NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Suara Rakyat

Rian Prasetyo tidak pernah takut pada laporan keuangan merah.

Ia justru menunggu warna itu seperti orang menunggu hujan setelah musim kemarau panjang.

Yang ia takutkan adalah layar ponsel Bagas.

Karena sejak malam pengumuman penutupan, layar itu tidak berhenti menyala.

"Bos," kata Bagas di ruang tamu apartemen kecil Rian, "ini bukan cuma viral biasa."

Rian duduk di sofa, wajahnya datar. Di meja depan ada kopi yang sudah dingin. Di layar televisi, berita lokal menampilkan foto Garuda Mart dengan segel merah di pintu.

Bagas mengangkat ponsel.

"Tagar pertama: #SelamatkanGarudaEmas. Tagar kedua: #TangkapSuharto. Dua-duanya naik terus."

Rian memijat pelipis.

"Mungkin besok turun."

Bagas menatapnya seperti menatap orang yang baru berkata matahari mungkin lupa terbit.

"Bos, ini sudah masuk akun berita nasional."

Rian tidak menjawab.

Di media sosial, ribuan unggahan muncul seperti banjir.

Seorang ibu rumah tangga menulis:

Garuda Mart itu tempat saya bisa belanja bulanan tanpa takut harga tiba-tiba mencekik. Kalau toko seperti ini ditutup, siapa yang rugi? Kami, rakyat kecil.

Seorang mantan karyawan menulis:

Saya dulu kerja di tempat yang memaksa lembur tanpa bayaran. Di Garuda Mart, jam kerja manusiawi, makan siang ada, BPJS diurus. Pak Bos bukan cuma bos. Beliau mengembalikan harga diri kami.

Seorang mahasiswa menulis:

Es Madu Kopi dekat kampus tutup. Tempat ini yang bikin kami bisa nongkrong tanpa merasa miskin. Jangan biarkan pejabat korup membunuh usaha baik.

Lalu ada utas panjang dari Rizky Ramadhan, seorang kurir yang pernah bekerja serabutan sebelum mendapat kesempatan di jaringan Garuda Emas.

Saya bukan siapa-siapa. Dulu saya antar pesanan sampai malam, sering dihina kalau terlambat. Garuda Emas memberi saya pekerjaan tetap, gaji jelas, dan atasan yang memperlakukan saya seperti manusia. Kalau perusahaan seperti ini ditutup, yang menang bukan hukum. Yang menang keserakahan.

Utas itu dibagikan puluhan ribu kali.

Komentar-komentar di bawahnya berubah menjadi kemarahan yang lebih terarah.

Siapa Kepala Dinas Suharto?

Kenapa toko yang sudah punya sertifikat tiba-tiba dianggap tidak aman?

Kenapa setelah Joko Anwar dilaporkan, semua cabang Garuda Emas langsung diperiksa?

Nama Suharto yang kemarin hanya beredar di kantor dinas dan kalangan pedagang kini muncul di layar jutaan orang.

Beberapa akun mulai menyusun kronologi.

Hari pertama: Joko Anwar datang ke Restoran Rasa Nusantara dan memukul Putri.

Hari kedua: laporan polisi dibuat.

Hari ketiga: Suharto menelepon.

Hari keempat: pemeriksaan mendadak, lalu segel.

Satu video pendek menampilkan empat dokumen dalam satu layar: sertifikat keselamatan lama, surat penutupan baru, potongan CCTV Joko, dan foto Putri dengan plester kecil di wajah. Musik latarnya pelan, tetapi teksnya tajam.

Kalau ini bukan balas dendam, lalu apa?

Video itu menyebar lebih cepat daripada yang bisa dihentikan siapa pun.

Beberapa pengacara muda mulai membuat utas analisis. Mereka tidak menuduh terlalu jauh, tetapi mereka mempertanyakan kejanggalan waktu, dasar pemeriksaan, dan potensi penyalahgunaan wewenang. Akun-akun ekonomi menambahkan data lama tentang laporan keuangan terbuka Garuda Emas. Akun kuliner mengunggah ulang antrean panjang Restoran Rasa Nusantara. Akun mahasiswa membagikan foto cabang Es Madu Kopi yang dulu penuh laptop dan buku.

Setiap kelompok punya alasan sendiri untuk marah.

Tetapi semua kemarahan itu mengarah ke nama yang sama.

Pagi berikutnya, halaman depan Balai Kota Tanjung Emas mulai ramai.

Awalnya hanya puluhan orang.

Ibu-ibu membawa kantong belanja Garuda Mart lama. Mahasiswa membawa karton bekas. Beberapa pekerja memakai seragam Es Madu Kopi, bukan untuk bekerja, tapi sebagai tanda bahwa mereka pernah punya tempat yang mereka banggakan.

Di atas karton, tulisan tangan mereka sederhana.

Kami Bersama Garuda Emas.

Jangan Tutup Pak Bos.

Periksa Suharto.

Menjelang siang, jumlah mereka menjadi ratusan.

Menjelang sore, ribuan.

Tidak ada komando resmi. Tidak ada panggung besar. Tidak ada orator yang dibayar. Mereka datang karena mendengar kabar dari grup keluarga, status teman, video pendek, dan cerita tetangga.

Petugas keamanan balai kota sempat meminta mereka mundur dari pagar. Kerumunan menurut. Tidak ada yang melempar batu. Tidak ada yang memanjat pagar. Mereka hanya berdiri, mengangkat karton, dan menyanyikan lagu nasional dengan suara yang awalnya ragu-ragu, lalu makin kuat.

Di tepi jalan, para pengemudi ojek online berhenti sebentar. Beberapa mengangkat helm, ikut berteriak, lalu kembali menerima pesanan. Sopir angkot membunyikan klakson pendek setiap melewati kerumunan. Warung kecil di sekitar balai kota menjual teh botol dan gorengan, tetapi banyak pemilik warung menolak dibayar ketika yang membeli adalah karyawan Garuda Emas.

"Dulu kalian murah hati sama kami," kata seorang pemilik warung. "Hari ini giliran kami."

Seorang pedagang bakso berdiri di pinggir kerumunan sambil membagikan air mineral.

"Dulu waktu harga minyak naik, Garuda Mart tetap murah," katanya kepada wartawan lokal. "Saya bukan karyawan mereka. Tapi kalau orang baik ditindas, kita diam saja, besok giliran siapa?"

Di depan Garuda Mart utama, kerumunan lebih besar lagi.

Pintu toko tetap tersegel, tetapi halaman parkir penuh manusia. Darmawan berdiri di atas bangku plastik, matanya sembap, memegang pengeras suara pinjaman dari mushola dekat toko.

"Bapak-Ibu, mohon jangan dorong-dorongan. Jangan rusak apa pun. Pak Bos selalu bilang kita harus tertib."

Suara Darmawan bergetar.

"Kalau Bapak-Ibu ingin mendukung, cukup berdiri dengan damai. Jangan berkelahi dengan petugas. Jangan memaki. Kita tunjukkan bahwa warga Kota Tanjung Emas bisa membela kebenaran dengan cara baik."

Seorang pemuda di barisan depan sempat berteriak terlalu keras, "Bakar kantor dinas!"

Darmawan langsung menoleh.

"Tidak!" suaranya pecah, tetapi tegas. "Pak Bos tidak pernah mengajarkan itu. Kalau kalian benar-benar membela Garuda Emas, jangan beri alasan kepada orang jahat untuk menyebut kita rusuh."

Kerumunan yang sempat panas perlahan tenang.

Pemuda itu menunduk. "Maaf, Pak."

Darmawan mengangguk, lalu menghapus air mata dengan lengan baju.

"Kita tunggu hukum bekerja. Kalau hukum belum mendengar, kita buat suara kita lebih jelas. Tapi tetap tertib."

Beberapa karyawan yang semalam menangis kini membantu membagikan air. Hendro dan timnya berdiri di sisi-sisi kerumunan, menjadi pagar manusia yang memastikan tidak ada provokasi.

Seorang nenek tua duduk di kursi plastik dekat pintu. Wartawan televisi nasional berlutut di depannya, mengarahkan mikrofon.

"Bu, kenapa Ibu datang ke sini?"

Nenek itu memegang tas belanja kain bertuliskan Garuda Mart.

"Saya tidak paham politik, Nak," katanya pelan. "Saya hanya tahu, di toko ini saya pernah dibantu waktu uang saya kurang. Kasirnya tidak memalukan saya. Mereka bilang, tidak apa-apa, Bu, nanti kami bantu cari promo yang lebih murah. Toko seperti ini jarang."

Wartawan itu terdiam sejenak.

Nenek itu melanjutkan, "Pemiliknya masih muda, tapi hatinya tidak muda. Dia memikirkan orang kecil. Kalau dia disuruh tutup karena tidak mau tunduk pada orang jahat, siapa lagi yang berani baik?"

Potongan wawancara itu tayang malamnya di televisi nasional.

Setelah wawancara itu, stasiun televisi menampilkan arsip lama: Garuda Mart saat membantu warga setelah kebakaran Makmur Mart, karyawan membagikan air mineral, Darmawan mengatur tempat istirahat, dan Rian yang menolak diwawancarai terlalu lama. Narator menyebutnya sebagai "pola kepedulian yang konsisten."

Rian, yang mendengar kalimat itu dari televisi, hampir menumpahkan kopi.

Pola kepedulian?

Itu dulu murni karena situasinya darurat.

Kenapa semua tindakanku berubah menjadi tesis moral?

Namun televisi tidak peduli pada protes batinnya.

Rian menontonnya dari sofa apartemen.

Bagas duduk di sampingnya, kedua mata merah karena terlalu banyak membaca komentar.

"Bos, lu lihat? Satu kota berdiri buat lu."

Di meja seberang, Teguh Prasetya membuka laptop. Ia adalah konsultan hukum yang baru diminta Darmawan bergabung untuk menangani dokumen krisis. Wajahnya tenang, kacamatanya tipis, dan setiap kalimatnya terdengar seperti sudah melewati tiga kali pemeriksaan.

"Secara hukum, ini mengubah posisi kita," kata Teguh.

Rian menoleh. "Mengubah bagaimana?"

"Sebelumnya, ini sengketa administratif antara perusahaan dan dinas. Sekarang, ini isu publik. Jika Bapak tetap menutup semua cabang dalam kondisi seperti ini, publik bisa menafsirkannya sebagai kekalahan permanen. Tekanan kepada pemerintah daerah akan naik, tetapi tekanan kepada Bapak juga naik."

"Tekanan kepada saya?"

Teguh mengangguk.

"Mereka tidak hanya menuntut Suharto diperiksa. Mereka juga menuntut Garuda Emas tetap hidup."

Bagas menunjuk televisi. "Ya jelas, Bos. Mereka sayang toko lu."

Rian menatap layar.

Di sana, kamera menyorot lautan manusia di depan Garuda Mart. Spanduk-spanduk bergerak di atas kepala mereka.

Kami Bersama Garuda Emas.

Jangan Tutup Pak Bos.

Tangkap Suharto.

Suara reporter terdengar serius.

"Kasus penutupan sejumlah cabang Garuda Emas di Kota Tanjung Emas kini menjadi perhatian nasional. Publik mempertanyakan dasar pemeriksaan mendadak yang dilakukan setelah laporan kekerasan terhadap pegawai Restoran Rasa Nusantara. Nama Kepala Dinas Suharto disebut warganet sebagai tokoh kunci dalam kontroversi ini."

Rian menutup mata.

Ia hanya ingin rugi.

Ia ingin menutup toko, membayar pesangon besar, menanggung penalti sewa, membakar uang sistem dengan cara paling legal dan manusiawi.

Tetapi orang-orang itu berdiri di depan toko seolah menjaga sesuatu yang lebih besar dari rak, kasir, dan laporan laba rugi.

Mereka menjaga kenangan tentang gaji pertama yang layak.

Tentang harga beras yang tidak mencekik.

Tentang restoran yang memperlakukan pelayan seperti manusia.

Tentang secangkir kopi murah yang membuat mahasiswa merasa punya tempat duduk di kota sendiri.

Untuk pertama kalinya, Rian merasa Garuda Emas sudah tumbuh melampaui alat untuk mengalahkan Sistem Rugi.

Garuda Emas sudah hidup di luar dirinya.

Dan itu sangat merepotkan.

Sangat, sangat merepotkan.

Bagas menepuk bahunya. "Bos, gue tahu lu berat. Tapi ini luar biasa. Lu bukan cuma punya perusahaan. Lu punya rakyat."

Rian membuka mata pelan.

"Jangan pakai kata rakyat. Kedengarannya seperti saya mau nyalon."

Bagas hampir tertawa, tapi gagal karena masih terharu.

Teguh memutar laptopnya. Di layar ada folder bukti: rekaman telepon Suharto, CCTV Joko, laporan polisi, sertifikat lama, surat penutupan, foto pemeriksaan.

"Saya sarankan semua bukti disiapkan dalam format resmi. Jika KPK atau lembaga pengawas meminta klarifikasi, kita harus siap."

Rian mengangguk.

"Siapkan."

Teguh menambahkan, "Ada satu hal lagi. Publik sudah menganggap Bapak sebagai pihak yang dizalimi. Mulai sekarang, setiap kalimat Bapak akan dipantau. Jangan bercanda tentang bangkrut. Jangan menyindir pemerintah daerah. Jangan terlihat menikmati situasi."

Rian menatapnya kosong.

Nasihat terakhir itu terasa menusuk secara pribadi.

Jangan terlihat menikmati situasi.

Masalahnya, beberapa jam lalu ia memang menikmati situasi.

Sangat menikmati.

"Baik," kata Rian akhirnya. "Semua komunikasi keluar lewat Anda dan Mas Darmawan."

"Siap," jawab Teguh.

Di televisi, Darmawan terlihat lagi. Kali ini ia berdiri di depan gerbang, menangis sambil tetap mengatur kerumunan.

"Pak Bos tidak pernah meminta kami membela beliau," katanya kepada reporter. "Tapi kami tahu beliau membela kami duluan."

Kalimat itu membuat ruang tamu sunyi.

Rian menatap Darmawan di layar.

Di satu sisi, hatinya hangat.

Di sisi lain, kepalanya berteriak.

Mas Darmawan, jangan terlalu bagus menjadi bawahan. Tolong beri saya satu kesempatan untuk bangkrut dengan tenang.

Ponsel Rian tiba-tiba bergetar di meja.

Nomor tidak dikenal.

Kode wilayahnya Jakarta.

Bagas yang duduk paling dekat melirik layar, lalu wajahnya berubah.

"Bos..."

"Apa?"

Bagas menunjuk tiga huruf kecil di bawah identifikasi panggilan yang muncul dari aplikasi pelacak nomor.

KPK.

Bagas menarik napas.

"Bos, ini dari KPK."

Rian menatap layar yang terus bergetar.

Di luar televisi, ribuan orang masih meneriakkan nama Garuda Emas.

Di dalam ponselnya, negara mulai mengetuk pintu.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!