Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Malam hari di kediaman keluarga Gu nampak sangat ramai, Tuan Gu menggelar pesata besar besaran, untuk merayakan kembalinya sang putri semata wayang setelah bertahun tahun di culik oleh kerajaan timur, banyak orang orang penting yang menghadiri acara itu mulai dari para pejabat, para bangsawan hingga anggota kerajaan, mereka juga ikut merayakan atas kembalinya Gu Nian.
Di sudut ruangan terlihat perdana mentri Lu menatap Tuan Gu yang terus tersenyum, saat para tamu silih berganti untuk mengucapkan selamat, hanya dia yang sejak tadi tetap diam di tempat duduknya, Perdana mentri Lu sama sekali tidak ada niatan untuk mengucapkan kata selamat pada Tuan Gu seperti yang lain.
''Tuan Lu, apa anda tidak ingin memberi selamat pada Tuan Gu?'' tanya salah seorang bangsawan yang duduk di sebelah Tuan Lu.
''Nanti saja'' sahutnya.
''Lagian putrinya bisa kembali juga berkat pengorbanan putriku'' gumam Tuan Lu.
''Tuan Lu apa yang anda bicarakan barusan?'' tanya bangsawan itu karna tidak terlalu mendengar yang di gumamkan oleh Tuan Lu.
''Oh, tidak ada, saya hanya sedang merindukan putri saya'' jawab Tuan Lu pura pura tersenyum.
Bangsawan itu seketika menatap iba pada Tuan Lu, karna kondisi Tuan Lu yang berbanding balik dari Tuan Gu, keduanya sama sama pernah kehilangan putrinya, namun Tuan Gu masih bisa bertemu kembali dengan putrinya, berbeda dengan Tuan Lu yang tidak akan pernah bertemu lagi dengan putrinya.
''Tuan Lu, anda harus ikhlas, saya yakin putri anda pasti sudah bahagia'' ucap bangsawan itu memberi semangat.
Tuan Lu hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Nak, bagaimana keadaanmu di kerjaan timur, apa kamu baik baik saja?" batin Tuan Lu, karna hingga hari ini dirinya belum juga mendapat kabar apapun dari Lu Mingyu.
Malam semakin larut dan para tamu satu persatu mulai berpamitan pulang, Tuan Lu juga sudah pulang sejak dua jam yang lalu, bahkan Tuan Lu yang pertama kali berpamitan pulang.
Kini di kediaman Tuan Gu hanya tinggal para pelayan yang sedang membersihkan bekas acara di aula.
Di dalam kamarnya Gu Nian duduk di meja rias, dan seorang pelayan membantunya melepaskan perhiasan yang ada di kepalanya.
''Nona Gu, kenapa Nona terlihat sedih?'' tanya pelayan itu, karna sejak pertengahan acara perjamuan hingga usai, wajah Nonanya terlihat murung.
''Tidak apa apa'' jawab Gu Nian.
Sebenarnya Gu Nian murung karna orang yang di carinya yang tak lain adalah Jendral Rong sama sekali tidak muncul, bukankah waktu itu penyusup yang menemuinya mengatakan kalau Jendral Rong sangat menantikannya, tapi kenapa saat dirinya sudah kembali Jendral Rong tidak menemuinya, bahkan kaisar dan permaisuri datang.
"Mungkinkah Jendral Rong sedang sibuk di kamp militer?, jadi dia tidak tahu kalau aku sudah kembali" batin Gu Nian.
''Oh ya, bagaimana kabar Jendral Rong selama ini?'' tanya Gu Nian.
''Em,, sejak istrinya meninggal beberapa bulan yang lalu, Jendral Rong selalu berada di kamp militer, dengar dengar beliau juga tidak pernah kembali ke kediamannya'' jawab pelayan itu.
Gu Nian terkejut, jadi Pangeran Duan tidak berbohong dengan apa yang di katakannya malam itu, kalau Jendral Rong sudah menikah.
"Aku yakin, meskipun Jendral Rong sudah menikah, pasti dia hanya terpaksa menerima pernikahan itu, karna wanita yang di cintainya hanya aku" batin Gu Nian meyakinkan dirinya sendiri.
'' Apa kamu tahu seperti apa rumah tangga mereka?" tanya Gu Nian.
Pelayan itu terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
''Saya kurang tahu Nona, tapi saya pernah dengar dari warga, kalau Jendral Rong meninggalkan istrinya saat malam pengantin mereka, Jendral Rong lebih memilih pergi ke kamp militer'' cerita pelayan itu.
Seutas senyum langsung muncul di sudut bibir Gu Nian, keyakinannya benar kalau Jendral Rong pasti terpaksa menerima pernikahan itu.
''Kasihan sekali wanita itu, pasti dia sangat malu'' tukas Gu Nian pura pura merasa kasihan.
''Itu sudah pasti Nona, karna satu minggu setelah itu istri Jendral Rong langsung kembali ke rumah perdana menti Lu'' timpal pelayan itu.
Gu Nian seketiak terperanjat kaget, bahkan sampai berdiri karna terlalu terkejut.
''Apa!!, jadi wanita yang di nikahi Jendral Rong itu Lu Mingyu?!, gadis yang sejak kecil terkenal bodoh dan keras kepala itu'' pekik Gu Nian.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya. ''Yang saya dengar keduanya sudah di jodohkan oleh mendiang Kaisar terdahulu''
Gu Nian duduk kembali. ''Tentu saja kalau Jendral Rong meninggalkannya saat malam pengantin, lagian mana pantas Lu Mingyu itu bersanding dengan Jendral Rong yang hebat, benar benar suatu penghinaan'' gumam Gu Nian.
Sedangkan Kaisar usai pulang dari kediaman Gu, dia tidak langsung kembali ke istana, melainkan pergi ke kamp militer untuk menemui sang adik.
Dan saat ini dua bersaudara itu sedang duduk berhadapan di ruang kerja Jendral Rong.
''Ada apa yang mulia menemui hamba?'' tanya Jendral Rong dengan sopan, membuat Kaisar mendengus kesal.
''Kita hanya berdua di sini, tidak usah berpura pura lagi'' dengus Kaisar.
Semasa Kaisar dan Jendral Rong kecil, hampir setiap hari Jendral Rong selalu membuat sang Kakak menangis, hingga membuat orang tua mereka pusing, karna hampir setiap hari putra sulung mereka selalu mengadu kalau adiknya suka menjahilinya, bukannya takut Jendral Rong kecil semakin menjadi jadi, tapi walaupun begitu Jendral Rong selalu menjadi garda terdepan untuk sang Kakak, hingga keduanya beranjak dewasa dan sama sama menikah, begitu juga dengan Kaisar walaupun adiknya selalu menjahilinya, tapi dia sangat menyayanginya.
''Ada apa Kakak mencariku?'' tanya Jendral Rong.
''Apa kamu sudah bertemu dengan Gu Nian?'' tanya Kaisar balik.
Jendral Rong menggelengkan kepalanya.
''Kapan kamu akan menemuinya?'' tanya Kaisar.
''Tidak tahu'' jawabnya acuh.
Kaisar mengerutkan dahinya mendengar jawaban Jendral Rong. ''Kenapa tidak tahu, bukannya selama ini kamu selalu menunggunya?'' tanyanya.
''Aku takut dia sudah melupakanku'' sahut Jendral Rong yang sontak membuat Kaisar tertawa kecil.
''Sepertinya bukan Gu Nian yang melupakanmu, tapi kamu yang sudah melupakannya'' tukas Kaisar.
Jendral Rong langsung terdiam, benarkah yang di ucapkan sang Kakak, kalau dirinya sudah melupakan Gu Nian, bahkan saat kemarin Han Bing memberitahu dirinya kalau Gu Nian sudah kembali, tidak ada apapun yang di rasakan di hatinya, dirinya cukup merasa lega karna Gu Nian bisa kembali dalam keadaan baik baik saja.
Melihat keterdiaman sang adik, Kaisar langsung menepuk pelan bahu sang adik beberapa kali.
''Aku tidak akan ikut campur dalam urusan hatimu, tapi aku minta kamu jangan terus terpuruk, semuanya sudah menjadi takdir, jadi belajarlah untuk merelakan, walaupun aku tahu itu sangat sulit bagimu'' ucap Kaisar.
''Ya sudah, aku mau pulang dulu'' pamit Kaisar berlalu pergi.
''Kalau ada waktu pulanglah sebentar, Ibu sangat merindukanmu!'' seru Kaisar saat sudah sampai di ambang pintu, lalu melangkah keluar tanpa menunggu jawaban sang adik.
Di depan gerbang militer sebelum naik ke kereta kudanya, Kaisar mengobrol sebentar dengan Pengawal sang adik.
''Apa sampai saat ini, adikku masih menangis diam diam kalu malam hari?'' tanya Kaisar.
Pengawal Jendral Rong itu menganggukkan kepalanya, membuat Kaisar menghela nafasnya.
''Hah,, memang benar, seseorang akan terlihat sangat berarti untuk kita, jika orang itu sudah tidak ada di sisi kita'' gumam Kaisar.
Han Bing atau pengawal setia Jendral Rong hanya terdiam, mendengar apa yang di ucapkan oleh Kaisar.
''Ya sudah, jaga adikku dengan baik'' ucap Kaisar lalu masuk ke dalam kereta kudanya.
''Baik Yang Mulya'' sahut Han Bing.
suka mengejek lelaki giliran disindir telak langsung erosii
dulu saja sering nyindir nyindir karna merasa dekat dgn JendrAl rong
sekarang tau kan udah kena imbasnya
selain jendral rong
pengawal hanbin dan Xiao Fei harus bisa main senjata pintol juga🤔🤔