Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mobil yang membawa Gavin melaju perlahan meninggalkan kawasan perkebunan teh. Dari balik kaca jendela, hamparan hijau yang membentang di lereng pegunungan semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di balik tikungan.
Sherly menoleh ke arah putranya yang duduk di samping jendela. "Jangan terlalu memaksakan diri bekerja," pesannya lembut. "Kalau sudah ada waktu, pulanglah lagi. Kakekmu pasti senang."
Gavin mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Meski bibirnya menjawab singkat, pikiran Gavin sama sekali tidak berada di dalam mobil itu. Bayangan wajah Dara terus berputar di kepalanya. Gadis itu tidak banyak bicara. Tatapannya selalu menunduk. Namun, setiap kali ditanya, ia menjawab dengan sopan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kesal.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengusik pikirannya. Pipi kiri Dara.
Saat pertama kali bertemu, pipi gadis itu tampak sedikit bengkak dan memerah. Memang sudah ditutupi bedak tipis, tetapi bekasnya masih terlihat jelas. Semakin dipikirkan, semakin janggal rasanya.
Saat itu, Tina dan Rama beberapa kali menjawab pertanyaan yang seharusnya dijawab sendiri oleh Dara. Seolah-olah mereka takut Dara mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
Gavin mengembuskan napas pelan. "Mungkin aku terlalu banyak berpikir," gumamnya lirih.
Meski begitu, firasat Gavin tak kunjung menghilang. Rutinitas di ibu kota kembali menyita waktunya. Pagi hari ia sudah berada di ruang rapat. Siang berganti meninjau pabrik pengolahan teh milik keluarga.
Sore hari bertemu calon mitra bisnis. Malamnya masih harus memeriksa laporan produksi yang menumpuk di atas meja kerja. Kesibukan itu membuat hari-harinya berlalu begitu cepat.
Di sela-sela pekerjaannya, pikiran Gavin selalu kembali kepada gadis yang ditemuinya di pegunungan. Beberapa kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu bukan urusannya. Toh, Dara belum menjadi istrinya.
Mungkin saja pipi yang memerah itu benar-benar karena terbentur sesuatu. Namun, setiap kali bayangan wajah Dara muncul, hati kecilnya selalu membantah.
Tatapan mata gadis itu bukan tatapan seseorang yang baru saja terbentur. Ada keraguan dan ketakutan. Seolah ia sudah terbiasa menyembunyikan sesuatu.
Gavin memijat pelipisnya pelan. "Aku hanya berharap firasatku salah."
Hari yang dinantikannya akhirnya tiba, yaitu akhir pekan. Sejak pagi, Gavin kembali menempuh perjalanan menuju perkebunan teh milik keluarganya.
Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambutnya begitu mobil memasuki gerbang perkebunan. Beberapa pekerja yang melihat kedatangannya segera membungkukkan badan dengan hormat.
"Selamat datang, Den Gavin."
Gavin membalas sapaan mereka dengan anggukan ramah. Ia tidak langsung menuju rumah besar Juragan Darmawan. Sebaliknya, ia meminta sopir menghentikan mobil di dekat kantor kecil perkebunan.
Di sana, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun sedang memeriksa hasil panen pagi. Rambutnya telah dipenuhi uban. Kulitnya legam terbakar matahari. Namun sorot matanya masih tajam.
Dialah Pak Rahmat, mandor perkebunan yang sudah bekerja sejak masa ayah Gavin masih hidup.
Melihat Gavin datang, Pak Rahmat segera meletakkan buku catatannya. Pria tua itu tersenyum hangat.
"Den Gavin, jarang sekali Den mampir ke kantor kebun."
Gavin membalas senyum tipis. "Aku ingin berbicara sebentar, Pak."
"Tentu." Pak Rahmat mempersilakan Gavin duduk di bangku kayu di bawah pohon besar yang rindang.
Angin pegunungan bertiup pelan, menggerakkan dedaunan di atas kepala mereka. Beberapa saat, Gavin memilih diam. Ia tampak sedang menyusun kata-kata.
Pak Rahmat tidak mendesak. Ia mengenal Gavin sejak kecil. Pemuda itu memang tidak suka berbicara panjang lebar.
"Ada yang ingin Den Gavin tanyakan?" akhirnya Pak Rahmat membuka percakapan.
Gavin mengangguk. "Pak Rahmat mengenal Dara?"
"Tentu. Gadis yang akan menikah dengan Den itu, kan?" jawaban itu keluar tanpa ragu. Pak Rahmat tersenyum kecil. "Dia anak yang baik."
Gavin memperhatikan wajah pria tua itu. "Seperti apa dia?"
Pak Rahmat tampak sedikit heran. "Den Gavin ingin tahu tentang Dara?"
"Iya."
Pria tua itu mengangguk pelan. "Kalau soal bekerja, Dara tidak perlu diragukan. Dia pekerja keras. Jika ada pekerjaan yang belum selesai, dia tidak pernah meninggalkannya."
Gavin menyimak dengan saksama. "Padahal kakinya tidak sekuat pekerja lain."
Pak Rahmat menghela napas. "Kadang kasihan melihatnya. Kakinya sering terlihat sakit kalau terlalu lama berdiri. Tapi kalau aku suruh istirahat, dia malah tersenyum. 'Tidak apa-apa, Pak. Aku masih kuat,' begitu katanya."
Sudut rahang Gavin mengeras. "Lalu, bagaimana dengan keluarganya?"
Pertanyaan itu membuat senyum Pak Rahmat perlahan memudar. Pria tua itu terdiam cukup lama. Seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus menjawab atau tidak.
"Katakan saja semua yang Bapak tahu. Baik itu hal baik atau hal buruk dari keluarganya," kata Gavin pelan.
Pak Rahmat menatap wajah calon tuan mudanya itu. "Den benar-benar ingin tahu?"
"Iya."
Pak Rahmat menghela napas panjang. "Sebenarnya banyak warga yang iba pada Dara."
Alis Gavin bertaut. "Kenapa?"
"Karena sejak kecil Dara seperti menanggung hidupnya sendiri. Setiap hari dia mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk mendapatkan uang, Dara bekerja serabutan di rumah-rumah yang membutuhkan tenaganya."
Walau sedikit terkejut, tetapi Gavin tidak menyela.
"Ini yang jarang orang tahu, Den. Kadang malam hari Dara masih disuruh menyiapkan keperluan Paman dan Bibinya. Besok paginya, dia sudah berangkat lagi ke kebun."
Jemari Gavin perlahan mengepal. "Uang hasil kerjanya?"
Pak Rahmat menggeleng pelan. "Setahuku, selalu diberikan kepada Bibinya. Katanya untuk biaya hidup."
Gavin menarik napas panjang sebelum melanjutkan pertanyaannya. "Apakah mereka sering memperlakukannya dengan kasar?"
Pak Rahmat terdiam. Sorot matanya berubah sendu. "Aku tidak pernah melihat langsung."
Pria tua itu menatap jauh ke arah lereng perkebunan. "Beberapa kali Dara datang bekerja dengan luka kecil di wajah atau lengannya. Dia selalu bilang tidak sengaja terbentur."
Pak Rahmat menggeleng pelan. "Tapi bapak juga tidak yakin semua luka itu benar-benar karena kecelakaan tak sengaja."
Ucapan itu membuat dada Gavin terasa sesak. Firasat yang sejak beberapa hari terakhir mengganggunya, ternyata bukan sekadar dugaan. Ia menoleh ke arah hamparan kebun teh yang membentang luas.
Di kejauhan, puluhan pekerja tampak sibuk memetik pucuk-pucuk daun teh. Entah mengapa d antara begitu banyak orang, matanya langsung mencari satu sosok yang sama. Seorang gadis bertopi caping dengan langkah yang sedikit pincang.
Tanpa disadarinya, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya sejak perjodohan itu disepakati, Gavin tidak lagi hanya merasa penasaran. Ia mulai merasa kesal. Bukan kepada Dara, melainkan kepada orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, tetapi justru membuat gadis itu menjalani hidup yang begitu berat.