Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunang-Kunang di Tepi Kolam
Malam belum sepenuhnya turun di Hutan Kota Srengseng, namun langit sudah berubah warna menjadi gradasi ungu tua yang bercampur jingga tipis di ufuk barat. Lampu-lampu taman yang berbentuk bola kaca kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang jalur setapak, memantulkan cahaya keemasan yang lembut ke permukaan kolam retensi yang tenang tak berombak.
Tiara Puspita masih duduk bersandar di bahu Arya, namun tiba-tiba, seolah sesuatu di dalam dadanya bergolak dan tidak sanggup lagi ditahan, ia bangkit berdiri. Kaleng soda yang sudah setengah kosong ia letakkan di bangku kayu, lalu ia berjalan cepat menuju tepi kolam, sepatu spike-nya yang masih berlumur tanah lintasan menghentak tanah becek tanpa peduli.
"Arya," panggilnya, suaranya masih agak serak bekas menangis, namun ada nada baru di dalamnya—sesuatu yang menyerupai keberanian nekat yang muncul begitu saja. "Sini deh. Gua mau ngelakuin sesuatu yang gila."
Arya berdiri, mengikuti langkah Tiara dengan alis berkerut heran. "Ngelakuin apa, Nona Tiara? Jangan bilang lu mau nyebur ke kolam."
"Bukan," Tiara menggeleng, menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas dalam-dalam seperti seorang pelari yang bersiap di garis start. "Gua mau teriak. Maki-maki sepuasnya. Bukan ke orang, cuma... ke udara kosong. Biar semua yang numpuk di dada gua keluar."
Tanpa menunggu jawaban Arya, Tiara menghadap ke arah kolam yang mulai gelap, menarik napas dalam-dalam sekali lagi, lalu berteriak sekencang-kencangnya dengan suara yang biasa ia pakai untuk memacu diri sendiri di detik-detik terakhir lomba lari seratus meter.
"DASAR PELATIH BUAYA DARAT KAMPRET! MONYET BAU! KADAL BINTIT! KECOA BUNTING! MUKA GEPENG! BABI NGEPET! DINOSAURUS! BRONTOSAURUS! KIRIK LU, PAK IRWAN SETIADI!!!"
Suaranya menggema di antara pepohonan trembesi, memantul pelan lalu perlahan hilang ditelan hutan kota yang sunyi. Beberapa burung malam yang tadinya bertengger di dahan pohon terbang berhamburan kaget, namun Tiara tidak peduli. Ia justru tertawa—tawa yang lepas, tawa yang bercampur isak, tawa yang keluar dari seseorang yang baru saja membebaskan sebagian beban paling berat yang selama ini ia pikul sendirian.
Air mata kembali menetes di sudut matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan murni—melainkan air mata yang lahir dari kelegaan, seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah menahan tekanan bertahun-tahun.
Arya berdiri terpaku sejenak, terkejut melihat ledakan emosi yang begitu jujur dan lucu di saat bersamaan. Namun sebelum ia sempat berkomentar, Tiara berbalik, wajahnya masih basah namun kini dihiasi senyuman lebar, matanya berbinar dengan sisa air mata yang berkilau memantulkan cahaya lampu taman.
"Ayo, Arya! Kamu juga!" seru Tiara riang, dan tanpa sadar tangannya sudah lebih dulu menggapai pergelangan tangan Arya, menariknya mendekat ke tepi kolam dengan semangat seorang anak kecil yang mengajak temannya bermain.
"Eh—tunggu, Tiara, gua nggak—" Arya berusaha protes, namun genggaman tangan Tiara yang hangat dan penuh semangat membuatnya kehilangan alasan untuk menolak.
*"Ya udahlah,"* batin Arya sambil menghela napas pasrah, merasakan sesuatu di dadanya yang sejak semalam terasa berat kini ikut bergolak, mencari jalan keluar yang sama. *"Toh gua juga punya banyak yang perlu diteriakin. Nayla, sistem gila ini, semua tekanan yang numpuk—biar sekali ini aja gua ikutan gila."*
Arya menghadap ke kolam, menarik napas dalam-dalam persis seperti yang dilakukan Tiara, lalu berteriak dengan suara baritonnya yang berat, menggetarkan udara malam yang tadinya sunyi.
"DASAR CEWEK PENGKHIANAT PENGECUT! KUCING GARONG! ULAR SANCA! KUPU-KUPU MALAM YANG KEPILIH PROYEK DUBAI! BUAYA BETINA! KADAL GURUN! TIKUS GOT KEBANJIRAN! SETRIKA PANAS! NYAMUK DEMAM BERDARAH!"
Teriakan itu keluar begitu saja, campur aduk antara umpatan konyol yang asal ia rangkai dan luapan emosi sungguhan yang selama ini ia simpan rapat-rapat di balik senyum profesionalnya sebagai driver ojol. Suaranya bergetar di kalimat terakhir, namun ia terus meneriakkannya sampai habis napas, seolah setiap kata yang terlontar membawa serta sekeping kepedihan yang terlepas dari dadanya.
Begitu selesai, Arya terengah, dadanya naik turun, namun ada sesuatu yang terasa jauh lebih ringan di dalam sana—seolah beban yang sejak semalam menghimpitnya kini sedikit terangkat.
Tiara menatapnya dengan mata berbinar, lalu tanpa bisa ditahan lagi, keduanya meledak dalam tawa yang begitu lepas, begitu tulus, menggema bersama di tepi kolam yang mulai gelap. Tawa Tiara terdengar renyah, campuran antara geli dan haru, sementara tawa Arya lebih dalam dan berat, namun sama-sama membawa kelegaan yang jarang mereka rasakan belakangan ini.
"Kirik lu, Pak Irwan?!" Arya terbahak sambil memegangi perutnya. "Serius, Tiara, itu makian paling ganas yang pernah gua denger seumur hidup!"
"Lah, punya lu juga nggak kalah ganas! Kucing garong sama kadal gurun dari mana asalnya tuh?!" balas Tiara sambil ikut tertawa, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena tawa yang begitu lepas hingga air matanya sendiri ikut keluar.
Mereka berdua tertawa bersama, begitu keras, begitu bebas, sampai tanpa disadari keduanya, jari-jari tangan mereka yang sejak tadi masih bertautan—sisa dari tarikan Tiara sebelumnya—kini justru semakin erat menggenggam, seolah kedua telapak tangan itu menemukan kenyamanan sendiri tanpa perlu perintah dari otak masing-masing pemiliknya.
Perlahan, tawa mereka mereda, berganti menjadi senyuman yang masih tersisa di wajah masing-masing. Namun begitu keheningan mulai turun kembali, keduanya menyadari betapa dekatnya jarak wajah mereka—begitu dekat hingga Arya bisa merasakan hembusan napas Tiara yang masih agak tersengal bekas tertawa dan berteriak, begitu dekat hingga Tiara bisa melihat dengan jelas setiap detail rahang tegas Arya yang diterangi cahaya lampu taman yang keemasan.
Waktu seolah berhenti sejenak. Suara jangkrik yang tadi ramai kini terasa menjauh, digantikan oleh detak jantung mereka masing-masing yang mulai berpacu dengan ritme yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Di belakang mereka, di atas permukaan kolam retensi yang tenang, satu per satu titik cahaya kecil mulai muncul—kunang-kunang yang keluar dari sarangnya begitu malam benar-benar turun, melayang pelan di udara lembap taman, menciptakan pemandangan seperti serpihan bintang yang jatuh dan memilih untuk tinggal sejenak di antara rerumputan dan permukaan air. Cahaya keemasan lampu taman berpadu dengan kelap-kelip kunang-kunang itu, membungkus keduanya dalam suasana yang begitu syahdu, begitu magis, seolah alam semesta sengaja menciptakan panggung untuk sebuah momen yang tidak lagi bisa mereka tunda.
Tiara menatap mata Arya dalam-dalam, dan di dalam tatapan itu, Arya bisa melihat sebuah gejolak—campuran antara luka yang belum sembuh, kelegaan yang baru saja ia rasakan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih membakar, yang selama ini ia tekan bersamaan dengan seluruh kesedihannya.
"Arya," bisik Tiara, suaranya bergetar, bukan lagi karena tangis, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih menegangkan. "Gua capek banget. Capek nahan semuanya sendirian. Capek jadi kuat terus."
"Lu nggak perlu selalu kuat, Tiara," jawab Arya lembut, suaranya rendah dan hangat, tangannya yang masih bertaut dengan tangan Tiara mengeratkan genggaman itu tanpa sadar. "Kadang, boleh kok jadi lemah sebentar. Gua di sini."
Kalimat itu seolah menjadi pemicu terakhir yang meruntuhkan seluruh pertahanan Tiara. Dengan gerakan yang begitu cepat, begitu mendesak, seolah didorong oleh gelombang emosi yang sudah tidak bisa lagi ia bendung, Tiara menarik kerah jaket hijau-perak Arya dengan kedua tangannya, memangkas seluruh jarak yang tersisa di antara mereka.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang jauh berbeda dari apa pun yang pernah Arya rasakan sebelumnya. Bukan sentuhan lembut dan malu-malu seperti yang dulu diberikan Alya di depan gerbang rumahnya—ciuman ini penuh dengan intensitas yang membara, penuh dengan luapan emosi yang selama ini terpendam, seolah Tiara sedang mencurahkan seluruh kepedihan, kemarahan, dan kelegaannya sekaligus melalui satu sentuhan.
Arya tersentak kaget sepersekian detik, tubuhnya menegang oleh keterkejutan yang luar biasa. Namun sebelum logikanya sempat mengambil alih, ia merasakan Tiara menjulurkan lidahnya perlahan, mencari akses yang lebih dalam dengan keberanian seorang atlet yang terbiasa mengambil keputusan cepat dalam hitungan detik.
*"Ya Tuhan... ini... ini beda banget sama yang kemarin,"* batin Arya, pikirannya berkecamuk antara logika yang mencoba menahan diri dan gelombang perasaan yang jauh lebih kuat, lebih primal, yang mendesak untuk membalas. Sisa kepedihan tentang Nayla, tentang segala tekanan sistem yang menghimpitnya, tentang lelahnya menjadi kuat di depan semua orang—semua itu bercampur menjadi satu gelombang emosi yang sama seperti yang dirasakan Tiara.
Perlahan, pertahanan mental Arya runtuh sepenuhnya. Ia membalas ciuman itu, tangannya yang bebas bergerak naik menyentuh pipi Tiara dengan lembut, sementara bibirnya mengikuti ritme yang diberikan gadis atlet itu—sebuah pelepasan yang jujur, tanpa filter, tanpa kepura-puraan, hanya dua jiwa yang sama-sama terluka dan mencari penghiburan dalam kehangatan satu sama lain.
Angin malam yang lembap membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga liar di sekitar taman, berpadu dengan aroma keringat dan parfum ringan yang menguar dari tubuh keduanya. Kunang-kunang di belakang mereka semakin banyak berkumpul, melayang pelan seperti menyaksikan momen itu dengan cahaya kecil mereka yang berkelip-kelip lembut, menciptakan latar yang begitu puitis, begitu magis, seolah alam semesta sengaja merestui pertemuan dua hati yang terluka ini.
Ciuman itu berlangsung lama, dalam, penuh dengan gejolak emosi yang saling melebur—bukan sekadar ciuman romantis biasa, melainkan sebuah katarsis, sebuah pelepasan dari beban yang selama ini mereka pikul sendirian. Tiara merasakan dadanya yang tadinya sesak oleh kekecewaan kini perlahan terisi oleh kehangatan yang asing namun menenangkan, sementara Arya merasakan luka tentang Nayla yang semalam masih begitu perih kini seolah mendapat pelipur yang tidak ia duga akan datang dari arah ini.
Perlahan, ciuman itu melambat, menjadi lebih lembut, lebih hati-hati, sebelum akhirnya keduanya menarik diri dengan napas yang sama-sama terengah. Tiara menyandarkan dahinya di dahi Arya, matanya masih terpejam, air mata yang tersisa kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih hangat—rasa syukur, rasa lega, dan sebuah perasaan baru yang belum sepenuhnya ia pahami.
"Maaf," bisik Tiara pelan, suaranya masih bergetar, matanya perlahan terbuka menatap mata Arya yang juga masih menyimpan gejolak yang sama. "Gua nggak tau kenapa tiba-tiba... gua cuma... gua cuma pengen punya kebahagiaan, setelah semua kebohongan dan pengkhianatan yang gua alamin."
Arya menatap Tiara lama, tangannya masih lembut mengusap pipi gadis itu, menghapus sisa air mata yang masih membekas. "Gua ngerti. Kadang, kita butuh suatu alasan yang jujur, buat ngingetin kita kalau kita masih hidup, masih bisa ngerasain kebahagiaan, di tengah semua kepalsuan yang bikin kita ragu sama diri kita sendiri."
Keduanya berdiri diam sejenak, saling menatap di bawah cahaya lampu taman yang keemasan, dikelilingi kunang-kunang yang masih melayang pelan di sekitar kolam, menciptakan momen yang begitu intim, begitu rapuh, namun juga begitu menyembuhkan.
"Arya," Tiara akhirnya berbisik lagi, suaranya kini lebih tenang, lebih mantap. "Gua tau ini aneh. Gua tau lu mungkin punya... banyak hal lain yang lagi lu urusin. Tapi malam ini, buat pertama kalinya sejak kejadian itu, gua ngerasa nggak sendirian. Makasih ya, Ya!. Lu udah ada buat gua hari ini."
Arya tersenyum tipis, senyuman yang menyimpan kelegaan yang sama dalamnya dengan yang dirasakan Tiara. "Hemm.. Lu harus inget ya, kalo lu itu kuat banget, Lu udah berani Nolak tawaran busuk kayak gitu, terus tetep berdiri tegak meskipun dikhianatin sistem yang harusnya ngelindungin lu. Itu bukan kekalahan lu Ra.. Itu justru keberanian dan penghargaan paling besar buat diri Lu sendiri."
Tiara tersenyum, air matanya kini benar-benar kering, digantikan oleh binar mata yang penuh dengan sesuatu yang baru—harapan yang perlahan tumbuh kembali di tengah reruntuhan mimpi yang sempat hancur.
Di saku jaket premium Arya, God-Phone bergetar pelan sekali lagi, cahayanya yang biasanya keemasan kali ini memancarkan warna lembut kebiruan yang menenangkan.
[Catatan Sistem: Beberapa luka disembuhkan bukan lewat kata-kata bijak, melainkan lewat keberanian untuk sama-sama menjadi rapuh. Malam ini, kedua hati yang terluka telah saling menemukan sedikit kedamaian yang mereka butuhkan.]
Arya membaca notifikasi itu diam-diam sambil menggenggam tangan Tiara yang masih menempel erat di jaketnya, membiarkan keduanya berdiri di tepi kolam yang kini dipenuhi kunang-kunang, membiarkan malam Jakarta Selatan yang syahdu menjadi saksi bisu dari sebuah momen yang tidak pernah mereka rencanakan, namun terasa begitu benar untuk terjadi.
Namun jauh di lubuk hatinya, di antara kehangatan yang baru saja ia rasakan, Arya juga menyadari sesuatu yang mulai mengusik pikirannya—bahwa malam ini, tanpa ia sadari, ia baru saja menambah satu lagi kepingan rumit dalam pusaran takdir asmara yang sudah lama ia coba hindari. Alya yang menyimpan sapu tangannya, Citra yang menyimpan restu ibunya, Nadia yang menyimpan obsesi yang semakin dalam, dan kini Tiara, yang baru saja berbagi ciuman paling jujur yang pernah ia rasakan—semuanya kini menyatu dalam satu benang kusut yang cepat atau lambat harus ia hadapi dengan kejujuran yang sama seperti yang baru saja mereka teriakkan bersama di tepi kolam malam ini.
Untuk sekarang, biarlah kunang-kunang itu terus berkelip, biarlah malam ini menjadi milik mereka berdua saja—dua jiwa yang terluka, yang menemukan sedikit kedamaian di tengah hutan kota yang sunyi, sebelum esok pagi datang membawa serta seluruh konsekuensi dari apa yang baru saja mereka mulai malam ini.