NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Fisika Murni Ala Rendy.

***

Lampu lalu lintas di perempatan jalan raya utama ibukota itu mendadak berubah warna menjadi hijau terang. Dalam sekejap mata, keheningan sunyi yang sempat menjerat kabin mobil Galen langsung pecah oleh raungan klakson bersahut-sahutan dari barisan kendaraan di belakang mereka.

Gelombang mobil dan ratusan sepeda motor mulai bergerak maju, merayap membelah aspal jalanan yang mulai dikepung oleh polusi udara pagi.

Rendy membetulkan posisi duduknya di atas jok motor sport miliknya. Ia melirik sekilas ke arah kaca spion, melihat posisi Freya yang masih duduk agak menjauh dengan jarak yang canggung di kursi boncengan belakang. Cowok jangkung itu menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, berteriak di balik helm full-face hitamnya.

"Freya! Pegangan yang erat!". Seru Rendy, suaranya mencoba bersaing dengan deru mesin bus kota di samping mereka. "Waktu kita sudah mepet sekali! Kurang dari lima belas menit lagi gerbang sekolah akan dikunci! Aku terpaksa harus sedikit ngebut dan menyelip di antara kemacetan!".

Namun, Freya tidak mendengar ucapan tersebut dengan jelas. Suara bising dari knalpot kendaraan lain, deru mesin truk, dan klakson yang memekakkan telinga di sekitar mereka membuat pendengaran gadis remaja tujuh belas tahun itu terganggu. Freya hanya menatap punggung jaket Rendy dengan kerutan samar di keningnya, tampak kebingungan di balik kaca helm hitamnya.

"Hah? Apa, Ren?! Aku nggak dengar!". Balas Freya berteriak.

Melihat respons Freya yang tidak menangkap ucapannya dengan benar, Rendy tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Keamanan gadis di belakangnya adalah prioritas utamanya pagi ini.

Tanpa aba-aba, Rendy melepaskan tangan kirinya dari stang motor sejenak. Dengan gerakan yang teramat lembut namun pasti, cowok itu menjangkau ke belakang, meraih pergelangan tangan mungil Freya yang terasa dingin, lalu menarik tangan lentik itu ke depan.

Rendy melingkarkan kedua lengan Freya secara paksa namun lembut tepat di atas permukaan perutnya yang rata, mengunci posisi tangan gadis itu agar memeluk pinggangnya dengan erat.

Deg.

Freya seketika tersentak kaget. Sepasang mata bulat indahnya membelalak sempurna di balik kaca helm. Jantung gadis remaja bertubuh sintal itu berdegup kencang dengan ritme yang berantakan.

Jarak di antara mereka mendadak terkikis habis menjadi nol. Akibat sentakan tarikan tangan Rendy dan percepatan motor yang mendadak melesat maju, tubuh bagian depan Freya merangsek ke depan, bersentuhan langsung dan menempel rapat pada punggung kokoh milik Rendy.

Kebersamaan yang teramat dekat dan intim ini adalah sesuatu yang belum pernah Freya rasakan dari cowok manapun di sekolahnya.

"Nah, begini lebih aman, Frey! Diam dan peluk yang erat ya, aku tidak mau putri kesayangan keluarga Danendra jatuh ke aspal!". Teriak Rendy dari balik helmnya, disusul oleh tawa renyah yang memancarkan kehangatan masa muda.

Mendengar ucapan Rendy yang begitu protektif namun diselingi candaan santai, Freya yang tadinya sempat panik mendadak terdiam membisu. Rasa salah tingkah yang luar biasa hebat melanda dirinya, membuat wajahnya kian merona merah jambu di balik helm.

Namun, di balik rasa malunya, ada sejenis rasa hangat—nyaman dan aman yang sangat nyata yang perlahan merayap naik menyelimuti rongga dada Freya. Berada di dekat Rendy terasa begitu kontras dengan hawa dingin mematikan yang selalu memancar dari tubuh sang duda di rumah.

Rendy kembali melajukan motor sport-nya dengan lincah, menyelinap di antara celah-celah mobil mewah yang terjebak macet. "Frey! Kenapa aku suka ngebut kalau ngantar gadis cantik?". Seru Rendy lagi, membuka obrolan baru untuk mencairkan ketegangan Freya.

"Kenapa, Ren?!". Tanya Freya, suaranya terdengar lebih meredam karena wajahnya kini bersandar di dekat pundak jaket Rendy.

"Agar durasi pelukan di pinggangku ini berjalan lebih maksimal karena gaya gravitasi sentrifugal jalan raya! Fisika murni, Frey!". Bual Rendy asal-asalan dengan nada super percaya diri.

Suara tawa lepas yang teramat renyah, manis, dan merdu seketika kembali pecah dari balik helm Freya. Gadis remaja itu tertawa begitu lepas, melupakan sejenak seluruh memar di rahangnya dan teror masa lalu.

"Rendy, kamu benar-benar gak waras! Alasan fisika macam apa itu!". Seru Freya sembari mempererat pelukannya di perut Rendy tanpa sadar akibat tubuhnya yang berguncang halus karena terlalu geli mendengarkan lawakan konyol cowok tersebut.

Namun, seluruh kebahagiaan, tawa lepas, dan pelukan hangat masa remaja yang terjadi di atas motor sport merah metalik itu masih terus disaksikan secara langsung oleh sepasang mata elang dari belakang mereka.

Di dalam kabin mobil Mercedes-Benz hitam yang melaju konstan beberapa meter di belakang motor Rendy, atmosfer yang tercipta benar-benar mengerikan. Aura membunuh yang teramat pekat seolah mengkristal di dalam ruangan kedap suara tersebut.

Galen Danendra mencengkeram erat lingkar kemudi dengan kedua tangan kekarnya yang menegang kuat, hingga buku-buku jarinya memutih kaku dan urat-urat di sepanjang lengan kemeja navy-nya mencuat menonjol sempurna.

Rahang tegas sang CEO muda berumur dua puluh sembilan tahun itu mengetat begitu rapat hingga giginya bergemertak keras di dalam mulut. Sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan kilat amarah kejam saat melihat dengan kepala sendiri bagaimana tangan mungil Freya kini melingkar erat, memeluk mesra perut bocah laki-laki ingusan teman sekolahnya tersebut.

“Sialan! Benar-benar lancang”. Gertak Galen di dalam hati, napasnya memburu pendek dan terasa luar biasa panas memenuhi rongga dadanya.

Pagi ini, seluruh logika bisnis, ketenangan profesional, dan harga diri tinggi seorang Galen Danendra runtuh berantakan menjadi abu di atas aspal jalan raya raya utama.

Pikirannya benar-benar telah berkecamuk hebat, diacak-acak secara brutal hingga ia tidak mampu lagi berpikir jernih hanya karena ulah seorang gadis remaja tujuh belas tahun yang menumpang di hidupnya.

Rasa tidak rela yang teramat liar bergejolak hebat di dalam dadanya melihat milik keluarga Danendra—peliharaan kecil yang harusnya membusuk di bawah rasa bersalah atas kematian istrinya—justru bisa memeluk pria lain dan tertawa sebahagia itu di depan umum.

"Kau benar-benar sudah tidak punya rasa takut lagi rupanya, Freya Anindita”. Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang teramat kejam dan dipenuhi racun ancaman yang mematikan.

Pria itu menggeram kesal pada dirinya sendiri karena menyadari betapa fokusnya hari ini telah hancur total hanya karena memikirkan Freya.

"Kau mengabaikan ciumanku kemarin sore... kau melanggar ancamanku pagi ini... Kau pikir dengan memeluk bocah ingusan itu kau bisa bebas dari neraka yang aku ciptakan, hah?!". Gumam Galen dingin pada dirinya sendiri, tatapan elangnya terus mengunci pergerakan motor sport di depannya dengan kilat amarah yang kian menggelap di dalam bola matanya.

“Tertawalah sepuas mu pagi ini, Bocah Sialan. Karena nanti... aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan didalam hidupmu".

Galen menginjak pedal gas mobilnya dengan sentakan yang sangat kasar, membiarkan mesin Mercedes-Benz miliknya menderu kencang membuntuti jalur motor Rendy dari jarak aman, siap membawa sisa hari Freya masuk ke dalam lingkaran takdir kejam yang puluhan kali lipat lebih mengerikan dari sebelumnya.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!