Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan yang tak diminta
"Luna."
Luna dan Bara memutus pandangan mereka. Keduanya menoleh ke asal suara.
"Luna," panggil Raka lagi.
Luna kembali menoleh ke asal suara. "Aku ke sana dulu."
"Hmmm." Bara bergumam untuk merespon ucapan Luna.
Luna sendiri keluar dari dapur sambil membawa wadah berisi nasi goreng lantas meletakkannya di meja makan. Pada saat yang bersamaan, Raka datang dan sudah berpakaian rapi.
"Pagi," sapa Raka.
"Pagi," balas Luna sedikit malas.
Merasa sikap Luna tidak biasa, Raka meletakkan tas kerjanya di meja makan, lalu memeluk Luna.
"Kamu masih belum memaafkan aku?" tanya Raka. "Tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Aku hanya ingin kamu bisa percaya aku sepenuhnya, Mas," sahut Luna.
Raka mengangguk. "Lain kali aku akan bertanya dulu padamu sebelum aku menghakimimu."
Luna mengangguk pelan.
"Terima kasih, Luna. Aku mencintaimu," ucap Raka sebelum melepaskan pelukannya.
"Duduklah. Aku akan membuatkan kamu dan papa kopi," ucap Luna.
Kening Raka mengerut bingung. "Papa masih di sini?"
Luna hampir membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Raka, tetapi suara Bara lebih dulu terdengar.
"Kenapa? Aku tidak boleh tinggal di sini bersama kalian?" sela Bara.
Luna dan Raka sama-sama menoleh ke asal suara. Mereka melihat Bara keluar dari dapur.
Ada keterkejutan di mata Raka dan Bara melihatnya, tetapi lebih memilih untuk mengabaikannya. Dengan santainya Bara duduk di meja makan. Pandangannya menatap dingin pada Raka.
"Bu-bukan begitu, Pa," sahut Raka. "Rumah ini mungkin terlalu kecil untuk Papa. Aku takut Papa tidak nyaman."
"Kalau begitu kamu cari rumah yang lebih besar dan dekat dari kantor," ucap Bara. "Aku tidak mengerti kenapa kamu justru memilih tinggal di rumah sekecil ini dan jauh dari kantor."
Raka terdiam. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan lidahnya tiba-tiba terasa kelu.
"Pa, sebelumnya aku sudah jelaskan sama Papa alasan kami pindah ke sini," sela Luna.
Bara manggut-manggut. Wajah Bara tetap santai, tetapi justru membuat Raka semakin tertekan.
"Kenapa selama dua tahun kamu tidak mengabariku jika ada masalah di perusahaan. Jika kamu memberitahuku, kalian tidak perlu tinggal di sini dan Luna ... " Bara menghentikan ucapannya. Ia menarik tangan Luna, menunjukkan pada Raka luka bakar di tangan sang menantu. "Luna tidak akan menderita seperti ini."
Raka terbelalak. Ia memandang Luna dan menyentuh kedua pundak istrinya itu. "Kenapa kamu gak memberitahu aku?"
Luna memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Raka. "Ini hanya luka kecil."
Benar, luka bakar di tangannya hanya luka kecil. Sebelumnya telapak tangannya pernah terkena pecahan kaca saat ia ingin membersihkan gelas yang tak sengaja Vanessa jatuhkan.
Saat ia akan memunguti pecahan kaca itu, Vanessa tak sengaja menginjak tangannya. Raka saat itu tidak se peduli sekarang, bahkan dulu memarahinya karena tidak hati-hati. Apa mungkin karena ada Bara?
Luna menarik napas lantas menyingkirkan tangan Raka dari pundaknya. "Aku akan membuatkan kalian kopi. Tunggulah."
Luna pergi ke dapur meninggalkan suami dan mertuanya. Di sana hati Luna bergejolak. Ia merasa hubungannya dengan Raka tidak seperti dulu, sebelum mereka pindah ke rumah itu. Raka terasa semaki jauh darinya, tetapi Luna selalu berpikir jika itu hanya perasannya saja.
Suara air mendidih membuyarkan lamunan Luna. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan air panas ke dalam dua cangkir yang sudah berisi gula dan kopi. Setelah itu ia membawa dua cangkir kopi ke meja makan.
"Silahkan," ucap Luna dingin.
"Terima kasih," balas Bara.
Luna menanggapi ucapan Bara dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.
"Duduk dan makanlah," suruh Bara pada Luna.
Luna mengangguk lantas duduk di kursi di sebelah Bara berseberangan langsung dengan Raka. Sikap dan tatapan Luna begitu dingin, membuat Raka sedikit tidak nyaman.
Suasana meja makan menjadi sunyi. Ketiganya fokus dengan makanan masing-masing. Meskipun tidak sepenuhnya. Ketegangan seolah menggantung di udara. Apalagi dengan kejadian sebelumnya dan keberadaan Bara membuat udara di tempat itu menipis, membuat Raka tertekan.
"Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu," ucap Raka. Ia mendorong kursi ke belakang lalu berdiri.
"Maaf, aku gak bisa antar kamu ke depan. Aku marasa kurang enak badan," ucap Luna tanpa melihat ke arah Raka.
"Gak apa, kamu makan saja. Setelah itu istirahat," sahut Raka.
Luna melihat ke arah Raka lalu mengangguk pelan.
"Aku akan usahakan pulang cepat," ucap Raka.
Luna kembali mengangguk tanpa berkata apa pun.
Raka menoleh ke arah Bara lalu berkata, "Aku pergi dulu, Pa."
Bara mengangguk, sikapnya masih sama, tenang dan dingin.
Tidak menunggu apa pun lagi, Raka berangkat bekerja dengan menenteng tas kerjanya.
Sementara itu, Luna menghela napas berat. Ia meletakkan sendoknya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Wajahnya terlihat jelas jika dirinya tidak baik-baik saja.
"Kenapa berhenti makan?" tanya Bara.
Luna menoleh, menatap ke arah Bara. "Aku merasa dia bukan mas Raka yang aku kenal dulu, Pa."
Bara tidak berkomentar apa pun. "Kalau memang sudah tidak sanggup, jangan dipaksakan."
Luna menundukkan wajahnya. Sejujurnya dirinya memang sudah tidak tahan dengan hubungannya dengan Raka yang terasa kosong. Akan tetapi di sisi lain, ia sudah berjanji pada mendiang Imelda akan terus bersama Raka apa pun yang terjadi, juga rasa cintanya pada laki-laki itu.
"Kamu sangat mencintainya?" tanya Bara.
Luna mendongak, kembali melihat ke arah ayah mertuanya. "Ya."
Bara menghela napas dan memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi.
"Habiskan sarapanmu," ucap Bara.
Ia mengambil alih piring Luna, lalu menyuapi sang menantu.
"Sekarang buka mulutmu. Aku akan menyuapimu."
"Tidak usah. Aku bisa makan sendiri, Pa," tolak Luna.
"Aku tidak menerima bantahan, Luna," ucap Bara. "Sekarang buka mulutmu."
"Ba-baiklah."
Pada akhirnya Luna menyerah dan mau membuka mulutnya. Bara tersenyum tipis melihat Luna akhirnya menurut.
Suasana di meja makan saat ini sangat kontras dari sebelumnya saat Raka masih berada di antara mereka. Sikap hangat dan lembut Bara membuat Luna merasa nyaman.
"Sudah, Pa. Aku kenyang," ucap Luna.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi." Bara menggeser piring yang hampir kosong.
"Kalau seperti ini terus, aku yakin dalam waktu beberapa hari saja berat badanku akan naik pesat," ucap Luna.
Bara terkekeh pelan. "Itu bagus. Kamu akan lebih cantik jika tubuhmu berisi."
Luna mengangguk senang. "Pa ..."
"Hmmm."
"Terima kasih."
Bara mengangguk. "You're welcome."
Luna kemudian berdiri, berniat untuk membereskan meja makan. Namun saat tangannya akan meraih piring, Bara menghentikannya.
"Mau apa?"
"Membereskan meja makan."
"Biarkan saja. Aku sudah meminta seseorang untuk membantumu mengerjakan urusan rumah tangga," ucap Bara.
"Tapi, Pa —"
"Aku yang akan urus semuanya," potong Bara seolah tahu apa yang akan diucapkan oleh sang menantu.
Luna tak bisa membantah, suara tegas dan tatapan penuh wibawa membuatnya tak bisa membantah.
"Dengar, Luna. Aku sudah di sini. Aku tidak akan membiarkanmu menderita," ucap Bara.
Luna mengangguk, meskipun ia tidak begitu paham dengan ucapan Bara.
"Oh iya, Pa. Ada yang ingin aku berikan pada Papa. Tunggu sebentar," ucap Luna.
Setelah itu, Luna pergi ke kamarnya dan kembali setelah beberapa saat. "Ini, Pa. Aku kembalikan."
Luna menyodorkan black card yang sebelumnya Bara berikan padanya.
"Aku memberikan ini untukmu. Pakai saja sesukamu," ucap Bara.
"Tapi, Pa—"
"Tidak ada penolakan, Luna."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man