pelayan kecil itu mendadak memerah padam karena evaluasi pertempuran yang sangat tidak terduga tersebut. "Hamba... hamba tahu itu! Berhenti menganalisis pukulan hamba dan cepat angkat kaki kalian dari sini!"

​Lucien terkekeh pelan melihat interaksi dua bawahannya yang selalu berhasil menghibur hatinya. Pria itu berdiri, menepuk sisa debu di jubah kulit hitamnya, dan menatap Geneviève sekali lagi.

​"Aku akan mengirimkan kontrak kesepakatan militer kita besok pagi, beserta tiga ratus ribu koin emas yang kau minta, Nona Montmirail," pamit Lucien. "Mulai besok siang, ksatria Vaudémont akan mengawasi keamanan tokomu dari jarak dekat."

​"Saya menantikan emasnya tiba sebelum makan siang. Selamat malam, Tuan Duke," balas Geneviève singkat, mempertahankan aura pengusaha rasionalnya tanpa cela.

​Lucien dan Gaspard akhirnya melangkah keluar, berjalan menjauh dan perlahan menghilang ke dalam bayangan malam kota Lumière yang mulai sepi.

​Setelah mereka benar benar pergi, Geneviève membantu Odette mengunci seluruh panel baja gerobak. Mereka berdua memanggil kusir keluarga untuk menarik etalase mewah itu kembali ke kediaman Montmirail dengan pengawalan tertutup.

​Sepanjang perjalanan pulang di dalam kereta yang berguncang pelan, pikiran Geneviève berputar liar. Kesepakatan dengan Vaudémont memang akan mengamankan posisinya secara finansial. Namun, ada satu hal yang terus mengganggu logika sempurnanya.

​Lucien menyebutkan bahwa ingatannya dimanipulasi dan seluruh catatan masa lalunya dibakar oleh pihak yang tidak dikenal. Meskipun Geneviève menolak percaya pada kisah cinta tragis masa lalu, rasa penasarannya sebagai seorang wanita berpendidikan yang selalu mencari fakta mulai terpancing.

​Apakah tubuh aslinya di masa lalu benar benar seorang penguntit gila yang hina? Atau ada konspirasi politik lain yang bahkan tidak ditulis di dalam novel murahan tersebut?

​Sesampainya di kediaman Montmirail, Geneviève langsung menuju kamarnya yang luas dan mengunci pintu rapat rapat. Ia mengabaikan rasa lelahnya. Ia berlutut di sudut ruangan, menarik tiga buah koper kulit besar yang berdebu dari bawah ranjang kanopinya. Koper koper itu adalah tempat penyimpanan barang barang lama milik tubuh aslinya.

​Ia membuka koper pertama dan kedua secara berurutan. Ia hanya menemukan tumpukan gaun merah menyala yang norak, pita pita tebal, dan kotak perhiasan kosong. Ia membuang napas kecewa. "Tentu saja. Hanya barang barang tidak berguna dari seorang penjahat yang terlalu dimanja."

​Namun, saat ia membuka pengait kuningan koper ketiga, jemari Geneviève menyentuh sebuah benda berbentuk persegi panjang yang keras di bawah tumpukan selimut musim dingin yang sudah usang.

​Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah sebuah buku tebal bersampul kulit merah tua. Debu tebal menutupi sampulnya, menandakan benda itu sudah tidak disentuh selama bertahun tahun.

​Geneviève mengusap debu tersebut dengan telapak tangannya. Matanya langsung terpaku pada ukiran tinta emas yang mulai memudar di bagian tengah sampul. Sebuah kalimat tulisan tangan yang sangat indah.

​'Untuk Lucien.'

​Jantung Geneviève berdetak kencang menghantam tulang rusuknya. Apakah ini jurnal obsesi gila milik tubuh aslinya? Apakah di dalamnya berisi rencana rencana tentang bagaimana ia menjiplak desain bros milik sang Duke demi kepuasan sepihak?

​Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka pengait perak kecil di sisi buku tersebut. Ia membalik sampul keras itu, mempersiapkan mentalnya untuk membaca tulisan delusi dari wanita yang malang ini.

​Namun, saat matanya menatap ke bagian dalam, napas Geneviève seketika terhenti di kerongkongan. Matanya terbelalak lebar, memancarkan keterkejutan murni yang menghancurkan ekspektasinya.

​Buku harian itu kosong.

​Bukan kosong karena belum ditulisi tinta, melainkan karena telah dihancurkan dengan sengaja. Halaman pertama hingga halaman terakhir telah dirobek dengan sangat kasar. Sisa sisa potongan kertas tidak rata terlihat menempel pada bagian tulang jilidan, membuktikan bahwa seseorang telah mencabut seluruh lembaran lembaran itu secara paksa menggunakan tenaga yang besar.

​Geneviève mencengkeram sampul kulit itu erat erat. Logikanya langsung memproses temuan janggal ini dengan kecepatan tinggi.

​"Seseorang telah menyelinap ke kamarku di masa lalu dan menghancurkan buku harian ini," bisik Geneviève pada dirinya sendiri. "Jika isinya hanya tulisan gila seorang penguntit yang bertepuk sebelah tangan, mengapa ada orang yang repot repot mempertaruhkan nyawa menyelinap ke kediaman Duke hanya untuk merobeknya?"

​Hanya ada satu kesimpulan rasional yang tersisa. Buku harian ini berisi informasi rahasia yang sangat berbahaya bagi faksi kerajaan. Fakta yang harus dilenyapkan bersamaan dengan ingatan Lucien.

​Di tengah kebingungan dan kecurigaan yang merayap naik, pandangan Geneviève tertuju pada satu potongan kertas kecil yang tersangkut di bagian paling belakang jilidan buku. Sebuah sobekan tidak sempurna yang tertinggal akibat kecerobohan sang pelaku.

​Geneviève mendekatkan sobekan kertas kusam itu ke arah cahaya lilin di meja riasnya. Hanya ada dua kata tidak utuh yang tertulis di sana menggunakan tulisan tangan pria yang sangat tegas dan familier.

​'...cinta sejati...'

​Geneviève menelan ludah dengan susah payah. Kepalanya mendadak pening. Apakah mungkin... tubuh aslinya tidak pernah bertepuk sebelah tangan? Apakah seluruh narasi novel yang ia jadikan pedoman hidup selama ini hanyalah kebohongan besar yang dirancang untuk menutupi kebenaran yang jauh lebih mematikan?

​Misteri ini bukan lagi sekadar urusan patah hati, melainkan konspirasi pembunuhan karakter berskala kekaisaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!