Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Saja
Alina, yang merasakan kehangatan alami mendekatinya dalam ketidaksadarannya, secara refleks merapat. Wajahnya bersandar di ceruk leher Leon, dan tangan kanannya yang bebas cengkeramannya tertanam di kain kemeja Leon.
Lenguhan kecil yang lega keluar dari bibirnya saat rasa dingin yang menyiksa perlahan-lahan memudar, tergantikan oleh rasa aman yang teramat sangat.
Leon menundukkan kepalanya, mengusap puncak kepala Alina dan mendaratkan sebuah kecupan singkat yang sangat lembut di kening gadis itu yaitu sebuah gerakan spontan dari lubuk hatinya yang paling dalam, tanpa ada kamera, tanpa ada penonton, dan tanpa ada kepura-puraan kontrak.
"Maafkan aku..." bisik Leon sangat pelan di antara helai rambut Alina.
"Aku berjanji, tidak ada seorang pun yang akan menyakitimu lagi setelah hari ini." janjinya tanpa sadar.
Di luar sana, berita tentang penghancuran karier Clarissa Olivia dan penarikan investasi Alexander Group dari drama 'Duri di Balik Tirai' mulai menggemparkan jagat hiburan tanah air.
Spekulasi mengenai siapa sosok wanita pendukung yang dibela oleh sang mega bintang mulai memicu berbagai rumor panas.
Namun di dalam Kamar Utama yang sunyi di atas awan itu, dunia luar seolah tidak lagi berarti. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, dua jiwa yang awalnya disatukan oleh lembaran kertas kontrak dan transaksi dingin, kini terlelap dalam satu dekap yang sama, meruntuhkan batas-batas kebohongan dan membiarkan benih-benih perasaan yang sesungguhnya tumbuh di tengah badai yang baru saja dimulai.
...****************...
Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis Kamar Utama, membiaskan pendar keemasan di atas lantai marmer dan menyiram sebagian tempat tidur super king size. Hawa dingin AC yang membelai ruangan tak lagi terasa menyiksa seperti semalam.
Alina perlahan-lahan membuka matanya. Bulu matanya yang lentik bergetar pelan saat kesadarannya kembali terkumpul penuh. Kelopak matanya terasa sedikit berat, namun rasa terbakar di dalam dadanya dan dingin yang membekukan jemarinya sudah jauh berkurang. Kepala Alina tidak lagi seberat kemarin malam.
Namun, begitu kesadarannya terkumpul penuh, hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya.
Alina tersentak kecil ketika menyadari posisinya. Tubuhnya terbungkus rapat di dalam selimut tebal, dan kepalanya bersandar nyaman di atas dada bidang seseorang. Lengan kekar melingkar protektif di sekeliling pinggangnya, menguncinya dalam sebuah dekap hangat yang begitu intim. Punggung tangan kirinya yang terbalut perban bersandar aman di atas perut pria itu, sementara selang infus masih terpasang di tangan kanannya.
Alina mendongak perlahan. Di sana, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, Leon masih terlelap. Wajah tegas yang biasanya selalu dihiasi tatapan dingin, tajam, dan penuh kendali itu kini terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan di dahi. Deru napasnya yang teratur dan hangat menerpa lembut puncak kepala Alina.
Jantung Alina seketika berdegup kencang secara tak beraturan. Kehangatan yang dia rasakan sepanjang malam, kehangatan yang dia pikir hanyalah sebuah ilusi dalam mimpi buruknya ternyata berasal dari tubuh pria yang menjadi suaminya dalam lembaran kontrak ini.
Alina mencoba menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit, berusaha melepaskan diri tanpa membangunkan Leon. Namun, gerakan sekecil apa pun dari Alina ternyata cukup untuk memicu refleks sang tiran.
Cengkeraman lengan Leon di pinggang Alina justru makin mempererat dekapannya. Mata pria itu terbuka perlahan, memancarkan iris gelap yang dalam sebelum akhirnya memfokuskan pandangannya pada wajah Alina.
"Jangan bergerak," suara Leon terdengar sangat parau khas orang yang baru terbangun dari tidur, berat dan serak di dekat telinga Alina.
"Selang infusmu bisa bergeser." sahutnya.
Alina membeku di tempat, napasnya tertahan. "Le... Leon... kamu... kenapa tidur di sini?"
Leon tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangan kirinya, menempelkan punggung jemarinya di dahi Alina untuk memeriksa suhunya. Sentuhan dingin dari jemari Leon membuat Alina sedikit tersentak.
"Panasmu sudah turun," gumam Leon pelan, mengabaikan pertanyaan Alina.
Pria itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada headboard tempat tidur tanpa melepaskan pandangannya dari Alina.
"Dokter Siska bilang kamu harus istirahat total hari ini. Jangan berpikir untuk pergi ke mana pun." ucapnya.
"Tapi syuting..." sahutnya terpotong.
"Tidak ada syuting," potong Leon tegas dengan nada bicara yang tak menerima bantahan.
"Proyek drama itu dihentikan sementara sampai seluruh jajaran manajemen rumah produksi menyelesaikan masalah internal mereka." lanjutnya dengan tegas.
Alina menatap Leon dengan mata membelalak heran. "Dihentikan? Kenapa? Apakah karena kejadian kemarin?"
Leon terkekeh sinis, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangannya. "Kejadian kemarin sudah cukup untuk membuktikan bahwa produksi itu tidak profesional. Aku tidak akan membiarkan investasiku berada di tangan orang-orang bodoh yang membiarkan pemain utamanya bertindak sewenang-wenang."
Alina menundukkan kepalanya. Dia mengingat kembali bagaimana Leon melompat ke dalam kolam renang dingin demi menyelamatkannya, bagaimana pria itu menggendongnya di depan puluhan kru, dan ancaman mengerikan yang dilontarkan Leon kepada Clarissa Olivia.
"Leon..." suara Alina memelan, ada kecemasan yang terpancar jelas dari raut wajahnya.
"Bagaimana dengan media? Kemarin ada banyak kru dan asisten di sana. Jika seseorang mengambil foto atau menyebarkan rumor tentang kamu yang menyelamatkanku..." tanya Alina yang cukup khawatir dengan berita diluaran sana.
"Biarkan saja," jawab Leon singkat dan santai.
"Biarkan saja?!" Alina mendongak kaget.
"Tapi namamu bisa terseret skandal! Mereka bisa mencari tahu siapa aku, mereka bisa melacak latar belakangku, dan semua rencana kontrak rahasia kita..."
"Alina," potong Leon lagi. Kali ini tangannya meraih dagu Alina dengan lembut, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya.
"Tidak ada seorang pun di industri ini yang berani mempublikasikan nama atau foto tanpa izin dariku jika mereka masih ingin makan besok lusa. Jefri sudah menangani seluruh saksi di lokasi syuting. Tidak ada satu pun rekaman yang bocor." seru Leon dengan tegas namun tetap lembut saat bicara dengan Alina.
Alina menelan ludahnya yang terasa kering. Kekuasaan yang dimiliki pria di depannya ini sungguh berada di tingkat yang sulit dia jangkau dengan akal sehatnya.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu kamar memecah ketegangan di antara mereka. Pintu terbuka pelan, dan Jefri melangkah masuk dengan membawa sebuah tablet digital dan tas dokumen di tangannya.
Sekretaris kepercayaan Leon itu tidak sedikit pun menunjukkan wajah terkejut melihat Alina terbaring di atas tempat tidur Leon dengan selang infus.
"Selamat pagi, Tuan Leon, Nona Alina," sapa Jefri sangat profesional.
"Maaf mengganggu istirahat Anda, tapi ada beberapa hal mendesak yang harus saya laporkan." serunya.
Leon memperbaiki posisi duduknya, membiarkan selimut tetap menutupi tubuh Alina.
"Bicara." ucapnya dengan dingin.
.
.
Cerita Belum Selesai.....