Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Mama Indri syok melihat foto - foto itu, putra nya saat ini sedang tidur bersama Wina di sebuah hotel.
"Keterlaluan kau Erlan, Kania tidak tahu di mana keberadaan nya saat ini. Kau malah bersama wanita jalang itu!" Mama Indri sangat marah melihat semua nya.
"Ma, tenang Ma. Jangan sampai Mama sakit gara - gara masalah ini!" Papa Beni mengelus pundak istri nya.
"Bagai mana Mama bisa tenang, Pa? Saat ini kita tidak tahu di mana Kania berada dan Erlan malah bersenang - senang bersama wanita ular itu!" Mama Indri tampak sangat mencemas kan Kania.
"Ma, Papa tidak akan tinggal diam melihat semua ini. Papa pastikan Erlan akan mendapatkan balasan nya, Papa tidak akan membiarkan Wina dan Erlan hidup bahagia!" Papa Beni berjanji pada istri nya.
Saat ini, Kania sedang berbincang- bincang dengan tante Sarah dan Om Rama. Mereka tampak cocok sekali, jika di lihat sekilas mereka sudah sepeti orang tua dan anak.
"Kania, ini sudah malam nak, kamu harus istirahat. Besok biar Om dan Tante yang akan mengantarkan mu pulang. Kami sudah lama tidak berkunjung ke panti asuhan!" Tante Sarah berkata pada Kania.
"Iya tante, tante juga harus istirahat, kaki tante belum begitu sembuh!" Kania mengingat kan.
"Iya sayang!" Tante Sarah mengangguk kan kepala nya.
Kania segera pergi ke kamar yang sudah di siapkan untuk nya, dia cukup lelah dengan semua kejadian hari ini. Dia butuh istirahat untuk mengisi energi nya kembali, agar siap untuk menghadapi hari esok.
Kania melihat ponsel nya, ponsel itu sengaja dia matikan sejak keluar dari rumah suami nya. Kania tahu jika ponsel itu di nyalakan, pasti Mama Indri dan Papa Beni akan mencegah nya pergi. Tapi Kania tidak bisa untuk tetap tinggal di sana, karwna Erlan sudah menjatuhkan talak pada nya.
"Maafkan Kania Ma, Pa. Kania tahu saat ini kalian sedang cemas memikir kan Kania. Tapi Kania saat ini bukan lagi istri nya mas Erlan. Kania tahu Mama dan Papa tidak akan membiarkan Kania pergi!" Kania berkata pada diri nya sendiri.
Kania lalu membaringkan tubuh nya di atas kasur yang super empuk, dia tidak menyangka akan bertemu dengan pasangan sebaik ini. Tapi Kania heran kenapa tidak ada orang lain di rumah ini, kecuali para pelayan yang siap melayani mereka.
Tadi Kania sempat bertanya pada mereka saat makan malam, dan jawaban nya memang tidak ada orang lain di rumah ini selain para pelayan. Tapi ada satu hal yang masih mengganggu fikiran Kania, kenapa mereka tampak bersedih mendengar pertanyaan Kania.
"Ah, apapun itu bukan urusan ku, itu privasi mereka dan aku tidak berhak tahu!" Kania berkata pada diri nya sendiri.
Tiba - tiba Kania teringat pada kalung dengan liontin berbentuk kupu - kupu yang di pakai oleh tante Sarah, Kania lalu kembali duduk di tepi tempat tidur. Kania lalu berdiri di depan cermin, dia memperhatikan kalung yang ada di leher nya.
"Kenapa kalung yang di pakai oleh Tante Sarah sama persis dengan kalung yang aku miliki? Apa hubungan ku dengan mereka?" Kania bertanya pada diri nya sendiri
"Dulu, Abah dan Umi bilang bahwa kalung ini ada bersama ku saat aku di temukan, apakah mereka adalah orang tua kandung ku?" Kania bertanya kembali bertanya pada diri nya.
Kania menggigit liontin kalung itu, dia sedang bingung saat ini. Jika memang benar bahwa mereka adalah orang tua kandung nya, maka saat ini dia berada di rumah nua sendiri.
"Tapi, Tante Sarah dan Om Rama bahkan tidak bilang sama saya jika mereka mempunyai anak. Ah, mungkin saja mereka memang tidak punya anak, aku tidak mungkin putri mereka!" Kania menepis semua dugaan nya tadi.
Kania lalu segera kembali ke tempat tidur, sejujur nya dia memang sangat ingin sekali bertemu dengan orang tua kandung nya. Kania ingin tahu apa alasan mereka membuang nya di panti asuhan itu, tapi dia sadar diri dan tidak mau menduga - duga lagi.
"Mungkin aku ini adalah anak yang lahir di luar nikah, itu lah sebab nya mereka sengaja membuang ku. Aku ini adalah aib bagi mereka!" Kania kembali menduga.
"Besok aku akan pulang, tapi sanggup kah aku menghadapi Abi dan Umi? Mereka pasti kecewa karena aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ku dan Mas Erlan!" Mendadak Kania melihat bayangan kekecewaan pada diri orang yang sudah membesarkan diri nya dulu.
*****
Sementara itu di dalam kamar yang berbeda di lantai atas, Bu Sarah sedang memandangi sebuah album foto lama. Album foto milik putri semata wayang mereka, putri yang hilang di culik orang.
"Sesil, kamu di mana nak? Mama sangat merindukan mu!" Bu Sarah mengusap foto bayi mungil itu.
"Semoga saja dia baik - baik saja, di mana pun dia dan bersama siapa pun. Semoga putri kita baik- baik saja!" Pak Rama mengusap bahu sang istri.
"Pa, kenapa hari ini Mama merasa begitu nyaman berada di dekat Kania, Mama merasa seolah - olah Mama punya ikatan batin dengan nya!" Bu Sarah berkata pada suami nya.
"Itu semua karena Mama merindukan Sesil, sehingga Mama merasa nyaman dekat dengan Kania!" Pak Rama memberikan penjelasan pada putri nya.
Sebenar nya pak Rama pun memiliki perasaan yang sama seperti istri nya, dia merasa begitu dekat dan punya ikatan batin dengan Kania. Padahal mereka baru saja bertemu untuk yang pertama kali nya.
"Pa, andaikan Kania mau tetap tinggal di rumah ini bersama kita, Mama akan sangat bahagia, Pa!" Bu Sarah berkata pada suami nya.
"Ma, Mama dengar sendiri kan tadi, Kania itu masih memiliki orang tua yang tinggal di pesantren itu. Papa rasa tidak mungkin dia akan meninggal kan orang tua nya untuk hidup bersama kita!" Pak Rama kembali berkata pada istri nya.
"Pa, kita coba dulu besok. Kita bicara sama Kania dan juga orang tua nya. Jika Kania mau dan orang tua nya mengizin kan, maka Kania bisa tinggal bersama kita!" Pak Rama memberi solusi atas keinginan istri nya.
"Iya Pa, semoga saja Kania mau ya!" Bu Sarah mengangguk kan kepala nya.
"Mama, ini sudah malam, ayo kita tidur. Jangan sampai Mama sakit, Papa tidak ingin jika suatu saat kita bertemu dengan Sesil Mama malah jatuh sakit!" Pal Rama mengingat kan istri nya.
"Iya Pa!" Bu Sarah mengangguk patuh.
Bu Sarah berbaring sambil memeluk album foto putri nya, dia berharap malam ini dia akan bertemu dengan putri nya, walaupun hanya di dalam mimpi. Pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu, berharap bisa bertemu dengan putri kandung mereka sebelum ajal menjemput nya.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡