BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Hantu
Dunia remaja adalah tempat di mana sebuah kebohongan yang dikemas dengan logika menarik bisa jauh lebih cepat dipercaya daripada kebenaran yang membingungkan. Dion tahu betul prinsip dasar psikologi massa tersebut. Baginya, ketakutan adalah instrumen yang paling mudah dimainkan untuk menggerakkan orang-orang di sekitarnya.
Di pojok perpustakaan sekolah yang sepi saat jam pelajaran kosong, Dion duduk dengan laptop terbuka. Jemarinya yang bersih mengetik beberapa baris kalimat di sebuah forum obrolan anonim yang beranggotakan hampir seluruh siswa angkatan dua belas SMA Mahardika High School. Ia tidak menulisnya sebagai sebuah tuduhan kasar, melainkan sebagai sebuah analisis logis yang dingin gaya khasnya yang selalu berhasil meyakinkan orang lain.
[Anonim]: Kalian pernah dengar fenomena psikologis bernama Crisis Apparition atau entitas yang menolak mati? Secara medis dan biologis, mustahil abu kremasi kembali jadi manusia. Tapi secara metafisika, ada kasus di mana seseorang yang meninggal secara mendadak dalam kecelakaan tragis, jiwanya menolak menerima kenyataan. Mereka kembali ke rumah, pakai baju biasa, bahkan masuk sekolah, karena proyeksi energi mereka mengira mereka cuma ketiduran sebentar. Mereka adalah arwah yang belum sadar kalau dirinya sendiri sudah meninggal. Hati-hati, jangan terlalu dekat. Energi negatif dari orang mati bisa mengikis kewarasan kalian.
Dion menekan tombol enter. Sepasang matanya yang sipit menatap layar dengan kepuasan yang samar. Ia tahu, di tengah kepanikan massal yang belum mereda, narasi arwah yang belum sadar ini adalah penjelasan paling masuk akal bagi para siswa yang menolak percaya pada mukjizat, sekaligus bagi mereka yang takut pada hal-hal gaib.
...****************...
Efek dari tulisan Dion bekerja seperti reaksi berantai yang mengerikan. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, tangkapan layar dari unggahan tersebut telah disebarkan ke ratusan grup percakapan kelas. Dari kelas IPA hingga IPS, dari koridor lantai satu hingga area parkir belakang, narasi baru itu merayap cepat, menggantikan teori konspirasi operasi plastik yang sempat beredar kemarin.
"Lu udah baca grup angkatan?" bisik seorang siswi kelas sebelah saat berpapasan dengan Naomi di depan ruang mading. "Teori tentang Rayyan. Masuk akal banget, kan? Makanya dia kemarin pas ditanya Pak Herman cuma bilang kayak merem lima menit. Dia emang gak tahu kalau tubuh aslinya udah jadi abu!"
Naomi menghentikan langkahnya, menatap temannya dengan pandangan tidak percaya. "Lu gila ya? Masa lu percaya sama tulisan anonim kayak gitu? Rayyan itu kemarin di kantin jelas-jelas megang botol teh dingin, dia juga napas!"
"Ya justru itu! Di tulisan itu dijelasin, proyeksi energinya kuat banget sampai bisa manipulasi benda fisik di sekitarnya. Tapi tetep aja, dia itu... hantu. Arwah penasaran," balas siswi itu dengan wajah ketakutan sebelum bergegas pergi.
Ketakutan yang tidak rasional mulai mengambil alih akal sehat para siswa SMA Mahardika. Rumor hantu ini berkembang berkali-kali lipat lebih liar daripada gosip mana pun yang pernah ada. Lingkungan sekolah yang modern dan elite itu mendadak diselimuti oleh atmosfer takhayul yang mencekam.
...****************...
Dampak nyata dari rumor tersebut langsung dirasakan oleh Rayyan pada jam pelajaran berikutnya. Saat ia melangkah masuk ke dalam lab fisika untuk praktikum kelompok, suasana mendadak berubah canggung.
Biasanya, dalam kerja kelompok, kehadiran siswa dari keluarga Mahendra akan menjadi rebutan karena kecerdasannya. Namun hari ini, ketika Rayyan berjalan mendekati salah satu meja praktikum yang masih menyisakan dua kursi kosong, dua orang siswa yang berada di sana langsung buru-buru mengambil tas mereka dan pindah ke meja lain di sudut paling belakang.
Rayyan berdiri terpaku di samping meja yang kosong. Tangannya yang memegang buku panduan praktikum perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan mata yang mengintip dari balik punggungnya, pandangan yang penuh dengan kewaspadaan dan jarak yang sengaja diciptakan.
Tidak berhenti sampai di situ. Saat jam istirahat kedua, ketika Rayyan sedang berjalan menyusuri koridor lantai dua yang bermandikan cahaya matahari siang dari jendela-jendela besar, ia menangkap sebuah kejanggalan di belakangnya.
Dua orang siswa kelas sebelas tampak berjalan beberapa meter di belakangnya dengan gerakan yang sangat mencurigakan. Salah satu dari mereka memegang ponsel pintarnya secara horizontal, mengarahkan lensa kamera bukan ke wajah Rayyan, melainkan ke arah lantai marmer di bawah kaki Rayyan.
Klik. Klik.
Suara rana kamera yang sengaja disamarkan itu terdengar oleh telinga Rayyan yang sensitif. Rayyan menghentikan langkahnya mendadak, lalu berbalik arah.
Kedua adik kelas itu langsung terlonjak kaget. Wajah mereka memucat seketika, seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar. Dengan gerakan panik, siswa yang memegang ponsel langsung menyembunyikan benda tersebut ke dalam saku celananya, sementara temannya berpura-pura sibuk melihat jam tangan.
Rayyan menatap mereka dengan dahi berkerut dalam. "Lu berdua ngapain?" tanya Rayyan, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.
"Nggak... nggak ngapa-ngapain, Kak! Kami cuma... cuma mau lewat!" sahut salah satu dari mereka dengan suara yang bergetar hebat. Tanpa menunggu balasan dari Rayyan, kedua remaja itu langsung berbalik dan berlari tunggang-langgang menuruni anak tangga seolah-olah sedang dikejar oleh monster.
Rayyan hanya bisa berdiri diam di tengah koridor yang sepi. Ia perlahan menundukkan kepalanya, menatap ke arah lantai marmer di bawah kakinya sendiri.
Di sana, di bawah siraman cahaya matahari siang yang terik dari jendela luar, sebuah siluet tubuh berwarna hitam pekat terentang dengan sangat jelas. Itu adalah bayangannya sendiri. Sebuah bayangan yang sempurna, yang mengikuti setiap lekuk tubuhnya dengan presisi.
Rayyan mengepalkan kedua telapak tangannya di dalam saku celana. Rasa sesak yang teramat sangat mulai menghimpit dadanya. Mereka sedang memeriksa bayangannya. Mereka sedang memastikan apakah dirinya memiliki tanda-tanda sebagai makhluk hidup, ataukah ia benar-benar hanya sesosok arwah tak kasat mata seperti yang dirumorkan di luar sana.
Dijauhi, ditakuti, dan dianggap sebagai entitas yang tidak seharusnya berada di dunia ini Rayyan mulai merasakan betapa dinginnya kehidupan keduanya ini berjalan.
...****************...
Sementara itu, di area halaman belakang sekolah yang dipenuhi oleh pohon-pohon angsana yang rindang, atmosfer terasa berkali-kali lipat lebih panas.
Revan sedang duduk bersandar pada batang pohon besar, salah satu kakinya diangkat ke atas bangku taman. Di depannya, Kelvin berdiri dengan wajah yang dipenuhi oleh kecemasan, memegang ponselnya yang masih menampilkan ruang obrolan grup angkatan.
"Van, lu harus liat ini," ujar Kelvin, menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Revan yang sedang memejamkan mata mencoba beristirahat.
Revan membuka sebelah matanya dengan malas. "Gua gak tertarik sama gosip sampah sekolah."
"Ini bukan gosip biasa, Van! Ini tentang Rayyan!" tekan Kelvin, suaranya sedikit mendesak. "Si Dion... bajingan itu kayaknya yang mulai. Dia bikin tulisan anonim di grup angkatan, bilang kalau Rayyan itu sebenernya udah mati dan yang sekarang masuk sekolah itu cuma arwah penasaran yang belum sadar kalau dirinya udah dikremasi. Sekarang anak-anak seangkatan pada jauhin Rayyan, bahkan tadi ada yang sengaja foto-foto bayangannya buat mastiin dia hantu apa bukan!"
Brak!
Seketika itu juga, Revan menurunkan kakinya dari bangku taman dengan hentakan yang sangat keras. Ia merebut ponsel dari tangan Kelvin dengan gerakan yang sangat kasar, hingga kuku jarinya sempat menggores layar kaca tersebut.
Sepasang mata gelap Revan menyusuri setiap baris kalimat yang tertulis di dalam tangkapan layar forum anonim itu. Semakin ia membaca kata demi kata tentang Crisis Apparition, tentang energi negatif orang mati, dan tentang ajakan untuk menghindari Rayyan maka rahang tegap Revan semakin mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang hebat.
Dada Revan bergolak oleh amarah yang teramat sangat dahsyat, sebuah emosi yang berkali-kali lipat lebih besar daripada kemarahannya saat kalah bertanding basket.
Revan mengingat dengan sangat jelas bagaimana rasa hangat yang nyata dari kulit pipi Rayyan merambat naik ke ujung jarinya tiga hari lalu. Ia mengingat dengan sangat pasti bagaimana detak nadi yang stabil berdenyut di bawah tekanan jemarinya, dan bagaimana napas remaja itu berembus nyata di depannya. Rayyan hidup. Rayyan bernapas. Rayyan nyata berada di dunia ini bersamanya.
Dan sekarang, orang-orang bodoh di sekolah ini yang diprovokasi oleh analisis sampah milik Dion berani mengorbankan kewarasan Rayyan dan memperlakukannya seperti seonggok hantu gentayangan yang menjijikkan?
"Bajingan," desis Revan, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan dipenuhi oleh aura membunuh yang sangat pekat.
Krak!
Revan melempar ponsel milik Kelvin ke atas meja taman berbahan semen di depannya dengan kekuatan penuh, hingga casing bagian belakang ponsel itu sedikit retak. Ia langsung berdiri tegak, membetulkan letak kerah seragamnya yang kusut dengan gerakan yang kasar.
"Van! Mau ke mana lu?!" teriak Kelvin panik, buru-buru memungut ponselnya yang malang dari atas meja.
Revan tidak menjawab. Ia melangkah pergi dari area halaman belakang dengan langkah kaki yang lebar dan penuh amarah yang meledak-ledak. Pandangan matanya lurus ke depan, mengunci ke arah gedung utama sekolah.
Hari ini, jika ada orang yang harus menyadarkan seluruh siswa di sekolah ini tentang batas antara kenyataan dan kebohongan, maka orang itu adalah dirinya. Dan jika Dion atau siapa pun itu berpikir bisa menggunakan kematian Rayyan sebagai bahan permainan psikologis, maka mereka harus bersiap menghadapi konsekuensi paling mengerikan dari seorang Revan Sanjaya. Badai besar telah kembali berkumpul di SMA Mahardika, dan kali ini, Revan tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keajaiban yang baru saja ia dapatkan kembali.