NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Bayangan Naga Kuno dan Tekanan dari Alam Ilahi

​Setibanya di sebuah penthouse rahasia yang telah disiapkan oleh intelijen Istana Naga di pusat Ibu Kota Jingcheng, Ye Chen berdiri di depan jendela kaca panorama.

​Kota Jingcheng membentang luas di bawahnya, dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit yang menusuk awan dan istana-istana kuno yang masih terawat.

​Namun, yang dilihat Ye Chen bukanlah keindahan arsitektur kota itu. Dengan Mata Naga yang terbuka perlahan, ia melihat aliran energi spiritual yang menyelimuti seluruh kota. Jingcheng dibangun tepat di atas Nadi Naga utama daratan Tiongkok. Energi di sini sangat padat, namun juga terasa berat dan menekan.

​Tiba-tiba, dada Ye Chen terasa sesak.

​Ia memejamkan mata dan memfokuskan panca inderanya. Dari empat penjuru Ibu Kota, ia bisa merasakan setidaknya lima aura raksasa yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Aura-aura itu tertidur, namun tarikan napas mereka saja mampu membuat sirkulasi True Qi di tubuh Ye Chen sedikit tersendat.

​"Alam Ilahi (Divine Realm)..." gumam Ye Chen pelan, keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.

​Ia menarik napas panjang dan segera menekan auranya sendiri hingga titik nol, menyembunyikan eksistensinya agar tidak dideteksi oleh monster-monster tua itu.

​"Ternyata Ibu Kota benar-benar kandang harimau sejati," Ye Chen tersenyum pahit, mengepalkan tinjunya yang sedikit bergetar.

​Teratai Salju Berdarah memang telah menyembuhkan meridiannya dan mendorongnya ke tahap Master Puncak. Di provinsi kecil seperti Jiangbei, ia adalah dewa tak terkalahkan. Namun di Jingcheng, Master Puncak hanyalah batas akhir dari alam fana. Untuk menghadapi petarung Alam Ilahi—mereka yang telah menyatu dengan energi alam semesta—Ye Chen tahu kekuatan fisiknya saat ini belumlah cukup.

​Jika ia memaksakan diri melawan mereka dengan kekerasan murni, organ dalamnya akan hancur lebur sebelum ia bisa menang.

​"Tuan Ye," suara Master Tang Zhenhai yang baru saja masuk ke ruangan menyadarkan Ye Chen dari lamunannya. Mantan jenderal itu menunduk hormat. "Semua persiapan pengamanan di sekitar rute menuju Kediaman Keluarga Ye telah selesai. Tapi... intel kami melaporkan aktivitas yang sangat tidak wajar."

​"Aktivitas apa?" Ye Chen berbalik, kembali memasang wajah tenang.

​"Zhao Xinlan, ibu tiri Anda, diam-diam telah mengosongkan seluruh pelayan dan penjaga biasa dari paviliun utama. Sebagai gantinya, ada empat sosok misterius berpakaian jubah abu-abu yang masuk melalui pintu belakang. Intel kami yang berada di tahap Grandmaster hanya mencoba mengintip dari jarak lima ratus meter, namun matanya langsung buta karena tekanan mental dari salah satu sosok itu!"

​Mata Ye Chen menyipit. Menghancurkan mental seorang Grandmaster hanya dengan pandangan dari jarak setengah kilometer? Itu jelas perbuatan kultivator tingkat Alam Ilahi!

​"Empat orang... Sepertinya wanita itu benar-benar ingin memastikan aku mati malam ini tanpa jejak," Ye Chen mengambil cangkir tehnya, otaknya berputar cepat menyusun strategi.

​Ia tidak bisa hanya mengandalkan tinju malam ini. Ia harus menggunakan Kitab Medis Kehidupan dan Kematian. Racun harus dilawan dengan racun, dan formasi harus dilawan dengan formasi.

​Tepat pada saat itu, pintu kamar utama terbuka.

​Su Yuhan melangkah keluar. Napas Ye Chen seketika terhenti sesaat.

​Yuhan mengenakan gaun malam sutra berwarna merah maroon yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Potongan leher V-neck yang elegan dipadukan dengan riasan wajah yang berani, mengubah citra Ratu Es-nya menjadi seorang Permaisuri Api yang mempesona dan sangat mendominasi. Di lehernya yang seputih pualam, kalung Giok Hetian pemberian Ye Chen bersinar lembut, menetralkan energi negatif di sekitarnya.

​"Bagaimana penampilanku?" Yuhan bertanya sedikit gugup, memutar tubuhnya pelan. "Apakah ini tidak terlalu berlebihan untuk sebuah pesta ulang tahun Kakekmu?"

​Ye Chen tersenyum hangat, berjalan mendekat dan merapikan helaian rambut Yuhan. "Kau terlihat sangat sempurna. Malam ini, bukan mereka yang akan menghakimi kita. Kita yang akan menghakimi mereka."

​Ye Chen mengulurkan tangan kanannya, meletakkannya tepat di atas kalung giok Yuhan. Diam-diam, ia mengalirkan tiga lapis Formasi Pelindung Qi ke dalam giok tersebut, memeras hampir tiga puluh persen energi spiritual dari tubuhnya sendiri.

​Wajah Ye Chen sedikit memucat akibat transfer energi besar-besaran itu, namun ia menyembunyikannya dengan senyuman. Dengan ini, bahkan serangan dari Master Alam Ilahi tidak akan bisa melukai Yuhan dalam satu serangan penuh. Aku punya cukup waktu untuk bereaksi.

​"Ayo berangkat," ajak Ye Chen, mengulurkan lengannya. "Mertua palsumu pasti sudah tidak sabar menunggu 'hadiah' dari kita."

​Pukul tujuh malam. Kediaman Utama Keluarga Ye.

​Kompleks istana kuno seluas belasan hektar itu diterangi oleh ribuan lampion merah raksasa. Deretan mobil mewah dari pelat nomor militer hingga pelat nomor khusus diplomatik terparkir rapi di halaman luar. Hanya elit dari yang paling elit di daratan Tiongkok yang berhak menerima undangan malam ini.

​Di depan gerbang utama yang terbuat dari kayu jati berukir naga, puluhan pengawal tingkat Master berjaga ketat. Setiap tamu harus melewati pemindai logam dan pemeriksaan undangan berlapis.

​Sebuah mobil sedan hitam sederhana berhenti di depan gerbang.

​Ye Chen dan Yuhan melangkah turun. Berbeda dengan tamu lain yang membawa belasan pengawal, mereka hanya datang berdua, bagaikan sepasang domba yang berjalan masuk ke sarang serigala.

​"Berhenti!"

​Seorang kepala pengawal bertubuh tinggi besar, dengan bekas luka melintang di wajahnya, menghalangi jalan Ye Chen. Matanya menatap Ye Chen dengan penuh rasa jijik. Ia mengenali wajah ini. Wajah Tuan Muda Buangan.

​"Tunjukkan undangan Anda. Jika tidak punya, menyingkir dari gerbang ini! Ini bukan tempat untuk pengemis yang mencari sisa makanan!" bentak kepala pengawal itu, sengaja mengeraskan suaranya agar tamu-tamu di sekitar mendengarnya.

​Beberapa tamu konglomerat yang sedang mengantre mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk Ye Chen.

​Yuhan mengernyitkan dahi, bersiap mengeluarkan otoritasnya sebagai CEO triliunan yuan. Namun Ye Chen menahan tangannya.

​Ye Chen menatap kepala pengawal itu dengan tenang. Ia ingat pria ini. Kapten Wang. Salah satu anjing setia Zhao Xinlan yang dulu ikut memukulinya saat ia diusir tiga tahun lalu.

​"Kau meminta undanganku, Wang?" suara Ye Chen sangat pelan.

​"Benar! Tidak ada undangan, tidak boleh ma—"

​Plak!

​Sebuah tamparan keras, bukan dari True Qi, melainkan murni dari kekuatan fisik, mendarat di wajah Kapten Wang. Kecepatannya begitu tinggi hingga tak ada satu pun orang yang melihat Ye Chen bergerak.

​Kapten Wang terhuyung mundur, meludahkan darah dan dua gigi gerahamnya.

​"Kau berani memukulku?!" raung Kapten Wang, mencabut tongkat baja dari pinggangnya. Puluhan pengawal lain langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Ye Chen.

​Yuhan menahan napas, merapat ke punggung suaminya.

​Namun, alih-alih melawan balik, Ye Chen dengan tenang merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah plakat kecil berwarna hitam legam yang terbuat dari logam meteorit langka. Di tengahnya terdapat ukiran karakter emas menyala: [YE].

​Itu adalah Plakat Pewaris Utama, benda yang dipegang oleh pemegang hak waris sah sebelum disahkan menjadi Kepala Keluarga. Benda yang gagal dirampas oleh Zhao Xinlan tiga tahun lalu karena Ye Chen menyembunyikannya dengan nyawanya.

​Melihat plakat itu, mata Kapten Wang melebar penuh horor. Tangannya yang memegang tongkat baja bergetar hebat.

​Menurut hukum besi Keluarga Ye, melihat plakat itu sama dengan melihat Kepala Keluarga sendiri! Mengacungkan senjata pada pemegang plakat adalah pengkhianatan yang dihukum mati!

​"Undanganku adalah darah yang mengalir di nadiku, dan plakat yang diberikan Kakekku sendiri," Ye Chen melangkah maju, auranya menekan Kapten Wang hingga pria besar itu jatuh berlutut dengan keringat membasahi seragamnya.

​"Buka gerbangnya, anjing. Atau aku akan menggunakan hukum klan untuk memenggal kepalamu detik ini juga."

​Mendengar hukum klan disebut, Kapten Wang dan puluhan pengawal itu tidak punya pilihan lain. Meski mereka anjing Zhao Xinlan, di depan publik dan hukum tertulis keluarga, mereka harus tunduk pada Plakat Pewaris Utama.

​"B-Buka... Buka gerbangnya!" teriak Kapten Wang dengan suara bergetar.

​Pintu gerbang raksasa itu berderit terbuka perlahan.

​Ye Chen menggandeng tangan Yuhan, melangkah melewati para pengawal yang berlutut dengan postur seorang raja yang kembali ke takhtanya. Tamu-tamu lain yang tadi mencemooh kini terdiam seribu bahasa, mundur memberi jalan dengan tatapan ketakutan.

​Namun, begitu melewati gerbang dan melangkah masuk ke taman utama, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyambut Ye Chen.

​Bulu kuduk Ye Chen berdiri. Insting bertarungnya yang telah diasah ribuan kali menjerit memperingatkan bahaya fatal.

​Di ujung taman yang luas, di teras paviliun utama, berdiri Zhao Xinlan. Wanita itu mengenakan gaun merah darah, tersenyum manis memandang Ye Chen layaknya menatap seekor serangga yang masuk ke jaring laba-labanya.

​Dan di empat sudut taman yang gelap, Ye Chen bisa merasakan empat pasang mata yang tidak memancarkan emosi manusia sedang menguncinya.

​Tekanan Ilahi (Divine Pressure).

​Seketika, seluruh energi di taman itu terasa seperti berubah menjadi rawa lumpur yang tebal. Napas Ye Chen menjadi berat. Bahkan berjalan pun membutuhkan tenaga ekstra. Yuhan yang dilindungi oleh kalung gioknya tidak merasakan tekanan itu, namun ia menyadari genggaman tangan suaminya mengerat dan sedikit berkeringat.

​"Ye Chen, ada apa?" bisik Yuhan cemas.

​"Tidak apa-apa," Ye Chen memaksakan senyum, diam-diam mengedarkan True Qi ke seluruh meridiannya untuk melawan tekanan gravitasi gaib itu.

​Empat ahli Alam Ilahi sekaligus... Zhao Xinlan benar-benar mengerahkan segalanya malam ini, batin Ye Chen. Aku tidak bisa menang jika melawan mereka secara frontal. Aku harus mencapai tempat Kakek berada sebelum mereka menyerang.

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!