Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Griya Tawang dan Titik Awal
Debu kelabu masih beterbangan di udara Aula Utama Museum Nasional, memantulkan sinar matahari pagi yang menerobos dari celah atap yang hancur. Suasana kini kembali hening, berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi beberapa menit lalu.
Sesuai perintah Han Do-Yoon, Yoo Ji-Ah memanggil Jendela Status miliknya. Sebuah layar hologram biru transparan muncul di hadapan gadis itu. Matanya melebar melihat angka-angka yang tertera di sana.
"Tingkat empat belas," sebut Ji-Ah takjub. "Atribut kelincahanku naik menembus angka dua puluh lima, dan energi sihirku berada di angka dua puluh. Tapi... aku punya sepuluh poin atribut bebas yang belum dialokasikan. Ke mana aku harus menaruhnya?"
Do-Yoon berjalan mendekat, melirik sekilas ke arah layar biru yang hanya bisa dilihat oleh Ji-Ah dan dirinya—berkat keahlian Mata Kehampaan.
"Kau memiliki Kelas Pahlawan yang berfokus pada elemen angin dan pedang," Do-Yoon mulai menjelaskan, suaranya tenang layaknya seorang guru. "Banyak Pembangkit pemula melakukan kesalahan fatal dengan membagi rata poin mereka ke semua atribut agar seimbang, atau menaruh semuanya pada Kekuatan Fisik karena mereka pikir itu akan membuat tebasan mereka lebih mematikan."
Do-Yoon menatap lurus ke mata gadis itu. "Jangan lakukan itu. Kekuatan fisikmu akan naik dengan sendirinya seiring kenaikan tingkat. Fokuskan seluruh poin bebasmu dengan rasio tujuh banding tiga untuk Kelincahan dan Energi Sihir."
"Tujuh untuk Kelincahan, tiga untuk Energi Sihir," ulang Ji-Ah mengangguk paham. Jari lentiknya menyentuh layar hologram di depannya, mengalokasikan poin sesuai instruksi.
Seketika, aliran udara di sekitar Ji-Ah berputar pelan. Tubuhnya terasa seringan bulu, dan aura hijau yang memancar dari bilah pedangnya menjadi jauh lebih pekat. Ia merasa sanggup berlari melintasi air tanpa tenggelam.
"Keahlian pedang angin tidak membutuhkan otot yang besar," lanjut Do-Yoon seraya berbalik, mulai berjalan menuju pintu keluar museum. "Ia membutuhkan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang, dan jumlah energi sihir yang cukup untuk memotong baja dari jarak jauh. Ingat itu."
"Aku mengerti. Terima kasih, Do-Yoon," ucap Ji-Ah tulus. Ia mengencangkan ikatan kain yang menahan adiknya di punggung, lalu bergegas menyusul langkah pria itu.
Mereka keluar dari bangunan museum dan disambut oleh pemandangan yang tak terduga. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi oleh ratusan monster kini terlihat sepi. Hanya ada mayat-mayat monster yang mati terinjak-injak oleh kawanan mereka sendiri saat melarikan diri dari teror Do-Yoon.
Kematian Raja Orc Darah telah menghancurkan moral seluruh makhluk buas di distrik tersebut.
"Mereka melarikan diri kembali ke celah dimensi kecil atau bersembunyi di gorong-gorong," jelas Do-Yoon melihat Ji-Ah yang kebingungan menatap jalanan kosong. "Ini adalah keuntungan menyelesaikan Misi Utama lebih awal. Kita memiliki waktu jeda hingga tengah malam nanti sebelum Sistem memberikan misi berikutnya."
"Waktu jeda... itu artinya kita bisa beristirahat dengan aman?" tanya Ji-Ah, harapan kecil terselip di nada suaranya. Fisiknya mungkin bertambah kuat, namun mental adiknya membutuhkan tempat yang layak.
"Ya. Dan aku tahu tempat yang tepat," Do-Yoon menengadah, menatap deretan gedung pencakar langit Gangnam di kejauhan. Tangannya menunjuk ke arah sebuah bangunan tertinggi yang puncaknya menembus awan. "Menara Surga. Gedung apartemen mewah seratus lantai. Kita akan menjadikan griya tawang di lantai puncaknya sebagai markas kita."
Ji-Ah terkesiap. Menara Surga adalah simbol kekayaan absolut di Korea Selatan. Hanya konglomerat dan politikus kelas atas yang bisa bermimpi menginjakkan kaki di lantai teratas gedung tersebut.
"T-tapi gedung setinggi itu... bagaimana kita bisa naik ke atas sana? Listrik seluruh kota sudah mati, kita tidak mungkin menggunakan kereta angkut otomatis," protes Ji-Ah.
Do-Yoon menoleh sedikit, seulas senyum misterius terukir di bibirnya. "Siapa bilang kita akan menggunakan tangga?"
Tiga puluh menit kemudian, mereka berdiri di kaki bangunan raksasa berbalut kaca tersebut. Pintu lobi yang terbuat dari kaca anti peluru telah hancur. Di dalam, kekacauan merajalela. Mayat beberapa staf keamanan dan penghuni kaya berserakan di atas lantai marmer, namun tidak ada monster yang terlihat.
Mereka melangkah masuk. Do-Yoon memimpin jalan menuju lorong utama tempat deretan pintu baja kereta angkut (lift) berada. Ia menggunakan tangannya yang dialiri kekuatan fisik setara monster tingkat menengah untuk mencongkel paksa pintu baja tersebut hingga terbuka lebar, memperlihatkan lorong vertikal gelap yang menganga lurus ke atas hingga lantai seratus.
"Kemarilah," panggil Do-Yoon.
Ji-Ah melangkah mendekat dengan ragu. Do-Yoon mengangkat tangan kanannya. Kegelapan pekat merembes keluar dari bawah sepatunya, mengalir ke dalam lorong vertikal tersebut, dan perlahan memadat membentuk sebuah panggung datar berukuran dua kali dua meter. Panggung bayangan itu melayang kokoh di udara.
"Naiklah. Ini jauh lebih cepat daripada tangga darurat," ucap Do-Yoon seraya melangkah ke atas panggung bayangan tersebut.
Ji-Ah menahan napas, lalu melangkah naik. Panggung itu terasa sekeras beton di bawah sepatunya.
"Keahlian Kelas: Manipulasi Bayangan. Angkat."
Seketika, panggung bayangan itu melesat naik menembus lorong vertikal yang gelap gulita. Kecepatannya mengalahkan kereta angkut modern mana pun. Angin menderu kencang meniup rambut Ji-Ah, sementara Do-Yoon berdiri santai dengan kedua tangan di saku, seolah ia hanya sedang menikmati angin sore.
[Pemahaman Anda terhadap kepadatan energi bayangan semakin membaik.]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tertawa melihat cara praktis Anda menggunakan kekuatan magis.]
Dalam waktu kurang dari dua menit, mereka tiba di ujung lorong vertikal. Pintu baja di lantai seratus hancur ditendang oleh Do-Yoon dari dalam, dan mereka melangkah keluar menuju lorong berkarpet merah tebal.
Griya tawang. Lantai teratas Menara Surga.
Di ujung lorong, terdapat pintu kayu mahoni ganda berukuran raksasa. Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, hawa membunuh yang sangat dingin menyapu lorong tersebut.
Dari bayang-bayang di langit-langit lorong, sesosok makhluk melompat turun dan mendarat tepat di depan pintu mahoni tersebut dengan suara dentuman berat yang menggetarkan lantai.
Itu adalah Iblis Batu Bersayap (Gargoyle).
Makhluk setinggi dua setengah meter itu memiliki tubuh yang terbuat dari batu granit abu-abu. Sayap kelelawar raksasanya terlipat di punggung, dan mata merahnya menyala menatap kedua penyusup itu.
[Peringatan! Anda memasuki wilayah bersarang Iblis Batu (Tingkat C-).]
"Sistem memang menyukai keseimbangan. Gedung tertinggi selalu dijaga oleh makhluk udara bersayap," gumam Do-Yoon santai. "Tunggu di sini, Ji-Ah."
GRAAKK!
Iblis Batu itu mengeluarkan suara seperti bebatuan yang digesekkan satu sama lain. Ia melesat maju, cakar batunya yang setajam pedang terangkat siap membelah dada Do-Yoon.
Do-Yoon tidak repot-repot memanggil pedang bayangannya. Ia merendahkan tubuhnya, menghindari tebasan cakar batu tersebut dengan selisih beberapa milimeter. Saat lengan Iblis Batu itu melewati wajahnya, Do-Yoon mencengkeram pergelangan tangan patung hidup tersebut dengan kedua tangannya.
"Atribut kekuatanku sudah menembus angka empat puluh," bisik Do-Yoon.
Dengan raungan tenaga murni, Do-Yoon memutar pinggulnya, mengangkat makhluk seberat satu ton itu dari lantai, dan membantingnya dengan kecepatan penuh ke arah dinding beton di sebelah kanan.
BUMMMM!
Dinding beton itu hancur berantakan. Tubuh Iblis Batu itu terlempar menembus kaca jendela raksasa dan meluncur keluar dari lantai seratus.
Makhluk itu meraung di udara, mencoba merentangkan sayapnya untuk terbang kembali. Namun, Do-Yoon telah berdiri di ambang jendela yang hancur. Tangan kirinya terulur ke luar.
"Keahlian: Tombak Kehampaan."
Sebuah tombak berwarna hitam pekat yang berputar layaknya bor melesat dari telapak tangan Do-Yoon. Tombak itu menembus udara dengan kecepatan suara dan menghantam dada Iblis Batu yang sedang mengepakkan sayapnya di udara terbuka.
CRASH!
Tombak itu menembus inti sihir di dalam dada sang monster. Tubuh batu itu retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi hujan kerikil yang jatuh bebas ke jalanan kota Seoul yang jauh di bawah sana.
[Anda telah membunuh Iblis Batu (Tingkat C-).]
[Anda mendapatkan 8.000 Poin Pengalaman.]
Do-Yoon membersihkan debu dari jasnya, berbalik, dan mendorong pintu mahoni ganda itu hingga terbuka.
Pemandangan di balik pintu itu membuat Ji-Ah terpukau. Sebuah ruangan maha luas yang didominasi oleh kaca jendela setinggi langit-langit, menawarkan pemandangan seluruh penjuru kota Seoul yang kini hancur namun tetap menakjubkan dari ketinggian. Perabotan mewah, lampu kristal gantung, sofa kulit asli, dan dapur yang lebih besar dari rumah Ji-Ah menyambut mereka.
Yang terpenting, tempat ini sepenuhnya utuh dan bersih dari darah.
"Turunkan adikmu. Ia bisa tidur di kamar utama di sebelah kanan," ucap Do-Yoon, berjalan masuk dan melepaskan jasnya yang kotor ke atas sebuah kursi mahal. "Kunci pintunya. Di lantai ini, tidak akan ada satu makhluk pun yang bisa mengganggu tidur kalian."
Ji-Ah mengangguk pelan. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya hingga matanya sedikit berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak dunia kiamat kemarin, ia merasa aman. Ia membawa Ji-Hye yang masih memejamkan mata ke dalam kamar utama, membaringkannya di atas kasur berukuran raksasa yang empuk, dan menyelimutinya.
Setelah memastikan adiknya nyaman, Ji-Ah keluar kembali ke ruang tamu.
Do-Yoon sedang berdiri menghadap jendela kaca raksasa, menatap ke arah selatan. Tangan kanannya memegang sebuah gelas kristal berisi air putih yang ia temukan di dapur.
"Do-Yoon," panggil Ji-Ah ragu-ragu. "Tempat ini... sangat luar biasa. Tapi, mengapa kita harus repot-repot mencari markas sebesar ini? Hanya untuk kita bertiga?"
Do-Yoon berbalik. Matanya yang segelap malam menatap Ji-Ah dengan intensitas yang membuat gadis itu menelan ludah.
"Untuk saat ini, mungkin hanya kita bertiga," jawab Do-Yoon. "Tapi dalam beberapa bulan ke depan, saat tahap adaptasi Sistem selesai, manusia yang tersisa akan mulai berkumpul. Mereka akan membentuk Serikat. Menciptakan hukum baru. Yang kuat akan memerintah, dan yang lemah akan menjadi budak."
Do-Yoon meletakkan gelas kristalnya di atas meja pualam.
"Di kehidupanku... atau lebih tepatnya, menurut perhitunganku," Do-Yoon meralat kata-katanya dengan halus, "Korea akan dikuasai oleh lima Serikat besar. Mereka akan memonopoli area perburuan yang aman, mengendalikan harga kebutuhan pokok di Toko Sistem, dan memaksa Pembangkit mandiri untuk tunduk atau mati."
Ji-Ah mengernyit. "Itu... itu tirani."
"Itu adalah kodrat manusia," balas Do-Yoon dingin. "Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkan mereka membangun kerajaan mereka dengan tenang. Kita akan membentuk Serikat kita sendiri. Kita akan menjadi pilar kekuatan mutlak yang berdiri di atas hukum rimba mereka."
"Sebuah serikat?" Ji-Ah terkejut. "Tapi kau bilang kau tidak suka mengurus orang-orang yang lemah. Bagaimana kita bisa membangun serikat tanpa anggota?"
Senyum tipis dan mematikan mengembang di wajah Do-Yoon.
"Kita tidak akan merekrut sembarang sampah. Aku memiliki daftar nama di kepalaku. Orang-orang dengan potensi Kelas Pahlawan atau Kelas Tersembunyi, yang saat ini mungkin sedang bersembunyi atau belum menyadari kekuatan penuh mereka," jelas Do-Yoon. Ia lalu menunjuk ke arah Ji-Ah. "Kau adalah nama pertama di daftarku, Permaisuri Pedang."
Ji-Ah terkesiap mendengar gelar itu. Permaisuri Pedang. Entah mengapa, gelar itu terdengar tidak asing, seolah jiwanya beresonansi dengan nama tersebut.
"Mulai esok hari, setelah misi tahap tiga dimulai," Do-Yoon menatap keluar jendela, ke arah pusat kota yang masih mengepulkan asap. "Kita akan memulai perburuan kita. Bukan hanya memburu monster, tetapi memburu manusia-manusia terpilih untuk berlutut di bawah panji Ketiadaan."
jangan lupa hadir juga 😉