Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Michelle mendesis kesal begitu melihat di luar ternyata benar-benar hujan, dan ia sekarang terjebak di teras minimarket tak jauh dari komplek rumahnya-- maksudnya rumah Alvin.
Hal kedua yang harus Michelle rutuki adalah, ia hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan baju lengan pendek. Pakaian santai yang biasa ia pakai saat di rumah karena ia pikir tempat ini tidak terlalu jauh, jadi tidak perlu ribet berganti pakaian.
Sekarang pukul delapan malam, entah kenapa tadi Michelle tiba-tiba ingin membeli mie samyang cepat saji, jadilah ia keluar sendiri untuk membeli di minimarket terdekat.
Alvin sedang tidak di rumah, jadi Michelle tidak bisa minta tolong cowok itu untuk mengantarnya. Lagipula walau pun Alvin sedang tidak sibuk, cowok itu pasti juga akan menolak.
"Michelle?"
Michelle berjingkat saat seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya, ia langsung mengelus dada begitu tahu siapa yang kini berdiri di sampingnya.
"Kayaknya ngagetin gue jadi hobby baru lo ya, Raf?"
Raffa terkekeh, cowok berjaket bomber itu menggaruk tengkuk belakangnya. Rambut hitam Raffa tampak sedikit basah, begitupula dengan jaket dan celana cowok itu, pasti Raffa habis berlari menerjang hujan.
"Lo ngapain di sini?" tanya Raffa setelah jeda diam.
"Harusnya gue yang tanya, lo ngapain di sini? Rumah lo kan nggak lewat jalan ini."
"Emang rumah lo di sekitar sini?"
Pertanyaan balik Raffa membuat Michelle terdiam, belum saatnya cowok itu tahu kalau Michelle tinggal tak jauh dari market ini, dan tepatnya di rumah Alvin.
"Enggak sih." Michelle tertawa garing. "Gue dari luar, terus karena hujan jadi mampir dulu."
Perhatian Raffa teralih pada kantong plastik di tangan kanan Michelle. "Mampir sekalian borong?" tanya Raffa, lalu tertawa kecil.
Michelle meringis terpaksa, ia berharap Raffa tidak bertanya lebih jauh.
"Duduk sini," ajak Raffa, lalu duduk di kursi tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Michelle mengangguk, lalu duduk di kursi lain, berbatas meja dengan Raffa yang kini melepas jaket bombernya.
"Pakek jaket gue."
Michelle menoleh, Raffa meletakkan jaket bomber hijau army itu di atas meja. Cowok itu beranjak.
"Mau kopi sekalian nggak? Gue mau beli," tawar cowok itu.
"Al?"
Michelle mengerjap saat Raffa melambaikan tangan di depan wajahnya, ia tertarik dari lamunan.
"Apa?"
Raffa tersenyum. "Jangan ngelamun, Al, udah malem," tegurnya. "Gue mau beli kopi, lo mau nggak? Dingin banget soalnya, butuh yang anget."
Michelle menggeleng. "Lo aja deh," jawabnya.
"Oke." Raffa mengangguk. "Jaket gue pakek aja, entar lo kedinginan," kata cowok itu sebelum masuk ke mini market.
Michelle menatap jaket bomber milik Raffa yang ada di atas meja, lalu meraihnya.
"Andai Kak Alvin sebaik Raffa, gue seneng banget pasti."
.
.
.
.
.
"Hatchu!"
Michelle mengusap hidungnya yang memerah, ia terus bersin sejak pagi tadi dan itu sangat mengganggu. Tepat setelah Michelle menutup pintu kamarnya, pintu sebelah terdengar terbuka.
Michelle langsung memasang senyum terbaiknya. "Selamat pagi, Kak Le— Hatchu!"
Alvin yang baru keluar dari kamar lantas menoleh, cowok itu menatap datar pada Michelle yang tampak kesal sendiri. Lalu pergi meninggalkan cewek itu setelah menutup pintu.
"Loh, kok ditinggal?" panik Michelle. "Kak Alvin, tungguin! Michelle bareng!"
"Michelle, jangan lari-lari," tegur Lita saat melihat Michelle turun tangga dengan tergesa-gesa.
"Kak Alvin mana, Tante?" tanya Michelle langsung.
"Udah ke luar, sini kamu sar--"
"Michelle berangkat dulu, Tante. Assalamualaikum!" Michelle salim dengan tergesa dan langsung berlari menuju pintu utama, ia bisa mendengar suara mesin motor dinyalakan tepat saat keluar dari pintu.
"Kak Alvin! Bareeeng!"