Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Cahaya matahari pagi menerobos masuk dari sela-sela tirai tipis kamar utama, membentangkan garis emas di atas lantai kayu yang mengilap. Suasana pagi di rumah megah ini seharusnya tenang dan damai, tetapi di dalam dadaku, aku sudah memprediksi badai besar yang akan segera bergulung.
Aku berdiri di depan cermin rias, mengenakan setelan blazer kerja berwarna krem yang tampak sangat elegan dan berkelas. Jemariku dengan tenang memoleskan lipstik merah muda lembut, mematangkan penampilan seorang CEO Glowinc Group yang berwibawa sekaligus tampak tenang tanpa beban.
Di lantai bawah, bau harum kopi dan aroma roti panggang mulai tercium. Saat aku melangkah turun menelusuri anak tangga marmer, aku melihat Aris sudah duduk di meja makan.
Wajah suamiku itu tampak mengerikan. Lingkaran hitam tebal melingkungi matanya, pertanda ia tidak tidur semalaman. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang terus-menerus bergetar pesan-pesan bernada tuntutan dan ancaman dari Larasati dipastikan memborbardir ponselnya tanpa henti sejak subuh.
Di sampingnya, Mama Rahma sedang menyesap teh hangat dengan wajah muram dan cemas. Leher dan pergelangan tangannya yang polos tanpa perhiasan membuat penampilannya terasa begitu janggal.
"Selamat pagi, Mas... Mama..." sapa ku dengan nada suara paling manis dan ceria yang kupunya, melangkah mendekati meja makan.
Aris agak terkejut, buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah di atas meja. "O-oh... Selamat pagi, Tita Sayang," sahutnya dengan senyum paksa yang terlihat sangat melelahkan. "Kamu... kelihatan segar sekali pagi ini."
"Tentu saja, Mas. Hari ini jadwal Tita padat sekali di kantor," jawabku sembari membalikkan cangkir dan menuangkan teh hangat untuk diriku sendiri.
"Bagaimana tidurmu semalam? Tampaknya kamu lembur sampai subuh di ruang kerja?"
"I-iya, Tita. Berkas restoran lumayan menumpuk," kilih Aris, menyapu keringat dingin di dahinya.
Belum sempat aku menyendokkan makanan ke piringku, suara deru mesin mobil yang berhenti mendadak di halaman depan memecah keheningan pagi. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang dihentakkan dengan kasar, diiringi suara tingginya bel pintu yang dipencet berkali-kali secara brutal.
Tepat waktu, bisikku dalam hati. Pesan anonim semalam bekerja dengan sangat sempurna.
"Siapa sih pagi-pagi begini menekan bel seperti orang kesetanan?" gerutu Mama Rahma, mengernyitkan kening dengan gusar.
Bi Sumi setengah berlari membukakan pintu depan. Belum sempat Bi Sumi menyapa, pintu besar itu sudah terdorong keras.
Melangkah masuk dengan gaya anggun yang dipaksakan, adik kandung Aris Jessica bersama suaminya, Reno. Jessica mengenakan kacamata hitam yang ia sangkutkan di atas kepala, membawa tas buatan luar negeri hadiah dari Tita beberapa bulan lalu sementara Reno berjalan di belakangnya dengan menyajikan senyum tipis.
"Halo semuanya! Pagi Kak Tita Sayang! Pagi Mama!" seru Jessica dengan suara riang yang dibuat-buat, memamerkan senyum lebarnya begitu melihatku.
Jessica langsung menghampiriku, mengecup kedua pipiku dengan akrab. "Duh, Kak Tita makin cantik dan glowing aja pagi ini! Tas yang Kak Tita kasih bulan lalu masih sering Jes pakai lho, makin suka deh!"
Aku tersenyum manis, mengusap bahunya pelan. "Makasih, Jessica. Kalian datang pagi-pagi sekali, sudah sarapan?"
Namun, begitu Jessica membalikkan badan menatap Aris dan Mama Rahma, raut wajah manisnya seketika luntur, berganti menjadi tatapan menuntut dan penuh emosi.
"Pagi, Mas Aris," sapa Jessica dengan nada dingin yang menusuk, langsung beralih memandangi kakaknya.
"Jessica? Reno?" Mama Rahma melotot kaget. "Kamu ini apa-apaan sih, Jes?! Datang-datang menggedor pintu seperti menagih utang saja! Tidak enak dilihat Tita!"
Jessica menaikkan alisnya, berkacak pinggang di depan Aris. "Lho, Mama... Jessica datang memang mau ngomongin hal penting sama Mas Aris! Gak usah pura-pura amnesia deh, Mas Aris!"
Aris yang tadinya cemas mendadak berdiri dengan wajah tegang. "Jes! Kamu bicara apa sih?! Ini masih jam delapan pagi, jangan bikin keributan di meja makan!"
"Jessica gak bakal bikin ribut kalau Mas Aris jujur!" potong Jessica dengan mata mendelik lebar pada Aris. "Mas Aris pikir Jessica gak tahu?! Kemarin siang Mas Aris baru saja mencairkan dana segar puluhan juta kan?! Mana bantuan buat adik sendiri?!"
Deg.
Wajah Aris seketika memucat bagai kertas. Ia melirikku dengan mata membelalak penuh ketakutan, lalu menatap adiknya dengan panik luar biasa.
"Jes! Kamu ngomong sembarangan apa sih?!" bentak Aris, berusaha menutupi kepanikannya. Suaranya sampai bergetar. "Uang cair dari mana?! Mas lagi pusing mikirin utang restoran!"
"Gak usah bohong deh, Mas," sela Reno, ikut membuka suara dengan nada sopan tapi menekan. "Kita dapat kabar terpercaya kalau Mas Aris memegang uang tunai segar kemarin. Mas Aris kan tahu, cicilan mobil sports kami sudah nunggak dua bulan. Cuma belasan juta. Masa Mas Aris tega simpan uang sendiri sementara adiknya lagi kepepet?"
"Reno! Jaga mulutmu ya!" Mama Rahma berdiri memukuli meja, matanya membelalak panik. "Jangan menuduh Aris yang tidak-tidak! Uang dari mana maksud kalian?!"
Aku duduk dengan sangat anggun di tengah panggung drama keluarga ini, menyesap teh hangatku perlahan. Aku menikmati setiap detik raut wajah Aris yang mandi keringat dingin. Pria itu kini dijepit oleh adik kandungnya sendiri, sementara aku istri sah yang tidak tahu apa-apa sedang menyaksikan mereka saling cakar di hadapanku.
Jessica kembali menoleh padaku dengan wajah memelas yang mengiba, mencoba memanfaatkan kehadiranku untuk memojokkan Aris.
"Kak Tita..." rengek Jessica dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kak Tita kan tahu sendiri, Mas Aris itu dari dulu kalau punya rezeki suka lupa sama adiknya. Masa Jes cuma mau minta tolong bantu cicilan mobil sedikit saja Mas Aris tega pelit banget? Padahal Kak Tita aja selalu baik dan royal sama Jes!"
Aku menatap Jessica dengan binar mata penuh empati yang palsu, lalu menatap Aris dengan raut muka terkejut sekaligus penasaran.
"Wah... ada apa ini sebenarnya?" tanyaku lembut. "Mas Aris... Reno dan Jessica bilang kamu baru cairkan uang puluhan juta? Uang dari mana, Mas? Bukankah kemarin Mas bilang uang simpanan lama cuma cukup buat DP suplier restoran?"
"T-Tita... Nggak, Tita! M-mereka ini cuma salah paham! Mereka cuma ngelantur!" Aris gagap, tangannya gemetar hebat saat menunjuk adiknya. "Jessica, Reno, ikut Mas ke luar sekarang! Kita bicara di luar!"
"Gak mau!" seru Jessica, menyilangkan tangan di dada. "Jessica gak mau keluar sebelum Mas Aris transfer lima belas juta pagi ini! Lagipula Mama juga aneh deh! Mana semua gelang dan kalung emas Italia Mama yang biasa dipakai? Kok leher Mama sepi banget? Jangan-jangan Mama sama Mas Aris bisik-bisik punya simpanan rahasia ya?!"
Prak!
Aris membanting sendoknya ke atas porselen. "Cukup, Jessica! Kamu jangan keterlaluan!"
Wajah Mama Rahma merah padam karena takut rahasia soal perhiasan yang digadaikan untuk membungkam Larasati akan terbongkar di depan mata Tita jika Jessica terus berkicau.
Aku menyunggingkan senyum dingin di balik cangkir porselenku. Betapa menjijikkannya keluarga benalu ini. Begitu pasokan uangku ditutup, sifat asli mereka yang rakus, serakah, dan tidak tahu diri langsung mencuat ke permukaan. Jessica tetap sok manis padaku karena masih berharap mendapat barang mewah di kemudian hari, sementara di saat yang sama menuntut kakaknya tanpa malu.
"Mas Aris..." panggilku lembut namun tegas, memotong percekcokan mereka.
Aris menoleh padaku dengan mata liar penuh kepanikan. "T-Tita... Mas bisa jelaskan"
"Mas, kalau Jessica butuh bantuan dan kamu memang ada dana simpanan lebih dari kemarin, tidak ada salahnya kan membantu adiknya sedikit?" tanyaku dengan raut wajah prihatin yang dipoles sempurna. "Lagipula kasihan Jessica kalau cicilan mobilnya menunggak."
Aris menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Jawaban 'polos'-ku justru makin menyudutkannya ke dalam jurang. Dia tidak mungkin mengaku dari mana uang itu berasal tanpa membongkar fakta bahwa emas ibunya telah digadaikan demi Larasati!
"I-iya, Tita... B-bukan begitu..." Aris terbata-bata, menatap Jessica dengan tatapan membunuh. "Y-ya sudah! Jes, Reno... ikut Mas ke ruang kerja! Mas transfer lima belas juta! Tapi setelah ini kalian langsung pulang!"
Mata Jessica seketika berbinar. Ia menyenggol lengan suaminya, lalu menoleh padaku dengan senyum lebar. "Tuh kan! Makasih ya Kak Tita Sayang! Memang cuma Kak Tita yang paling mengerti Jes!"
"Ayo cepat!" desis Aris, melangkah tergesa-gesa menuju ruang kerjanya diikuti Jessica dan Reno.
Mama Rahma terduduk lemas di kursinya, mengurut dadanya yang kempas-kempis, menatapku dengan senyum garing yang teramat menyedihkan.
"M-maafkan adik-adik Aris ya, Tita Sayang... Mereka memang agak manja dan suka bikin pusing..."
"Nggak apa-apa kok, Ma," sahutku sangat tenang. "Tita mengerti. Jessica kan memang dekat sama Tita. Tapi Tita bersyukur, ternyata Mas Aris masih punya simpanan uang yang cukup banyak ya... sampai bisa bagi-bagi ke adiknya."
Wajah Mama Rahma makin pucat pasi, tak mampu membalas perkataanku lagi.
Sepuluh menit kemudian.
Aris keluar dari ruang kerja dengan wajah yang tambah tirus dan lunglai. Jessica dan Reno berjalan di belakangnya sembari sibuk mengecek ponsel mereka pasti sedang mengagumi notifikasi transferan yang baru masuk.
"Kak Tita, Jes pamit dulu ya! Nanti kalau Kak Tita ada waktu luang, kita jalan bareng ke mall lagi ya Kak!" pamit Jessica manis, melambaikan tangan sebelum keluar rumah bersama Reno yang tersenyum puas. Uang lima belas juta hasil pererasan dari Aris berhasil mereka bawa lari.
Aris kembali ke meja makan, tetapi sebelum dia sempat duduk, ponsel di saku celananya mendadak berdering nyaring.
Layar ponselnya menampilkan nama panggilan yang disamarkan: "KLIEN UTAMA".
Aku tahu persis siapa itu. Itu adalah Larasati. Dan berdasarkan laporan Siska, Larasati baru saja mendapat desas-desus bahwa Aris menyimpan banyak emas di rumah ibunya, sehingga wanita hamil itu kini menuntut uang tambahan untuk biaya sewa mobil mewah bulanan!
Aris buru-buru mematikan panggilan itu secara sepihak. Namun detik berikutnya, pesan masuk bertubi-tubi berbunyi nyaring.
Ting! Ting! Ting!
Aris mengintip layar ponselnya secara sembunyi-sembunyi, dan aku bisa melihat pupil matanya melebar dalam horor yang nyata. Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darah.
"M-Mas Aris? Ada apa?" tanyaku dengan nada penuh perhatian, sengaja mengagetkannya. "Pesan dari siapa? Kok kelihatannya panik sekali?"
"G-gak ada apa-apa, Tita! Cuma... cuma pesan promosi dari operator!" jawab Aris cepat, menyembunyikan ponselnya kembali ke saku dengan tangan yang gemetaran hebat.
Namun, derita Aris pagi ini belum selesai.
Telepon rumah di samping ruang makan mendadak berdering nyaring. Bi Sumi yang baru keluar dari dapur bergegas mengangkatnya.
"Halo... Selamat pagi, kediaman Bapak Aris," panggil Bi Sumi.
Beberapa detik kemudian, wajah Bi Sumi berubah tegang. Ia menoleh ke arah meja makan dengan ragu-ragu. "M-mas Aris... Ini ada telepon dari Bapak Hendra, pemilik PT Boga Utama Sejahtera... Beliau minta bicara sekarang juga. Katanya penting sekali soal suplier daging restoran."
Aris seketika mematung di tempatnya.
Uang muka lima puluh juta yang dia setorkan kemarin sore ternyata hanya mampu menahan kemarahan suplier selama beberapa jam. Orang-orangku di perusahaan suplier itu telah menjalankan perintahku: menolak perpanjangan kredit dan menagih sisa utang tujuh ratus lima puluh juta rupiah secara tunai sebelum jam dua belas siang ini, atau laporan kepolisian atas dugaan penipuan cek kosong akan diterbitkan.
"Mas Aris? Kenapa diam saja? Itu suplier restoranmu menelpon," kataku dengan suara lembut yang menusuk tajam. "Angkatlah, Mas. Siapa tahu mereka mau memberi kemudahan lagi."
Aris menatapku dengan mata bergetar, lalu menatap telepon rumah yang masih menggantung. Ia seperti seorang terpidana mati yang sedang melangkah menuju tiang gantungan.
Dengan langkah layu, Aris berjalan mendekati gagang telepon, mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"H-halo... Pak Hendra..." suara Aris terdengar parau dan sangat menyedihkan.
Dari jarak beberapa meter, aku bisa mendengar suara bentakan keras pria di seberang telepon yang memaki-maki Aris, menuntut pelunasan utang ratusan juta siang ini juga tanpa ada penundaan lagi.
Aku berdiri dari kursi makan, merapikan blazer kremku yang tanpa cela, lalu mengambil tas genggam mewahku.
Aku berjalan menghampiri Aris yang sedang berdiri mematung memegang gagang telepon dengan wajah yang hancur berkeping-keping.
Aku menepuk bahunya pelan, berbisik tepat di samping telinganya dengan nada suara paling manis namun mengandung racun yang membekukan darahnya.
"Mas Aris... Tita berangkat ke kantor dulu ya," bisikku lembut. "Selesaikan masalah restoranmu dengan baik ya, Mas. Ingat... jangan sampai stres. Kamu kan pria yang mandiri dan kuat."
Aris menoleh padaku dengan tatapan mata yang kosong dan penuh keputusasaan. Dia ingin meminta tolong, ingin berlutut di kakiku memohon bantuan dana Glowinc Group, tetapi gengsi dan sandiwara yang ia ciptakan sendiri telah mengunci rapat mulutnya.
Aku memberikan senyuman paling memikat, lalu melangkah anggun meninggalkan ruang makan.
Saat pintu depan terbuka dan angin pagi menyapu wajahku, aku mendengar suara tangisan terisak Mama Rahma dari dalam rumah, berpadu dengan suara teriakan frustrasi Aris yang membanting gagang telepon.
Aku melangkah masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang disiapkan sopirku. Pintu mobil tertutup kedap suara.
Aku menyandarkan punggungku di kursi kulit yang empuk, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat dingin.
Uang hasil penggadaian emas ibumu sudah habis diperas oleh adiknya sendiri dan si istri siri, Mas Aris. Sekarang, mari kita lihat bagaimana caramu membayar utang tujuh ratus lima puluh juta itu sebelum matahari berada tepat di atas kepala.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣