Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Pekan di Bogor dan Kelegaan Sang Ayah
Untuk pertama kalinya sejak Aluna kembali ke rumah, Inspektur Arya Larasati mengambil cuti akhir pekan. Pria paruh baya itu ingin menghabiskan waktu bersama putri tunggalnya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. Tanpa niat menguji atau menyelidiki, Inspektur Arya secara spontan mengundang Aluna dan "Arkanza" ke sebuah klub rekreasi eksklusif di dataran tinggi Bogor, tempat di mana sang polisi biasanya melepas penat dari tugas-tugas beratnya.
Sabtu pagi itu terasa sangat sejuk dan santai. Tidak ada ketegangan, hanya suasana hangat seorang ayah yang ingin mengenal calon menantunya lebih dekat melalui hobi-hobinya.
Aluna duduk di area tribun berkanopi, menyesap teh hangat sambil tersenyum melihat interaksi dua pria yang paling ia sayangi. Di lapangan panahan, Inspektur Arya baru saja melepaskan anak panah yang menancap nyaris di tengah target.
"Bapak sudah lama tidak latihan, bidikannya jadi sedikit meleset," kekeh Inspektur Arya sambil menurunkan busurnya. Ia lalu menoleh pada Arjuna dan menyodorkan busur itu dengan santai. "Mau coba, Nak Arkanza? Buat seru-seruan saja."
Arjuna tersenyum ramah dan menerima busur itu. Ia melangkah maju dengan santai. Tidak ada ketegangan di wajahnya. Ia menarik tali busur, membidik sekilas, dan melepaskan anak panah. *Srak!* Anak panah Arjuna menancap tepat di titik merah, tepat di sebelah anak panah Inspektur Arya.
Inspektur Arya melebarkan matanya, terkejut sekaligus takjub. "Wah, tembakan yang luar biasa! Kau sering memanah?"
"Dulu saya sering ikut berburu di hutan Selandia Baru bersama rekan bisnis, Pak," jawab Arjuna merendah, senyumnya tampak begitu natural. "Hanya untuk melatih fokus saat sedang penat."
"Bagus, bagus sekali. Nanti kita harus sering-sering latihan bareng," puji Arya sambil menepuk bahu Arjuna dengan akrab.
Kegiatan mereka berlanjut ke area istal kuda. Inspektur Arya ingin memperlihatkan kuda jantan hitam ras *Thoroughbred* kesayangannya. Namun, hari itu kuda tersebut tampak gelisah dan meringkik saat penjaga mencoba mendekatinya.
Tanpa diminta, Arjuna melangkah maju dengan tenang. Aura dominasi yang biasanya ia gunakan di dunia bawah tanah kini ia ubah menjadi ketenangan yang menyejukkan. Ia mengusap leher kuda itu dengan lembut, membisikkan sesuatu yang membuat hewan besar itu mendadak diam dan mendengus jinak. Saat Arjuna menuntun kuda itu keluar dan memacunya berkeliling lapangan dengan postur berkuda yang sangat elegan, Inspektur Arya yang mengawasinya dari pagar kayu tak bisa menyembunyikan senyum kekagumannya.
Menjelang sore, cuaca mulai mendung. Inspektur Arya mengajak Arjuna masuk ke dalam *dojo* atau ruang latihan bela diri milik klub tersebut. Sang perwira polisi itu telah mengganti pakaiannya dengan baju *gi* (seragam bela diri), bersiap mencari keringat.
"Arkanza, kalau kau tidak keberatan, temani Bapak cari keringat sebentar," ajak Inspektur Arya sambil melemparkan sepasang sarung tinju ke arah Arjuna. "Sudah lama Bapak tidak punya teman *sparring* yang seimbang di sini. Hitung-hitung olahraga ringan sebelum kita makan malam."
Arjuna menangkap sarung tinju itu sambil tersenyum sopan. "Dengan senang hati, Pak."
Aluna yang baru saja masuk ke dalam *dojo* langsung menahan napas. *Berkelahi.* Arjuna adalah Baskara, monster dalam pertarungan jarak dekat. Bagaimana jika refleks membunuhnya mengambil alih?
Arjuna naik ke atas matras. Ia menatap Aluna sekilas, memberikan isyarat dari sudut matanya agar wanita itu tenang.
Latihan dimulai. Inspektur Arya menyerang dengan teknik bela diri taktis militer yang cepat dan kuat. Bukannya membalas dengan teknik mematikan dari jalanan, Arjuna menggunakan gerakan MMA komersial standar yang biasa diajarkan di *gym* elit. Ia banyak menghindar, menangkis dengan presisi, dan sesekali membalas pukulan dengan takaran tenaga yang pas—cukup untuk mengimbangi sang Inspektur tanpa terlihat seperti seorang pembunuh terlatih.
Arjuna menari di atas matras dengan sangat lihai, menjaga ritme agar Inspektur Arya benar-benar menikmati sesi olahraga mereka. Ketika Inspektur Arya mencoba melakukan bantingan judo, Arjuna merespons dengan pertahanan yang luar biasa kokoh, membuat mereka berdua sama-sama tertawa karena kehilangan keseimbangan.
Setelah lima belas menit bertukar keringat, Inspektur Arya akhirnya mengangkat tangan, tertawa lepas sambil terengah-engah.
"Astaga, tulang tuaku benar-benar diuji hari ini," kekeh Inspektur Arya, berjalan mendekat dan merangkul bahu Arjuna dengan sangat akrab. "Kau punya refleks yang sangat luar biasa, Nak. Stamina dan pertahananmu pantas diacungi jempol."
Arjuna membungkuk hormat sambil tersenyum. "Bapak masih sangat tangguh. Saya nyaris kewalahan menahan pukulan Bapak."
Inspektur Arya tertawa, lalu menoleh ke arah Aluna yang berdiri di pinggir matras dengan raut wajah lega. Sang polisi senior itu kembali menatap Arjuna. Kali ini, sisa tawa di wajahnya perlahan berganti menjadi sebuah tatapan yang sangat dalam dan lembut.
Bukan tatapan seorang penegak hukum, melainkan tatapan seorang ayah.
"Arkanza..." suara Inspektur Arya merendah. "Bapak ini seorang polisi. Pekerjaan Bapak penuh dengan musuh dan bahaya. Sejak Aluna kecil, ketakutan terbesar Bapak adalah... Bapak tidak bisa selalu ada di sampingnya untuk melindunginya jika sesuatu yang buruk terjadi."
Inspektur Arya mencengkeram bahu Arjuna, menatap tepat ke dalam mata kelam pria di hadapannya.
"Bapak mengundangmu ke mari hari ini murni hanya ingin bersantai," lanjut Inspektur Arya, matanya sedikit berkaca-kaca. "Tapi setelah melihat bagaimana kau fokus, bagaimana kau menenangkan kuda yang gelisah itu, dan bagaimana kau bertarung dengan sangat tangguh tadi... hati Bapak tiba-tiba merasa sangat lega."
Arjuna terdiam, napasnya seolah terhenti mendengar kejujuran pria paruh baya itu.
"Bapak akhirnya bisa bernapas lega, Arkanza," bisik Inspektur Arya. "Bapak tahu, putri kesayangan Bapak akan berada di tangan pria yang kuat, tenang, dan bisa diandalkan. Tolong... jaga Aluna untuk Bapak, ya?"
Mendengar kata-kata itu, dada Arjuna terasa seperti dihantam godam raksasa.
Beban kebohongan ini terasa begitu menyesakkan. Inspektur Arya baru saja menitipkan nyawa putrinya kepada Baskara—iblis yang selama ini menjadi target buruannya. Namun di saat yang sama, Arjuna merasakan sebuah kehangatan yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Untuk pertama kalinya, ia diterima bukan karena seberapa menakutkan dirinya, melainkan karena ia dipercaya bisa melindungi seseorang.
Arjuna menelan empedu rasa bersalah di tenggorokannya. Ia menatap mata Inspektur Arya, dan kali ini, tidak ada setitik pun sandiwara dalam balasannya.
"Saya berjanji dengan seluruh hidup dan nyawa saya, Pak," ucap Arjuna sungguh-sungguh, suaranya sedikit parau. "Selama saya masih bernapas, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Aluna. Saya akan menjaganya... melebihi nyawa saya sendiri."
Aluna, yang sedari tadi mendengarkan, merasakan matanya memanas. Ia melangkah maju dan memeluk lengan ayahnya, lalu tersenyum ke arah Arjuna. Di dalam dojo sederhana itu, batas antara dunia gelap Arjuna dan dunia terang Aluna semakin memudar, digantikan oleh sebuah ikatan keluarga yang hangat, meski dibangun di atas sebuah rahasia yang sangat mematikan.