"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
Satria, merasa jantungnya seperti dihantam oleh palu tak kasat mata, memicu kepulan rasa tidak nyaman yang membakar di dalam dadanya. Kalimat Keisha di telepon dua hari lalu yang mengatakan bahwa Rendra 'cuma teman sekelompok' mendadak terasa meragukan di telinganya saat melihat pemuda itu berani bertamu langsung ke rumah sore ini.
Satria menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahan egonya yang mendadak bergejolak. Ia menatar Rafka dengan sorot mata yang sangat dingin namun tertata.
"Rafka, Papa sudah pernah bilang, jangan bicara sembarangan," tegur Satria dengan suara yang sangat rendah dan berat, memberikan penekanan di setiap katanya. "Om Rendra itu teman kuliah Tante Kei, mereka hanya ingin belajar. Masuk ke kamar dan mandi sekarang."
Rafka yang merasakan perubahan nada suara papanya yang mendadak sangat galak langsung menciut. Bocah itu mengerucutkan bibirnya sedih, lalu dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi tanpa berani membantah lagi.
Ayah Farrel berdeham kecil, mencoba menetralkan suasana ruangan yang mendadak terasa mencekam akibat kecemburuan tak kasat mata dari sang Mayor. "Satria ... anak kecil memang begitu, suka asal bicara kalau lihat Keisha pulang bersama teman laki-lakinya. Kamu jangan terlalu dipikirkan."
Satria mengatur kembali posisi duduknya, membetulkan letak lengan kemeja seragamnya yang licin dengan gerakan kaku. "Saya mengerti, Ayah. Tidak apa-apa."
Meskipun ucapannya terdengar sangat tenang dan formal, mata Satria tidak pernah benar-benar lepas dari arah ruang tamu. Di balik dinding pembatas itu, Rendra yang sedang duduk sendirian mendadak merasa bulu kuduknya remang-remang tanpa sebab, seolah-olah ada sepasang mata predator yang sedang mengintai gerak-gerik tubuhnya dari kegelapan.
***
Keisha menuruni anak tangga dengan setengah berlari, tangan kanannya memegang map plastik bening berisi tumpukan kertas makalah. Langkahnya terhenti sejenak di perbatasan ruang tengah begitu melihat suasana ruangan yang mendadak terasa lebih dingin daripada semalam. Ayah Farrel sudah pindah ke halaman belakang untuk menyiram tanaman, menyisakan Satria yang masih duduk tegap sendirian di sofa.
Mendengar langkah kaki Keisha, Satria tidak menoleh. Ia justru meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan dengan gerakan kaku yang teratur.
Keisha mengabaikan ketegangan itu, lalu melangkah lebar menuju ruang tamu depan tempat Rendra menunggunya. "Nih, Ren. Untung ketemu di bawah tumpukan buku komik. Bab dua sama draf metopen-nya udah lengkap di dalam."
Rendra langsung berdiri, menerima map tersebut dengan wajah lega. "Alhamdulillah. Makasih banyak ya, Kei. Kalau gitu gue langsung balik aja deh, biar bisa buru-buru diprint sama dijilid. Keburu toko fotokopian dekat kampus tutup."
"Eh, buru-buru banget? Enggak mau minum teh dulu?" tanya Keisha basa-basi.
"Enggak usah, Kei. Makasih. Cuaca di luar juga udah mulai gerimis nih," jawab Rendra sembari melirik ke arah luar jendela, lalu secara refleks matanya melirik ke arah ruang tengah. Punggung tegap Satria yang terlihat dari balik lemari pembatas entah kenapa membuat nyali pemuda itu ciut. "Gue pamit ya."
"Ya udah, yuk gue antar sampai depan pintu."
Namun, baru saja Keisha dan Rendra membalikkan badan menuju pintu keluar, sebuah suara berat, rendah, dan penuh penekanan mengalun dari arah ruang tengah.
"Keisha."
Langkah kaki kedua anak muda itu langsung membeku. Keisha menoleh ke belakang, mendapati Satria sudah berdiri tegak. Seragam PDH hijau lumutnya yang licin membuat postur tubuhnya terlihat semakin mengintimidasi sore itu. Kedua tangan Satria terlipat di belakang punggung, sepasang mata tajamnya menatar lurus ke arah mereka.
"Iya, Kak? Kenapa?" tanya Keisha heran.
Satria melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di perbatasan ruang tamu. Tatapan matanya yang sedingin es menyapu wajah Rendra selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengunci penuh pada Keisha. "Temanmu mau langsung pulang?"
"Iya, Kak Satria. Saya mau langsung balik ke kosan karena mau mengejar target jilid makalah," Rendra yang menjawab, suaranya terdengar agak canggung.
Satria tidak merespons kalimat Rendra. Ia tetap menatar Keisha. "Di luar sudah gerimis. Dan ini sudah hampir malam. Tidak sopan membiarkan tamu pulang dalam kondisi seperti ini tanpa ditawari jas hujan."
Keisha mengerjap-ngerjap, sifat absurdnya mulai terusik. "Sejak kapan seorang Mayor Satria peduli sama kenyamanan jas hujan temen kuliahku?" batin Keisha geregetan.
"Rendra bawa jas hujan kok di dalam jok motornya, Kak. Aman," sahut Keisha santai. "Ya kan, Ren?"
Rendra mengangguk cepat. "Iya, Kak. Ada di motor."
Satria memicingkan matanya samar. Rahang tegasnya mengetat. "Bagus kalau begitu. Tapi lain kali, Keisha, kalau membuat janji untuk urusan kuliah, selesaikan di kampus. Rumah adalah tempat untuk istirahat, bukan tempat untuk membawa orang asing masuk tanpa izin tertulis dari orang tua."
Mendengar kalimat yang terdengar sangat diktator dan kaku itu, jiwa barbar Keisha langsung tersengat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatar kakak iparnya dengan berani. "Loh, Kak? Rendra kan bukan orang asing, dia teman kuliah, temen sekelompokku. Lagian Ayah sama Ibu tadi juga udah izinin masuk kok. Kenapa Kak Satria yang jadi repot kayak komandan kompi ngasih hukuman disiplin sih?"
Suasana di ruang tamu mendadak sunyi senyap. Rendra yang berada di tengah-tengah perdebatan keluarga itu menelan ludah dengan susah payah, merasa salah tingkah sendiri.
Satria melangkah satu langkah lebih dekat. Auranya begitu pekat hingga membuat Keisha menahan napas sejenak tanpa sadar. "Kakak hanya menegakkan aturan di rumah ini selama Ayah tidak ada di ruangan. Tugas kamu itu belajar, bukan sibuk berduaan dengan laki-laki yang belum jelas statusnya."
"Berduaan apa sih, Kak?" cerocos Keisha dengan nada tingginya yang khas. "Kita kan mau ambil makalah! Ini ada buktinya kertas setebal ini! Kak Satria ini aneh banget deh dua hari ini, sensitifnya melebihi Ibu-ibu yang lagi PMS!"
"Keisha," potong Satria, suaranya merendah namun getaran perintah di dalamnya begitu mutlak. "Jaga bicaramu."
Rendra yang merasa situasi semakin tidak kondusif akhirnya memberanikan diri menyela. "Eh ... Kei, Kak Satria .. saya pamit pulang dulu ya. Permisi, Kak." Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Rendra buru-buru melangkah keluar menuju motornya, melesat pergi menembus gerimis tipis sore itu seolah baru saja lolos dari introgasi markas besar.
Bersambung...
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹