NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Panen Kristal

Galang pergi pagi itu.

Satu jam kemudian, Arga mengumpulkan tim di Tenda Hi-Tech.

Tidak ada yang bertanya kenapa ia mengirim seorang pemuda berguna ke tempat lain.

Mereka sudah belajar satu hal.

Kalau Arga melepas sesuatu, itu bukan karena ia tidak melihat nilainya.

Biasanya karena ia melihat nilai yang lebih jauh.

Nadira berdiri di samping papan tulis darurat. Papan itu diambil dari ruang rapat hotel, dibersihkan dari noda darah, lalu ditempel di dinding tenda.

Empat kelompok.

Delapan orang per kelompok.

Nama, posisi, senjata, kondisi mental, kemampuan kontrol tubuh.

Semuanya tertulis.

Arga menunjuk peta Semarang yang sudah diberi garis merah.

"Tiga hari."

Ruangan sunyi.

"Kita bersihkan area sekitar hotel sampai radius aman bertambah. Target utama Kristal. Target kedua Airdrop Box. Target ketiga melatih kalian agar tidak mati saat melihat Zombie dari dekat."

Dara menyeringai.

"Akhirnya."

Nadira mengetuk papan.

"Formasi sudah ditentukan. Kelompok satu dan dua keluar pagi. Kelompok tiga dan empat keluar siang. Malam hanya tim inti. Tidak ada aksi individu. Semua hasil masuk catatan."

Seorang anggota mengangkat tangan.

"Kalau kami menemukan Kristal sendiri?"

Nadira menjawab tanpa emosi.

"Tujuh puluh persen pusat, tiga puluh persen hak kelompok. Kalau disembunyikan, hak distribusi dicabut dan masuk regu pembersih toilet selama satu minggu."

Dara berbisik pada Kiara, "Dia bisa membuat hukuman toilet terdengar lebih menakutkan dari hukuman mati."

Kiara menjawab, "Karena di sini toiletnya nyata."

Beberapa orang tertawa kecil.

Arga membiarkan mereka tertawa dua detik.

Lalu ia berkata, "Setelah keluar, jangan mencari hero. Cari perintah. Yang melanggar formasi, aku tarik dari tim tempur."

Tawa mati.

Bagus.

Mereka berangkat sebelum matahari tinggi.

Hari pertama adalah darah dan muntah.

Kelompok satu bergerak di bawah komando Dara.

Dara tidak lagi membawa pipa patah. Di tangannya ada kapak taktis dari rampasan sebelumnya, dan di pinggangnya tergantung Belati Hi-Tech cadangan.

Zombie pertama muncul dari balik pos keamanan hotel.

Salah satu anggota kelompok mundur refleks.

Dara menendang betisnya.

"Mundur lagi, kamu injak kaki temanmu dan kita semua mati."

Zombie menerkam.

Dara maju.

Gerakan Pencak Silat-nya lebih kasar daripada indah. Kaki kiri mengunci langkah, bahu masuk, kapak turun ke leher. Kepala Zombie tidak langsung putus, tetapi tengkuknya hancur.

Ia menendang tubuh itu ke samping.

"Lihat? Tidak perlu teriak."

Anggota kelompok menelan ludah.

Zombie kedua datang.

Dara tidak membunuhnya.

Ia mematahkan lutut Zombie itu, lalu menunjuk.

"Kamu. Selesaikan."

Gadis yang tadi hampir mundur memucat.

"Aku?"

"Ya. Tusuk belakang kepala. Sekarang."

Tangannya gemetar hebat.

Kiara, yang mengawasi dari jarak lima meter, tidak membantu.

Arga juga tidak.

Gadis itu menangis tanpa suara, lalu menusuk.

Sekali gagal.

Dara menahan Zombie dengan kaki.

"Lagi."

Tusukan kedua masuk.

Zombie berhenti bergerak.

Gadis itu muntah ke samping.

Dara menepuk punggungnya.

"Muntah boleh. Jatuh tidak."

Hari pertama, mereka hanya membersihkan tiga jalan kecil.

Tiga puluh enam Zombie.

Dua puluh delapan Kristal.

Dua orang pingsan karena takut.

Nol korban.

Nadira mencatat semuanya seperti angka penjualan.

"Pingsan karena takut tidak dihitung luka," katanya malam itu.

Dara duduk di lantai, kaki diluruskan.

"Kejam."

"Fakta."

"Mereka hampir mati."

"Hampir bukan mati. Besok mereka ikut kelompok belakang."

Arga membaca laporan tanpa komentar.

Hari kedua, tempo berubah.

Orang yang kemarin muntah, hari ini bisa menusuk tanpa diarahkan.

Orang yang kemarin memegang pisau seperti memegang ular, hari ini tahu cara menjaga jarak.

Nadira memindahkan tiga orang dari logistik ke cadangan tempur setelah melihat mereka tenang saat mengangkat mayat Zombie.

Ia juga mencoret dua orang dari jadwal keluar karena terus melihat ke belakang.

"Takut bukan masalah," kata Nadira. "Tapi takut yang membuat barisan pecah adalah masalah."

Arga menyetujui.

Siang hari kedua, Airdrop Box pertama ditemukan di halaman parkir minimarket.

Penjaganya enam Tingkat 1 Zombie.

Untuk Arga, itu bukan masalah.

Untuk tim baru, itu ujian.

Nadira ingin menarik mundur.

Arga menolak.

"Dara pimpin. Kiara tutup. Aku hanya bergerak kalau formasi pecah."

Dara menoleh.

"Kalau formasi pecah?"

"Aku selamatkan yang masih bisa diselamatkan."

Tidak ada yang bertanya sisanya.

Dara mengangkat kapak.

"Kelompok dua, maju. Jangan buat aku malu."

Pertempuran berlangsung kurang dari satu menit.

Tetapi bagi anggota baru, itu seperti satu jam.

Satu Zombie berhasil menerobos celah.

Kiara muncul di belakangnya dan memotong lehernya sebelum cakar menyentuh bahu anggota tim.

Ia tidak memarahi.

Hanya berkata, "Celah kiri. Ingat."

Gadis yang hampir tercakar mengangguk dengan wajah basah keringat.

Airdrop Box dibuka.

Isinya biasa.

Makanan kaleng.

Tali.

Dua senter.

Satu kotak obat luka.

Tidak ada yang kecewa.

Bagi mereka, kotak itu adalah bukti.

Mereka bisa keluar.

Mereka bisa membunuh.

Mereka bisa pulang.

Malam hari kedua, Arga dan Kiara keluar sendiri.

Itu bagian lain dari panen.

Tim biasa menyapu Tingkat 1.

Arga dan Kiara mencari Tingkat 2.

Mereka menemukan yang pertama di dekat gedung bioskop tua.

Airdrop Box biru terang bersinar di lobby, dijaga satu Tingkat 2 Zombie berbahu lebar.

Kiara bergerak lebih dulu.

Kecepatannya setelah Tingkat 2 membuat tubuhnya seperti garis gelap di antara kursi rusak.

Zombie itu menoleh ke arahnya.

Arga sudah ada di depan.

Pedang menahan cakar.

Kiara masuk dari samping, belati menusuk lutut.

Zombie jatuh setengah langkah.

Arga memenggalnya.

Tidak perlu Teleportasi.

Tidak perlu risiko.

Kerja sama mereka cukup.

Kiara menatap tubuh Zombie itu.

"Dulu aku akan mati kalau diserang seperti itu."

"Dulu kamu belum Tingkat 2."

"Dan belum punya kamu di depan."

Arga meliriknya.

Kiara mengangkat bahu.

"Aku masih boleh bilang begitu."

"Boleh."

Kotak itu memberi senjata.

Belati Hi-Tech dua buah.

Rompi pelindung empat set.

Masker filter.

Kristal Tingkat 2 masuk stok.

Malam yang sama mereka membunuh dua Tingkat 2 lagi.

Salah satunya menjaga Airdrop Box yang lebih baik.

Di dalamnya ada Pedang Hi-Tech, paket obat darurat, radio tambahan, dan granat asap sederhana.

Arga mengambil semuanya.

"Pola makin jelas," kata Kiara.

"Tingkat 2 adalah tanda."

"Kalau ada Tingkat 2, cari kotak."

"Atau kalau ada kotak bagus, cari Tingkat 2."

Kiara menghela napas.

"Dunia ini benar-benar seperti game yang ingin membunuh pemainnya."

"Bedanya tidak ada respawn."

"Kecuali kamu?"

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Kiara membeku.

Arga menatapnya.

Kiara tidak meminta maaf.

Ia hanya berkata lebih pelan, "Aku tidak akan tanya. Belum."

Arga diam sejenak.

"Bagus."

Hari ketiga, tim mulai dikenal.

Bukan karena mereka mengumumkan nama.

Karena tiga puluh lebih perempuan membawa pisau, kapak, dan rompi pelindung, bergerak dalam formasi, membunuh Zombie di jalan utama, lalu pulang membawa Kristal.

Di gedung seberang, sekelompok pria menonton dari balik kaca pecah.

"Itu kelompok perempuan dari hotel," bisik seseorang.

"Yang dipimpin cewek galak itu?"

"Yang punya pria pedang juga."

"Tim Elite Nadira," kata orang lain, entah dari mana mendengar nama itu.

Nama itu mulai berjalan.

Dari ruko ke ruko.

Dari atap ke tangga.

Dari mulut orang lapar ke telinga orang bersenjata.

Pada hari ketiga siang, Dara melakukan hal yang membuat seluruh kelompok diam.

Satu Tingkat 2 kecil muncul dari gang sempit.

Bukan penjaga kotak.

Mungkin hasil evolusi liar.

Ia menyerang kelompok tiga dari samping.

Arga berada dua puluh meter jauhnya, sedang memotong tiga Tingkat 1.

Kiara lebih jauh, menutup belakang.

Dara paling dekat.

Ia bisa mundur.

Ia tidak mundur.

"Turun!" teriaknya.

Kelompok tiga menjatuhkan tubuh.

Dara menabrak Tingkat 2 itu dari samping dengan bahu.

Benturan membuatnya terpental ke dinding.

Tulang rusuknya seperti retak, tetapi ia masih berdiri.

Kapaknya terlepas.

Zombie itu menerkam.

Dara memakai tangan kosong.

Ia memutar tubuh, menghindari gigitan, lalu mengunci lengan Zombie dengan teknik Pencak Silat yang seharusnya dipakai untuk manusia.

Tidak cukup.

Tingkat 2 terlalu kuat.

Lengannya hampir patah.

Tetapi satu detik cukup.

Arga tiba.

Pedang turun.

Kepala Zombie jatuh.

Dara duduk di tanah, napasnya kasar.

"Aku hampir mati."

Arga mengambil Kristal Tingkat 2 dari tengkorak Zombie.

"Tapi tidak."

"Itu pujian?"

"Itu laporan."

Dara tertawa, lalu meringis.

Arga melemparkan satu botol air padanya.

"Refleks bagus. Setelah naik Tingkat 2, kamu bisa menahan yang seperti itu lebih lama."

Mata Dara menyala.

"Kapan?"

"Saat Nadira bilang kontrolmu cukup."

Dara langsung menoleh ke Nadira.

Nadira, yang baru tiba sambil memegang buku catatan, berkata, "Jangan menatap saya seperti itu. Hari ini kamu hampir merusak dua formasi dan satu tulang rusuk."

"Tapi aku menyelamatkan kelompok tiga."

"Karena itu kamu masuk daftar prioritas. Bukan daftar langsung naik."

Dara menggerutu.

Tetapi ia tersenyum.

Malam ketiga, seluruh tim kembali ke hotel dengan kaki gemetar.

Semua kembali hidup, lengkap, dan bersih dari infeksi.

Di Tenda Hi-Tech, Nadira meletakkan laporan tebal di depan Arga.

Arga baru selesai membersihkan Pedang Hi-Tech.

Kiara duduk di sebelahnya, mengeringkan rambut yang masih basah setelah mandi singkat.

Dara berbaring telentang di lantai, menatap langit-langit tenda seperti orang habis dipukuli dunia.

"Laporan tiga hari," kata Nadira.

Arga membukanya.

Jumlah Zombie Tingkat 1 dibunuh tim umum: dua ratus lebih.

Jumlah Zombie Tingkat 1 dibunuh Arga pribadi: lebih dari lima ratus.

Tingkat 2 Zombie: delapan.

Airdrop Box: delapan belas, dua berkualitas tinggi.

Kristal Tingkat 1 total setelah penggabungan stok: sedikit di atas seribu.

Kristal Tingkat 2 baru: delapan.

Senjata tambahan.

Obat.

Rompi.

Masker.

Makanan.

Nol korban.

Arga membaca sampai akhir.

"Kerugian?"

"Tiga luka otot, enam lecet, satu tulang rusuk Dara mungkin memar berat, dua orang trauma ringan, tidak ada infeksi."

Dara mengangkat tangan dari lantai.

"Tulang rusukku keberatan disebut kerugian."

Nadira tidak melihatnya.

"Tulang rusukmu tidak punya hak bicara."

Kiara tertawa pelan.

Arga menutup laporan.

"Cukup untuk rencana berikutnya."

Nadira mengangguk.

"Menurut perhitungan saya, stok Kristal sekarang cukup untuk membawa seluruh tim inti ke Tingkat 2 secara bertahap. Kalau difokuskan, core empat orang bisa mulai menyentuh persiapan Tingkat 3."

Dara langsung duduk.

"Tingkat 3?"

Kiara juga menatap Arga.

Arga tidak menjawab dulu.

Ia menatap angka-angka itu.

Seribu Kristal.

Delapan Tingkat 2.

Dalam kehidupan sebelumnya, angka ini butuh lebih lama dan lebih banyak darah.

Nadira membuat panen lebih bersih.

Kiara membuat perburuan Tingkat 2 lebih cepat.

Dara membuat tim berani.

Kelompok yang dulu ia selamatkan mulai berubah menjadi pasukan.

Ini alat yang mulai tajam.

Nadira membalik halaman terakhir.

"Tapi ada masalah."

"Bicara."

"Hari ini ada tiga kelompok berbeda mengikuti kita dari jauh. Mereka tidak menyerang. Hanya mengamati."

"Jumlah?"

"Kelompok kecil pertama sekitar dua puluh orang. Kelompok kedua tiga puluh sampai empat puluh. Kelompok ketiga..."

Nadira berhenti.

"Setidaknya dua ratus."

Dara duduk lebih tegak.

"Dua ratus?"

"Ya. Mereka tidak tampak seperti pengungsi biasa. Ada struktur. Ada pengintai. Ada orang yang membawa senjata rampasan dari toko olahraga dan kantor keamanan."

Arga menatap Nadira.

"Pemimpin?"

"Saya tidak melihat langsung. Salah satu regu melihat dari jauh. Pria bermata satu. Mereka menyebutnya..."

Nadira memeriksa catatan kecil.

"Serigala."

Udara di dalam tenda berubah.

Arga perlahan meletakkan kain pembersih pedang.

Kiara menangkap perubahan itu.

"Kamu kenal?"

Arga mengingat wajah dari kehidupan sebelumnya.

Satu mata.

Senyum tanpa panas.

Kelompok Serigala.

Mereka punya pola, pengintai, dan target.

Mereka tahu kapan harus menunggu, kapan harus menusuk, dan kapan harus membuat orang lain mati lebih dulu.

Zombie membunuh karena lapar.

Serigala membunuh karena pilihan.

"Aku tahu jenisnya," kata Arga.

Dara mengambil kapaknya.

"Kita serang dulu?"

"Tidak."

Nadira mengangguk pelan.

"Mereka sedang mengukur kita. Kalau kita menyerang sekarang, kelompok lain akan melihat kita sebagai ancaman pertama."

Arga berdiri.

"Besok tidak ada ekspedisi jauh. Perkuat lantai dua puluh satu. Hitung senjata. Latih formasi dalam koridor."

Kiara memasukkan belati ke sarungnya.

"Dan Serigala?"

Mata Arga dingin.

"Biarkan dia mendekat."

Di luar tenda, malam Semarang penuh suara Zombie.

Di dalam, laporan panen Kristal masih terbuka di atas meja.

Seribu Kristal.

Delapan Kristal Tingkat 2.

Nol korban.

Dan satu nama baru di ujung halaman.

Serigala.

Arga menatap nama itu.

Dalam dunia lama, ia pernah membiarkan orang seperti itu hidup terlalu lama.

Dalam dunia ini, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!