Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 13: Prof. Hartono
Arya telah membeli tempat tepat di sebelah hidupnya.
Dua hari kemudian, Kirana menemukan bahwa apartemen itu bukan satu-satunya hal yang disiapkan Arya demi mendekatinya.
Ia datang ke ruang penelitian Prof. Hartono membawa draf proposal kompetisi investasi mahasiswa. Dosen senior itu baru kembali dari cuti penelitian dan menyambut Kirana dengan tumpukan buku, dua cangkir teh, serta meja yang nyaris tidak memiliki ruang kosong.
“Duduk, Kirana. Saya sudah baca drafmu.”
“Bagaimana, Prof?”
“Terlalu hati-hati. Mirip seseorang yang saya kenal sebelum dia belajar bahwa pasar tidak memberi hadiah kepada orang ragu-ragu.”
Prof. Hartono mengambil pena merah dan menandai bagian asumsi risiko. Kirana mengenali cara koreksinya. Arya pernah memberi catatan hampir sama pada tugas tambahannya.
“Prof. Arya belajar dari Prof?”
Dosen senior itu langsung mendengus. “Belajar? Dia membuat saya cepat tua.”
“Beliau mantan mahasiswa Prof. Hartono?”
“Mahasiswa paling keras kepala yang pernah saya punya.” Meski mengeluh, kebanggaan jelas terdengar. “Datang dengan argumen lengkap, membantah saya di kelas, lalu membuktikan angka-angkanya benar. Setelah lulus di luar negeri pun masih suka menelepon kalau butuh sesuatu.”
“Termasuk jadwal mengajar semester ini?”
Prof. Hartono berhenti menulis. “Dia belum cerita?”
Jantung Kirana bergerak lebih cepat. “Cerita apa?”
“Jadwal itu awalnya untuk asisten dosen lain. Arya datang ke rumah saya tiga kali.”
“Tiga kali?”
“Pertama membawa jurnal. Kedua membawa kopi favorit saya. Ketiga membawa proposal investasi laboratorium.” Prof. Hartono menggeleng, tetapi sudut bibirnya terangkat. “Dia bilang ingin mengajar satu semester untuk menyegarkan dasar akademiknya. Omong kosong.”
“Kenapa Prof tetap kasih?”
“Karena proposal laboratoriumnya bagus.”
“Jadi beliau membeli jadwal?”
“Bukan membeli. Menjebak orang tua dengan rasa penasaran.” Prof. Hartono menyandarkan punggung. “Saya tanya apa alasan sebenarnya. Dia hanya bilang ada seseorang yang kabur sebelum sempat diajak bicara.”
Prof. Hartono kemudian menatap Kirana dengan lebih serius. “Saya menerima dengan syarat. Penilaian akhir kelas tidak boleh dia putuskan sendirian. Semua nilai diperiksa bersama saya, dan mahasiswa boleh mengajukan keberatan langsung ke program studi.”
Kirana terdiam. “Beliau setuju?”
“Tanpa menawar. Arya boleh keras kepala soal kehidupan pribadi, tapi dia tidak bodoh soal etika akademik.”
Ucapan itu mengangkat beban yang tidak Kirana sadari ada di pundaknya. Sejak gosip mulai muncul, ia takut orang akan menganggap nilainya hadiah dari kedekatan. Ternyata Arya dan Prof. Hartono sudah membuat pagar sebelum semester dimulai.
“Nilai saya benar-benar diperiksa Prof?”
Dosen senior itu mengambil map biru dari tumpukan. Di dalamnya ada salinan tugas Kirana, rubrik, serta tanda tangan dua penilai.
“A untuk tugas pertama, A minus untuk analisis revisi. Bukan karena Arya menyukaimu.” Ia mengetuk angka dengan pena. “Karena kamu memang pantas.”
Kirana mengembuskan napas yang tertahan. “Terima kasih, Prof.”
“Jangan berterima kasih dulu. Draf kompetisimu masih harus dirombak.”
Mereka membahas proposal hampir empat puluh menit. Prof. Hartono memaksa Kirana mempertahankan setiap asumsi dengan data, lalu mencoret satu halaman penuh yang dianggap terlalu umum. Saat diskusi berakhir, Kirana membawa tiga halaman revisi, tetapi juga kepastian bahwa kerja kerasnya tetap miliknya sendiri.
Ujung pena Kirana jatuh ke meja.
Prof. Hartono memperhatikannya. “Orang itu kamu?”
“Saya... tidak tahu.”
“Jawaban yang sangat tidak meyakinkan.”
Kirana menunduk pada drafnya. Selama ini ia tahu Arya datang ke UN untuk mengejarnya. Namun membayangkan pria itu mengunjungi mentornya tiga kali, mengubah jadwal kerja, mendanai laboratorium, dan mengambil satu semester penuh membuat segala sesuatu terasa jauh lebih besar.
“Apa Prof. Arya sering melakukan hal seperti itu?”
“Mengejar perempuan?” Prof. Hartono tertawa. “Tidak pernah.”
“Prof yakin?”
“Saya mengenalnya sejak dia masih dua puluh tahun. Perempuan cantik pernah mengejar sampai ruang kerja saya, dan dia malah pindah lewat pintu belakang.”
Kirana teringat ucapan Arya: Tidak ada perempuan lain.
“Kenapa?”
Prof. Hartono tampak hendak menjawab, lalu urung. “Itu urusan Arya sendiri. Kalau dia belum cerita, saya tidak akan mendahului.”
Rahasia lain.
“Tapi saya bisa bilang satu hal,” lanjutnya. “Arya tidak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak dia anggap penting. Kalau dia datang ke sini, berarti dia sudah mengambil keputusan.”
Kirana menatap halaman penuh koreksi merah. Kata-kata itu seharusnya membuatnya takut. Anehnya, yang muncul justru rasa hangat.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Arya masuk membawa map, lalu berhenti saat melihat Kirana.
“Rana?”
“Jangan panggil mahasiswa dengan nama sayang di ruang saya,” tegur Prof. Hartono.
Kirana hampir tersedak teh.
Arya tetap tenang. “Saya membawa laporan laboratorium.”
“Taruh saja. Dan bawa pulang orang yang membuatmu mengganggu masa cuti saya.”
“Prof!” protes Kirana.
Arya menatap mentornya. “Beliau bicara terlalu banyak?”
“Cukup untuk membuat saya tahu Mas menipu beliau.”
“Saya tidak menipu. Saya bernegosiasi.”
“Dengan tiga kunjungan dan laboratorium baru?”
“Empat kunjungan,” koreksi Prof. Hartono. “Yang terakhir dia membawa kue untuk istri saya.”
Kirana memandang Arya tidak percaya. Pria itu sama sekali tidak malu.
“Berhasil, kan?” katanya.
Prof. Hartono tertawa puas, lalu mengusir keduanya agar bisa melanjutkan pekerjaan.
Di koridor, Kirana berjalan di samping Arya dengan map dipeluk ke dada.
“Mas melakukan semua itu hanya untuk satu kelas?”
“Bukan untuk kelasnya.”
“Untuk saya?”
Arya berhenti. “Ya.”
“Kalau saya tetap nggak mau?”
“Saya tetap akan mengajar dengan benar. Dan menunggu sampai kamu yakin.”
Jawaban itu membuat langkah Kirana ringan sekaligus kacau.
Mereka berpisah di ujung koridor karena Arya harus menghadiri rapat fakultas. Kirana baru berjalan beberapa meter ketika mendengar Pak Yudi berbicara kepada dua dosen lain dekat mesin fotokopi.
“Saya lihat sendiri. Mahasiswi itu sering di ruang Prof. Arya sampai sore.”
“Siapa?” tanya salah satu dosen.
Pak Yudi menyipit ke arah Kirana, jelas tidak mengenalinya dari jarak itu. “Yang tinggi, rambut panjang. Katanya bahkan dijemput mobil.”
“Jangan menyebar gosip, Pak.”
“Saya bukan bergosip. Saya menyampaikan pengamatan.”
Ponsel Kirana bergetar. Pesan Winda masuk bersama tangkapan layar akun anonim kampus.
Dosen baru Fakultas Ekonomi dekat dengan mahasiswi terkenal? Ada yang lihat mereka keluar dari ruang dosen berdua.
Puluhan komentar sudah menumpuk.
Satu komentar baru muncul tepat di depan matanya.
Kalau benar, mahasiswinya pasti dapat nilai khusus.
Kirana menggenggam ponsel lebih erat. Ia memiliki rubrik dua penilai sebagai bukti, tetapi membela diri sekarang hanya akan memberi makan akun anonim itu. Untuk pertama kalinya, kedekatan yang terasa hangat di balik pintu apartemen menunjukkan harga yang harus dibayar di depan publik.
Kirana mengangkat wajah. Pak Yudi masih berbicara, sementara dua mahasiswa yang lewat menatapnya lalu berbisik.
Apa yang dimulai Arya sebagai cara mendekatinya kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan diam-diam.