NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Malam Berdarah di Balik Jeruji

Menjelang malam, Bima kembali dibawa ke ruang pemeriksaan.

Iptu Kirana duduk di sisi meja, tidak tepat di seberangnya. Perekam resmi menyala. Seorang petugas piket berada dekat pintu, sementara penasihat hukum yang dihubungi Vanya belum tiba. Karena itu Kirana membatasi pertanyaan pada ancaman keselamatan yang baru disebut Bima, bukan meminta pengakuan tambahan tentang kematian Yulia.

"Anda mengatakan mungkin ada praktisi tenaga dalam yang menyentuh Yulia setelah insiden," kata Kirana. "Apakah dugaan itu berhubungan dengan Darman atau lelaki bergolok yang Anda temui?"

"Mungkin. Belum tentu."

"Jawaban Anda selalu menyisakan dua pintu."

"Karena bukti kita belum cukup untuk menutup salah satunya."

Kirana menghela napas. "Ada hal lain yang membuat Anda merasa terancam di dalam Polsek?"

Bima tidak langsung menjawab.

Sejak keluar dari ruang tahan, ia menghitung dua wajah baru di koridor. Seorang lelaki membawa kotak perkakas tetapi sepatunya terlalu bersih untuk teknisi. Satu kamera di ujung lorong bergerak ke kiri dan tidak kembali ke posisi semula. Di luar jendela, dengung listrik sempat turun lalu naik lagi.

Mungkin semua itu kebetulan.

Naluri yang menjaga Bima hidup selama dua belas tahun tidak mengenal kata mungkin.

"Periksa listrik cadangan," katanya. "Dan identitas semua petugas perawatan yang masuk sejak sore."

Kirana menatapnya. "Ada orang yang Anda kenali?"

"Tidak."

Petugas dekat pintu menerima perintah untuk memeriksa daftar tamu. Saat Kirana berbalik mengambil berkas dari kursi samping, posisi tubuh mereka menjadi sangat dekat.

Tangan Bima bergerak.

Hanya satu sentuhan cepat pada sarung pistol di pinggang Kirana. Pengunci terlepas tanpa bunyi. Pistol dinas berpindah ke balik lengan baju tahanan Bima sebelum Kirana kembali menghadap meja.

Kamera mengarah ke permukaan meja. Gerakan itu terjadi di bawah garis pandangnya.

Bima tahu tindakannya dapat menambah perkara, merusak karier Kirana, dan menghancurkan sikap kooperatif yang ia bangun sejak siang. Ia juga tahu pistol tidak boleh berada di tangannya.

Namun suara dalam nalurinya berkata ia tidak akan hidup sampai pagi tanpa senjata itu.

"Saya akan cek daftar masuk," kata Kirana. "Anda kembali ke ruang tahan."

Bima dibawa pergi. Tidak ada pemeriksaan barang lengkap kedua karena ia tidak pernah keluar dari area aman, hanya pemeriksaan visual dan borgol sebelum pintu sel ditutup. Pistol tetap tersembunyi di balik lengan longgar, menempel pada sisi tubuhnya.

Sekitar pukul sepuluh malam, Polsek mulai sepi. Suara televisi dari meja piket mengecil. Dua tahanan di ruang lain sudah tidur. Bima duduk bersandar pada tembok, mata tertutup, tetapi seluruh inderanya terbuka.

Tiga ratus meter dari sana, Bilal berdiri di dekat gardu listrik dengan jaket kerja gelap. Pergelangan kanannya masih dibalut tipis. Ia tidak membawa golok pengganti.

Perintah yang diterimanya sederhana: membuka jendela gelap untuk Rangga dan Guruh. Bilal tidak diminta melawan Bima lagi. Ia juga tidak bertanya apa yang akan terjadi kepada petugas lain jika sistem cadangan ikut gagal.

Setelah memastikan jalan kosong, ia merusak sambungan luar yang telah ditandai oleh orang lain sebelumnya.

Dengung listrik terputus.

Seluruh bangunan Polsek tenggelam dalam gelap.

Teriakan petugas terdengar dari depan. Televisi mati. Kipas berhenti berputar. Lampu darurat seharusnya menyala, tetapi hanya berkedip satu kali lalu padam. Dari koridor muncul suara pintu logam dibuka dengan kunci yang tidak seharusnya berada di tangan orang luar.

Bima berdiri.

Ia menarik pistol dari lengan, menjaga moncongnya mengarah ke lantai sampai sasaran jelas. Jarinya belum menyentuh pelatuk.

Udara di depan sel bergerak.

Rangga masuk tanpa suara langkah. Pakaian gelapnya menyatu dengan lorong. Di tangan kanannya ada bilah pendek, sementara tangan kiri membawa kain yang mungkin akan dipakai untuk menghapus jejak atau menciptakan cerita palsu tentang kerusuhan tahanan.

Ia tidak tahu Bima dapat mendengar perubahan napas pada jarak tiga meter.

Kunci berputar. Pintu sel terbuka selebar tubuh.

Rangga meluncur masuk, bilahnya menuju leher.

Bima mengangkat pistol.

"Berhenti."

Rangga tidak berhenti.

Satu tembakan memecah malam.

Dor!

Peluru menghantam kepala Rangga. Tubuhnya kehilangan tenaga seketika dan jatuh di ambang sel. Bilah pendek terlepas, beradu dengan lantai, lalu berhenti di bawah bangku semen.

Bima tidak mendekati jasad. Ia mundur satu langkah, mempertahankan arah aman, dan berteriak ke koridor.

"Penyerang bersenjata di ruang tahan! Petugas jangan masuk tanpa identifikasi!"

Jawaban yang datang bukan suara polisi.

Sebuah bayangan besar menerjang dari lorong dan menghantam pintu sel hingga terbuka penuh. Guruh masuk dengan bahu lebih lebar daripada kusen. Pukulannya meluncur ke tangan Bima sebelum pistol sempat diarahkan ulang.

Bima menarik senjata ke dada dan menghindar. Tinju Guruh menghantam tembok.

Brak!

Plester pecah. Retakan menjalar selebar telapak tangan.

"Rangga!" suara Guruh mengguncang ruangan.

Ia melihat tubuh rekannya, lalu mata Bima. Amarah menghapus seluruh rencana untuk membuat kematian terlihat seperti kerusuhan.

Guruh menyerang lagi.

Bima tidak menembak. Guruh sudah terlalu dekat, dan koridor gelap di belakangnya mungkin berisi petugas yang bergerak menuju suara. Satu peluru meleset dapat mengenai orang yang tidak terlihat.

Ia menyelipkan pistol ke belakang pinggang, menepis lengan Guruh dengan kedua telapak, lalu menghantam rusuk lawan menggunakan siku kanan.

Buk!

Rasanya seperti memukul ban truk. Guruh hanya bergeser setengah langkah.

Balasannya datang dari bawah. Bima menghindari pukulan pertama, tetapi angin dari tinju itu menyapu dagunya. Pukulan kedua memecahkan ujung bangku semen saat Bima melompat ke samping.

"Keluar dari sel kalau berani!" bentak Guruh.

"Kamu yang datang berkunjung," jawab Bima. "Jangan mengusir tuan rumah."

Guruh meraung dan menubruk. Bima memakai Langkah Kijang dalam ruang sempit, memindahkan berat badan di antara tembok, bangku, dan pintu. Ia tidak punya jalur panjang untuk berlari. Setiap kesalahan berarti tubuhnya terjepit oleh tenaga yang sanggup meretakkan dinding.

Mereka bertukar enam serangan dalam beberapa detik. Telapak Bima mengenai bahu dan sisi rahang. Tinju Guruh menyapu udara, menghantam jeruji, lalu meninggalkan lekukan kecil pada logam. Tidak satu pun memperoleh pukulan bersih ke bagian vital.

Bima masih tidak terluka. Bahu kirinya yang baru pulih bekerja normal, tetapi ia menolak mengadu tenaga secara lurus. Guruh juga belum menerima cedera serius. Napas lelaki besar itu hanya menjadi lebih berat, sedangkan amarah membuat langkahnya makin mudah dibaca sekaligus makin merusak ruang sempit.

Lampu darurat tiba-tiba menyala merah.

Cahaya singkat memperlihatkan darah Rangga di ambang, debu putih melayang, dan Guruh berdiri satu langkah dari Bima dengan kedua tangan mengepal.

Dari ujung koridor, petugas berteriak memerintahkan semua orang tiarap.

Guruh tidak peduli. Ia maju bersama pukulan yang cukup berat untuk merobohkan pintu besi.

Bima menurunkan pusat tubuh, mengangkat kedua lengan, dan menyambutnya.

Tinju serta telapak bertabrakan di tengah hujan serpihan tembok. Pertarungan belum selesai.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!