Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Kencan Pertama
Air dingin akhirnya membuat napas Narendra kembali teratur.
Ia memakai saputangan pemberian Sekar untuk membersihkan sisa darah di bawah hidung, lalu keluar dari kamar mandi. Sekar masih tertidur di sofa. Posisi lehernya terlihat tidak nyaman, satu kaki hampir jatuh ke lantai.
Narendra berjongkok di sampingnya.
"Sayang."
Sekar hanya menggumam.
Ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Sekar dan tangan lain di punggung. Tubuh perempuan itu terangkat ringan. Sekar bergerak mendekat secara refleks, pipinya menempel pada dada Narendra.
Jantung Narendra kembali berantakan.
Ia membawa Sekar ke kamar, meletakkannya di atas ranjang, lalu menarik selimut sampai pinggang. Ketika rambut menutupi wajah Sekar, ia menyibakkannya pelan.
Ujung jarinya sempat mengikuti garis pipi hingga mendekati bibir.
Narendra berhenti.
Sekar sedang tidur. Kepercayaan itu tidak boleh dipakai untuk mengambil apa pun.
Ia menarik tangan, menutup tirai agar cahaya sore tidak mengganggu, lalu kembali ke ruang tamu untuk membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan.
***
Sekar bangun satu jam kemudian di tempat tidur.
Ia keluar dengan rambut berantakan dan menemukan Narendra duduk di meja makan, kacamata tipis terpasang, layar laptop penuh tabel.
"Mas memindahkan aku?"
Narendra melepas kacamata. "Sofanya bikin leher sakit."
"Mas masuk kamar?"
"Cuma untuk menaruh kamu. Pintunya tetap terbuka."
Sekar melihat pintu kamar yang memang terbuka lebar. "Terima kasih."
"Sama-sama. Sekarang mandi dan ganti baju."
"Kenapa?"
Narendra menutup laptop. "Kencan pertama resmi."
"Bukannya yang di Menteng itu kencan?"
"Waktu itu kita belum pacaran."
"Terus Hotel Mandala?"
"Itu pernyataan resmi."
Sekar tertawa. "Mas mengelompokkan hubungan seperti agenda rapat."
"Supaya semua tahap jelas."
"Baik, Pak Agenda. Tunggu tiga puluh menit."
***
Narendra membawa Sekar ke restoran Italia di lantai dua sebuah gedung tua. Kali ini ia memberi tahu kisaran harga sebelum mereka tiba dan mengirim menu lebih dulu, kebiasaan kecil yang dipelajarinya setelah melihat kegugupan Sekar pada makan malam sebelumnya.
Mereka duduk dekat jendela. Sekar memesan pasta, Narendra steak.
"Coba," kata Sekar, menyodorkan garpu dengan gulungan pasta.
Narendra mencondongkan tubuh dan memakannya langsung dari garpu itu. "Enak."
Ia memotong steak, lalu mengangkat satu potong ke bibir Sekar.
Sekar melirik meja sebelah. "Orang lihat."
"Biar."
Ia membuka mulut. Narendra tersenyum seolah baru memenangkan sesuatu.
"Mas sebenarnya kerjanya apa?" tanya Sekar setelah beberapa saat. "Nindy bilang video kita menyebar. Dia juga tanya aku tahu Mas siapa atau nggak."
Tangan Narendra berhenti di atas piring.
"Aku mengurus bisnis keluarga," jawabnya. "Banyak cabang, banyak masalah, banyak rapat."
"Mas nggak nyaman cerita?"
"Bukan begitu. Aku cuma ingin kamu mengenalku sebagai Narendra dulu."
Sekar memandangnya, lalu mengangguk. "Kalau sudah siap, cerita. Aku nggak akan memaksa."
"Sekarang gantian," ujar Narendra. "Pesanan apa yang paling bikin kamu gugup?"
Sekar langsung bercerita tentang satu pesanan besar Sanggar untuk rangkaian kebaya keluarga. Mereka membutuhkan kain tenun dan batik tulis dari pengrajin tertentu di Desa Giriwangi. Warna tiap gulung harus senada, sedangkan prosesnya tidak bisa dipercepat seperti produksi pabrik.
"Kalau satu kain rusak, seluruh rancangan bisa berubah," jelasnya. "Klien cuma melihat kebaya jadi. Tapi di belakangnya ada berbulan-bulan kerja orang."
"Dan Bu Laksmi mempercayakan bagian itu ke kamu."
"Iya. Itu yang bikin takut."
"Takut bukan berarti nggak mampu."
Sekar memutar gelas air. "Mas selalu punya jawaban?"
"Nggak. Aku cuma tahu kamu nggak akan meninggalkan pekerjaan setengah jadi."
"Kalau suatu hari pekerjaanku bikin aku pergi beberapa hari?"
"Aku antar ke bandara."
"Kalau beberapa minggu?"
Narendra mengerutkan kening, jelas tidak suka membayangkannya. "Aku tetap antar. Lalu mungkin cari alasan kerja di kota yang sama."
Sekar tertawa. "Itu namanya menguntit."
"Kalau pacar sendiri, namanya mendukung."
Narendra kemudian meminta Sekar menunjukkan foto kain Giriwangi. Ia tidak mengerti tekniknya, tetapi mendengarkan sampai Sekar selesai menjelaskan perbedaan garis tenun dan retakan malam pada batik.
Kelegaan Narendra bercampur rasa bersalah. Sekar memberinya kepercayaan, sementara ia masih menyimpan nama besar dan pernikahan lama.
Namun malam itu ia memilih menunda satu kali lagi.
Setelah makan, mereka berjalan ke bioskop. Narendra sudah memesan kursi sofa untuk dua orang di baris belakang.
"Ini kursi pasangan," kata Sekar.
"Kita pasangan."
"Mas cepat sekali terbiasa."
"Aku belajar."
Lampu padam. Film romantis dimulai, tetapi perhatian Sekar lebih banyak tertuju pada lengan Narendra yang bersentuhan dengan lengannya.
Ketika mereka sama-sama meraih popcorn, jemari bertemu di dalam kotak. Narendra tidak menarik tangan. Ia menyelipkan jari di antara jari Sekar, lalu meletakkan tangan mereka yang bertaut di atas pahanya.
Sekar menahan senyum dalam gelap.
Di layar, tokoh utama berdiri di bawah hujan dan menyatakan cinta. Musik membesar. Narendra justru menoleh ke samping.
"Kenapa nggak nonton?" bisik Sekar.
"Aku lagi nonton."
"Layarnya di depan."
"Yang ini lebih bagus."
Narendra mengangkat dagunya dan mencium Sekar.
Ciuman itu lebih berani daripada di hotel. Tangannya menyentuh belakang leher Sekar, ibu jarinya bergerak di bawah telinga. Bibirnya membuka bibir Sekar perlahan, meminta, menunggu jawaban, lalu masuk lebih dalam ketika Sekar meremas jemarinya.
Suara hujan dari pengeras memenuhi ruangan. Sekar hanya mendengar napas Narendra yang berat di dekat wajahnya.
Saat pria itu mundur, lutut Sekar terasa lemas meski ia sedang duduk.
"Filmnya kelewat," bisiknya.
"Bisa ditonton lagi."
"Tiketnya mahal."
"Aku beli lagi."
Sekar mencubit lengannya. Narendra tertawa pelan dan kembali menggenggam tangannya sampai film selesai.
***
Hampir pukul sebelas ketika mereka kembali ke Cempaka. Sepanjang jalan dari parkiran, Narendra tidak melepaskan tangan Sekar.
Di depan pintu unit, Sekar berbalik untuk mengucapkan selamat malam. Narendra justru berdiri di belakangnya dan melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya.
"Mas, aku harus buka pintu."
"Sebentar."
Dagunya bertumpu pada bahu Sekar. Wangi sabun bercampur samar dengan aroma kopinya.
"Kita ketemu lagi besok," kata Sekar.
"Masih lama."
"Cuma tidur beberapa jam."
"Tetap lama."
Sekar menyandarkan punggung pada dadanya. Ia mulai menyukai sisi Narendra yang tidak diketahui orang lain, pria dingin yang ternyata enggan melepas pelukan.
Ponselnya berdering keras di dalam tas.
Bu Laksmi.
Sekar mengangkatnya. "Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Sekar, ada masalah dengan kain untuk pesanan besar." Suara Bu Laksmi terdengar tegang. "Stok dari Giriwangi rusak kena lembap. Kamu harus berangkat besok pagi."
Lengan Narendra yang masih mengelilingi pinggang Sekar mendadak mengencang.
"Besok?" Sekar menatap pintu di depannya. "Berapa lama, Bu?"
"Tiga atau empat hari kalau semua lancar. Kita butuh kain pengganti langsung dari pengrajin."
Narendra menunduk, berusaha menangkap setiap kata dari telepon.
"Sekar," lanjut Bu Laksmi, "kamu harus berangkat."
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰