NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kamar di mess karyawan rumah keluarga Adytama itu terasa sangat sempit bagi pria dengan postur setinggi Raditya. Sinar lampu neon 15 watt yang sedikit berkedip menerangi ruangan bercat putih kusam tersebut. Hanya ada satu kasur busa tipis, sebuah lemari kayu dua pintu yang pintunya sedikit miring, dan satu kipas angin besi yang berderit setiap kali berputar.

Raditya menghela napas panjang sembari merebahkan tubuh atletisnya. Punggungnya terasa kaku. Menjadi Rio sang supir ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada memimpin rapat direksi selama berjam-jam. Pikirannya melayang pada kejadian satu jam yang lalu—saat ia merangkul pundak Kirana yang hampir pingsan. Aroma lembut dari rambut wanita itu seolah masih tertinggal di indra penciumannya.

"Wanita luar biasa," gumam Raditya pelan, menatap langit-langit kamar yang kusam.

"Bagaimana bisa dia menanggung beban sebesar itu sendirian sambil tetap tersenyum di depan keluarganya yang bahkan tidak menghargainya?"

Tepat saat ia hampir terpejam, ponsel di saku celana kargonya bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari 'Papi'. Raditya segera duduk tegak, merapikan sedikit kaos gelapnya sebelum menggeser tombol hijau.

Di layar ponsel, muncul sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah dalam balutan piyama sutra mewah, duduk di perpustakaan pribadinya yang dipenuhi buku-bukan kayu jati. Itu adalah Papi Rivaldo, penguasa Mahardika Group yang asli.

"Bagaimana kabarmu, Rio?" tanya Papi Rivaldo dengan nada sedikit menggoda, menekankan nama samaran putranya.

Raditya tersenyum tipis, rasa lelahnya sedikit terobati melihat wajah ayahnya. "Baik, Papi. Hanya sedikit pegal. Ternyata menyetir di kemacetan Surabaya dari sudut pandang supir itu tantangan mental yang nyata."

Papi Rivaldo tertawa kecil, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah serius. "Raditya, Papi tahu kamu sedang menjalankan misi pribadimu. Tapi jangan lupa, kamu adalah nakhoda Mahardika Group. Kewajiban utamamu tetap di kantor. Ada beberapa dokumen akuisisi lahan di Surabaya Barat yang membutuhkan tanda tangan basahmu besok."

"Aku mengerti, Papi. Bram sudah mengirimkan drafnya kepadaku lewat email terenkripsi. Aku sudah memeriksanya tadi sore saat menunggu... menunggu majikanku belanja," jawab Raditya, sedikit meringis saat mengucapkan kata terakhir. "Tolong Papi handle pertemuan pagi besok, setelah itu aku akan mencari celah untuk ke kantor secara diam-diam."

Papi Rivaldo mengangguk puas. "Bram memang asisten yang bisa diandalkan. Dia menjagamu dengan baik di sana. Lalu, bagaimana kemajuan penyamaranmu? Apa kamu sudah menemukan apa yang kamu cari di keluarga Adytama?"

Raditya terdiam sejenak. Ia teringat kontrasnya sikap Bianca yang memaki-makinya di pinggir jalan dengan Kirana yang dengan tulus memberikan uang taksi dan memintanya segera menolong adiknya.

"Semuanya aman, Papi. Aku sudah mendapatkan gambaran yang sangat jelas tentang siapa yang pantas berada di sampingku," jawab Raditya dengan nada yang mendalam.

"Oh ya?" Papi Rivaldo menaikkan alisnya, tampak sangat tertarik. "Jadi, dari dua putri Haris Adytama, siapa yang berhasil membuat seorang Raditya Mahardika menjatuhkan pilihannya? Apakah si cantik Bianca yang selalu tampil di majalah fashion itu?"

"Tidak, Papi," sela Raditya cepat, suaranya terdengar sangat yakin. "Pilihanku jatuh pada Kirana Adytama."

Ada jeda sejenak di seberang telepon. Papi Rivaldo menatap putranya dalam-dalam melalui layar ponsel.

"Kirana? Barista itu? Haris bilang padaku dia hanya sibuk dengan kafenya dan tidak terlalu menonjol. Kenapa kamu begitu yakin? Bukankah Bianca lebih cocok dengan gaya hidup kita?"

Raditya menarik napas panjang, matanya berkilat penuh tekad. "Papi, menikah itu untuk seumur hidup, bukan untuk pamer di depan kamera selama sehari atau dua hari. Aku sudah melihat semuanya hari ini. Bianca mungkin cantik dan modis, tapi dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Dia arogan, tidak punya rasa hormat pada orang lain, dan dia memperlakukan supirnya—yang adalah aku—seperti sampah."

Raditya menjeda, wajahnya melembut saat teringat Kirana. "Tapi Kirana... dia adalah definisi sebenarnya dari permata yang tersembunyi. Dia memiliki wibawa yang tidak dibuat-buat. Dia pendiri dan CEO KiraPharma, Papi. Dia membangun perusahaan farmasi besar tanpa bantuan ayahnya, dan dia tetap rendah hati menjadi barista. Dia peduli pada panti asuhan, dia menghargai pekerja kecil, dan dia adalah wanita paling cerdas yang pernah aku temui."

"Dia menyamar juga?" tanya Papi Rivaldo, tampak terkejut mendengar fakta tentang KiraPharma.

"Hampir sama denganku, Papi. Dia menyembunyikan identitasnya dari keluarganya sendiri agar bisnisnya tidak dirusak oleh keserakahan ibu tiri dan adiknya. Aku melihat dia memimpin rapat dengan investor Jepang hari ini, dan aku terpesona. Dia tangguh, namun hatinya sangat lembut. Aku yakin dia adalah orang yang tepat untuk menemani masa depanku."

Papi Rivaldo terdiam cukup lama, sebelum akhirnya sebuah senyum bangga mengembang di wajahnya.

"Jika itu alasanmu, Papi dan Mami tidak akan menghalangi. Kami percaya pada penilaianmu, Radit. Seorang pria sejati memang harus memilih wanita yang memiliki isi kepala dan hati yang luas, bukan hanya wajah yang dipoles riasan mahal."

"Terima kasih, Papi. Aku harap Papi dan Mami bisa menerimanya nanti saat aku membawa dia sebagai calon istriku, bukan sebagai supir."

"Tentu saja. Tapi ingat, besok kamu harus ke kantor Mahardika Tower. Ada pertemuan singkat jam dua siang. Cari cara agar supir Rio bisa menghilang selama dua jam," Papi Rivaldo mengingatkan sebelum mengakhiri panggilan. "Sekarang, beristirahatlah. Kamu butuh energi untuk menghadapi 'majikan-majikanmu' besok pagi."

"Selamat malam, Papi."

Raditya mematikan ponselnya. Ruangan mess yang sempit itu tiba-tiba tidak terasa begitu menyesakkan lagi. Keputusan yang sudah bulat di kepalanya memberikan ketenangan batin. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah; ia masih harus menjaga penyamarannya, melindungi Kirana dari bayang-bayang keluarganya, dan menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan siapa dia sebenarnya.

Namun, menatap satu-satunya jendela kecil di kamar itu yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Surabaya, Raditya tersenyum. Besok akan menjadi hari yang panjang, tapi demi Kirana, ia siap menjalani peran apa pun—bahkan jika harus menjadi supir paling sibuk di dunia sekalipun.

**

Cahaya matahari pagi Surabaya mulai menerobos masuk melalui jendela besar berbingkai emas di ruang makan mewah keluarga Adytama. Aroma kopi mahal memenuhi ruangan, namun suasana di meja makan itu jauh dari kata tenang. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar kaku, diiringi oleh obrolan yang sarat akan ambisi.

Ayah Haris duduk di kepala meja, perlahan melipat koran paginya, sementara Mama Reva sibuk mengoleskan selai ke roti gandum dengan gerakan yang sangat anggun—ciri khasnya sebagai nyonya rumah yang sudah dua puluh dua tahun berkuasa di sana.

"Jadi, bagaimana soal magangmu di Mahardika Group, Bianca? Sudah ada kepastian?" tanya Ayah Haris sambil melirik putri bungsunya.

Bianca yang sedang sibuk mengecek riasan di kamera ponselnya langsung mendongak. Wajahnya berseri-seri, bibirnya yang dipoles lipstik bermerek itu melengkung jumawa.

"Sudah beres, Ayah. Dosen Bianca sudah mengurus semuanya dengan orang dalam di sana. Lusa, Bianca resmi mulai magang di departemen desain interior Mahardika Group."

Mama Reva tersenyum lebar, meletakkan pisau selainya. "Bagus sekali, Sayang. Mahardika Group itu bukan sembarang perusahaan. Itu raksasa properti dan teknologi. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk ke sana, apalagi sebagai anak magang."

"Tentu saja, Mama," sahut Bianca dengan nada manja yang dibuat-buat. "Bianca tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Bianca akan memastikan penampilan Bianca selalu sempurna setiap hari. Ayah tahu sendiri kan, Raditya Mahardika itu pewaris tunggalnya. Kabarnya dia tampan sekali dan sangat atletis. Bianca akan membuat dia melirik Bianca, merayunya, dan mendapatkan hatinya. Siapa tahu, magang ini berakhir dengan pertunangan mewah."

Mama Reva tertawa kecil, mendukung penuh ambisi putrinya. "Itu baru anak Mama. Kamu harus tunjukkan kalau kamu itu wanita kelas atas, Bianca. Jangan sampai Raditya itu salah pilih."

Ayah Haris hanya mengangguk pelan, meski pikirannya tampak terbagi. Ia mengalihkan pandangannya ke kursi kosong di seberang Bianca. Kursi yang seharusnya diduduki oleh putri sulungnya.

"Bi Tuti!" panggil Ayah Haris.

Tak lama, Bi Tuti datang dengan terburu-buru dari arah dapur, mengelap tangannya pada apron.

"Iya, Tuan?"

"Mana Kirana? Kenapa dia tidak keluar untuk sarapan? Ini sudah jam berapa, biasanya dia sudah sibuk mau ke kafe," tanya Ayah Haris.

"Anu, Tuan... Mbak Kirana sedang sakit. Tadi malam badannya panas sekali dan sempat pusing hebat," jawab Bi Tuti dengan nada khawatir.

Mendengar itu, Mama Reva langsung mendengus sinis. "Sakit? Halah, paling itu cuma alasan saja karena dia malas melihat kita sarapan bersama. Dasar drama. Panggil dia keluar, Bi. Biasakan dia untuk disiplin sarapan di meja makan, bukan di kamar terus seperti putri raja."

Bi Tuti tampak ragu dan takut. "Tapi Nyonya, Mbak Kirana tadi sudah saya bawakan bubur dan obat ke kamar. Mbak Kirana sudah sarapan di sana karena memang tidak kuat untuk bangun."

Bianca memutar bola matanya malas, jarinya asyik memilin ujung rambutnya yang dicat mahal.

"Mbak Kirana itu manja sekali sih. Cuma pusing sedikit saja sampai tidak bisa turun. Padahal kemarin sore aku lihat dia masih segar-segar saja."

Ayah Haris menghela napas, menatap istrinya dengan pandangan menegur. "Sudahlah, Reva. Kalau memang sakit, biarkan dia istirahat. Tapi keadaannya sudah membaik kan, Bi?"

"Sudah agak mendingan, Tuan. Tadi setelah minum obat sudah bisa tidur lagi," lapor Bi Tuti.

"Ya sudah, pastikan dia minum cukup air. Kamu boleh kembali," perintah Ayah Haris. Setelah Bi Tuti pergi, suasana kembali fokus pada Bianca, namun gadis itu tiba-tiba mengubah topik dengan wajah yang ditekuk kesal.

"Ayah... Bianca mau bicara soal supir baru kita itu," ucap Bianca ketus.

Ayah Haris menaikkan alisnya. "Kenapa memangnya dengan Rio? Ayah rasa tidak ada masalah. Dia sopan, disiplin, dan cara menyetirnya sangat tenang."

"Ih, Ayah tidak tahu saja!" Bianca meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. "Rio itu lelet sekali! Kemarin saja dia terlambat jemput aku di Galaxy Mall karena katanya harus tukar mobil dulu buat Mbak Kirana. Dan yang paling menyebalkan, dia itu sepertinya suka sekali mengantar Mbak Kirana ke sana kemari. Aku merasa dia lebih seperti supir Mbak Kirana daripada supirku."

Ayah Haris mengerutkan kening. "Ayah memilih Rio yang masih muda dan fisiknya kuat supaya dia bisa sigap mengantar kalian berdua. Dia sudah Ayah beri jadwal, dan dia bekerja sesuai perintah."

"Tapi tetap saja ribet, Yah! Apalagi kalau dia lagi sama Mbak Kirana, lama banget pulangnya. Aku jadi harus menunggu kalau mau pergi tiba-tiba. Ganti saja supirnya, cari yang lebih penurut sama Bianca," protes Bianca dengan nada merengek.

Mama Reva ikut menimpali, mencoba membela putrinya. "Memangnya waktu Rio sedang bersama Kirana, kamu ditelantarkan begitu saja? Sampai tidak bisa pergi?"

Bianca terdiam sejenak, mengingat-ingat. "Ya... tidak sampai terlantar sih, Ma. Dia tetap jemput aku, tapi kan tetap saja dia tidak bisa standby dua puluh empat jam penuh buat aku. Aku mau supir yang kalau aku panggil 'Rio!', dia langsung ada di depan mataku, bukan malah lagi asyik sama Mbak Kirana."

Ayah Haris menarik napas panjang, lalu meletakkan garpunya dengan suara denting yang cukup keras, tanda ia mulai kehilangan kesabaran dengan rengekan Bianca.

"Dengarkan Ayah, Bianca," suara Ayah Haris terdengar berat dan final. "Rio adalah supir terakhir yang Ayah berikan untuk kalian berdua. Ayah tidak akan mencari orang baru lagi. Selama ini Ayah perhatikan dia bekerja dengan sangat baik. Dia sigap, tahu aturan, dan Ayah tahu betul dia tetap memprioritaskan jadwalmu. Jangan karena kamu tidak suka melihat dia membantu kakakmu, kamu jadi membuat masalah."

Bianca hendak memprotes lagi, namun Ayah Haris mengangkat tangannya, membungkam mulut putrinya.

"Ingat, lusa kamu akan mulai magang di Mahardika Group. Kamu harus belajar disiplin dan tidak banyak menuntut hal-hal sepele. Ayah mau kamu menjaga sikap, apalagi kalau nanti kamu benar-benar bisa mendekati Raditya Mahardika. Kamu harus menunjukkan kalau kamu wanita yang dewasa, bukan anak kecil yang hobinya ganti-ganti supir hanya karena cemburu sosial. Kamu itu calon menantu keluarga Mahardika, jaga martabatmu," tegas Ayah Haris.

Bianca hanya bisa mendengus kesal, bibirnya maju beberapa senti. Ia membuang muka ke arah jendela, membayangkan wajah Rio yang menurutnya terlalu tenang dan sulit diatur itu. Ia tidak tahu bahwa saat ini, supir yang ia benci itu sedang berada di mess karyawan, baru saja selesai menelepon ayahnya sendiri—sang penguasa Mahardika Group—dan sedang menyusun rencana untuk "menyambut" Bianca di kantor lusa nanti.

"Ya sudah, terserah Ayah saja," gumam Bianca akhirnya dengan nada malas.

Mama Reva mengelus tangan Bianca, mencoba menenangkannya. "Sabar ya, Sayang. Yang penting fokusmu sekarang adalah Raditya Mahardika. Soal Rio... nanti kalau kamu sudah jadi istri Raditya, kamu bisa punya sepuluh supir pribadi kalau kamu mau."

Bianca tersenyum tipis mendengar kata-kata ibunya. Bayangan kemewahan Mahardika Group sedikit mengobati kekesalannya pagi itu.

***

1
SisAzalea
so,air minum tadi bagaimana sih?
SisAzalea
Haris hanya takut kerana Kirana sudah punya pembela, apalagi sekarang Aditya sudah menunjukkan taring nya.
Siti Aisyah
pernikahan hanya sekali...jd jgn salah pilih jg...👍❤️
SisAzalea
ohhh..mungkin sengaja ya
SisAzalea
kalau sampai terlupa ganti jam nya ,gimana rio?
Tuti Rumyati
Terima kasih sudah menghibur, ceritanya sangat bagus, sukses selalu
Tirrr
bagus
Anisa92
lama kisahnya, terlalu mendetil jd agak bosan. pdhal rame
Anisa92
auuuu... culik aku mas😄😄
Sri Widjiastuti
sekuriti nya lg ngopi nii
Sri Widjiastuti
mahasiswi bodo.. begitu g bisa paham. sdh dikadih tau mama reva.. perhiasan apa saja & punya siapa yg disimpan?? kebanyakan dandan jd lola🤭🤭
Sri Widjiastuti
asisten gunawan gimana ni? saksi pengalihan harta qanita??
Marina Tarigan
orang kau sakiti terus menerus dgn ketamakanmu Rrva Bianka bertukar 360 # seumur hidup dan 15 thn semoga kamu masih hidup vera dan kau Bianca masa bahagiamu habis renungkan perbustanmu selama ini kasar sombong arogan menghina tak tanggung2 kejinya berubahlah masih ada waktu yg lebih baik nantinya dlm peri laku.mu
Marina Tarigan
pak Haris juga orang tua yg sangat baik tapi sedikit kurang perhatia di rtgga sendiri demi ambisi ayah mengejar dunia padahal setiap hari bpk lihat bagaimana Vera memperlakukan Kirana setiap hari didepan bpk sendiri menghina berucap kasar thdp Karina demi ambisi ayah trdp barang dunia yg menyesatkan tapi untung kirana ttp ayah adalah ayah terbaik masih ada hari esok memperbaiki semuanya Kiran dan Raditia ttp akan menjaga ayah kedelannya
Sri Widjiastuti
sdh dikasih bukti Raditya kan??
Sri Widjiastuti
fuh si haris segitu bodohnya jd bapak
Sri Widjiastuti
disini nih yg bikin anehh😇😇😂
Sri Widjiastuti
mahasiswi sinting yakk🤣🤣 makanya Raditya ogah
Arkan Nuril
mau donk jadi Kirana 😍😍😍😍
Su Kocer
ngeweknya ga di up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!