Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Malu
Pagi itu, Ophelia memutuskan untuk tidak turun ke ruang makan untuk sarapan. Dia memanggil Brigite, pelayan setia yang selalu melayaninya.
"Brigite, bisakah kau membawakan sarapanku ke kamar hari ini?" pinta Ophelia dengan suara yang berusaha terdengar tenang.
Brigite mengangguk dengan senyum pengertian. "Tentu saja, Nyonya. Apakah ada yang tidak beres? Kau terlihat pucat."
"Tidak, aku hanya ... kurang tidur tadi malam. Badai membuatku sulit tidur."
Brigite mengangguk, tapi matanya menyiratkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya. "Baiklah, Nyonya. Aku akan segera kembali dengan sarapan yang lezat."
Ketika Brigite pergi, Ophelia duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan bingung dan galau. Dia tidak tahu apakah Bleiz sudah bangun.
Dia tidak tahu apakah pria itu menyadari bahwa dia memeluknya semalaman. Dan dia tidak tahu bagaimana dia akan menghadapinya nanti.
“Bagaimana bisa dia tidur di sebelahku? Aaaahh … ini memalukan. Jelas saja dia akan tidur di ranjangnya. Dan aku … aku merebut ranjangnya semalam.” Ophelia menggigit-gigit bibirnya karena panik.
*
*
Sarapan tiba di kamarnya, tapi Ophelia hanya memainkan makanan di piringnya. Pikirannya terus terarah ke kamar di sebelah, ke pria yang mungkin saat ini sedang duduk di ruang makan, menunggunya turun.
"Nyonya, apakah makanannya tidak enak?" tanya Brigite dengan khawatir.
"Tidak, makanannya enak. Aku hanya tidak lapar," jawab Ophelia dengan senyum tipis.
Brigite menghela napas. "Nyonya, maaf jika aku terlalu lancang, tapi aku sudah bekerja di kastil ini selama sepuluh tahun. Aku belum pernah melihat Tuan Bleiz membawa seorang wanita ke kastil ini, apalagi menikahinya. Tuan Bleiz adalah pria yang ... rumit. Tapi aku bisa melihat bahwa dia peduli padamu."
Ophelia menatap Brigite dengan heran. "Peduli? Dia menculikku, Brigite. Dia memaksaku menikah dengannya dengan mengancamku dan keluargaku. Itu bukan peduli, itu ... itu gila."
Brigite tersenyum lembut. "Mungkin kau benar, Nyonya. Tapi pria yang gila tidak akan memerintahkan kami untuk menyiapkan kamar terbaik untukmu, atau memastikan bahwa kau mendapatkan buku-buku favoritmu di perpustakaan, atau memerintahkan taman dirawat dengan baik karena kau suka berjalan-jalan di sana. Tuan Bleiz mungkin tidak mengatakannya dengan kata-kata, tapi dia menunjukkan perhatiannya dengan cara-caranya sendiri."
Ophelia terdiam. Dia tidak pernah menyadari hal-hal itu. Selama ini dia sibuk membenci Bleiz, sibuk memikirkan cara untuk melarikan diri, sehingga dia tidak melihat detail-detail kecil yang mungkin menunjukkan bahwa pria itu tidak sepenuhnya jahat.
"Tapi dia seorang Mafia," bisik Ophelia. "Dia melakukan hal-hal kejam."
Brigite menghela napas panjang. "Dunia ini tidak hitam dan putih, Nyonya. Tuan Bleiz mungkin melakukan hal-hal yang tidak kau setujui, tapi dia juga melakukan banyak kebaikan. Dia menyelamatkan banyak orang, memberikan pekerjaan pada mereka yang membutuhkan, melindungi mereka yang lemah. Hanya saja, caranya ... berbeda."
Ophelia menatap Brigite dengan tatapan baru. "Kenapa kau memberitahuku semua ini?"
"Karena aku melihat kebingungan di matamu, Nyonya. Dan aku ingin kau tahu bahwa tidak semua hal di kastil ini seperti yang kau bayangkan." Brigite membungkuk sopan. "Aku akan meninggalkanmu sekarang. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku."
“Tunggu. Apakah Bleiz sudah ada di bawah?” tanya Ophelia.
“Belum, Nyonya.”
Setelah Brigite pergi, Ophelia duduk termenung lama. Kata-kata Brigite terus terngiang di kepalanya. ‘Dia menunjukkan perhatiannya dengan cara-caranya sendiri.’
Ophelia teringat malam badai semalam. Bagaimana Bleiz membiarkannya masuk ke kamarnya, bagaimana dia menawarkan tempat tidurnya, bagaimana dia tetap di meja kerjanya sepanjang malam atau setidaknya sampai dia tertidur.
Dan bagaimana dia bangun dengan memeluk pria itu, yang berarti Bleiz bisa melakukan sesuatu yang diinginkannya, yaitu membuatkan hamil. Tapi Bleiz tak melakukan itu tanpa izinnya.
*
*
Akhirnya, ketika senja tiba, Ophelia memutuskan untuk turun ke ruang makan. Dia tidak bisa terus menghindari Bleiz selamanya. Lagipula, dia adalah istrinya, setidaknya di atas kertas. Dan dia harus menghadapinya cepat atau lambat.
Ketika dia memasuki ruang makan, Bleiz sudah duduk di kursinya. Pria itu tak pernah melewatkan makan pagi dan malam bersama Ophelia. Dan Ophelia baru menyadari hal itu.
Bleiz menatapnya dengan ekspresi yang datar. Tidak ada kemarahan, tidak ada ejekan, hanya tatapan datar yang membuat Ophelia justru semakin gelisah.
"Kau akhirnya datang," katanya, suaranya tenang, seperti biasanya.
Ophelia mengangguk dan duduk di hadapannya. "Maaf aku tidak turun tadi pagi. Aku ..."
"Kau tidak perlu menjelaskan," potong Bleiz. "Aku tahu kau malu."
Ophelia tersentak. Matanya membelalak kaget. "Apa maksudmu?"
Bleiz tersenyum miring. "Kau memelukku semalaman, Ophelia. Aku tahu. Aku sudah bangun sebelum kau."
Wajah Ophelia memerah seketika. "Aku ... itu ... aku tidak sengaja!"
"Aku tahu," kata Bleiz dengan nada biasa saja. Dan membuat Ophelia tak tahu artinya—apakah itu ejekan atau pengertian. "Tapi kau terlihat sangat tenang dan damai dalam tidurmu, jadi aku tidak tega membangunkanmu."
Ophelia menunduk, tidak bisa menatap mata Bleiz. Jantungnya berdebar kencang. "Aku minta maaf. Aku seharusnya tidak datang ke kamarmu."
"Kau tidak perlu minta maaf," kata Bleiz, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar lebih lembut. "Kau istriku.”
Ophelia merasakan perasaannya menghangat sekaligus berdebar tak karyan. Entah kenapa, kata-kata Bleiz membuatnya merasa seperti bahwa dia dilindungi sepenuhnya oleh Bleiz. Dan perasaan itu masih sangat asing baginya.
"Makanlah," kata Bleiz, mengalihkan topik. "Kau belum makan seharian. Brigite memberitahuku."
Ophelia mengangguk kecil. "Kau selalu memata-mataiku.”
"Kau istriku. Jadi aku akan selalu mengawasimu.”
Mereka makan malam dalam diam. Masih ada ketegangan yang dirasakan oleh Ophelia, berbeda dengan Bleiz yang tampak santai dan biasa saja, seperti tak terjadi apa pun.
*
*
Malam itu, setelah makan malam, ketika Ophelia hendak naik ke kamarnya, Bleiz menghentikannya.
"Ophelia," panggilnya.
Ophelia menoleh. "Ya?"
"Besok pagi aku akan pergi ke luar negeri. Jadi aku tak akan menemanimu makan pagi dan malam.”
Ophelia mengernyit. Seharusnya dia senang dengan hal itu karena tak akan ada yang mengawasinya dengan ketat untuk sementara waktu di dalam kastil.
“Ya, pergilah. Aku suka kau pergi karena merasa bebas di sini tanpa pengawasanmu. Berapa lama kau pergi? Kuharap cukup lama,” kata Ophelia.
“Pelayan dan pengawal tetap akan mengawasimu. Mereka adalah mataku selama aku tak ada. Jangan bertingkah,” ucap Bleiz.
Ophelia hanya berdecak kesal, lalu berbalik pergi meninggalkan Bleiz.
*
*
Setibanya di kamar, Ophelia duduk di tepi ranjang. “Dia akan pergi ke mana? Apakah ke tempat berbahaya? Atau hanya berbisnis saja?” gumam Ophelia, berbisik pada dirinya sendiri.
“Kenapa aku harus khawatir? Aku tak peduli padanya,” bisik Ophelia dan kemudian wanita itu berbaring di ranjangnya.
Tapi isi kepalanya tetap saja memikirkan tentang kepergian Bleiz besok. “Dia seorang mafia dan tentu saja pekerjaannya selalu mengundang bahaya di mana pun. Apakah dia akan baik-baik saja?”
Kemudian Ophelia menggelengkan kepalanya. “Aaahh … aku tak boleh memikirkannya terlalu dalam. Biar saja dia pergi. Aku tak peduli!” Ophelia menutup wajahnya dengan bantal.
(Ingat yaaa.. komen yang banyak dan jgn di skip.. like nya jugaaa)