NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Merampas Heli Merah, Deklarasi Perang

Pagi itu, radio Sarno berbunyi tiga kali.

Hendra meletakkannya di meja ruang kontrol, di samping peta Taman Hutan Utara dan catatan kotor dari pos tua. Blacky duduk di bawah meja, mata menatap benda kecil itu seolah tahu suara dari sana membawa masalah.

Derau.

Lalu suara pria.

"Pos Hijau, lapor."

Hendra tidak menjawab.

Lima belas detik kemudian, suara itu kembali.

"Sarno, kau dengar? Heli lewat siang. Siapkan tanda."

Hendra tersenyum tipis.

Jadi mereka belum tahu Sarno mati.

Bagus.

Orang yang datang mencari laporan akan datang dengan kebiasaan lama. Kebiasaan lama adalah tali yang bisa ditarik.

Hendra tidak menyentuh radio. Ia mematikan semua lampu luar bunker, menurunkan emisi panas permukaan, lalu menyalakan satu umpan: gudang kecil rusak di sisi barat luar perimeter. Bangunan itu dulu hanya pondok alat kosong. Setelah kiamat, Hendra memasang pemanas kecil sekali pakai di dalamnya, cukup untuk terlihat di sensor sederhana sebagai titik hangat, tetapi jauh dari pintu asli.

Jika helikopter merah mencari cahaya dan panas, ia akan melihat pondok itu dulu.

Jika mereka turun, mereka akan turun di tempat yang Hendra pilih.

Pukul 11.42, pendengaran Hendra menangkap rotor dari utara.

Kamera langit baru melihatnya satu menit kemudian.

Helikopter merah muncul di balik garis bukit, rendah, hati-hati, catnya kusam oleh es dan garam. Baling-balingnya memukul udara beku dengan suara berat. Di perutnya ada goresan putih bekas salju. Di sisi pintu, seorang pria bersenjata mencondongkan tubuh, memindai tanah.

Hendra menghitung.

Pilot satu.

Penyerang lima.

Sesuai pola geng kecil yang percaya diri karena punya kendaraan langka.

Helikopter itu berputar dua kali di atas hutan, lalu turun di lapangan datar dekat pondok alat barat. Jaraknya cukup jauh dari pintu servis asli. Cukup dekat untuk dijangkau Hendra sebelum mereka sadar.

Lima pria turun.

Senapan pendek. Pistol. Pisau. Jaket tebal bercampur potongan rompi taktis. Salah satu membawa pemotong baut. Satu lagi membawa ransel kecil yang bentuknya terlalu kotak untuk makanan.

Bahan peledak ringan, mungkin.

Pilot tetap di kursi, mesin menyala rendah.

Radio Sarno berbunyi lagi.

"Pos Hijau, tim sudah turun. Kalau kau masih mabuk, Herman potong jatahmu."

Hendra menyalakan perekam.

Nama Herman keluar dari mulut mereka sendiri. Lebih bersih daripada dugaan.

Ia menatap Blacky.

"Jaga ruang kontrol."

Blacky tidak suka perintah itu. Tetapi setelah Bab 31, Hendra tidak akan membawa companion kecil itu ke tengah tembakan dan rotor.

Ia keluar lewat pintu servis timur, bergerak memutar di balik lereng. Dingin -50°C menggigit perlengkapannya, tetapi tubuh Logam membuat langkahnya tetap stabil. Pendengaran menunjukkan posisi lima orang seperti titik di peta.

Yang pertama berjalan paling depan, menuju pondok hangat.

Yang kedua dan ketiga menyebar ke kiri.

Yang keempat menjaga belakang.

Yang kelima memegang ransel kotak.

Mereka bicara pendek di radio.

"Panas ada di pondok."

"Tidak ada jejak besar."

"Sarno sial, pasti tidur."

Hendra menunggu sampai mereka melewati batu rendah.

Lalu ia bergerak.

Pria belakang mendengar sesuatu dan menoleh.

Ia hanya sempat melihat bayangan putih.

Hendra memukul tenggorokannya dengan sisi tangan. Tulang rawan pecah. Tubuh itu jatuh tanpa sempat menembak.

Senapan pendek di tangannya masuk ke genggaman Hendra. Unsur Logam menekan mekanisme pelatuk sampai terkunci. Hendra melempar tubuhnya ke cekungan salju.

Empat tersisa.

Pria pembawa ransel menoleh karena bau darah baru sampai ke hidungnya. Terlambat. Hendra sudah di dekatnya. Satu tendangan menghancurkan lutut. Satu tarikan merampas ransel. Satu pukulan ke pelipis mematikan gerak.

Tiga tersisa.

Baru saat itu dua pria kiri menyadari ada yang salah. Mereka mengangkat senjata dan menembak ke arah bayangan.

Peluru memecah es.

Hendra tidak berdiri di sana.

Ia sudah turun ke sisi lain, menggunakan suara napas mereka untuk membaca arah laras. Saat salah satu mengisi ulang, Hendra menarik pisau dari dada dan melemparkannya.

Pisau menancap di bahu. Pria itu menjerit.

Jeritan itu membuat kawannya menoleh.

Hendra muncul di depan mereka seperti kesalahan jarak.

Dua senjata dibengkokkan sekaligus. Satu rahang patah. Satu dada dihantam popor sampai napas berhenti. Pria yang terluka bahu mencoba meraih pistol pinggang, tetapi Hendra menginjak pergelangan tangannya sampai tulangnya remuk, lalu menyelesaikan urusan dengan tembakan pendek.

Satu tersisa.

Pemimpin kecil di depan pondok sudah membuka pintu dan melihat pemanas umpan. Ia mengerti terlambat bahwa tempat itu kosong.

"Mundur!" ia berteriak ke radio.

Hendra menembak radionya dari jarak dua puluh meter.

Plastik dan logam pecah di tangan pria itu.

Pria itu berbalik, wajah tertutup kacamata es, mulut terbuka.

"Kau siapa?"

Hendra berjalan mendekat.

"Orang yang wilayahnya kalian ukur dari langit."

Pria itu menembak.

Hendra mencondongkan tubuh. Satu peluru menyerempet lapisan luar jaket. Dua peluru lain hilang ke salju.

Pada tembakan keempat, senjatanya macet.

Senjata mereka tidak buruk.

Karena Hendra sudah menekan logam dalam mekanismenya dari jarak dekat.

Pria itu menatap senjatanya, lalu menatap Hendra.

Ketakutan baru masuk ke wajahnya.

Hendra tidak memberinya waktu memahami.

Satu pukulan.

Selesai.

Di helikopter, pilot akhirnya sadar lima orangnya diam.

Mesin meraung.

Helikopter merah mencoba naik.

Hendra berlari.

Dengan penglihatan super, ia melihat posisi roda ski, arah angin, dan getaran badan heli. Dengan pendengaran, ia tahu kapan mesin menarik tenaga. Ia melompat ke sisi pintu terbuka tepat saat helikopter naik setengah meter.

Pilot berteriak.

Hendra masuk, satu tangan mencengkeram rangka pintu, tangan lain menekan pistol ke leher pilot.

"Turunkan."

Pilot membeku.

"Turunkan, atau aku patahkan tanganmu dan kita jatuh bersama."

Helikopter turun keras ke salju.

Pilot mengangkat kedua tangan sebisanya. Wajahnya kurus, mata merah, dagu bergetar bukan hanya karena dingin.

"Aku cuma pilot."

"Nama."

"Ongky. Orang panggil Bang Ongky."

Pilot Ongky.

Hendra menariknya keluar dari kursi dan menyeretnya ke balik badan heli, jauh dari kaca depan. Mesin tetap menyala rendah. Hendra tahu cukup banyak untuk tidak mematikan aset yang belum ia kuasai.

"Herman di mana?"

Ongky menelan ludah.

"Aku tidak tahu."

Hendra menembak satu lututnya.

Suara tembakan ditelan rotor dan salju.

Ongky jatuh, menjerit.

"Taman Hutan Utara! Bunker perang lama! Di bawah bukit batu. Ada pintu baja, lorong, gudang batu bara, tawanan, senjata. Aku sumpah!"

"Jumlah orang."

"Tiga puluhan yang bisa pegang senjata. Kadang lebih kalau regu luar pulang. Herman di ruang dalam. Bang Leo urus orang. Aku cuma terbang."

"Bahan bakar."

"Avtur di bunker. Tidak banyak. Cukup beberapa penerbangan. Heli ini satu-satunya yang siap. Ada heli turbin lama rusak di sana."

Hendra menyalakan perekam kecil dan menyuruhnya mengulang koordinat, tanda medan, jalur angin, dan prosedur panggilan.

Ongky bicara cepat.

Lebih cepat setelah Hendra menempelkan laras ke lutut satunya.

Setelah lokasi terkunci, Hendra menunjuk kokpit.

"Ajari aku dasar menerbangkan ini."

Ongky menatapnya seperti menatap orang gila.

"Kau tidak bisa belajar heli dalam lima menit."

"Benar. Maka kau punya lima menit pertama."

Ancaman kadang membuat guru sangat efektif.

Ongky menjelaskan cyclic, collective, pedal, throttle, panel bahan bakar, pemanas mesin, radio, indikator rotor, dan mode stabilisasi darurat. Hendra merekam semuanya. Penglihatan super menangkap posisi setiap tuas. Pendengaran super mencatat perubahan mesin saat Ongky menyentuh kontrol.

Ia bukan pilot.

Belum.

Tetapi ia punya tubuh yang tidak mudah panik, indra yang bisa membaca mesin, dan cukup waktu untuk berlatih di wilayah sendiri.

Setelah pelajaran pertama selesai, Ongky mulai menangis.

"Aku sudah kasih semua. Lepaskan aku. Aku bisa kerja untukmu."

Hendra memandangnya.

"Kau menerbangkan orang yang mengambil korban dari Sarno."

Wajah Ongky memucat.

"Aku tidak ikut urusan itu."

"Kau mengantar mereka."

Tidak ada pembelaan yang layak setelah itu.

Hendra menembak satu kali.

Pilot Ongky jatuh di salju.

Setelah rotor dimatikan sesuai urutan yang baru dipelajari, dunia mendadak hening. Hendra mengumpulkan senjata, amunisi, radio, ransel bahan peledak ringan, peta kecil, dan perangkat navigasi dari lima penyerang. Semua benda mati masuk ke Ruang Penyimpanan setelah ia memastikan tidak ada mata manusia di sekitar.

Jenazah tidak masuk Ruang.

Ia menyeret mereka ke cekungan es dekat batu rendah, menutupnya dengan salju padat dan lembar putih. Di suhu seperti ini, tanah tidak mudah digali, tetapi es sendiri bisa menjadi kubur yang cukup.

Menjelang sore, Hendra duduk di kokpit helikopter merah.

Blacky menyalak marah dari layar komunikasi bunker ketika melihatnya di kamera.

"Aku tahu," kata Hendra lewat mikrofon. "Aku juga belum percaya benda ini."

Ia mengaktifkan mesin lagi.

Rotor mulai berputar.

Satu kali, helikopter naik terlalu miring dan hampir menyentuh salju dengan sisi kiri. Hendra menurunkannya.

Kedua kali, ia melayang setengah meter, bertahan tiga detik, lalu turun.

Ketiga kali, ia bertahan sepuluh detik.

Pada percobaan kelima, helikopter merah bergerak maju lima meter, mundur dua meter, lalu mendarat kasar tetapi utuh.

Cukup.

Untuk hari pertama, cukup.

Ia menarik heli ke area halaman luar yang terlindung lereng, menutupnya dengan jaring putih dan lembar isolasi, lalu mengunci bahan bakar, baterai, dan kunci mekanisnya. Aset baru resmi menjadi miliknya.

Malam itu, di ruang kontrol, Hendra membuka peta Sarno dan rekaman Ongky berdampingan.

Taman Hutan Utara.

Bunker perang lama.

Herman.

Bang Leo.

Tiga puluhan pria bersenjata.

Gudang batu bara.

Tawanan.

Hendra menulis satu baris baru di jurnal:

Target berikutnya: sarang Herman.

Blacky duduk di samping kakinya, masih kesal tetapi tidak menjauh.

Hendra mengusap kepalanya.

"Mulai sekarang, mereka tidak datang ke pintu kita."

Di layar luar, helikopter merah tertutup jaring putih seperti hadiah yang baru direbut dari tangan orang sombong.

Hendra menatap peta utara.

"Kita yang datang ke pintu mereka."

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!